Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Bibir Mengandung Racun


__ADS_3

Doni dan seorang baby sitter datang tak lama setelah mereka sampai di ruang kerja Harris. Agiel dan Azziel baru pertama kali ikut ke kantor Papanya sehingga mereka menjelajah seisi ruang kerja Papanya. Ada banyak hal baru yang sayang untuk mereka lewatkan sepertinya.


Harris yang mulai menghadapi layar komputernya, sepertinya kehilangan konsentrasi. Mengingat jeritan dan lalu lalang dua bocah itu tak bisa dikendalikan bila ditempat baru. Ditambah Kira yang juga ikut mengejar putranya agar mereka tetap aman.


Melihat ini, Harris seperti kesakitan sendiri. Setiap hari pasti seperti itu, sehingga istrinya kehilangan banyak sekali berat tubuhnya. Nyaris kurus. Kedua pasang jemarinya memijat pelipis diikuti buangan napas yang mengembus perlahan. Diangkatnya tubuh kekar berisi miliknya dari kursi. Langkahnya terayun menangkap salah satu dari mereka.


"Yang, jangan diikuti teruslah! Kau bisa kelelahan nanti!" Sorot mata yang melemah dan sendu penuh permohonan menjurus ke arah Kira yang baru saja memalingkan wajah dari Agiel.


Sesuatu yang membuat Kira heran sampai menumpuk tanya dikeningnya. "Lalu, aku harus membiarkan mereka tidak dalam pengawasan, begitu?"


"Kan ada Mbaknya!" Decakan penuh kekesalan menyeru hampir bersamaan dengan nada keberatan dari bibir pria rupawan ini.


"Mbaknya cuma bawa satu, yang satu siapa yang urus? Johan?" Kira menunjuk Johan yang baru saja memasuki ruangan. Dia memasang wajah tidak mengerti meski dia tahu, sebentar lagi dia akan menjadi objek mainan Kembar.


"Ini beberapa berkas yang anda minta, Tuan!" Langkah panjang-panjang Johan, mendorongnya mendekati meja kerja bosnya. Mengabaikan pandangan Harris dan Kira.


"Apalagi sekarang?" Johan mendengus pasrah, sebab dua orang itu terpaku menatapnya, mengikuti gerakan Johan, sekecil apapun. Diletakkannya lembaran kertas itu diatas meja Harris, "Pekerjaanku banyak sekali, jadi hari ini aku tidak bisa membantu kalian!"


"Siapa yang mau bantuanmu? Kau ini sensitif sekali! Ngga dapet jatah dari Viona ya?" balas Kira sengit, bibir wanita ini sampai meliuk saking sebal dengan ucapan Johan yang sepertinya menyalah artikan pandangan dari Kira dan Harris.


"Pergi sana!" Kira mengusir Johan dengan dagunya yang bergerak maju, sebab tangannya sibuk memegangi Azziel.


Johan merasa agak kecewa saat melihat ekspresi Kira yang tajam dan dingin. Baru kali ini Nyonya Bos nya bersikap begitu serius padanya. Saliva Johan bergerak turun, menggilas rasa kecewa yang mulai merangkak naik ke wajahnya.


"Maksud saya bukan begitu, Nyonya. Saya memang benar-benar sibuk, jika tidak, saya mau kok mengasuh Agiel dan Azziel."


"Astaga, sudah beristri juga masih menyimpan rasa pada istriku! Bener-bener ni orang!"


Harris mengeraskan rahangnya, melihat Johan merasa bersalah dan luluh saat Kira bersikap tegas padanya.


"Sayang," lirih Harris sambil membelai pipi Kira yang masih sengit menatap Johan. "Ranu sebentar lagi pulang dari sekolah, bagaimana kalau kalian menjemput Ranu?!"


Setengah memaksa Harris menarik perhatian Kira dari Johan.

__ADS_1


"Tatap saja suamimu yang tampan ini,"


"Bagaimana?" Harris merayu istrinya dengan sebelah alis terangkat, mengembangkan senyum paling manis. Sedikit miring, agar Kira bisa melihat dengan jelas bahwa suaminya sempurna.


Merengut. "Abang ngga suka ada aku dan anak-anak di sini?"


"Ya ampun bukan gitu, Yang-"


"Mbak kita balik sekarang, diusir kita!"


Tubuh Kira berbalik, menyerahkan Azziel kepada babysitter yang sejak tadi berdiri penuh perhatian namun, dia sama sekali tidak berani melihat ke arah majikannya.


Harris kelimpungan, panik, "Yang, ngga gitu maksudku!"


Tatapan sendu mengikuti gerak Kira, setengah menahan Agiel, Harris berusaha memberi pengertian pada istrinya.


"Yang, jangan gitu dong!"


"Don, bawa Agiel ya!" Meskipun bingung, Doni mengikuti saja perintah Kira. Dilema, Doni tak tahu harus menurut pada siapa.


Dengan menarik kepalanya ke arah pintu, Doni menyuruh babysitter dan Azziel berjalan terlebih dahulu. Kedua bocah itu tampaknya lelah dan mengantuk, sehingga tak ada perlawanan berarti.


Kira menyambar tas berisi perlengkapan kembar dan menyandangnya di pundak. Tanpa pamit, Kira melangkah menuju pintu.


"Yang," Harris sedikit terkesiap saat menyadari Kira hampir menjauh darinya. Setengah berlari Harris mengejar Kira hingga ke muka pintu. Meraih pertengahan tangan Kira, hingga berbalik menghadapnya lagi. Bahkan nyaris bertabrakan.


Mengangkat tumitnya tinggi-tinggi, dan


Cup...


Kira mendaratkan bibirnya sekilas, membuat Harris membola sempurna.


" Kurang ajar,"

__ADS_1


Tangan kanan Harris tergesa meraih pinggang Kira, merapatkan dirinya, Harris mencegah Kira menjauh, meraih belakang kepala istrinya untuk memperdalam ciuman. Mengabaikan pekikan pelan istrinya, yang tak meninggalkan bibirnya.


Decapan khas keduanya sampai membuat Johan yang sejak tadi masih di sana, berusaha abai, meski kepalanya selalu ingin menoleh. Kedua bos nya selalu menggoda untuk di perhatikan kegiatan yang sebenarnya sudah biasa dilihat Johan.


Betis dan ujung kaki Kira terasa pegal, sehingga dia berusaha menyudahi "sarapannya". Sebelum Harris mengusir Johan, dan beralih ke aktivitas yang lain.


"Selamat bekerja, suamiku sayang!" Senyuman Kira terkembang sempurna, jemari tangannya sibuk merapikan kerah dan dasi yang menggantung. Menghindari tatapan sendu yang menginginkan yang lain.


"Kerja yang bener, ingat, istrimu butuh tambahan modal untuk menyenangkanmu!" bisik Kira di atas dada suaminya.


Ekspresi wajah Harris dipenuhi campuran perasaan yang sulit diterjemahkan, "Siapkan dirimu dan kondisikan anakmu!" Harris mendekatkan bibirnya ke telinga Kira. "Akan kupastikan, bibir racunmu ini tak bisa diam malam ini!"


"Dan akan kupastikan juga, anakmu akan mengganggumu seperti malam-malam sebelumnya!"


Sedikit mendorong, Kira menjauhkan tubuhnya. Melambai dengan acuh sambil mendorong pintu. Gagal menerjemahkan cinta bukan sekali dua kali terjadi. Terkadang mereka harus tidur dengan kekesalan mengumpul di tenggorokan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2