Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Mantan Duda Tua


__ADS_3

"Papi, Mami ... Johan ingin mengatakan sesuatu ...," Viona akhirnya membuka suara ketika Tuan dan Nyonya Darmawan hendak meninggalkan meja makan, pagi ini.


Sejak semalam, Johan bahkan tidak tergoda olehnya karena terlalu sedih memikirkan perpisahan dengan bos kesayangannya itu.


Johan merasakan seluruh aliran darahnya terhenti ketika mendengar perkataan Viona barusan. Akan berkata apa memangnya? Iya ... memang, sih ... tapi, tidak sekarang juga, makanannya bahkan belum sempat bersarang di lambungnya! Apa iya, harus bergolak dengan perasaan tidak nyaman ini?


Viona menyikut lengan suaminya, lalu memajukan dagunya, menyuruh Johan mengatakan sesuatu pada orang tua yang kembali duduk dan saling mengadu pandang dalam keheranan.


Johan hanya mampu menelan liurnya, dan ketika bibirnya terbuka, tidak ada kata yang terucap dari sana. Bagaimana mengatakannya? Tetapi ia sungguh belum siap dengan perpisahan ataupun memimpin sebuah perusahaan maha besar milik Darmawan. The Dermacorp. Termasuk anak usaha dan cabang-cabangnya yang menggurita. Membayangkan saja tidak pernah. Meski hanya sementara, tapi bayangkan saja berapa usia Kristal? Dan Johan tidak yakin masih hidup ketika Kristal dewasa. Dia juga sudah tua, kalau kalian lupa. Fourty one already. Dan dia baru akan punya bayi.


Mengenaskan sekali, bahkan mungkin jika tidak kasihan pada Viona, ingin melindungi wanita itu, dia sudah menentukan jalan di sisa usianya, yaitu merana kesepian dan menari bersama senyum bahagia Nyonya Bos tersayangnya. Oh, Nyonya Bos ...!


"Sayang ...," belai lembut di bahunya, menyeret paksa kesadarannya kembali ke meja makan megah ini. Johan menatap Viona sejenak seakan bertanya 'apa', tetapi kemudian ia segera berdehem kecil setelah mendapat senyuman manis dari istrinya tersebut.


Senyum wanita itu—entah mengapa memberinya seribu cahaya yang menerangi kebuntuan otaknya.


"Pi ... Mi ...." Ia menatap dua lansia yang sejak tadi terpaku kepadanya.


"Saya masih ingin menyelesaikan tugas saya bersama Tuan Harris, Pi," katanya dalam satu tarikan napas. "Mi ...." Ia mengendik kepada Nyonya Darmawan untuk meminta pemakluman. Pengabdian terasa belum cukup. Ah, entahlah, rasanya seperti lintah yang susah sekali untuk lepas dari keluarga besar yang ramai itu. Johan yang sepi sangat menyukainya.


"Kami memberi waktu sebanyak-banyaknya dan kesempatan seluas-luasnya kepadamu, Nak ... tapi datanglah segera. Cukupkan urusanmu dengan Harris, Papi tidak akan menghalangimu. Kami cukup tahu dan akan kami bicarakan semuanya dengan Dirga. Dia pasti mengerti."


Tuan Darmawan kembali tersenyum sebelum melanjutkan. "Nikmati waktu kalian di sini, anggap saja sedang liburan. Kita kembali setelah Kristal dan Nicky puas berlibur."


Nyonya Darmawan memajukan tubuhnya sedikit condong. "Atau kalian boleh pulang, dan anak-anak tetap di sini dengan Omanya ...," tawar Nyonya Darmawan dengan senyum tertahan beberapa saat lamanya.


Viona dan Johan hanya saling pandang sebagai jawaban. Ya, Viona juga memiliki pekerjaan, jika terlalu lama ditinggal sedikit di sayangkan, sebab yah ... itu juga hasil keringatnya sendiri.


Dan Johan tentu saja, akan menghabiskan waktu sedikit lebih lama dengan bosnya yang suka membentak itu. Namun sekarang, meninggalkan anak-anak pada sepasang orang tua tentu tidaklah etis. Jadi baik Viona dan Johan sepakat untuk menggeleng meski keduanya tidak pernah mengatakan bersepakat untuk menolak permintaan Nyonya Darmawan. Pikiran mereka tentu sejalan kini.


"Kami akan di sini sampai anak-anak meminta pulang, Mi ...," kata Johan mantap. Lalu tangannya yang lain mencari-cari tangan Viona untuk digenggam. Lalu sekali lagi mereka mengadu pandang dan tertawa. Entah untuk apa, tapi itulah perasaan mereka, seperti ada kelegaan. Kelegaan akan semua ragu dan beban.

__ADS_1


"Baiklah ...," kata Nyonya Darmawan sambil menaikkan kedua tangannya ke udara diikuti helaan napas berat, tanda dia menyerah. "Orang tua memang harus ngalah." Ia berdiri dan memandang kesal dua orang yang masih menahan tawa bahagia mereka.


"Kalian berdua memang tidak akan mengalah untuk orang tua seperti kami, dan ya ... kami bisa apa?"


Johan menggaruk kepalanya sambil meringis, sedangkan Viona tertunduk malu tanpa menyembunyikan senyum lebarnya. "Maafkan kami, Mi ...," gumamnya pelan.


***


Libur membuat Johan mengantuk, meski cuaca di luar sangat bagus, tetapi anak-anak hari ini lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan ruang kerja Evan yang dipenuhi buku dan mainan. Johan melihat bahwasanya Evan dulu sangat siap menyambut Kristal. Namun, sakit yang menggerogoti tubuhnya, membuat pria itu lemah dan takut menghadapi kekasihnya yang sedang mengandung Kristal.


"Ayah ...." Suara Kristal yang berlari ke arahnya membuat pria yang sedang menarikan jemarinya di jajaran buku yang tertata apik di rak kayu menjulang nyaris menyentuh atap ini, membuat Johan menoleh.


"Ayah ... di sini banyak sekali mainan dan buku-buku dongeng. Apa ini artinya Papa Evan dulu menginginkan Kristal dan mama tinggal di sini?"


Johan tersenyum, lalu meraih tubuh anak perempuannya ini ke dalam pelukannya. "Ya ... kurasa rumah ini milikmu, Sayang." Johan memerosotkan tubuhnya di lantai begitu saja, tangannya membelai rambut ikal milik gadis cantik ini. "Kamu tau, setiap hubungan orang dewasa mungkin memiliki masalah, memiliki sesuatu hal yang rumit untuk diselesaikan. Terkadang terlihat sepele, tetapi karena orang dewasa itu memiliki ego dan gengsi yang tinggi, jadi masalahnya menjadi besar. Atau seseorang berprasangka terhadap orang lain, meragukan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki orang tersebut, hingga jadilah salah paham hadir diantara mereka."


Kristal dan mata beningnya mengedipkan kelopak matanya. Dia dengan senang hati bersandar di dada pria yang membuatnya merasakan kasih sayang seorang ayah. Bibirnya yang tipis dengan lekukan tajam di irisan atas itu bergerak untuk merangkai sebuah kalimat. "Kalau begitu, mama selama ini salah menilai papa Evan, ya, Yah ...."


Johan dengan segera menjauhkan Kristal dari dadanya. Hatinya begitu perih mendengar perkataan gadis mungil ini. "Siapa yang bilang begitu?" suaranya sedikit menajam. "Mana boleh anak gadis Ayah yang cantik ini berkata seperti itu. Kristal tau, setiap anak yang lahir ke dunia itu anugrah yang murni, Sayang. Tidak ada anak yang di sebut kesalahan."


Ya,Tuhan ....


Johan sudah mengumpulkan bibit air mata di pelupuk matanya. Anak ini begitu sensitif dan tidak mudah melupakan kata-kata yang mungkin pernah di dengarnya dulu.


"Tapi, Yah ... dulu semua orang bilang begitu padaku—"


"Siapa misalnya ...?"


"Emh ...," Kristal tertawa sungkan. "... ngga deh, Yah ... aku cukup ngerti keadaan Mama waktu itu. Pasti mama sedang marah dan kesal—"


Johan bangkit tergesa-gesa, membuat Kristal segera meraih lengan ayahnya. "Ayah, jangan ...! Mama pasti ngga bermaksud—"

__ADS_1


"Tapi mamamu harus diberi pelajaran, Kris ... karena udah nyakitin anak sebaik kamu," kata Johan bersungguh-sungguh.


"Ada apa ini?" Viona melangkah ke arah mereka dengan ekspresi bingung melihat adegan tarik menarik di antara dua orang itu.


Kristal melepaskan pegangannya pada tangan Johan. Ia langsung berlari mendekati Viona agar tak sampai kalah dari Johan. "Mama, pergi, Ma ... jangan dekat-dekat sama Ayah ...," pinta Kristal sambil terus mendorong tubuh Mamanya keluar perpustakaan ini. "Pokoknya jangan dekat-dekat Ayah, Ma!"


Kristal menutup pintu, membiarkan Viona kebingungan di sana. Lantas ia menghadang laju Johan yang sudah siap menerkam Viona. "Ayah, plis ... jangan apa-apakan mama!"


Kristal memeluk kaki Johan, melihat ekspresi gelap seorang Johan, Kristal kecil seakan tersadar, sepatah katapun, ia tak boleh membuka mulutnya perihal masa lalu. "Kenapa jadi begini, sih? Mulutmu ini mengerikan, Kris!" batin Kristal menangis frustrasi.


Sementara, Viona kembali mengintip ke dalam ruangan ini, "kenapa dia?" tanyanya melalui gerakan bibir saja. Johan memiringkan senyumnya. Akal liciknya bekerja. Sungguh, Bos dan Nyonya Bos kesayangannya memberikan banyak ilmu yang sungguh bermanfaat.


"Tapi mamamu harus diberi pelajaran agar tidak lagi menyakiti anaknya, Sayang. Kamu ikut Oma dan Opa, jagain Nicky. Biar Ayah bicara sama mama." Johan mengedipkan sebelah matanya ke arah Viona yang langsung tersipu dan memundurkan kepalanya.


Ada-ada saja, mantan duda tua itu!


"Jangan kasar-kasar sama Mama ya, Yah!" pinta Kristal dengan mata berkaca-kaca menengadah di bawah kaki Johan.


"Pasti Sayang ... Ayah janji!"


Senyuman Johan kembali terbit begitu Kristal berdiri dan patuh menuju adiknya. Dan ketika Kristal mengajak oma dan opanya jalan-jalan, Johan langsung melesat mencari Viona.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2