Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Membuatmu Tidur Di Gudang.


__ADS_3

Purnama berganti, seiring perut ibu hamil yang tampak ceria ini semakin membuncit. Tanpa terasa, kehamilan Kira memasuki usia tujuh bulan. Keluhan umum sering Kira rasakan, seperti pegal dan mudah lelah. Tetapi, dia sama sekali tidak melisankan keluhannya.


Suaminya semakin sibuk beberapa waktu terakhir, terlebih pada kuartal kedua seperti ini. Geliat pertumbuhan bisnisnya mulai membuatnya berkerja ekstra. Berangkat lebih awal dan pulang saat larut. Bahkan mereka nyaris tak ada waktu untuk menghabiskan waktu bersama.


Sepi, saat liburan kenaikan kelas, anak-anak sering di bawa pergi berlibur oleh kakeknya atau pergi bersama keluarga Darmawan. Jika dulu hanya pergi sesekali ke pantai atau ke mal, kini mereka berlibur ke berbagai tempat bahkan luar negeri.


Siang ini, Kira akan memeriksakan kandungannya. Dan Harris berjanji untuk menemaninya. Kira sudah sampai di ruang praktik Dokter Vivian yang juga berperut besar. Lebih besar dari perut Kira, sebab sekitar sebulan lagi Vivian diperkirakan akan melahirkan.


"Kau yakin dia akan datang?" Tanya Vivian setelah beberapa saat mengobrol hal-hal ringan.


"Entahlah," Kira tertawa nyaring untuk menutupi kekecewaannya. Kira benar-benar kesal.


"Bagaimana kalau kita mulai saja, sambil menunggu," Usul Vivian, jujur saja Vivian merasa tubuhnya mudah sekali lelah dan tak sanggup duduk terlalu lama.


Kira mengangguk sebagai jawaban. Vivian segera memerintah perawat yang sejak perutnya membatasi ruang geraknya, membantunya melayani pasien.


Kira menimbang berat badan dan mengukur tekanan darah. Meski perutnya kecil tapi dia mengalami kenaikan berat badan yang cukup banyak.


"Kau harus mengurangi makanan manis, dan mulai diet," Ucap Dokter Vivian. Dia mengamati riwayat kehamilan Kira sebelumnya.


"Apa bayiku terlalu besar?" Kira tampak cemas, dia mengigit bibirnya dengan mata menyipit.


Vivian menggeleng, "Untuk lebih pasti kau harus USG. Tapi, Harris bilang kau makan terlalu banyak makanan manis. Dia hanya khawatir dengan kesehatanmu."


Setelah mengucapkan itu, Vivian berpaling. Dia pura-pura mengambil catatan lain sambil menyuruh Perawat tadi menyiapkan ranjang USG.


"Kau baik-baik saja?" Kira menangkap perubahan raut wajah Vivian yang mendadak sendu.


"Ya, aku baik. Hanya lelah saja," Vivian mencoba tersenyum.


"Dia masih acuh padamu?" Terka Kira. Vivian mengigit bibir, perkataan Kira membuatnya ingat kelakuan Hendra padanya. Sejak menikah, Hendra dan Vivian tinggal di apartemen yang berbeda, bersebelahan tepatnya.


Dan, beberapa waktu lalu, ayah Hendra, mengetahui semuanya, dan membuat Vivian semakin tersiksa mendengar pengakuan Hendra. Bahwa dirinya sama sekali tidak mencintai Vivian. Hendra hanya bertanggung jawab atas kehamilan Vivian. Tidak lebih.


Hendra yang masih dikuasai amarah, menuduh Vivian memberitahu keluarganya. Menuding Vivian tepat di ujung hidungnya, bahwa Vivian bukan wanita baik juga meragukan bayi Vivian.

__ADS_1


"Kami akan berpisah, Ra!" Vivian menuduk menyembunyikan air matanya yang sudah membasahi pipinya. Keputusan yang ada dipikiran Vivian saja. Dia tidak mau terluka lebih dalam lagi.


Kira menghela napas, mendengar kata berpisah membuatnya ingat bagaimana perasaannya dulu. Tetapi, dia tidak bisa memberikan pendapatnya tentang perpisahan pada Vivian. Kisahnya tak sama dengannya.


"Pikirkan baik-baik, Vi. Utamakan kebahagiaan dirimu dan anakmu. Semoga apapun keputusanmu, adalah yang terbaik untuk kalian,"


Vivian tersenyum lemah, dalam hati dia membenarkan ucapan Kira. Yang penting kebahagiaannya dan anaknya. Vivian merasa lega. Meski hanya perkataan sederhana dari seseorang, itu lebih dari cukup untuk memantapkan hatinya.


Pintu terbuka tepat saat Kira hendak berbaring di ranjang untuk USG. Dua orang pria tampan sedang berjalan beriringan memasuki ruangan Vivian.


"Apa aku terlambat?" Harris meletakkan ponselnya dan membuka kancing jasnya. Dia tampak tegang saat mendapat tatapan tajam dari istrinya.


"Iya dan aku bersumpah akan membuatmu tidur di gudang jika sampai kau mengingkari janjimu," Sembur Kira yang sebenarnya senang dengan kedatangan suaminya.


Harris membelalak, sambil terus melangkah ke sisi jauh ranjang, berseberangan dengan Vivian. Harris menghujani Kira dengan kecupan ringan di kening dan bibir. "Maaf, Sayang. Tadi ada sedikit urusan dengan dia,"


Harris menunjuk Hendra dengan dagunya. Pria itu kedapatan tengah memandang Vivian sedikit terpana.


"Segeralah pulang, suamimu sepertinya sangat merindukanmu," Bisik Harris pada Vivian sambil mencondongkan tubuhnya diatas tubuh Kira.


"Apa? Aku benar kan?" Harris melirik istrinya, kemudian mengarahkan kepalanya ke arah Hendra yang salah tingkah dengan sikapnya sendiri.


"Bisakah kita mulai?" Cetus Vivian akhirnya. Dia sudah gerah dengan tingkah Harris padanya. Perawat itu menutup tirai pembatas saat Vivian menyingkap baju yang dikenakan Kira.


Keduanya pun terdiam saat Vivian mulai bekerja. Menjelaskan dengan detail apa saja yang terlihat di layar monitor di seberang ranjang.


"Apa kalian ingin tahu jenis k3l4m1n bayi kalian?" Tanya Vivian sambil menggeser tangannya di atas perut Kira.


"Iya,"


"Tidak,"


Harris dan Kira saling pandang, "Kenapa, Sayang? Kan biar mudah beli perlengkapan bayi dan juga cat kamar untuk bayi kita!"


"Beli saja warna yang bisa dipakai laki-laki dan perempuan. Bukannya sekarang bayi cowok juga bisa pakai baju pink? Dan bayiku akan tidur denganku, bukan dibuatkan kamar sendiri!" Ucap Kira ketus. Dia terlihat mendebat sengit Harris yang menaikkan alisnya.

__ADS_1


"Yang, aku penasaran bayiku laki-laki atau perempuan!" Rengek Harris pada istrinya yang sudah dibersihkan perutnya oleh perawat.


"Aku yakin perempuan dan akan mirip denganmu!" Jawab Kira asal. Dalam benaknya terbayang, jika ada Harris dalam tubuh perempuan. Kira bergidik.


Harris mendesah pasrah, dia sangat kesal pada wanita yang tengah mengandung anaknya ini. Tetapi dia masih tetap membantunya turun dari ranjang, dan menuntunnya ke kursi.


"Sebaiknya kurangi makanan manis, Ra. Sampai saat dia lahir, mungkin bayimu akan terlalu besar. Apalagi kau merencanakan melahirkan normal," Terang Vivian pada Kira yang menahan kecewa. Masih ada makanan manis yang belum sempat dia cicipi.


"Dan satu lagi," Vivian menyempatkan untuk melirik Hendra yang tengah duduk membelakangi mereka. Meski tampak acuh, mungkin saja Hendra sedang menguping.


"HPL-ku kurang lebih akhir bulan depan, jadi saat kalian periksa lagi mungkin akan ada dokter penggantiku. Mungkin juga kau akan bersalin dengannya. Seharusnya dia datang kali ini, tetapi dia sedang ada urusan,"


"Laki-laki atau perempuan?" Potong Harris cepat.


"Itu rahasia," jawab Vivian acuh. Dia sedang menulis resep untuk Kira. Karena Kira adalah istri dari pemilik rumah sakit ini, tentu saja dia tak harus ke apotik sendiri. Vivian menyerahkan resep itu kepada perawat, Kira hanya harus menunggu di sini.


Mereka duduk di sofa bergabung dengan Hendra. Dia terlihat sangat murung dan kesal.


"Bang, lihat deh, bayinya gerak," Kira menyandarkan tubuhnya di sofa. Perutnya memang bergerak di balik bajunya. Kira sengaja melakukan ini agar Hendra tergoda melakukan hal yang sama pada Vivian.


Harris meletakkan tangannya diatas perut buncit Kira. Harris merasakan tubuhnya menghangat setiap kali bersentuhan dengan gerakan bayinya. Ada rasa bahagia yang membucah. Hanya dua orang itu saja yang tahu bagaimana rasanya. Sangat bahagia.


Hendra menelan ludah, ekor matanya melirik Vivian yang baru saja bergabung dengan mereka. Meski tampak merana, Vivian berusaha tegar dan tersenyum. Di depan Harris dan Kira, dia tidak perlu berpura-pura mesra, seperti dihadapan orang lain. Terutama keluarga besar Vivian.


Di depan Hendra, Vivian sering mengenakan kacamata dari pada lensa kontak seperti sekarang. Vivian hanya memakai lensa kontak saat bekerja. Dia memang menyukai kacamata tebalnya. Jadi tak Heran, Hendra begitu terpukau dengan kecantikan Vivian dibalik kacamatanya.





Bentar yak, otewe inih🤭


__ADS_1


__ADS_2