Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Kau menangis?


__ADS_3

Petang menjelang, rumah kembali hidup dengan empat bocah yang berceloteh riang. Kira memperhatikan ke empat anak itu, dari ujung tangga. Lucu, sesekali, Jen menggoda kakaknya yang bermain video gamenya.


Pekerjaan Kira setelahnya adalah menunggui Viona makan malam. Dengan kebencian yang menjadi-jadi, Viona mulai menatap menu makan malamnya penuh selidik.


"Aku bukan orang baik, tapi aku masih punya nurani untuk tidak menyakiti nyawa tak berdosa Vi. Terlebih, tubuh lemahmu, bukan sesuatu yang harus ku khawatirkan sekarang," Ucap Kira saat Viona masih memaku pandangannya pada segelas susu yang baru di suguhkan Kira kepadanya.


Viona mengeram tertahan. "Diamlah, kau membuatku mual. Sebaiknya kau pergi, atau aku akan membuang semua makanan ini."


"Oke, aku tidak akan membuat selera makanmu terganggu." Kira berlalu, membiarkan Viona menghabiskan makanannya sendiri.


Kira melangkah ke ruang tengah, meski dia berusaha sabar, tapi siapa yang tidak kesal saat niat baikmu di curigai. Tepat saat Kira hendak mendaratkan tubuhnya di sofa, suara mobil Harris terdengar memasuki halaman.


Kira membuka pintu lebar-lebar, menyambut suaminya pulang kerja. Dress tanpa lengan yang dia pakai melambai-lambai tertiup angin.


"Malam, Sayang," Harris setengah berlari menghampiri istrinya yang berdiri selangkah di depan pintu.


"Kau pulang cepat hari ini?" Kira menyodorkan pipinya, saat Harris mendekat.


"Yah, begitu rapat selesai, aku segera pulang. Aku sudah merindukanmu," Bisik Harris di telinga Kira. Kira tersenyum singkat. Mereka melangkah ke dalam rumah dimana seorang penyihir kecil tengah menantinya.


Mengabaikan rasa lelah, Harris menyapa ke empat bocah itu. Harris melepas jasnya, sebelum bergabung dengan mereka. Menemani anak-anak itu bermain, bahkan sebelum meneguk setetes air. Tertawa, bercanda, saling menggelitik, dan berguling, sehingga membuat baju Harris kusut.


Melihat ini, Kira merasa bahagia, ketiga anaknya mendapat Papa baru yang sejuta kali lebih baik dari Papanya sendiri. Mendapat perhatian layaknya Papa kandung. Dan, Kira rela menukar seluruh hidupnya dengan mengabdi pada pria yang memberinya dan anak-anaknya, segalanya.


Kamu kenapa sih?," Tanya Harris saat mereka sedang menaiki tangga menuju kamarnya. Sementara, anak-anak sedang makan malam.


"Hem?," Kira menoleh ke arah Harris yang juga sedang menatapnya. Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darinya, pikir Kira.


"Ada yang mengganggu pikiranmu?," Harris menarik istrinya lebih dekat saat sudah sampai di ujung tangga. Melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Kira, tanpa menghentikan langkah mereka.


Kira menggigit bibir, "Bagaimana kau tau aku sedang memikirkan sesuatu?."


Harris menghentikan langkahnya, menghadap Kira yang sedang menatapnya juga. Meletakkan tangannya di bahu Kira yang langsung melesak turun karena Harris sedikit memberi tekanan pada tangannya.


"Kau itu orang yang paling mudah di tebak, sederhana dan sayangnya keras kepala. Semua sudah ada di matamu, tanpa perlu kau ucapkan. Dan parahnya lagi, aku sangat menyukai semua yang melekat padamu, gila kan?," Harris menatap manik mata cokelat gelap itu bergantian, melihat banyaknya cinta dari wanita itu untuknya. Mata yang bersinar-sinar saat mereka bersitatap. Pun dengan semu merah yang mulai mengambang di permukaan pipinya. Bibir yang beringsut minggir, melahirkan rekahan sempurna yang sarat ketulusan.


"Apa aku seperti itu?."


"Iya, kau harus seperti itu, selamanya. Karena aku suka kamu yang seperti ini," Harris menarik dagu Kira, menyesap bibir bawah yang selalu di gigit pemiliknya.


"Gombal," Kira mencibir, melirik suaminya yang menatapnya penuh pujian.


"Oke, aku memang membual, kau sangat menyebalkan," Kesal, Harris menarik lengan Kira, yang tersenyum penuh kemenangan.


"Sakit, Yang."


Harris berhenti dan melepaskan cekalannya.

__ADS_1


"Minta maaf dengan benar," Ucap Harris  dengan seringai penuh ancaman.


"Iya, tapi tidak di sini, bagaimana jika anak-anak melihat?," Kira meraih lengan Harris dan menuntunnya ke kamar.


Harris menutup pintu dengan tidak sabar, "Jadi?"


"Apa?"


"Apa yang mengganggumu?"


"Ayah tahu jika Viona ada di rumah ini, Jen yang cerita," Kira mengusap pelan dada bidang yang masih terbalut kemeja. Berusaha berbicara dalam suara yang lembut, agar suaminya tidak merasa bersalah. Bagaimanapun, Kira juga yang membuat Viona tinggal di sini.


"Apa Ayah marah?," Tanya Harris lirih. Terlihat sekali, Harris cemas. Bukan tanpa alasan jika Ayah mertuanya marah, karena putrinya pernah gagal dalam hidupnya, dan pasti mereka tahu, bagaimana putrinya berjuang keluar dari lembah gelap pengkhianatan. Jika sampai dia gagal lagi, tentu akan meninggalkan trauma yang sangat menyakitkan. Menggali dendam lebih dalam dan suram.


Harris menarik Kira ke dalam pelukannya, dan menjadikan tubuhnya sebagai tumpuan. Ranjang berderit, ketika beban berat menimpa tanpa aba-aba.


"Sayang, maafkan aku," Harris mengusap pelan pipi Kira, mata Harris meneliti wajah sendu itu dari dekat. "Aku membuat Ayah dan Ibu khawatir, aku tidak bisa mengusir masa laluku, seperti kamu. Aku membuat semua kacau."


"Hei, jangan begitu, aku sudah bilang sama Ayah, dia bukan anakmu. Kalaupun iya, dia akan jadi anakku juga, sama seperti kamu menerima anak-anakku tanpa syarat."


"Tapi, aku takut, Ayah tidak mau mengerti, Yang. Bagaimana kalau Ayah mengambilmu kembali? Aku bisa gila!" Harris menjatuhkan kepalanya di dada Kira, melingkarkan tangannya dengan ketat di pinggang istrinya.


"Kau pikir aku tidak?"


"Aku yang akan paling gila Yang, kau membawa seluruh hidupku, jadi bagaimana aku bisa hidup jika kamu pergi?," Harris menggosok hidungnya di antara pundak dan pangkal leher Kira. "Aku rasa aku memilih mati."


Harris memejamkan matanya, tanpa melepas pelukannya. Bayangan mengerikan ketika Kira melangkah menjauh darinya, meninggalkannya, membuat hatinya mencelos. Harris menggeleng, hingga sudut matanya berair.


"Yang, hei, kau menangis?," Kira menjauhkan kepala Harris yang seperti terkena lem di bahu Kira. Susah sekali melepasnya.


"Sayang, dengar, kau berlebihan, jika Ayah mengambilku, tentu aku tidak di sini sekarang, dan apa aku sehebat itu, hingga kau menangis seperti ini?"


Harris semakin terisak, entah sejak kapan hatinya menjadi melow seperti ini.  Harris yang berhati baja, kini menjadi seekor kucing rumahan gara-gara seorang wanita. Benar kata Papa, sekarang, aku bahkan tak sanggup berpisah walau hanya sedetik. Membayangkan saja, aku tidak sanggup, batin Harris.


Kira mengulum senyum, tapi air matanya juga ikut berhamburan. Apa semuanya akan sama jika dia belum pernah terluka? Apa akan sehebat ini perasaanya pada seorang pria yang mencintainya, jika dia belum pernah merasa sakit karena cinta? Apa akan seterluka ketika miliknya paling berharga akan diambil yang punya? Andai mereka berjumpa lebih awal, apa ada bayangan yang mampu menembus hati baja, hingga sesakit ini?


"Sayang, sudahlah," Kira melepas ikatan di pinggangnya, menciumi pipi yang basah karena air mata,"Terimakasih sudah mencintaiku sedalam ini. Dan, aku pastikan, aku tidak akan meninggalkanmu. Sekalipun Ayah melarangku, aku memilih mati bersamamu."


"Maaf Yang, maaf, maaf, maaf," Harris menangis lagi, bahkan lebih keras.


"Hei, sudahlah, kau tidak salah," Kira menangkup rahang keras kokoh milik suaminya. Menempatkan fokus padanya saja.


"Kenapa kau jadi cengeng sih? Apa cinta membuatmu lemah?."


"Iya, kau lah kelemahanku, tapi kau juga yang menguatkanku," Harris menyeka air matanya. "Kaulah segalanya untukku, Yang. Jadi, ku harap, kau tetap bersamaku, jangan berpikir untuk pergi. Jika kau pergi bunuh saja aku terlebih dulu," Jelas sekali bahwa dia sangat takut kehilangan. Dan, Harris trauma dengan kehilangan. Mamanya, sumber kebahagiaannya, pergi. Dan jika Kira pergi, dia sudah tidak berniat hidup lagi.


"Kau berlebihan, jika aku pergi, rawat anak-anak untukku," Kira mencebik.

__ADS_1


"Kau tidak membawa mereka?"


"Tidak, karena selain mati, aku tidak akan meninggalkanmu," Kira menepuk-nepuk pundak suaminya. Ya, benar, Kira memang tidak berniat menyerah pada Harris, seburuk apapun dia. Viona, masa lalunya. Dan Kira mendengar sendiri, di hadapan Viona, Harris mengatakan bahwa Viona tidak ada artinya lagi. Bahwa dialah yang memiliki seluruh hatinya. Jadi, masih perlukah meragukan suaminya? Tidak.


"Mandilah, ini sudah malam," Kira mengalihkan pandangan usai menjelajahi wajah suaminya.


"Ya, kurasa, aku bisa menghadap Ayah setelah ini. Kau selalu membuatku kuat. Terimakasih, Sayang," Harris mengecup bibir istrinya, lembut.


Kira mengalungkan tangannya di leher kekar suaminya. Membalas ciuman yang semakin menuntut, melupakan segala urusan dunia. Entah siapa yang memulai, tapi semua perasaan butuh pelampiasan. Pun dengan luapan emosi yang menguras seluruh rasa yang ada. Keduanya larut dalam buaian, yang melahirkan desahan nikmat keduanya. Tetapi, ketukan di pintu, membuat mereka membuka lebar kedua matanya.


"Ma, Mama," Suara Jen terdengar dari balik pintu.


"Yang, stop," Kira berusaha menghentikan suaminya yang masih menyelesaikan urusannya. Tetapi, sepertinya, gagal.


"Tapi, Yang, ini-,"


"Jen tidak akan berhenti memanggil sampai aku keluar."


"Sebentar lagi, Yang,"


"Kau gila. Stop now!" Desis Kira.


Harris dengan lesu melepaskan cengkramannya pada lengan Kira. Memandang pasrah wanita yang mengenakan kembali pakaiannya. Dengan langkah tersuruk, Harris melangkah ke kamar mandi, meratapi nasibnya. Ketidakberuntungannya.


"Sorry, J. It's not your turn."






Maaf baru up lagi, Author lagi "Emboh" atau lagi gak fokus. 😖


Maaf jika gak berkenan di hati readers, 🙏👉👈


Thank you yang udah dukung Vote, komen dan Like. Kalian lah yang membuat Author jadi semangat lagi,🥰😍😘😘😘,


Author doakan semoga kalian sehat💪, rezeki ngalir dari berbagai sisi,🤲 dan semoga pandemi cepat berlalu, resah juga saat sudah adem ayem, tiba-tiba ada lagi, ada lagi. 😖


Maaf, Author curcol🤗✌


Salam manis dari Author👩‍🦰


Love You All🥰🥰🥰😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2