Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Abang, tolong aku...


__ADS_3

Malam merangkak naik, menuju tengah. Tetapi, manusia-manusia itu masih bersiaga di sekitar bangunan yang digunakan sebagai bengkel motor. Harris berpikir keras, kemana dia akan mencari istrinya lagi.


Winata...Winata...Winata. Jika dia tadi dari sini, harusnya mereka berpapasan, tempat ini cukup jauh dari jalan raya. Dan, dari kelihatannya memang belum lama dia meninggalkan tempat ini.


Harris terus menganalisa dan mencocokkan rangkaian kejadian hari ini dan menghubungkannya. Gelisah, cemas dan takut, bercampur menjadi satu. Tubuh jangkung itu tak henti bergerak di keremangan malam, hanya sinar redup bulan juga bias-bias lampu dari teras-teras rumah penduduk yang menerangi mereka.


Penyerbuan senyap khas seorang Harris. Tenang tapi mematikan. Bahkan seekor kucing tak akan terbangun, meski puluhan mobil dan puluhan orang yang menyerbu musuhnya. Seperti kali ini, serbuanya bahkan tak mengusik lelapnya tidur penduduk sekitar.


Ponsel Harris berdering usai senyap hampir seperempat jam lamanya. Bergegas Harris menggeser tombol hijau, dan menempelkan benda itu di telinganya.


"Ya,"


"Lokasi terakhir Tuan Winata, berputar di area stadion, sepertinya sedang mengecoh kita, Tuan!"


"Jadi dia berniat mengambil Kira dariku, begitu?"


"Sepertinya, Tuan! Anda sebaiknya bergegas kembali ke kota, mungkin dia tahu anda masih mencari di kawasan wisata!"


"Kurang ajar, tua b***** sialan!"


Harris menggebrak bagian depan mobil dengan telapak tangannya. Marah. Dia merasa di curangi oleh pria tua itu.


"Jo, setelah aku turun, hubungi Hendra, minta dia untuk menutup jalan ke sini! Aku khawatir, dia akan kembali ke sini saat tahu aku sudah kembali!"


"Baik, Tuan! Kami akan terus memantau!"


Harris langsung memberi kode pada separuh anak buahnya yang tersisa untuk mengikutinya. Ya, saat kalut, Harris memilih mengemudi sendiri. Jika dia duduk sebagai penumpang, dia akan marah-marah tidak jelas. Bahkan mengamuk tak terkendali. Jadi dengan mengemudi, dia bisa mengalihkan pikirannya pada jalanan.


Harris melaju secepat yang dia bisa. Tatapan itu bahkan bisa melelehkan aspal. Mengerikan. Siapa sangka, pria seperti itu takluk pada seorang wanita.


Anak buah Harris mengumpat sebab tak bisa mengikuti Bos nya. Mereka sayang nyawa. Konyol. Jika mati mengenaskan karena kecerobohan diri sendiri. Meskipun, mereka tetap berusaha mengejar penuh kehati-hatian.


***


Kira mengerjap pelan usai mendengar seseorang memanggilnya. Langit-langit berwarna putih dengan cahaya redup masuk kedalam penglihatannya. Linglung sesaat. Baru saja, dia  bermain dengan seorang anak perempuan berbaju merah muda. Jen? Bukan. Rambut Jen hitam. Anak itu berambut cokelat sewarna madu. Kira menelan ludah, apa dia sudah...


"Anda sudah bangun, Nona?" Suara Tuan Winata membuat Kira terbelalak lebar. Dia terlonjak bangun, tubuhnya terasa terberai. Remuk. Buru-buru, dia menggeser tubuhnya menjauh, saat Tuan Winata berada terlalu dekat dengannya. Semua serasa memiliki bayangan, di penglihatan Kira.


"Jangan takut, Nona! Saya tidak akan menyakiti anda!" Ucap Tuan Winata yang seakan mengerti ketakutan Kira. Dia tersenyum memaklumi. Lalu dia beranjak dari ranjang kuno yang berderit.


"Anda pasti lapar, Nona! Makanan yang ada di meja itu untuk anda! Makanlah!" Perintah Tuan Winta lembut sambil menunjuk meja yang di lingkari kursi rotan estetik. Seakan memperlakukan istrinya, mungkin.


Pria kharismatik itu memang memiliki daya tarik sendiri. Seakan ada susuk pemikat dalam dirinya. Kira, mau tak mau mengakui. Tapi, apa hubungan Tuan Winata dan Riana? Om? Pasti Kira terlalu berburuk sangka pada Riana. Tidak mungkin kan dia dan Tuan Winata menjalin hubungan? Keduanya sudah memiliki pasangan.

__ADS_1


"Nona?" Tuan Winata sudah berada di ambang wajah Kira, dia menggoyangkan tangannya. Dekat.


Kira terkesiap mundur, menabrak besi berliku sandaran ranjang.


Tuan Winata tertawa di buat-buat, "Nona, kau ini sangat lucu dan menggemaskan dengan mata indahmu yang membulat sempurna. Pantas saja, Harris sangat menyayangi anda."


Tuan Winata mengusap kaki Kira yang berkilat memantulkan cahaya. Ekspresinya lapar dan kehausan. Meski tidak seputih kaki Riana, tapi kaki kurus panjang itu, mulus.


Kira membelalak semakin lebar, "Jangan kurang ajar kepada saya, Tuan!" Teriak Kira sambil menarik kasar kakinya. Melipatnya di bawah tubuhnya. Kira sangat sensitif jika kakinya di sentuh.


Tuan Winata mengangkat wajahnya, tangannya mengambang di udara, merana dan mengepal sebelum di tariknya ke samping tubuhnya. Melihat kemarahan Kira, Tuan Winata menghela nafas, sebelum menegakkan tubuhnya.


"Makanlah, Nona! Jangan khawatir, saya tidak menaruh racun di dalamnya!" Ucap Tuan Winata, seraya bangkit dari ranjang. Dengan tangan yang di masukkan kedalam saku, Tuan Winata melangkah keluar kamar dan menutup pintu.


Kira bernafas lega, meski belum sepenuhnya. Dia masih harus keluar dari situasi yang entah ini. Tapi, benar, rasa lapar mengalahkan segalanya. Melihat satu porsi ayam goreng dari gerai terkenal itu membuatnya mengusap air liur.


Kira merangkak turun dari ranjang berderit-derit itu, ulu hatinya masih menguarkan rasa sakit dan sesak. Tendangan boot itu cukup sakit juga. Meski Kira masih mampu menahannya. Kira mengusap perut bagian bawah yang sudah tidak lagi nyeri, hanya seperti ada yang mengganjal aneh di sana. Kira menekan perutnya ke atas, sambil berjalan.


Seperempat jam menuju tengah malam, Kira melambaikan tangannya. Tidak peduli. Makan nasi dan ayam goreng yang sarat karbo dan lemak? Kenapa tidak? Dia bukan artis yang harus menjaga berat badan. Dengan lahap, dia mulai menyuapkan suiran ayam dan segumpal nasi ke dalam mulutnya.


Tapi baru saja dia mengunyah, dia lupa belum mencuci tangan, dan bajunya masih, masih kotor. Tidak. Kira menepuk kedua pipinya, kedua matanya membola lagi, entah ke berapa kali. Bajunya sudah berganti dan tubuhnya sudah bersih.


"Kurang ajar!" Gumam Kira sambil mengepal. Dia melompat dari kursi rotan tempatnya duduk. Dia bermaksud mendamprat Tuan Winata yang sudah lancang mengganti bajunya. Dan...! Tidak. Batin Kira menjerit histeris.


"Bagaimana hasilnya?" Suara Tuan Winata entah dengan siapa.


Kira berhenti sejenak, lalu dia mengendap di balik lemari besar di ruangan yang luas ini. Kepalanya mengulur, mengintip. Rupanya, Tuan Winata berbicara melalui sambungan telepon, membelakangi posisi Kira sekarang. Pria tinggi dan atletis itu, berdiri dengan sebelah tangan di dalam saku celana hitamnya, menghadap ke jendela bertirai.


"Baiklah kalau begitu, jam 3 pagi saya berangkat dari sini! Harga bukan masalah, ini soal hidup dan mati saya!" Ucap Tuan Winata lagi. Kira masih belum mengerti arah pembicaraan Tuan Winata, menyibak rambutnya yang terurai ke belakang telinganya. Agar lebih jelas mendengar percakapan Tuan Winata.


"Hahaha, Anda mengerti benar, Tuan! Ini barang langka, bahkan aku rela menukar seluruh kekayaanku untuk mendapatkan wanita ini dari suaminya. Ah, sayangnya, suaminya juga akan melakukan hal yang sama untuknya!"


Deg.


Kira menegakkan tubuhnya di belakang lemari. Jantung berpacu dengan cepat. Wanita yang di maksud adalah dirinya. Kira menunjuk dirinya sendiri. Ya Tuhan. Apalagi ini?


Dengan napas dan detak jantung yang saling beradu di dada, Kira mengintip lagi. Tuan Winata sedang menatap sebuah botol berisi pil, dengan seringai mengerikan. Diambilnya satu, lalu di masukkan ke dalam gelas berisi cairan berwarna jingga. Meski dalam keremangan cahaya, Kira bisa melihat jelas tawa jahat yang menghiasi wajah pria itu. Dan, eeewww, jijik. Pria itu menggosok dagunya dengan pelan, seakan membayangkan sesuatu.


Kira menarik dirinya lagi. Sedikit gemetar dan mengigil. Kira mengusap wajah hingga rambutnya ke belakang. Lalu menggosok kedua belah telapak tangannya, berulang-ulang, di depan dada. Dia mengedarkan pandangannya di sekitar. Dapur. Itu jalan keluarnya.


Kira menyeberang, merayap di dinding dengan punggungnya. Dinding itu tak terjangkau oleh cahaya. Kamuflase yang sempurna. Perlahan, dan hati-hati. Bukan. Dia gemetar tak terkendali. Bahkan perutnya ikut mengigil tak karuan.


Hingga di ujung ruangan, Kira mendengar dering telepon Tuan Winata lagi.

__ADS_1


"Tuan Harris!"


Kira membeku, "Abang, tolong aku, Bang!" Desis Kira hampir menangis. Mendengar namanya di sebut saja, membuat Kira kacau. Secercah harapan dan juga segurat kesedihan.


Namun, Kira enggan berlarut-larut. Meski suaminya tidak menemukannya sekarang, setidaknya dia mengulur waktu sampai Kira bisa keluar dari rumah ini. Entah, ini semacam keberuntungan atau memang Tuan Winata menganggap dirinya mudah, tapi, jika sedang menyandera seseorang, pastikan mengambil kunci dan menyimpannya dengan aman. Sekalipun pintu keluar di dapur.


Kira tersenyum senang, saat dia berlari melintasi halaman belakang, menunju pagar tembok sekitar satu setengah meter tingginya. Dan, hap, Kira melompat naik ke pagar, lalu turun dengan hati-hati. Meski dia bisa melompati pagar ala parkour, tapi dia memikirkan perutnya yang masih menggumpal, tak nyaman.


Mengabaikan bajunya yang minim, ya, Kira memakai dress selutut tanpa lengan, dengan layer menjuntai, Kira mulai berlari. Mengabaikan kakinya yang telanjang, dia menyusuri aspal kasar khas pemukiman penduduk yang padat. Sejauh dia berlari, dia tak menjumpai siapapun. Sesekali dia melihat bulan yang bersinar redup. Seakan menentukan arahnya berlari.


Di bawah langit malam yang hitam, menebar keputusasaan akan harapan, Kira menangis dalam larinya. Membayangkan betapa khawatirnya suaminya sekarang. Semakin deras saat mengingat Tuan Winata menyebut nama suaminya.


"Abaaang..." Desis Kira sambil meremas dadanya yang sesak. Tangisnya semakin keras. Tak kuasa menahan semuanya, Kira ambruk dan tergugu di balik tangannya.


Di kejauhan dia melihat sorot lampu kendaraan, terkejut. Tanpa pikir panjang Kira bangkit dan melemparkan dirinya ke tanaman pagar yang lebat. Pun saat melihat dua sepeda motor yang celingukan ke kiri dan kanan, mungkin Tuan Winata sudah menyadari tawanannya kabur.


Kira tak bisa lagi berlari di jalan utama pemukiman. Dia harus mengendap di balik bangunan atau tanaman pagar ini. Kira menunduk sambil terus berjalan.


"Awh," Kira mengangkat kakinya yang menginjak benda tajam. Beling. Sakit. Dan darah mengucur perlahan pada goresan melintang.


Kira duduk di rerumputan, lalu dia merobek bajunya dengan susah payah dan membalut telapak kakinya yang terluka. Kira menoleh sekeliling, tak jauh darinya ada rumah yang sudah gelap. Kira sedikit merangkak kesana. Di lihatnya ada sepatu khas anak muda. Sepertinya milik pria, di lihat dari warnanya. Juga kaus kaki yang sepertinya di siapkan untuk esok hari. Bersih dan wangi.


"Maaf ya, aku pinjam! Jika aku selamat, aku akan mengembalikannya!" Ucap Kira berbisik sambil memakai kaus kaki dan sepatu yang agak kebesaran di kakinya. Di tariknya tali itu kuat-kuat, hingga tak terlalu longgar di kakinya. Di amatinya rumah sederhana bercat abu-abu itu, sebelum meninggalkannya. Merekamnya dengan jelas. Dia tahu ini sangat jauh dari rumahnya.


Kira merasa lebih baik, dia melangkah lagi, melewati halaman rumah penduduk. Cepat namun waspada.


Sial, meski sudah jauh. Orang-orang Tuan Winata sepertinya masih mencarinya. Ketika sampai di ujung gang, dua orang pria sedang melihat ke arah Kira muncul.


Kira mengumpat dan berbalik masuk ke gang tempatnya muncul. Lari, dia memompa kakinya untuk terus melaju. Mengabaikan semuanya. Sakit dan lelah.


Kedua pria itu tak nampak dari pandangan Kira, Kira celingukan, mencari tempat persembunyian. Dengan napas yang masih tak beraturan dan degup jantungnya yang seakan mampu menumbuk padi, Kira masuk ke halaman rumah yang gelap.


Ngos-ngosan. Tapi Kira melangkah mundur mengawasi arah datangnya pria itu, sambil memegang perutnya yang seakan ingin meledak. Nyeri. Kira bahkan tak bisa lagi merasakan wajahnya. Rasanya semua terbias. Tubuhnya terasa ringan. Pandangannya mulai berat dan gelap. Tapi, ada rasa hangat yang mengaliri kakinya.


Brug....





__ADS_1


__ADS_2