Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Life Goes On. 1


__ADS_3

Author lagi bingung mau kasih judul apa! Terinspirasi lagunya BTS yang berjudul Life Goes On.




"Anda baik-baik saja, Nyonya?" Tawa Johan surut, berubah menjadi kecemasan. Dalam tiga langkah panjang, Johan sudah sampai di samping meja kerja Kira.


Melihat wanita itu menangis, membuat Johan sangat kesakitan. Ah, dia bukan siapa-siapa untuk meraihnya dalam dekapan untuk sekedar memberikan rasa tenang.


Johan hanya bisa menatap bahu yang berguncang itu dengan perasaan yang tak berdaya. Tangan yang semakin kurus itu, menyeka aliran airmata yang membekas di pipinya.


"Aku baik-baik saja, Jo! Aku hanya terbawa perasaan saja! Apalagi saat menyangkut anak-anakku!" Johan mengambil kotak tisu yang berada di meja dekat sofa. Benda itu sepertinya yang sangat di butuhkan Kira.


Kira yang hendak bangkit untuk mengambil kotak tisu, duduk kembali, menerima kotak tersebut dan mulai menyeka wajahnya yang basah.


"Maaf, Jo! Kau harus melihatku dalam keadaan seperti ini. Aku memang lemah dan cengeng!" Ucap Kira di sela tisu yang menyeka hidungnya. Sehingga suaranya tak begitu terdengar jelas.


Johan hanya diam saja, kosong. Dia tidak bisa berpikir lagi, wanita ini bukannya lemah. Tapi dia terlalu sering terluka, dan lukanya tak pernah bisa mengering. Selama, masa lalunya belum bisa berdamai dengannya.


"Minum, Nyonya?" Tanya Johan yang tidak tahu lagi bagaimana cara menenangkan wanita itu. Mungkin air bisa melegakan sesak yang berkumpul di tenggorokannya.


"Boleh," Satu kata saja, dan Johan langsung melesat dalam satu kedipan mata. "Makasih, Jo."


"Sama-sama, Nyonya. Anda bisa pulang jika merasa kurang nyaman," Ucap Johan lagi. Yah, apalagi yang bisa dilakukannya. Selain kata-kata remeh, dan tidak ada pengaruhnya bagi Nyonya Bos-nya. Dia mencibir dalam hati.


"Aku baik-baik saja, Jo" Kira menenggak air dari botol itu dengan terburu-buru, namun tetap berhati-hati.


[Semua aman terkendali, Tuan. Hanya sedikit hujan tapi hanya sebentar]


"Oh ya! Jangan beritahu Harris. Aku sudah baik-baik saja! Aku tidak mau mengganggunya. Ku rasa aku terlalu banyak membebaninya," Ucap Kira sambil menutup botol air mineral di tangannya.


Johan terkesiap, dan langsung menyembunyikan ponsel di belakang tubuhnya. "Baik Nyonya,"


[Perlukah aku datang?]


Harris menyangga janggutnya pada tekukan ibu jari dan telunjuknya. Tubuhnya di sandarkan pada sandaran kursi berputar. Saat ini, dia sedang mendengarkan pemaparan dari mitra bisnisnya.


Manik matanya menatap layar proyektor yang sedang menunjukkan data berupa grafik kinerja rekan bisnisnya tersebut yang mengalami kenaikan profit yang signifikan. Tetapi, bukan sekali dua kali dia melirik layar ponselnya. Berharap Johan segera membalas pesan yang dikirimkan barusan.


[Tidak perlu Tuan, sepertinya suasana hati Nyonya sudah lebih baik. Katanya, jangan memberitahu anda. Nyonya takut akan mengganggu anda]


Harris tersenyum, ibu jarinya mengusap pelan bibirnya, buru-buru membalas pesan dari Johan.

__ADS_1


[Kirimkan fotonya]


Tidak ada balasan.


Sunyi.


Rupanya presentasi tersebut sudah usai sejak beberapa saat lalu. Kini, selusin peserta rapat tengah menanti keputusan dari pemimpin perusahaan. Semua mata saling pandang antara sesama, kesal, tetapi tidak berani menegur.


"Meeting di tunda 15 menit," Salah seorang staf Harris berdiri, mengambil inisiatif untuk menunda rapat. Melihat bosnya sedang tidak fokus pada pekerjaannya.


Harris yang sadar bahwa dirinya terlalu larut dengan urusannya sendiri, langsung menegakkan tubuhnya, dan kembali fokus.


"Apa yang saya lewatkan?" Tanya Harris datar dan santai, seakan tidak terjadi apa-apa.


Orang yang memaparkan presentasi, langsung pingsan. Mulutnya sudah berbusa dan nyaris kram saking lamanya berdiri, belum lagi ketegangan yang tercipta karena sikap Harris yang terlihat tidak begitu menaruh minat pada presentasi tersebut. Dan ternyata tidak di dengar sama sekali oleh sang CEO. Tenggelamkan saja aku, batin orang yang pingsan tadi.


Dengan sabar, staf Harris menjelaskan kembali apa yang di jelaskan oleh perwakilan mitra bisnisnya tersebut. Harris mengangguk mengerti. Dan tidak sampai 15 menit rapat kembali di lanjutkan.


***


Bayi perempuan yang menggemaskan itu sedang berceloteh dengan bahasa yang sama sekali tidak di mengerti oleh pengasuhnya. Namun, demi menyenangkan hatinya, pengasuhnya membalas sekenanya, dengan senyum tulus dan tawa bahagia.


Tetapi, dia langsung menangis saat mendengar hentakan pintu yang di dobrak dari luar. Terkejut hingga kedua tangan dan kakinya berjingkat ke atas. Tangisannya begitu menyayat hati, keras dan memilukan.


"Sia terkejut saat mendengar suara pintu tadi, Bu," Cicit pengasuh itu, sambil menenangkan Sia. Dia menimang Sia di lengannya, sambil menepuk-nepuk pelan paha bayi itu.


"Kau berani menyalahkan aku? Aku ini majikanmu, yang membayar gajimu! Jangan kurang ajar padaku, b***!" Teriak Melisa. Dia butuh pelampiasan dari kekesalan dan kemarahan yang sejak tadi menumpuk di dadanya.


Meski pengasuh itu sudah terbiasa dengan amukan Melisa tapi kali ini dia merasa sangat terluka. Titik-titik bening itu, meluncur begitu saja, meski dia berusaha menahannya.


"Maaf, Bu," Cicitnya lirih. Di dekapnya Sia erat-erat. Bayi yang baru bisa tengkurap itu masih terisak. Dan, masih mengeluarkan suara seakan berkata bahwa dia sangat takut.


"Jika kau tidak mau mengasuhnya, kau berhenti saja! Aku bisa cari penggantimu sepuluh kali lebih baik!" Teriaknya lagi.


"Melisa! Jaga ucapanmu! Nisa adalah pengasuh terbaik yang pernah merawat Sia! Bahkan kau yang ibunya, tidak ada apa-apanya di banding Nisa! Kau yang salah, malah menuduh Nisa yang tidak-tidak!" Bentak Rian yang sejak tadi berdiri diambang pintu.


Melisa berbalik, "Oh, jadi kau membela pengasuh itu, Mas? Bagus ya, setelah mantan istrimu tak bisa kau dapatkan, sekarang kau turun derajat memilih b***! Iya?"


"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak membela Nisa! Aku hanya mengatakan kebenaran! Jika kau becus mengurus Sia, tentu kita tidak butuh Nisa dan pengasuh yang lain! Kau ini sudah salah, tapi masih tidak mau mengakui, malah menyalahkan orang lain!" Balas Rian. Dia juga sama kesalnya dengan Melisa. Pulang kerja, lelah, tetapi malah seperti ini sambutan yang di dapat.


""Kau menyalahkan aku, dan membela dia, apa aku keliru jika menyebut kau menyukainya? Kenapa Mas? Kerena aku sudah tidak cantik lagi?" Teriakan Melisa membuat Sia menangis lagi bahkan lebih keras.


Melisa menyambar kerudung yang di kenakan Nisa. Wanita seusia Nina itu, meringis menahan sakit, sambil memeluk erat Sia.

__ADS_1


"Lepaskan dia, Mel! Apa kau sudah gila? Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini!" Rian maju beberapa langkah untuk melepas tangan Melisa dari kerudung Nisa.


"Sakit, Bu. Tolong lepaskan saya," Rintih Nisa yang sudah berurai airmata. Dia nyaris tidak bisa merasakan sebelah kepalanya, saking kuatnya tarikan Melisa.


"Iya Mas! Aku sudah gila, gila karena kamu! Kamu yang membuatku hidup denganmu, tapi kau malah membuatku sakit hati setiap waktu," Jerit Melisa. Tarikannya semakin kuat, memaksa Nisa ikut kemana arah tangan Melisa. Dengan kasar Melisa menghempaskan Nisa ke lemari kayu di sebelahnya.


Rian tidak mempedulikan ucapan Melisa, dia khawatir akan keselamatan anaknya. Jadi, begitu Melisa mendorong Nisa, Rian segera berlari untuk menangkap Sia. Tetapi, sayang, Rian terlambat. Kuatnya dorongan Melisa membuat Nisa membentur lemari dengan keras, hingga membuat Nisa pingsan. Darah mengalir dari sudut alis Nisa. Beruntung Sia baik-baik baik saja, karena Nisa melindungi Sia dengan memindahkan Sia ke sisi tubuhnya yang lain. Tangisan bayi itu semakin mengiris-iris, memilukan.


Rian menarik Sia dan menahan tubuh Nisa. Rian seakan hancur hatinya, dia tidak akan memaafkan dirinya jika terjadi apa-apa dengan putrinya.


"Kau kejam Mel!" Rian menatap Melisa dengan mata melebar sempurna, penuh kemarahan dan kecewa.


Melisa sesaat terkesiap akan tindakannya yang diluar batas, tetapi, dengan angkuh dia menyilangkan tangannya dan tersenyum sinis.


"Bela dia terus, Mas! Jangan pedulikan aku! Kalau perlu nikahi b*** itu, agar dia bisa mengurus anakmu!" Ucap Melisa acuh.


Rian benar-benar murka, saat seperti ini dia masih mengatakan omong kosong. Rian panik, tanpa memedulikan Melisa, dia memanggil Bik Sumi.


"Bik, Bibi," Teriak Rian tetapi tidak mendapat sambutan. Dengan terpaksa Rian meletakkan Nisa pelan-pelan, lalu beranjak dengan Sia yang masih terisak, dalam dekapannya.


"Jika kau macam-macam, kupastikan hari ini, hari terakhir kita bersama," Ucap Rian penuh ancaman. Urat di lehernya menyembul semua, dia terlalu marah pada wanita yang menjadi istrinya kini.


Melisa terbelalak, perlahan tangannya terurai dari simpul silang di dadanya. Lagak yang angkuh perlahan mulai mengendur, berganti kecemasan. Bagaimana dia bisa hidup tanpa suaminya. "Mas Rian, tunggu, Mas!"


Namun Rian sudah jauh menuruni tangga, menuju dapur dimana Bik Sumi biasanya berada.


"Bik, jaga Sia sebentar. Aku mau mengantar Nisa ke klinik," Rian menyerahkan Sia sedikit tergesa, namun masih tetap berhati-hati. Pikirannya kacau, sehingga dia mengabaikan pertanyaan Bik Sumi.


"Mas, maafkan aku! Aku tidak sengaja, Mas!" Rian berpapasan dengan Melisa di tangga. Tangannya menggapai tangan Rian yang tengah berayun sebab berlari ke atas.


Rian membuat Melisa sulit menggapainya, bahkan dia menampik tangan Melisa hingga dia terhuyung ke bawah.


"Kau peduli pada wanita itu tapi kau mengacuhkan aku, Mas? Kau suka pada pengasuh itu? Iya kan, Mas?" Melisa berlari menyusul suaminya. Napasnya yang sudah memburu karena emosi, semakin menderu saat dia berlari mengejar suaminya. Ketika sampai di depan pintu, Rian sudah membopong Nisa keluar kamar.


Bagaimana tidak khawatir, kemungkinan Nisa membentur handle lemari yang terbuat dari besi. Pelipis yang mengeluarkan darah itu terlihat robek, meninggalkan bekas handle pintu yang berbentuk kotak.


"Mas, Mas Rian! Dengarkan aku, Mas! Mas Rian!" Melisa mengikuti langkah suaminya, hingga ke pintu depan. Tetapi Rian sama sekali tidak peduli. Dia hanya fokus pada Nisa, jika sampai dia kenapa-napa karena ulah istrinya, Rian tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka.




__ADS_1


__ADS_2