Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Bertemu dia lagi


__ADS_3

Kira pulang dengan menggunakan taksi. Kepalanya terasa berat, dan matanya enggan sekali terbuka. Dan di tambah suara berkeriut dari perut Kira, menambah ramai suara dalam dirinya. Ah, dia lupa belum mangisi perutnya. Melihat tetes air di kaca jendela mobil, jelas sekali di luar hujan. Baiklah, kita bisa menyelesaikannya dalam satu waktu. Tiba di rumah, makan, dan tidur.


Dalam hening, Kira teringat Harris. Pria yang kini menjajah dirinya sepenuhnya. Memberi apa yang belum pernah dia miliki sebelumnya. Kira tersenyum, saat di rasa dirinya berada dalam kekuasaan keserakahan. Ingin sekali rasanya dia mempertahankan laki-laki ini, mempertahankan pernikahan ini. Tetapi, mungkinkah?


Andai, Harris tidak mengharapkan kekasihnya kembali, tentu semua akan menjadi mudah baginya. Namun, sepertinya, karena pernikahan inilah penyebab mereka tidak bisa bersama. Ingin rasanya, Kira bertanya, bagaimana dengan kekasihnya itu, tetapi dia tidak ingin merusak suasana hati Harris. Dia sudah pernah bertanya saat itu dan Harris terlihat sangat marah waktu itu. Kira tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, sekali lagi. Tetapi, bukankah dia sedang dalam mengulangi kesalahan yang sama sekarang?


Kira berhenti di depan gerbang rumahnya. 2 orang menyambutnya saat dia turun dari taksi. Bahkan supir taksi sempat memandang heran ke arah Kira, saat melihat mobil berderet di halaman rumahnya.


"Sore, Nona. Anda sudah pulang?," Seorang pria berbadan gempal menyambutnya dengan ramah.


"Sore, juga. Kebetulan temanku sudah kembali jadi aku pulang lebih awal," Kira menjelaskan. Senyum selalu menghiasi bibir Kira, dia tidak ingin membuat orang lain menghormati dirinya berlebihan. Dengan bersikap ramah, Kira berharap, mereka bisa lebih santai saat bekerja.


Dua orang itu, bukan orang biasa, pun dengan orang yang sedang mencuci mobil dan memangkas tanaman. Mereka orang yang sangat terlatih. Mereka bahkan memindahkan lokasi latihan di halaman belakang, dan juga tempat kebugaran yang memiliki fasilitas lengkap.


Kira melenggang santai melewati halaman rumah. Ini sudah hampir gelap, tapi rumah masih sangat sepi. Tidak ada suara anak-anak yang biasa meramaikan suasana. Anak-anak juga sangat akrab dengan semua orang di sini. Mereka sering sekali menghabiskan waktu bermain-main di arena latihan bela diri.


"Selamat sore, Nona. Anda sudah pulang?," Tanya Rina. Asisten rumah tangga yang paling lama ikut Harris.


"Sore juga, Rina. Anak-anak di mana?," Kira menaruh tas belanjaanya di sofa ruang tamu. Rasanya tak sanggup lagi melangkah ke kamar.


"Mereka di jemput Asisten Toni, Tuan Dirga yang meminta mereka menginap di sana," Jawab Rina.


"Mereka mulai melupakanku," Desah Kira. Kira sepertinya tak punya pilihan, selain berhenti bekerja jika tidak bisa membagi waktu dengan anak-anak. Kira takut, jika mereka benar-benar akan melupakannya.


"Masak apa, Rin?," Kira segera ingat jika dirinya belum makan.


"Tuan Jaden tadi minta di buatkan rendang, Nona, tetapi belum sempat memakannya Asisten Toni sudah datang. Apa Anda mau, Nona? Atau mau di buatkan yang lain?," Rina sangat kaku dan disiplin. Kira terkadang jengah sendiri. Ingin rasanya Rina berjodoh dengan Johan yang tidak bisa serius.


"Itu saja, aku sudah sangat lapar," Kira hendak berdiri. Namun Rina mencegahnya.


"Biar saya ambilkan, Nona. Anda terlihat sanģat lelah." Rina segera berlalu sebelum mendapat penolakan dari Kira.


"Baiklah, aku akan menikmati menjadi Nyonya Harris Dirgantara," Kira tertawa lirih. Merebahkan badannya di sofa empuk dan nyaman. Matanya nyaris terpejam saat Rina kembali membawa sepiring rendang dan segelas jus jeruk.

__ADS_1


"Silakan, Nona." Rina meletakkan piring di meja.


"Terima kasih, Rin. Sudah, kembalilah. Aku malu kau melihatku makan, pasti mengerikan," Kira tertawa, dan Rina hanya menarik ke dua sudut bibirnya. Itu bukan tertawa, juga bukan senyum. Itu ejekan, Rin, kau ingin bilang lelucon Kira, garing bukan?


Kira menikmati makanannya dalam diam. Sehingga dalam waktu singkat rendang dengan nasi hangat sudah berpindah ke perut Kira.


Kira membawa jus jeruk ke kamarnya. Perutnya tidak muat lagi jika harus menghabiskannya. Di ikuti Sari, Asisten Rumah Tangga yang lain, yang membawa barang-barang miliknya ke kamar. Sari, lebih periang dan ceria namun tetap saja kaku dengan aturan Harris.


"Nona, saya akan menyiapkan air untuk anda mandi, tunggulah sebentar," Sari, juga sama, tergesa setelah memberitahukan apa yang akan di lakukannya. Lagi-lagi, karena Kira enggan di perlakukan seperti Nyonya. Kira terlalu mandiri. Bukan, tapi terbiasa melakukan semuanya sendiri.


Kira segera mandi dan berganti pakaian yang bersih dan nyaman. Meskipun belum saatnya tidur tapi matanya semakin berat saja usai berendam air hangat.


Harris, yang mendapat laporan dari Rina, tersenyum sampai terlihat deretan giginya yang putih. Semua orang yang baru saja di panggil ke ruangannya menjadi bingung. Mereka berpikir, Harris akan menghukum mereka dengan kejam, melihat tawa di bibir bos baru mereka. Sekitar enam orang di ruangan Harris mendadak gemetar ketakutan.


"Tuan, mereka sudah di sini," Bisik Johan di telinga Harris. Harris terkejut bukan main, dia bahkan tidak mendengar pintu ruangannya terbuka. Harris berdehem, menormalkan kembali ekspresi wajahnya, sebelum menghadapi pemimpin setiap divisi.


"Tidak banyak yang ingin saya katakan, saya hanya ingin kalian meningkatkan kinerja kalian. Saya rasa, banyak orang di luar sana yang bersedia bekerja keras untuk gaji yang bisa di bilang tidak kecil, di sini. Jika tidak ada yang bercita-cita menjadi pengangguran dalam waktu dekat, sebaiknya kalian memompa semangat bawahan kalian, meningkatkan performa diri kalian."


"Baik, Tuan," Jawab mereka serempak.


"Kalian bisa pergi, beberapa hari lagi, berikan laporan terbaru padaku. Jika masih sama saja, kalian mempertaruhkan posisi kalian saat ini," Sambung Harris. Harris tiba-tiba kehilangan murka yang sejak tadi bertalu-talu bersahutan di dalam dadanya. Melihat singa betina yang meringkuk di kasur, seketika amarahnya sirna.


Sudah seperti es yang jatuh ke perapian. Semua panas di hatinya hilang, karena wanita tidak sempurna itu. Wanita yang hatinya sudah di penuhi balutan luka, wanita yang di penuhi nestapa di setiap langkahnya. Tugasnya kini, membahagiakannya.


Harris sadar, dia juga bukan laki-laki yang baik, dia juga tidak sempurna. Tetapi, dua manusia dengan tubuh penuh darah dan hati yang cacat, bisa saling membalut luka, melengkapi apa yang kurang satu sama lain. Merangkul, saling memapah, hingga sampai di ujung jalan di mana tujuan akhir berada.


"Jo, apa jadwalku selanjutnya?," Harris yang sedianya ingin melanjutkan pekerjaanya, memilih menyandarkan lagi punggungnya di sandaran kursi. Tiba-tiba saja dia menjadi enggan kembali bekerja, ingin sekali dia pulang dan membelai surai singa yang sedang terlelap itu.


"Anda akan makan malam dengan rekanan Tuan Besar, jam 7 malam, Tuan," Johan yang sudah hafal jadwal Tuannya, berbicara dengan fasih dan lantang.


"Jika saja ini tidak ada hubungannya dengan dia, aku pasti memilih pulang," Gumam Harris yang kembali melihat wajah polos wanita miliknya.


"Ayo kita berangkat sekarang," Harris bangkit dari kursinya. Mengikuti Johan yang berada di depannya. Bersegera menyelesaikan semua pekerjaannya, dan bisa segera memeluk wanita itu.

__ADS_1


Dalam hitungan menit, Harris tiba di sebuah hotel berbintang, milik sang rekan. Harris segera melangkah menuju tempat di mana dia akan menjumpai rekan kerja tersebut.


Beruntung Harris berangkat lebih awal, sehingga mereka bisa sampai tepat waktu, bahkan sebelum si penjamu tiba.


Tetapi, datang lebih awal juga sebuah kerugian. Seseorang yang awalnya di inginkan, muncul saat dia sudah tidak di harapkan. Harris berhenti sejenak saat wanita itu berada di garis pandangnya. Enggan memperhatikan, namun kehadirannya sangat terlihat jelas. Harris kembali berjalan setelah berhasil mengusir wanita itu dari pikirannya. Melewati wanita itu tanpa mempedulikannya.


"Apa kau tidak mengenaliku lagi?," Wanita itu berdiri dari kursinya. Berbicara dengan angkuhnya, seolah menunjukkan dia masih mampu bertahan tanpa dukungannya.


Harris berhenti, dan berbalik dengan enggan. "Masih, tapi aku terburu-buru."


"Baguslah, kita belum mantan, jadi kapan kita bisa bersama lagi?," Wanita itu Viona, mengatakan sesuatu tentang sebuah hubungan seolah sedang menawar sebuah barang yang murah.


Harris berdecih, merasa dirinya, tidak ada artinya bagi Viona. Menganggap hubungan di antara mereka adalah tempat singgah, datang dan pergi sesuka hati. Mata hati Harris seolah terbuka, inilah wanita yang bersamanya selama ini. Menganggap dirinya berharga, merendahkan laki-laki yang bersedia mati untuknya.


"Tetapi, bagiku kau sudah menjadi mantan sejak saat itu. Dan kau sendiri yang memutuskan, kalau otakku tidak salah mengingat," Harris meletakkan telapak tangannya di kedua sakunya. Matanya masih awas menatap wanita dengan keangkuhannya itu. Ekspresinya datar, seolah membentengi amarah di dalam dadanya. Bertemu wanita ini, membuat dadanya kembali bergemuruh dengan kobaran amarah.


"Tidak ada salahnya, memulai kembali bukan? Aku bersedia jika kau memohon," Viona menatap Harris dengan tatapan meremehkan. Viona menganggap Harris akan dengan mudah kembali padanya, Harris akan kembali tergila-gila padanya. Namun, nyatanya tidak. Tetapi, bukan Viona jika menyerah dengan mudah, wanita dengan kepercayaan diri yang tinggi itu, tidak tahu, bahwa dia sudah terganti.


"Kau berharap aku memohon kepadamu?," Harris memiringkan kepalanya, kedua alisnya sampai terangkat, saking herannya dengan permintaan wanita tidak sadar diri ini.


"Tentu, seperti yang sudah-sudah," Viona tersenyum penuh kemenangan. Berpuas diri, seolah dialah segalanya bagi Harris.


"Teruslah berharap, Nona," Harris kembali ke mode dingin bak tumpukan balok es. Harris berbalik dan melanjutkan langkahnya. Mengabaikan Viona yang masih menahan emosi. Menghenyakkan badannya dengan keras di kursi. Memandang punggung Harris dengan kekesalan yang luar biasa. Barisan giginya saling berbenturan, menimbulkan bunyi berkeriut dalam. Sorot mata penuh amarah itu masih mengikuti Harris hingga tak terlihat lagi.


Makan malam yang seharusnya menyenangkan itu, sedikit tidak nyaman karena suasana hati Harris yang tiba-tiba memburuk. Seperti mengerti keadaan Harris, si pemilik Pearl segera menyelesaikan beberapa poin penting pertemuan mereka. Hingga tidak butuh waktu lama, bagi mereka menuju kata sepakat.


Harris membanting pintu mobil dengan kasar, ketika tiba di depan pintu rumah. Johan sampai meringis ketika suara itu menghentak telinganya.


"Semoga kau selamat, Nyonya," Gumam Johan menatap pintu rumah yang juga mendapat perlakuan sama.


Harris menarik paksa dasi yang melingkar rapi di kerah bajunya. Tanpa melepas sepatu dan bajunya, dia melempar pelan tubuhnya ke kasur. Meletakkan kepalanya di punggung singa betina miliknya. Memeluk erat, seolah ingin membenamkan tubuhya di sana. Menumpahkan sakit hati yang menyeruak memenuhi seluruh ruang di tubuhnya. Harris menghirup dalam, wangi surai si singa betina. Hingga luapan amarah itu, berangsur hilang dan  terlelap dalam mimpi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2