Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Indi dan Alphi


__ADS_3

Matahari membiaskan pendar berwarna indah, melukis keagungan Sang Khalik. Bianglala menghiasi langit timur saat gerimis lembut menimpa bumi. Bidadari turun ke bumi saat bayi perempuan berwajah merah merekah bagai lotus yang mekar, hendak menjalani ritual potong rambut. Aqiqah dilaksanakan di kediaman Dirgantara. Tak banyak yang diundang, hanya kerabat dekat dan anak yatim dari sebuah panti asuhan binaan Grup WD.


Serba putih, menandakan kesucian sang bayi. Mengenakan dress putih, sepatu putih dan bandana sebesar bunga matahari asli bertengger di keningnya. Bayi yang tak bisa di sebut mungil itu, tengah tertidur di pelukan Papanya. Pulas, mungkin lantunan ayat suci dari Ustadz Ilham, membuainya bagai syair lagu cinta.


Khidmat dan bersahaja. Tak ada sosok tinggi diantara mereka, yang ada hanya makhluk papa dan rendah, penuh dosa dan khilaf.


Ustadz Ilham menyampaikan tausyiah dan do'a terkhusus untuk bayi perempuan yang hari ini secara resmi di beri nama. Acara potong rambut secara simbolik dilakukan oleh para tetua. Acara ramah tamah digelar di halaman belakang. Tak tanggung-tanggung, Harris memakai jasa koki di hotel milik keluarga Hendra. Terakhir, sebelum mereka undur diri, sedikit bingkisan dan tanda kasih atas nama keluarga Dirgantara di berikan kepada anak-anak yatim.


Satu bulan sudah usia putri Harris dan Kira. Bayi yang lahir dengan berat 3.520 gram dan panjang 53 cm itu kini telah mencapai bobot 4,5 kilogram.


Berbagai drama dilalui kedua orang tua yang berbeda pengalaman tentang bayi. Sehingga membuat keduanya berselisih pendapat. Harris selalu panik saat mendengar tangisan bayinya yang sangat nyaring. Sedangkan Kira, menurut Harris, terlalu santai menghadapi bayinya.


Seperti malam ini, lelah tentu saja dirasakan keduanya, karena selain sibuk mempersiapkan acara aqiqah, juga si bayi yang sedikit rewel.


Entahlah, bayi itu seakan menuruni sifat Papanya yang tidak suka diabaikan. Hingga sepanjang sore hingga menjelang tengah malam, bayinya tak mau dibaringkan sama sekali. Dia tertidur saat menyusu atau dalam dekapan Mamanya. Tetapi, akan terbangun dan menjerit saat merasakan kehangatannya hilang.


"Kenapa dia, Yang?" Harris yang baru saja selesai dengan urusan pekerjaan dengan Johan, terlihat cemas. Diulurkan tangannya ke kening bayi yang berada digendongan sang Mama.


"Dia kan anakmu, ngambek kali seharian diduakan dengan pekerjaan!" Kira mendudukkan tubuhnya di sofa. Meletakkan tangannya di lengan sofa, terasa pegal setelah berjam-jam menyangga bayi yang sangat besar ini.


"Sini biar aku yang gendong!" Harris menggerakkan tangannya, mengisyaratkan agar si bayi dipindahkan ke pangkuannya. Harris telah siap di ujung lain sofa.


Kira terlihat ragu, namun Harris meyakinkan, dia bisa dan mampu menjaga bayinya.


Kira meletakkan bayinya dengan pelan ke pangkuan Harris, bayi itu menggeliat dengan mencucutkan bibir merahnya. Menggemaskan, ditambah pipinya yang sebulat telur itu menggusur hidung dan matanya.


"Yang, dia kok pesek kaya kamu yah?" Celetuk Harris seakan mengungkapkan apa yang ada di batin Kira.


"Ck, mentang-mentang hidung Abang kaya perosotan teka, Abang menghina hidungku yang minimalis?" Kira mencibir. Dia duduk disamping suaminya. Ah, rindu sekali dengan bahu kokoh ini. Rasanya nyaman sekali bersandar disini.


"Bukan menghina, Abang mengatakan fakta. Tapi tenang saja, Abang suka dengan hidung irit seperti itu," buru-buru Harris membenarkan ucapannya. Bisa jadi cubitan memelintir melanda pinggangnya.


"Memangnya Abang dulu lihat apa pas bilang cinta sama aku?" Kira masih bergelayut di lengan suaminya. Suara keduanya lirih, takut mengusik bayi sensitif ini.


"Kau tau, Abang terpaksa! Sebenarnya Abang ngga cinta-cinta amat sih," Harris menggantung ucapannya. "Tapi amat cinta. Sampai ngga melihat hidungnya, matanya, bibirnya dan juga sifatnya yang labil. Abang hanya cinta pada sakitmu. Abang tertantang untuk menyembuhkan dan membahagiakan kamu!"


Kira berkedip-kedip menahan senyum yang hendak merekah. "Abang gombal!"

__ADS_1


"Engga, Sayang!" Harris menyolek hidung Kira. "Abang sebenarnya merasa iba denganmu. Aku sudah bilang kan? Kalau aku berhutang budi padamu? Sejak itu Abang tertantang untuk membuatmu bahagia, meski belum bisa. Abang malah membuatmu kesakitan dengan melahirkan dia!"


Kira mengalungkan tangannya di leher kokoh suaminya. Menghujani rahang keras suaminya dengan kecupan berulang.


"Abang masih ingin aku hamil lagi?" Harris menggeleng.


"Tidak akan, Yang! Cukup dia saja. Aku tak mau lagi menyakitimu," Harris menatap netra istrinya. Sebelum memadukan bibirnya dengan milik istrinya. Rindu mereka membuncah, terlalu lama memendam dahaga.


Hingga, tangisan si bayi membuyarkan kerinduan yang bersua. Kecewa, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


"Oh, Sayang! Papa mengusikmu ya?" Harris bangkit setelah Kira menjauhkan dirinya dari lengan Harris.


"Mungkin waktunya ganti diapers, Bang," Kira menengok jam yang bertengger di dinding. Kira segera bangkit dan menuju laci tempatnya menaruh popok.


Kira menepuk dahinya, dia menoleh dengan tergesa ke arah suaminya. "Bang, aku lupa! P****** nya habis!"


Harris tak kalah terkejut, "Gimana sih, Yang? Ini sudah malam, mana Indi sama Alphi jauh lagi!"


Kira segera menghampiri Harris dan mengambil si bayi darinya. "Buruan, Bang!"


"Yang, ini sudah hampir tengah malam lho?!"


"Indi paling 20 menit dari sini, Bang! Buruan ih, atau aku saja yang nyari!" Kira menatap sendu suaminya. Ini salahnya, saking sibuknya beberapa hari ini, dia sampai tak memperhatikan stok popok anaknya.


Harris mendesah pasrah. Mau tidak mau akhirnya dia melangkah keluar kamar, setelah mengambil dompetnya.


***


"Yang, kata mbaknya, untuk produk dan ukuran yang kamu mau ngga ada!" Mereka terhubung melalui telepon. Harris berada di Indi yang paling dekat perumahan mereka.


"Yah," Kira mendesah kecewa, bukan apa-apa, selain produk itu bayinya sering terkena ruam. "Abang pindah ke Alphi aja, ngga jauh juga kan dari sana?!"


Harris mematikan sambungan ponselnya secara sepihak. Dalam hati dia menggerutu, tetapi, itu juga demi anaknya. Jadi mau tak mau dia menuruti kemauan istrinya.


Tak sampai 5 menit, Harris sampai di Alphi. Memang kedua minimarket ini tak pernah bisa berjauhan. Katanya takut rindu, bila berjauhan.


Sayangnya, hal yang sama terjadi di Alphi, produk ada tetapi ukurannya tidak ada. Harris menelan kecewa.

__ADS_1


"Mbak, bisa kasih saya nomor telepon supliernya?" Tanya Harris pada kasir di Alphi yang tersenyum ramah kepada Harris.


"Tentu, Tuan!" Si kasir mengambil ponsel dan mendikte nomor suplier produk yang di maksud.


Tanpa mengucapkan terimakasih, Harris berlalu dengan tangan menyangga ponsel di sisi telinganya.


"Tolong kirim P****** untuk bayi perempuan, usianya baru sebulan lebih lima hari, beratnya sekitar 5 kilogram ke rumah saya di kompleks xxx. Saya tunggu satu jam dari sekarang! Kirimkan nomor rekening anda, saya akan mentransfernya sekarang."


Harris segera mematikan ponselnya. "Hamilnya ngga mau apa-apa, begitu keluar malah bikin Papanya kelimpungan." Gumam Harris. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi tersedia di emperan Alphi.


Harris beranjak meninggalkan tempat itu setelah mentransfer sejumlah uang ke suplier diapers. Dia segera melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah.


"Semua demi kamu, Xaquila Ranupadma," Gumam Harris sambil menyisir rambutnya ke belakang.


Harris tiba nyaris bersamaan dengan mobil yang mengantar popok. Dia mengambil satu dan menyimpan yang lain. Dengan tergesa-gesa dia menaiki tangga menuju kamarnya. Mereka asyik bercanda dan tertawa-tawa.


"Senang ya, membuat Papa sibuk tengah malam buta?" Harris sedikit melempar popok itu di bawah kaki Kira.


"Akhirnya, Papa nemu juga! Dimana tadi nyarinya?" Kira bangkit dan meraih bungkusan besar berwarna kuning. Dibukanya salah satu sisi dan menarik keluar satu buah popok.


"Ke pabriknya!" Jawab Harris sambil membuka sweater yang dikenakannya.


β€’


β€’


β€’


Serius amat yak? 🀭🀭🀭


Halu setinggi langit boleh kan ya?🀭🀭


Maaf untuk alamat, saya rahasiakan, takut nanti pada dateng ke rumah AbangπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ


Happy Reading all😘😘


__ADS_1



Terimakasih yang sudah Vote😘😘😘


__ADS_2