
Suasana semakin memanas, tidak ada yang mau mengalah, bahkan Riana dan Melisa masih saling tuduh siapa yang paling bersalah.
"Dasar wanita ular," Desis Riana.
Riana menyambar rambut Melisa, menariknya hingga terseret beberapa langkah. Melisa terkejut dan berteriak, mengaduh tanpa bisa berbuat apa-apa selain memengangi rambutnya.
"Kau yang membuat semua kacau, Mel. Semua karena kamu, aku benci kamu, Mel," Raung Riana tanpa melepas cekalan pada rambut Melisa.
"Sakit, Ri. Lepaskan," Rintih Melisa. Air matanya semakin deras mengucur, menahan sakit.
Rian segera melerai mereka," Lepaskan, Ri. Jangan berbuat kasar seperti itu."
Rian menarik tangan Riana, hingga akhirnya cekalan itu terlepas. Melisa segera berdiri dan menjauh dari Riana.
"Kau yang salah, kenapa kau tidak mengakui saja, dan ganti uangnya," Teriak Melisa.
"Kau juga salah, mengapa kau masih berpura-pura," Balas Riana.
"Diam kalian berdua. Kalian sama saja," Teriak Rian.
Ayah dan Ibu, masih terpaku di tempat. Mereka merenungi ucapan Riana. Mereka berdualah yang salah, mereka yang membuat anaknya menjadi monster. Mengerikan dan menakutkan. Riana, gadis manis yang periang, dibalik sikapnya yang acuh, dia menyimpan dendam.
Riana dan Melisa terdiam seketika. Napasnya masih memburu, dadanya naik turun, memompa udara sebanyak-banyaknya.
"Aku akan pergi sebelum kalian mengusirku, aku tahu kalian tidak akan mengakui aku sebagai keluarga kalian lagi."
Riana menatap mereka satu per satu, berharap ada yang mencegah kepergiannya. Namun, sepertinya dia terlalu banyak berharap. Tidak satupun dari mereka yang menanggapi ucapannya.
Riana meninggalkan ruang keluarga, meninggalkan keluarga yang dia pikir akan mencampakannya, membuangnya.
"Riana, jangan pergi, Nak," Lirih Ibu. "Maafkan Ibu, Ri. Ibu yang salah, kembalilah, Nak,"
Ibu kembali terisak, isakan yang menyayat hati. Baik Ayah maupun Rian, sama sekali tidak peduli, mereka masih di kuasai amarah.
"Yah, panggil Riana lagi, bawa dia kemari, Yah. Maafkan Riana, Yah," Ibu bersimpuh di kaki suaminya. Suami yang di abaikan perintahnya dan nasehatnya. Ibu sudah memberi teladan yang buruk untuk Riana. Menabur racun di setiap sisi otak anaknya. Sesal, baru saja menyapa di penghujung usianya. Ketika dia tak mampu lagi berbuat apa-apa.
Ibu menghampiri Rian, mengguncang bahunya, agar dia segera kembali dari keterpurukannya.
"Rian, bangun Nak. Kejar adikmu, dia hanya tersesat," Lirih Ibu.
"Inilah hasil yang Ibu tabur, memanjakan Riana, membiarkannya ketika dia salah, dan Ibu enggan menegurnya," Ucap Rian. "Biarkan dia merenungi perbuatannya, Bu. Dia akan baik-baik saja."
Rian bangkit di ikuti Melisa. Merangkul suaminya menuju kamar. Mereka juga perlu bicara.
"Mas, maafkan aku. Aku tidak memberitahumu sejak awal. Aku takut mereka menyakitiku dan anakmu," Ujar Melisa lembut. Melisa bersimpuh di hadapan suaminya, menggenggam tangan suaminya, berusaha meyakinkan bahwa apa yang di ucapkannya bukan kebohongan.
"Seharusnya kau memberitahuku apa yang kau ketahui, Mel. Sehingga kita semua tidak salah paham. Setidaknya, kita tidak terluka separah ini," Rian menatap kosong ke sembarang tempat. Benar, kini semua kacau, semua terluka, semua sakit.
"Maaf, Mas. Aku tidak berpikir sampai sejauh ini. Aku juga malu kepada Kira. Aku sudah membuat keributan karena kecemburuanku. Mas, uang yang belum ku berikan, akan kuserahkan esok, aku rasa sudah saatnya mereka menerima apa yang menjadi hak mereka," Melisa belum beringsut dari depan suaminya. Mengusap tangan suaminya dalam genggamannya.
Rian tersenyum, hanya tersenyum, hanya menenangkan Melisa, dia masih belum yakin dengan apa yang di dengarnya. Dia tidak akan percaya kepada siapapun, bahkan kepada Melisa.
"Bagus sekali, niatmu harus segera di lakukan,"
"Tentu saja, Mas. Aku juga akan meminta maaf pada Kira dan anak-anak," Melisa memeluk suaminya.
Otaknya kembali berputar, dari mana uang yang tidak sedikit itu? Bodo amat lah, yang penting sekarang dia aman.
Riana mengemudi dengan kecepatan tinggi. Dia sangat kesal, marah dan kecewa. Semua orang kini mengabaikannya, hanya demi Kira. Dalam hatinya dia bertekat akan membalas Kira, semua ini karena Kira.
Riana tidak segera kembali pulang ke rumah suaminya. Meskipun malam semakin larut, tetapi dunianya baru dimulai. Dunia tempatnya melupakan semua kemarahan dan kekesalan di hatinya.
.
.
.
__ADS_1
Malam sudah menyapa, sepi. Dinginnya mulai menusuk-nusuk tulang.
Kira merasakan tidurnya terlalu nyenyak, hingga dia lupa waktu. Dia terlonjak ketika melihat jam dinding menunjukkan hampir jam 12 malam.
Kira terkejut bukan main saat melihat Harris ikut meringkuk dalam selimut bersamanya. Tanpa melepas baju dan sepatu, dan tentu saja tanpa mandi. Seperti bukan dia banget.
Perlahan Kira turun dari ranjang, dan melepas sepatu Harris. Kira tanpa sadar menarik sudut bibirnya. Melakukan hal seperti ini, sangat membuatnya bahagia. Melihat wajah tenang dalam tidur lelap itu, adalah sebuah kepuasan tersendiri baginya.
"Apa dia sangat lelah, hingga dia tidak mandi? ," Batin Kira.
Kira kembali ke sisi Harris, memandangi wajah itu, sepuasnya. Seperti orang gila, dia tersenyum sendiri. Wajah garang itu, seperti kelinci saat tidur. Menggeliat seperti bayi. Ugh, lucunya.
Kira terkikik, dan sepertinya tawa Kira membangunkan si bayi kelinci. Matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya yang masih terang benderang. Linglung, seperti usai berjalan jauh dan berada di tempat asing.
"Kau bangun?," Kira tersenyum.
"Apa aku tadi tidur?," Harris duduk dan meregangkan tangannya ke atas kepala.
"Kau pingsan," Jawab Kira santai.
"Oh ya? Aku lelah sekali," Harris memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri, sepertinya leher Harris sangat pegal.
"Benarkah? Apa duduk di kursi dan menghadap laptop itu melelahkan?," Kira menyipitkan mata, seolah tidak percaya. Padahal dia yakin Harris sangat lelah dan penat.
"Kalau begitu, besok kau ikut aku bekerja, biar tahu, apa aku lelah atau hanya pura-pura," Harris menghempas selimut dengan kasar. Kira tertawa di buatnya.
"Aku mau mandi, siapkan airnya," Perintah Harris.
"Tumben? Biasanya bersiap sendiri?," Kira melirik Harris.
"Jangan banyak bicara, cepat siapkan."
"Baik, Yang Mulia, jika anda berkehendak, hamba bisa apa?," Kira berlari ke kamar mandi, dan menyiapkan air hangat untuk Harris.
Kira sedang asik memainkan air sembari menunggunya setengah penuh. Berendam, hanya akan membuang-buang air, pikirnya.
"Kau sudah gila?," Teriak Kira yang sudah mendapatkan kembali suaranya.
Harris tertawa terbahak-bahak melihat Kira gelagapan, kehilangan nafas. "Kau lucu sekali,"
"Iya, lucu. Kau hampir membunuhku."
"Tidak, buktinya, kau baik-baik saja," Ucap Harris acuh.
"Lihat, bajuku basah kan? Aku sudah mandi tadi. Kau ini," Geram Kira. Kesal. Dia hendak beranjak keluar dari bathup, tapi, Harris menariknya.
"Kau mau kemana?."
"Ganti bajulah, masa mau memasak?," Jawab Kira ketus.
"Nanti saja, sini, ku pijat punggungmu, kau pasti sangat lelah akhir-akhir ini," Harris memiringkan kepalanya di ikuti alisnya terangkat sebelah.
"Tidak usah,"
"Tapi, aku memaksa," Padangan Harris sungguh membuat Kira jengah. Kira tahu, apa yang di lakukan dua orang di bathup. Dasar, modus.
"Sini," Harris menarik Kira yang hampir keluar dari bathup. Memaksanya duduk dihadapannya dan membelakanginya.
Harris membuka kancing baju Kira dari belakang. Harris meletakkan kepalanya di bahu Kira. Ugh, merinding.
"Apa yang kau lakukan seharian?," Suara rendah Harris membuat Kira menggigit bibir.
"Um, tidak ada, hanya membeli beberapa baju. Kenapa?," Kira berusaha berbicara senormal mungkin mengatasi gejolak di dadanya.
"Baju apa?," Harris mulai memijat pelan leher dan pundak Kira. Memang benar, Kira merasa lelah dan pijatan Harris membuatnya sangat nyaman. Bisa-bisa tertidur lagi nanti, batin Kira.
"Hanya baju harian, kenapa sih?," Kira mulai kesal.
__ADS_1
"Hanya bertanya, memangnya tidak boleh?," Harris tidak menghentikan pijatannya di punggung Kira. Kira memejamkan mata dengan bertumpu pada kedua lututnya. Nikmatnya.
"Apa kau tidur?," Harris menggucang pelan tubuh Kira setelah beberapa saat Kira terdiam.
"Hem."
"Bangun, nanti kau masuk angin," Harris mendorong tubuh Kira, hingga nyaris ambruk lagi di air.
Kira terbangun dari tidur singkatnya. "Kasar sekali, kau juga yang membuatku basah,"
"Keluar sana," Harris mengerutkan wajahnya. Dia tidak marah, hanya khawatir.
"Iya, iya," Kira segera beranjak meninggalkan Harris. Membilas tubuhnya dan memakai baju lagi. Kemudian naik ke ranjang, meskipun dia berbaring tapi dia tidak tidur.
Tak lama kemudian, Harris juga menyelesaikan mandinya. Menyusul Kira, yang sedang menatap langit-langit kamar. Keduanya sudah wangi dan segar. Begitu pula mata mereka berdua, segar, seakan kantuk dan lelah itu sirna.
"Apa?," Tanya Kira sembari mengangkat dagu. Ketika Harris meliriknya.
"Tidak ada, hanya melihat seorang wanita dengan tato di lehernya," Jawab Harris acuh.
"Itu juga ulahmu, aku sampai malu di lihat orang-orang," Seru Kira.
"Tutupi saja wajahmu, itu saja jadi masalah," Balas Harris.
"Iya, tidak jadi masalah jika itu kamu, kamu memang tak punya urat malu."
Harris mendelik sebal, dan Kira membalasnya tak kalah sengit. Mereka berdua beradu pandang, yang di penuhi kekesalan.
"Diamlah, atau mau kutambah lagi, hingga tak menyisakan celah di sana," Ancam Harris.
Kira berdecak, "Sedikit-sedikit marah, apa-apa kesal, suka menjahili orang tapi begitu di balas malah marah. Dasar menyebalkan," Gerutu Kira.
"Aku mendengarnya."
Kira segera masuk ke dalam selimut, membelakangi Harris yang masih bersandar, memainkan ponselnya.
"Menyebalkan," Batin Kira.
"Berhenti mengatakan aku menyebalkan, jika kau tidak ingin melihat seberapa menyebalkannya diriku," Ucap Harris menghentikan gerakan di atas ponselnya. Dia hanya menduga, karena dia sering melakukan itu ketika mendapat teguran.
"Dasar, pembaca pikiran," Batin Kira.
Harris meletakkan ponselnya, menyusul Kira dalam balutan selimut. Saling mendekat, hingga napasnya menyentuh leher Kira.
"Layanan pijat tidak gratis, Nyonya. Anda harus membayar," Bisik Harris di belakang telinga Kira.
"Kau sendiri yang menawarkan, aku tidak memintanya."
"Tapi, aku meminta bayaran karena kau tidur saat ku pijat."
"Dasar, kancil licik," Gerutu Kira.
Harris mulai bergerilya, menjelajah dan mengeksplorasi tubuh istrinya. Tubuh yang masih indah meski sudah 2 kali mengandung dan melahirkan. Menyisakan bekas sayatan tipis melintang di bagian bawah perutnya.
Kira hanya bisa pasrah dan menikmati, hingga keduanya tak sanggup lagi untuk sekedar menarik napas panjang. Larut dalam kebahagiaan dan cinta yang hadir tanpa menyapa.
.
.
.
Author ucapkan terimakasih untuk setiap dukungan reader semuanya. Semoga rezekinya lancar, melimpah dan berkah...Aamiin🤲
Maafkan kekurangan dalam tulisan Author ya, tetap dukung saya agar tetap bisa mengudara...Ee...cie, kaya radio saja.😅😅
❤❤❤❤ peluk cium dari Author.
__ADS_1