
"Sudahlah, Yang. Mungkin Nina lelah dan kamu masih ada tamu, jadi Nina minta di antar pulang," Ucap Harris yang berusaha membujuk istrinya agar berhenti marah-marah. Sejak kepulangan Vivian dan Rio, istrinya tak henti bolak-balik dari kursi ke jendela, memeriksa halaman, menanti kedatangan Johan.
"Iya, tapi kan seharusnya dia izin dulu, Mas. Mana di telepon ngga ada jawaban. Kalau ada apa-apa bagaimana?" Kira meremas ponselnya yang baru saja di gunakan untuk menghubungi Nina dan juga Johan. Meski hasilnya nihil.
"Kau berpikir Nina akan diapakan oleh Johan?" Tanya Harris santai. Dia tahu benar Johan itu seperti apa.
"Jangan bercanda deh, maksud aku bukan di apa-apakan Johan. Tapi mungkin, mereka mengalami musibah, misalnya!," Kira menatap serius suaminya yang bersandar santai di sofa. Dia tampak menngantuk dan lelah.
"Kau berlebihan, Sayang," Harris mengulurkan tangannya, mengusap rambut istrinya, "Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir, Nina pasti baik-baik saja, Johan pasti akan menjaganya. Beri dia kepercayaan, untuk menjaga dirinya sendiri. Biarkan dia sedikit merasakan sakit, dengan begitu dia akan lebih berhati-hati."
"Tapi, aku ngga mau kalau dia sampai terlibat hubungan dengan Raka, Yang," Kira menyisihkan lagi tirai yang menghalangi pandangannya dari arah dimana Johan akan muncul.
"Lalu kau mau apa? Bukannya Nina sudah mengatakan kalau dia hanya berteman saja? Kau harus percaya padanya," Harris berdiri, memeluk tubuh istrinya yang memandang luar jendela. Menanamkan kecupan ringan di sisi kepalanya.
Kira membebaskan tangan yang melingkar di perutnya, lalu berbalik menghadap suaminya,
"Setelah apa yang terjadi padanya dulu? Nina itu terlalu sembrono, dan mudah sekali di pengaruhi. Bagaimana jika Raka berhasil mempengaruhi Nina?"
Harris tersenyum, mendekatkan wajahnya hingga ujung hidungnya nyaris menyentuh ujung hidung Kira, "Kau boleh ragu dengan Nina, tapi kau tak boleh meragukanku. Dan, Nina bukan hanya punya kamu, tapi juga punya aku, aku juga akan melindunginya."
Kira menyipit, senyumnya terkembang, "Kau tidak boleh mencampur urusan pekerjaan dengan urusan pribadi. Itu akan menurunkan wibawamu, Abang,"
Kira menelusupkan tangannya ke pinggang suaminya hingga ke punggung, namun wajahnya sedikit menjauh untuk memandangi manik mata yang berkilat-kilat penuh pesona.
Namun Harris memburunya dengan kecupan-kecupan di keningnya. "Kau meragukan kemampuanku? Atau kau tidak ingin Raka berhenti mengganggu adikmu? Atau, kau masih memikirkan keluarga mantan suamimu?"
Binar bahagia itu surut, saat mendengar ucapan Harris yang terakhir, " Tidak semuanya! aku hanya tidak ingin Abangku sayang yang sangat tinggi ini," Kira menatap lekat manik mata hitam itu, "Tidak lagi di segani oleh bawahannya. Aku sama sekali tidak meragukan kehebatanmu, Abang."
Harris berdesir, ketika mendengar penuturan istrinya. Perasaannya meluap-luap, dan tidak ada ungkapan yang mampu menggambarkannya.
Tangan kokoh itu meraih pangkal kepala wanita bermulut manis di depannya ini. Jemarinya menyusup di sela-sela rambut, menekannya pelan.
Harris kehabisan kata-kata, namun tindakannya tak akan pernah menemui batas. Seakan tak mampu menolak, Kira hanya membalas perlakuan lembut suaminya, tak ada nafsu yang meraja, hanya menikmati perasaan yang semakin dalam dan mengikat. Keduanya saling mencecap, hingga manis itu memenuhi seluruh jiwa mereka.
"Ekhem,"
Kedatangan Viona membuyarkan momen romantis keduanya. Sedikit tergesa Kira menjauhkan tubuhnya dari dekapan suaminya. Dengan gerakan samar, Kira mengusap dagunya, dia sudah kepalang malu dan kehilangan muka pada Viona. Namun, seperti hanya Kira yang salah tingkah, Harris bersikap biasa saja, bahkan dia langsung berubah ke mode membunuh, tanpa melewati mode canggung.
"Di sini banyak anak kecil, jaga sikap kalian," Ucap Viona tak kalah dingin dan tajam. Bahkan dia dengan berani menatap Harris dengan sengit.
"Em, di mana anak-anak, Vi?" Kira melangkah mendekati Viona, dengan rona merah yang masih berkumpul di pipinya.
Viona melirik tajam ke arah Kira, "Di kamarku, aku sengaja menahan mereka di sana saat melihat ulah kalian!"
__ADS_1
"Maaf, Vi. Seharusnya kami sadar akan hal itu," Kira menggigit bibir bagian dalam, dia merasa bersalah. Diam-diam, dia melirik suaminya, yang sudah duduk kembali tanpa menghiraukan Viona.
Viona berlalu begitu saja, melanjutkan langkahnya ke dapur. Bagaimanapun, tidak mudah melupakan, tetapi dia sadar dia salah telah meninggalkan pria itu. Dan bukan salahnya pula jika kini dia tidak bisa melepaskan wanita itu. Dia sempurna.
***
"Mama," Jen yang semula mendandani bonekanya dengan alat make up khusus untuk anak-anak, beranjak bangun merangkul leher Mamanya yang menunduk untuk menyambutnya.
"Jen main apa? Asyik sekali kayanya?" Kira menciumi putrinya, membawanya dalam gendongannya menuju karpet berbulu dimana mereka menggelar mainannya.
"Diajari mendandani barbie Ma, sama Tante Viona. Tante Viona juga mewarnai kuku Jen dan Kristal," Jen menunjukkan jemarinya yang kukunya sudah berkelap kelip. Pun dengan Kristal yang langsung duduk di depan Kira.
"Bagus sekali, Mama mau juga dong, boleh ngga?" Kira meraih ujung jemari Jen dan Kristal yang berkerlip, di kiri dan kanan tangannya.
"Boleh, nanti Jen minta Tante Viona," Jen mengangguk-angguk.
"Jen kok rambutnya di ikat satu? Tumben?" Kira mengusap kepala Jen, dia tampak cantik dan pipinya terlihat semakin bulat.
"Kata Tante Viona, biar kaya Ariana Grande, Ma. Siapa sih Ariana Grande itu?" Jen kembali mendandani boneka-boneka barbie itu.
"Penyanyi itu Jen. Mama kan sudah bilang tadi, Ariana itu cantik dan suaranya merdu," Sahut Kristal yang juga mendandani boneka barbie di tangannya
"Merdu suaranya Jennie Blackpink, sama kaya namaku," Jen menunjukkan sebuah kartu mirip foto bergambar idol Kpop.
Jen merengut kesal, "Ih, jelek. Cantikan Jennie!"
"Jenny, stop. Siapapun idolanya kalian tidak boleh bertengkar. Semuanya cantik dan suaranya bagus, kalau tidak bagus mereka tidak akan terkenal, mengerti?" Seru Kira. Telinganya berdengung saat kedua bocah itu bertengkar dengan suara melengking.
Jen merengut, namun dia tetap menganggukkan kepalanya.
"Mengerti, Tante," Jawab Kristal. Mata bulat itu mengerjap, dan rambut ikal ketatnya yang di kucir sama dengan Jen, bergerak maju menutupi telinganya.
"Kalian lanjut main, ya. Mama mau ke depan, mungkin Paman Johan sudah pulang," Kira beranjak, setelah mengecup pucuk kepala kedua gadis itu. Yang sepertinya masih memendam kekesalan.
***
Viona terkejut saat Johan muncul dari pintu samping rumah. Nyaris saja bertabrakan dengannya.
"Maaf, mengejutkanmu," Ucap Johan.
"Tidak masalah. Silakan, kalau mau masuk," Viona menggeser posisinya lebih jauh, agar Johan bisa lewat dengan leluasa.
"Apa mereka sudah selesai?" Johan tidak bergeming dari posisinya, dia menatap wajah ayu Viona yang terlihat murung.
__ADS_1
"Sudah, kau juga melihatnya?" Viona melirik sekilas pada Johan yang menatapnya intens.
"Jika tidak, aku sudah masuk lewat pintu depan!" Jawab Johan. Dia menyejajarkan tubuhnya dengan Viona yang berdiri menghadap kolam kecil dengan ikan warna warni di dalamnya.
"Kita harus tahu diri, bukan?" Ucap Viona dengan senyum getir. Kedua tangannya memeluk tubuhnya, mengusap lengan kecil yang rapuh.
"Kurasa begitu," Jawab Johan datar.
Keheningan menyelimuti mereka berdua selama beberapa saat. Meski sudah lama saling mengenal tapi, mereka belum pernah berbicara selayaknya. Hanya sebatas kekasih bos dan bawahannya.
"Duduklah, kakimu bisa kram jika terlalu lama berdiri," Johan sedari tadi mengamati tubuh kurus di sampingnya. Dia merasa prihatin dengan kondisinya, apalagi perutnya yang semakin membuncit. Pasti dia merasakan beban pikiran yang sangat berat.
"Tidak, aku malah baru saja meregangkan kaki, usai bermain dengan Jen dan Kristal," Viona melengkungkan senyum lemah. "Mau ku buatkan kopi?"
Johan terdiam, ketika Viona menatapnya langsung. Buru-buru dia memutus kontak mata dengan Viona. Johan merasa tidak enak hati jika menolak Viona, yang baru pertama kali menawarinya kopi. Tetapi, dia sudah menghabiskan dua cangkir kopi di rumah Nina. Bisa-bisa dia tidak tidur semalaman.
Viona tersenyum, mengerti. "Tak usah sungkan untuk menolakku, aku tahu, kopi buatanku tidak seenak buatan Kira,"
Johan terkesiap, "Bukan itu maksudku, Vi. Hanya saja, aku,"
"Sudahlah, tidak apa-apa," Viona tersenyum ke arah Johan. Sebelum kembali ke dalam rumah.
Johan menelan ludah, berulang kali dia mengerjap. Bingung.
"Tunggu, Vi." Johan setengah berlari mengejar Viona hingga ke pintu dapur. Viona berbalik, membawa perasaan heran.
"Kenapa Jo?"
"Aku tak bermaksud menolak kopi buatanmu, tapi aku sudah minum dua cangkir kopi sebelum kesini, aku takut akan kesulitan tidur karena kebanyakan minum kopi," Ucap Johan cepat dengan napas memburu.
"Aku tahu kok."
"Maksudnya?" Johan menautkan kedua alisnya.
"Itu, masih ada sisa kopi," Viona menunjuk sudut bibir Johan yang masih menyisakan sedikit ampas kopi. Dia tadi tergesa menyeruput kopi terakhir karena Nina bilang Kira menghubunginya berkali-kali.
Dengan perasaan bercampur Johan berbalik dan mengusap sudut bibirnya. Viona hanya tertawa melihat ekspresi Johan yang sangat lucu.
•
•
•
__ADS_1
•