Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Prinsip Menduda


__ADS_3

Melisa berdiri di tepi jalan raya yang ramai dengan lalu lalang kendaraan. Dalam sehari nasibnya bak perosotan di waterpark. Meluncur bebas tanpa ada hambatan.


Apa lagi sekarang? Kembali? Ah, tidak! Dia adalah wanita dengan harga diri yang tinggi? Harga diri? Batinnya mencibir. Bagian dalam dirinya yang mana itu? Kalau pun ada, sudah berserak di dasar kakinya. Hancur berkeping-keping.


Kepala Melisa seakan penuh dengan dengungan caci maki dan sumpah serapah. Dia tidak mendengar apapun selain isakannya sendiri. Tanpa sadar, dia melangkah ke jalan raya.


Selangkah.


Kemana dia akan pergi. Mencari perlindungan. Mami? Tidak mungkin! Berapa harga yang akan di berikan padanya yang sudah tak sesuai kriteria Mami. Bahkan dulu, di sana dia masih merasa lebih baik. Setidaknya. Ada yang masih memuja. Tubuhnya.


Dua langkah.


Apakah mati akan membuatnya lebih baik? Bahkan dia tidak bisa merasakan kehadiran Malaikat Maut di sekelilingnya. Tak ada aura gelap atau mendung dengan kilat menyambar-sambar. Hanya terik mentari membakar.


Tiga langkah.


Decit rem saling beradu, jejak roda menggores aspal semakin hitam, pekat. Satu, dua, tiga, empat, atau selusin kendaraan roda empat berjejer, mengular. Efek domino.


Tan-tin, Tan-tin. Suara klakson saling bersahutan saat Melisa hanya menutup telinga dan ambruk dengan kaki terbuka keluar. Gemetar.


Jarak kaki dengan mobil paling depan hanya satu helai benang. Takut. Melisa tersenyum sinis. Bahkan kematian enggan menghampirinya. Mengacuhkannya saat ujung jarinya nyaris menyentuh kakinya.


Teriakan dan sumpah serapah lagi. Tanpa ada yang mau mengulurkan tangan, untuk meraihnya berdiri. Melisa semakin kesusahan berdiri.


Hingga tangan besar mengulur ke arahnya. Perlahan, dia mendongak. Pandanganya kabur sebab titik bening itu malah semakin menumpuk.


Melisa meraih tangan itu. Pria dengan jaket kulit, kaos oblong hitam bergambar tengkorak abstrak, rambut gondrong, kalung beraneka bentuk, celana denim, dan sepatu boot. Preman. Atau utusan seseorang.


"Maaf, Tuan. Saya tidak punya urusan dengan anda!" Melisa menarik tangannya, saat pria kekar itu memberi aba-aba agar mobil-mobil itu segera melaju.


Pria itu mundur dan berbalik, "Tapi saya punya urusan dan mengenal anda,"


Melisa menatap kedua bola mata lawan bicaranya bergantian. Seringai jahat menghiasi wajah pria itu. Sehingga membuat Melisa mundur.


Tetapi, dia di tangkap oleh seseorang di belakangnya. Sama. Kedua orang itu berpakaian serupa, tapi yang ini, lebih rapi dan bersih, juga wangi.


"Siapa kalian?" Melisa menjauhkan diri dari cekalan pria itu.


"Ikut kami, Nona! Dan anda akan tahu semuanya!" Jawab pria sangar itu.


"Tidak mau! Kalian pasti berniat jahat padaku!" Melisa ingat kejadian semalam, dia sangat takut berhadapan dengan pria asing dan menyeramkan. Oleh sebab itu, Melisa memilih naik bus daripada naik taksi. Dia masih trauma.

__ADS_1


Melisa mundur saat pria-pria itu melangkah maju. Pandangan Melisa masih awas menatap keduanya bergantian. Batin Melisa berhitung, saat dua orang itu saling pandang, Melisa berbalik dan berlari sekencang yang dia bisa. Seluruh tenaganya di curahkan pada kakinya. Melisa membuka mulut untuk meraup oksigen lebih banyak, sebagai bahan bakar larinya.


Lari, dan terus berlari, sesekali dia menoleh, namun kedua pria itu masih di belakangnya. Dan masih mengejarnya. Sial, batin Melisa. Lagi, dan terus lagi, dia memaksa kakinya berlari, dia tidak bisa sembunyi di area yang sangat terbuka. Hingga saat dia hampir di ujung jajaran pertokoan elite itu, dia menabrak seseorang yang baru saja keluar dari toko.


"Ini bukan jalan orang tuamu! Kalau berjalan, pakai mata, jangan pakai dengkul!" Teriak seseorang lain yang langsung menolong wanita yang di tabrak oleh Melisa.


Melisa tidak peduli, dia bangkit lalu berlari lagi. Sialnya, jarak mereka terlalu dekat dan kaki Melisa sepertinya sudah menyerah.


"Kau membuat kami kesulitan, Nona!" Ucap pria yang berambut gondrong.


"Tolong, lepaskan saya, Tuan! Saya sudah tidak punya apa-apa!" Lirih Melisa yang sudah tak karuan lagi penampilannya.


Tanpa memedulikan Melisa, pria itu memasukkan Melisa kedalam mobil yang sudah berada tak jauh dari posisi pria-pria itu.


Melisa pasrah, dia menyerah. Rasanya, seluruh tulangnya sudah meninggalkan tubuhnya. Tersisa onggokan daging dan kulit. Lemas. Tak berdaya. Melisa bahkan heran, dia tidak pingsan mengingat bagaimana dia berlari dan sebutir nasi pun belum ada yang masuk ke perutnya.


Melisa terkejut bukan main saat melihat kemana dia di bawa. Dia mulai menahan langkahnya. Sehingga memaksa dua orang itu menariknya. Dan salah seorang lagi mendorong tubuh Melisa dari belakang.


"Tuan, apa salah saya? Saya tidak menyebabkan kerusakan atu kerugian!" Melisa berpikir dia di bawa ke sini sebab membuat keributan di jalan raya tadi.


"Ikut saja ke dalam. Jangan banyak bicara! Di sini perkataanmu tidak berarti apa-apa!" Jawab Pria yang berpakaian rapi. Meski tampan tapi dia sangat kaku dan dingin.


"Tuan, tolonglah saya! Lepaskan saya, Tuan!" Rintih Melisa. Namun ketiga orang itu tidak peduli, dan terus saja mendorong Melisa ke dalam ruangan dan menyusuri koridor yang semakin sempit dan pengap.


Hingga sampailah mereka di ujung koridor. Besi-besi membentuk kungkungan tak tertembus, menyambut mereka. Di sinilah dia berakhir hari ini, petualangan hidupnya bermuara di sini. Setidaknya, Tuhan memberi jawaban atas pertanyaannya. Dia mendapat tempat berlindung dari kejamnya malam yang siap mencengkeram jiwa-jiwa yang lemah dengan kuku-kukunya yang tajam.


***


Kira tengah menunggu suaminya menjemputnya di kantor. Perlahan dia mulai beradaptasi dengan kebiasaan barunya. Sedikit demi sedikit dia mulai mengerti dengan urusan kantor. Di bantu Pak Sofyan dan beberapa orang lain yang siap sedia membantunya.


Suasana kantor menjadi sangat menyenangkan dan bergairah. Para karyawan berwajah ceria sepanjang waktu. Mungkin karena belum ada tekanan yang begitu berarti di awal tahun, batin Kira.


Kira merapikan meja kerjanya, meski ada OB yang akan membersihkan ruangannya, tapi Kira tidak bisa membiarkan kerusuhan melanda matanya. Dia selalu merasa sumpek saat melihat sesuatu yang berantakan.


Setelah selesai, dia merapikan rambut dan bajunya. Tak lupa tas tangannya segera bergelayut manja di tangan kirinya. Di sini tidak ada lift khusus, seperti di kantor suaminya. Yang langsung terhubung dengan area parkir bawah tanah. Bahkan Kira berbagi lift dengan karyawan lain. Meski pada akhirnya karyawan laki-laki memilih keluar dari lift dan mempersilakan bosnya naik lift terlebih dahulu.


"Terima kasih," Ucap Kira tulus dengan senyum terkembang.


"Sama-sama, Nona!" Jawab mereka serempak.


Pintu lift menutup dan membawanya turun ke lobby.

__ADS_1


Ting[bunyi lift]


Kira sedikit berlari, saat teleponnya berbunyi. Dia tahu itu suaminya. Jadi dari pada susah-susah mencari-cari ponsel yang malah akan menghambatnya, Kira memilih mengabaikannya dan bergegas menemui suaminya.


"Maaf lama, Yang! Udah lama nunggunya?" Kira menyelipkan rambut yang melambai saat dia berlari tadi. Suaminya sedang berdiri di sisi jauh mobil. Hendak menjemput istrinya ke dalam kantor.


"Belum sih! Hanya saja, aku mendapat undangan makan malam dari salah seorang mitra kerjaku. Jadi, aku buru-buru pulang!" Jawab Harris yang menyambut istrinya dalam pelukan. Mengecup puncak kepala istrinya yang tengah menempel di dadanya.


"Oh, baiklah! Kita pulang sekarang!" Kira segera melepas pelukannya dan segera masuk ke dalam mobil.


"Kau lelah?" Harris memperhatikan wajah istrinya yang sedikit pucat.


"Tidak juga! Aku bahkan tidak melakukan apa-apa seharian! Hanya duduk dan membaca novel atau bermain game!" Jawab Kira asal. "Itulah sebabnya aku heran, kau selalu lelah jika pulang kantor!"


Harris mendekat ke sisi belakang telinga, dan berbisik, "Sayangnya, aku tidak lelah sama sekali! Bahkan aku siap memulai sejak matahari belum terbenam sempurna!"


Kira yang awalnya tertawa, perlahan menyurut, berganti tatapan sayu, meski matanya tidak berkurang binarnya. "Yang, Please! Aku beneran ngga bisa bangun besok!"


"Itu akibatnya jika kau selalu meremehkan beban pekerjaanku yang tidaklah sedikit dan melelahkan," Harris mencubit pipi istrinya yang semakin tirus. "Makanlah yang banyak, kau semakin kurus, Sayang!"


Kira menurunkan tangan suaminya, "Aku makan banyak sekali, tapi begitu mau jadi lemak, sudah kau guncang! Rontok tak bersisa, Tuan!"


Telinga Johan seperti langsung menutup, mendengar diskusi kotor yang membuat prinsip mendudanya goyah. Keinginan menikah itu timbul begitu saja, melihat pandangan mesra dari pasangan di belakangnya.


"Setelah kaca mata kuda, aku mau pesan penutup telinga otomatis! Pikiran murniku ternodai oleh ocehan mereka," Batin Johan, sambil merapatkan giginya.


β€’


β€’


β€’


Maaf jika ada typo. 🀧


Maaf jika author terkesan asal.πŸ™


Maaf jika author ngga konsisten up nya.😣


Sungguh Author sudah berusaha. dan akan terus berusaha.😊


Selamat malam, selamat membaca.πŸ₯°

__ADS_1


Love you all😘


__ADS_2