
Rian menatap hampa jalanan di depannya, dia merasa kosong, seakan kehilangan separuh nyawa. Baru sekarang terasa, jika jiwanya ada bersama mereka. Lalu selama ini, apa perasaan dia yang sebenarnya kepada Melisa? Cinta? Atau, nafsu belaka?
Rian melirik sekilas wanita berwajah masam di sebelahnya. Perasaannya menjadi jelas, tapi, dia sudah tidak bisa lagi mundur sekarang. Wanita yang sangat ia ingini untuk di rengkuh kembali, sudah memiliki tambatan hati. Yang jauh, sangat jauh, lebih bisa menyayangi dan menghargainya.
Rian menghembuskan nafas, bukan hanya materi yang membuatnya takut berhadapan dengan Harris, tapi cinta di antara keduanya, yang membuatnya sungguh kecil. Bahkan dengan sekali pandang, siapapun bisa melihat, besarnya cinta diantara mereka. Sungguh alami, tanpa paksaan, cinta mereka saling tercurah.
Bagaimana Kira saat bersamaanya dulu? Rian mencibir dirinya sendiri, mencemooh sikapnya dulu. Dia tampak bodoh sekarang, saat melihat perbedaan kasih sayang yang Kira berikan saat ini, dan saat dengannya dulu. Saat ketulusan Kira bersambut, dia rela memberikan seluruh hidupnya pada prianya.
Melisa menahan geram, saat di lihatnya Rian tampak frustrasi setelah bertemu mantan istrinya. Melisa ingat betul, beberapa hari lalu, suaminya pulang dalam keadaan tak karuan. Bau alkohol terasa menusuk hidung, hingga membuatnya ingin muntah.
"Segitunya, kamu mencintai mantan istrimu, Mas," Gumam Melisa dalam hati.
Melisa mencibir, tanpa berucap. Meski sakit mendapati kenyataan bahwa suaminya masih mencintai mantan istrinya, tapi dia lega, sebab suaminya tak punya alasan untuk mendekati Kira.
"Rian, Ibu ingin bicara denganmu," Ucap Ibu saat mereka menjejakkan kaki di teras rumah.
"Kita bicara di sini, Bu. Aku tidak mau ada yang kalian tutupi dariku," Ucap Melisa menghentikan langkah Ibu yang sudah setengah jalan menuju pintu.
"Ini tidak ada hubungannya denganmu, Mel. Ini menyangkut anak-anak Rian," Ibu menggenggam handel pintu dengan erat, menyalurkan semua kekesalan pada benda terbuat dari besi itu.
"Jika ada masalah dengan anak-anak Mas Rian dan Kira, aku juga berhak tahu, Bu. Aku istri Mas Rian, tidak ada alasan bagi kalian untuk menyembunyikan apapun dariku," Seru Melisa. Matanya menatap nanar ke arah Ibu dan suaminya bergantian.
Ibu hendak menjawab, tetapi, Rian buru-buru menengahi. Rian tahu apa yang akan Ibunya katakan, dan itu akan membuat Melisa mengamuk.
"Kita istirahat dulu, Mel. Kamu pasti lelah, Sia juga harus di tidurkan, biar bisa tidur dengan nyaman," Bujuk Rian dengan nada yang sangat lembut.
"Mas, aku tidak bisa kau bodohi seperti mantan istrimu itu. Bagaimana bisa kau berucap begitu manis saat kau sangat kesal sepanjang jalan? Aku tidak buta, Mas," Lengkingan suara Melisa mengganggu tidur Sia. Dia langsung bangun dan menangis.
Rian menegang, raut wajahnya berubah seketika. Dengan kasar, dia mengambil alih Sia dari tangan Melisa. Kemudian membawanya masuk, tanpa mengendurkan tatapan penuh amarah dari wajah Melisa.
"Ini semua gara-gara Ibu, Ibu yang menginginkan Kira kembali kan? Dan kalian akan mengusirku dari sini?" Mata Melisa berkilat penuh amarah.
"Kau pantas mendapatkan itu, Mel, kau wanita licik," Ibu tak kalah sengit menantang Melisa. Ibu bahkan mengangkat wajahnya ke arah Melisa.
"Ibu ingat, Ibu yang membuat Mas Rian dan Kira bercerai. Semua ini Ibu yang memulainya."
"Dan, Ibu akan mengakhirinya, sekarang."
"Ibu buta? Kira sudah punya suami, bagaimana bisa Ibu membawanya kembali? Memisahkan mereka? Ibu tidak tahu siapa suami Kira? Bahkan dalam mimpi sekalipun, itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Bu," Teriak Melisa.
__ADS_1
Ibu terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa. Sebab apa yang dikatakan Melisa adalah kebenaran. Ibu melihat sendiri bagaimana suami Kira memperlakukannya tadi. Bagaimana suaminya menjaga Kira saat dia tidak bersamanya. Kira bagai hidup di dalam lemari kaca. Hanya bisa dilihat, tanpa bisa di sentuh, dan di miliki. Lagi.
Melisa mengangkat sebelah bibir atasnya, menunjukkan senyum mengejek kepada Ibu mertuanya. Dia merasa telah mengalahkan Ibu Mertuanya. Dia sudah berjalan sejauh ini, tak mungkin dia akan berhenti, atau memulai lagi dari awal. Dia sudah berkorban banyak untuk mendapatkan Rian. Jadi, dia tidak akan mudah melepaskan Rian sekarang.
Melisa membuang muka, setelah meluapkan amarahnya pada Ibu mertuanya. Dia melangkah ke dalam rumah, meninggalkan Ibu yang gemetaran, mencari tempat untuk bersandar.
***
Sampai di ruang tengah, Melisa berpapasan dengan Riana. Mereka saling melempar tatapan penuh permusuhan.
"Dasar j*****," Melisa mencibir Riana dengan penampilan yang serba minim.
"Pelakor," Balas Riana, tak kalah sengit.
"Berani ya kamu sekarang? Ingat kamu hanya sampah di sini, bahkan Ayahmu tidak mengharapkan kehadiranmu di rumah ini," Melisa masih menautkan tatapannya di wajah Riana.
"Bodo amat, lo juga cuma sampah yang di pungut, dan gue ngga takut sama sekali sama lo," Riana mendorong ujung bahu Melisa dengan telunjuknya, membuat bahu itu bergerak mundur, tanpa membuat posisi Melisa berubah.
Dengan cepat, Melisa menarik rambut Riana dari belakang, sangat kuat seakan rambut itu tercabut dari akarnya.
"Lepasin, j***** murahan," Teriak Riana sambil memegang tangan Melisa yang mencengkeram rambutnya hingga kuku-kuku Melisa terasa menusuk kulit kepalanya.
Melisa menghempas dengan kasar rambut Riana. Lalu melenggang dengan santai ke lantai atas dimana kamarnya berada. Meninggalkan Riana yang meringis memegangi bagian belakang kepalanya yang berdenyut. Nyaris saja kening Riana membentur kursi yang terbuat dari kayu.
"Awas kau Mel, aku akan membalasmu, suatu hari nanti," Desis Riana. Giginya saling beradu mengeluarkan derit yang mengerikan.
Riana mengusap air matanya dengan punggung tangannya saat terdengar deru mobil memasuki halaman rumahnya.
"Mau kemana kamu, Ri?" Tegur Ibu saat melihat Riana.
"Kerja Bu, cari uang, biar bisa segera keluar dari sini," Jawabnya acuh.
"Kerja apa dengan baju seperti itu? Kembali ke kamarmu, Ri. Jangan membuat Ayahmu semakin marah padamu!" Seru Ibu yang berjalan mendekati Riana. Tatapannya sarat akan peringatan dan kemarahan. Tak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya.
"Apa saja yang menghasilkan uang. Aku tidak peduli lagi, walau Ayah akan membunuhku, Bu. Kurasa itu akan lebih baik bagiku," Ucap Riana dingin.
"Jaga bicaramu, Ri. Semarah apapun orang tua, tidak akan mungkin sampai hati membunuh anaknya." Raung Ibu. Airmatanya sudah menghambur memenuhi wajahnya.
"Sikap Ayah padaku yang akan membunuhku secara perlahan, Bu. Bahkan aku rasa, Riana sudah mati sekarang,"
__ADS_1
"Riana," Teriak Ibu lagi, saat Riana melangkah keluar rumah tanpa menoleh. "Jika sampai selangkah saja kakimu keluar dari rumah ini, Ibu pastikan kamu tidak akan bisa lagi tinggal di sini."
Ibu sangat frustrasi menghadapi Riana yang semakin menjadi-jadi. Pulang pagi bahkan tidak pulang sampai berhari-hari, sudah menjadi hal biasa bagi Riana.
Riana berhenti, "Aku akan pergi, tanpa perlu Ibu susah payah mengusirku."
Riana melangkah keluar tanpa menoleh. Hatinya sudah mengeras bagai batu. Tidak ada airmata yang keluar dari sudut matanya. Baginya sikap Ibunya, membuat semua jadi jelas. Tidak ada yang mengharapkan kehadirannya di sini. Atau, tempatnya bukan lagi di sini.
Riana pergi meninggalkan luka menganga di hati wanita yang melahirkannya. Memupuskan harapan besarnya akan kehidupan yang susah payah di usahakan bersama suaminya. Harapan akan cerahnya masa depan anak-anak mereka dengan melimpahnya materi.
"Riana," Raung Ibu. Suara nyaring memekakkan telinga, tetapi penuh dengan penyesalan. Anak-anaknya tumbuh dengan kasih sayang dari uang dan kemewahan, bukan dari kedua orang tuanya. Kedua anaknya mengalami kegagalan dalam hidup karena nafsunya, akan harta.
Riana berhenti sejenak, saat mendengar teriakan Ibunya. Namun, dia memantapkan hatinya, untuk meninggalkan rumah yang memberinya kenyamanan, menuju dunianya yang keras. Seorang diri. Benar-benar sendiri.
Lambaian tangan dari seorang pria matang yang keluar dari sebuah mobil mewah, membuyarkan lamunannya. Bergegas dia menghampiri pria itu dengan senyum merekah.
"Ayo, Sayang. Om sudah terlalu lama menunggumu di sini," Pria itu menyambut Riana dengan sebuah kecupan di bibir Riana.
"Maaf Om, ada sedikit masalah tadi," Ucap Riana dengan manja, tangannya mengusap dada berbalut jas abu tua itu.
"Bukan masalah, Sayang. Tapi sebaiknya kita bergegas, ada yang sudah sangat merindukanmu," Bisik pria itu di telinga Riana. Riana bergidik, saat suara rendah itu menerpa telinganya, membuat gejolak tak beraturan di dalam dirinya.
•
•
•
•
Selamat membaca, selamat beristirahat,🌇😴
Kolom komentar, minta di isi kayaknya😆😆
Author kabur dulu, memulihkan kantung mata yang udah berubah jadi kantung kangguru😆😆😆
Love you all, Zhayangkuh.😘😘
Salam manis dari Author👩🦰
__ADS_1
Dadah👋👋