
"Kalau begitu, biar anak-anak yang menerimanya ... mereka punya hak atas nafkahku juga!" Jalan pikiran Rian tiba-tiba terang, kenapa tidak mengatakan itu saja sejak tadi? Pikir Rian.
"Aku papanya Ra ...!" Ucapan Rian menjelit Kira. Benar, meski masih tidak terima. Tapi Rian benar. Astaga ...!
"Baiklah Mas ... biar anak-anak yang memutuskan." Kira beranjak bangun. "Aku panggil mereka dulu ya ...." senyum Kira membuat Rian kembali merasakan wanita itu. Ingatannya melayang pada saat mereka memadu cinta.
"Kau sudah gila Rian ... kau gila!" Seru Rian dalam hati. Mengutuk memori-memori memabukkan yang tiba-tiba muncul. Berkas-berkas bayangan pun tumbuh subur, bagaimana tabiat Harris memperlakukan istrinya. Maksudnya, Kira. Ah ... Rian masih saja mengklaim Kira adalah miliknya.
Rian kembali tegak dan menjejak bumi setelah Kira dan ketiga buah hatinya melangkah ke arahnya. Ragu-ragu Rian berdiri ketika anak-anak mengulurkan tangan untuk menyalaminya.
"Papa apa kabar?" Sapa Excel yang langsung duduk di sebelah papanya, meski sedikit menjaga jarak. Pun dengan Jen, sementara Jeje memilih duduk di lengan sofa, seolah menunjukkan, bahwa dia ada dipihak Mamanya.
"Papa baik, Nak! Bagaimana sekolah kalian?" Rian merasa lega sebab Excel dan Jen masih bersikap normal padanya.
"Lancar Pa!" Jawab Excel dan Jen singkat.
Rian tersenyum canggung ketika obrolan dengan anak-anaknya mandeg.
"Anak-anak, Papa ingin menyampaikan sesuatu pada kalian." Seperti tahu bila Rian kesulitan untuk menyampaikan maksudnya. "Silakan, Mas!"
Rian menarik napas panjang,
"Nak ... maafkan Papa selama ini menelantarkan kalian. Papa adalah Ayah yang buruk dan tidak bertanggung jawab. Papa tahu, kalian tidak akan mudah memberi ampunan pada Papa, tapi Papa mohon, terimalah nafkah kalian yang tertunda ini. Agar Papa bisa hidup tenang Nak."
Hening ....
"Pa ... kami tidak pernah merasa ditelantarkan. Karena sejak kecil kami hanya tahu Mama yang merawat kami. Menurut Excel, sebaiknya Papa gunakan uang itu untuk anak Papa dan Nenek." Jawab Excel tetap menunduk.
"Iya Pa ... kebetulan saat ini kami ngga butuh uang sebanyak itu." Cetus Jen. "Gini aja deh, Pa ... Papa simpan saja dulu, nanti kalau Jen butuh Jen akan minta sama Papa, gimana?"
"JEN ...!" Seru Kira dengan mata melotot. Anak itu ... geram Kira dalam hati.
__ADS_1
"Kan bener Ma ...," kesal Jen.
"Mas dengar sendiri kan?" Kira segera menyela perdebatan sengit ini.
Rian melirik Jeje yang malah asyik menyisir rambut Mamanya dengan jari.
"Aku tidak peduli jika kalian menunggu pendapatku!" Jeje beranjak.
"Je ... kita belum selesai bicara, apa Mama mengajarimu bersikap tidak sopan sama orang tua?" Kira meninggikan suaranya sehingga membuat Jeje berbalik.
"Mama memang tidak mengajarkannya, tapi dia!" Jeje menunjuk Rian dengan dagunya. "Aku menghargai dia karena Mama, jangan paksa aku melakukan lebih dari yang aku mau, Ma!"
"JEJE ...!" hardik Kira yang begitu kesal pada anak kembarnya. Tetapi Jeje mengabaikan teriakan Mamanya dan meninggalkan ruang tamu.
"Sudah Ra ... sudah. Jeje bener, akulah yang salah selama ini. Jangan paksa Jeje untuk memaafkan sikapku."
"Maafkan Jeje Mas ...!"
"Ra ... aku mohon sama kamu, setidaknya biarkan aku sedikit mengurangi beban dihatiku Ra ... aku ... aku benar-benar merasa buruk sekarang!" Lirih Rian. Kini pria itu merosot dari duduknya, hampir menyentuh kaki Kira, tetapi Kira segera beringsut menjauh.
"Mas, jangan begini ... baiklah ... baiklah. Aku terima! Berdirilah Mas ...!"
Rian mengangkat wajahnya, seolah tak percaya apa yang didengarnya.
"Mas jangan lakukan ini di depan anak-anakmu ... kau hanya membuat mereka kecewa karena Papanya tidak berdaya. Beri teladan yang baik bagi mereka Mas. Kini mereka bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Jadilah orang tua yang baik untuk Sia. Dia hanya mempunyai kamu sekarang."
"Baik, Ra ...," Rian bergegas bangkit. Tepat saat Harris muncul di ujung ruang tamu. "Aku rasa, aku cukup lama mengganggumu Ra, aku pamit pulang dulu. Sekali lagi terima kasih."
Kira mengangguk, "Hiduplah lebih baik Mas," Kira mengulurkan tangannya. Iba melihat mantan suaminya yang tampak lebih tua dari usianya. Sepertinya kerasnya kehidupan mengguratnya lebih dalam.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Hai pembaca semua ... makasih sudah baca kisah Kira dan papa Harris ya, ...
Baca Karya Othor yang lain ...
-Kisah Excel ada di sini β€π
- Kisah Jen (baru start, tapi boleh banget ditengokin)
- Kisah Mas Nuga(gak ada hubungannya dengan Kira dan Harris sihπ)
- Monica si baby prematur juga wajib di tengok lah ... π
__ADS_1