
Sore menjelang malam saat rembulan meminta haknya menggantikan matahari, dua orang pria tengah berjalan bersisian menuju rumah yang terasa hangat.
"Ayo masuklah ...," Harris menekan punggung Rian yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Raut wajah pria itu tampak ragu saat melihat pintu yang masih tertutup rapat.
Tiba-tiba dirinya merasa kecil dan kehilangan rasa percaya diri. Apa yang akan diberikan kepada anaknya serasa tidak ada artinya jika dibandingkan dengan apa yang dimiliki Kira saat ini.
"Jangan berpikir buruk dulu, biarkan anak-anak menilai sendiri kesungguhan papanya. Mereka bukan tidak menerimamu, hanya belum saja. Anak-anak selalu sulit memaafkan, bukan?" Harris menepuk bahu Rian hingga mengguncang tubuhnya. Ucapan Harris seperti membekas hingga ke hati Rian.
Sejenak Rian menatap mantan atasannya yang tengah tersenyum, seolah memberi kekuatan padanya. "Saya akan mencoba Tuan," ujar Rian masih terdengar ragu.
"Ayolah ... kita berteman sekarang, panggil Harris saja!"
Rian terkesiap, pria tinggi yang biasanya tegas dan kaku itu sekarang tersenyum ramah dan merangkul pundaknya. "Sa-saya tidak bisa Tuan."
"Kenapa? Kita bukan atasan dan bawahan lagi ... dan maaf atas tindakanku terakhir kali padamu. Aku terpaksa melakukan itu, tentu kau paham maksudku ...,"
"Saya mengerti, Tuan. Saya yang bersalah, Anda sudah melakukan hal yang benar." Rian tersenyum getir. Mengingat lagi betapa bodohnya dia saat memiliki segalanya.
"Ayo masuk kalau begitu ... anak-anak tidak akan tahu kedatanganmu jika kau masih di sini!" Harris melangkah terlebih dahulu membiarkan Rian mengekor di belakangnya.
Suara jerit dan tawa bocah terdengar saat Rian menjejakkan kaki di ruang tamu keluarga Dirgantara. Entah keberuntungan atau kesialan ketika dia bukan siapa-siapa lagi bagi Grup WD, tetapi kini dia di izinkan menapaki istana megah Wisnu Dirgantara.
__ADS_1
Kaki Rian mengayun cepat saat Harris sudah berbelok ke ruangan setelah ruangan ini. Mungkin anak dan istri, ups mantan istrinya ada di sana.
"Papaa ...," teriakan histeris bocah kecil terdengar merdu menggelitik telinga Rian.
Langkah Rian terhenti di sudut jauh, tetapi dia masih bisa dengan jelas menyaksikan keluarganya bersama keluarga barunya. Rian tak menyangka akan sesak seperti ini dadanya. Manik matanya terasa panas menyaksikan keharmonisan rumah tangga mantan istrinya.
Harris seakan lupa jika Rian hadir di rumah ini saking asyiknya meladeni serangan keenam anaknya.
"Loh ... Abang sudah pulang?" Kira setengah berlari menghampiri suaminya yang sedang mengangkat salah satu dari si kembar. Merentangkan tangan dan menubruk tubuh suaminya.
"Kalau udah di sini artinya aku udah pulang, Yang! Di kantor hanya ingat kamu terus ...," Harris meletakkan Azziel dalam dekapannya, lalu mengusap kepala Kira dengan lembut membuat Kira menaikkan wajahnya. "Ada yang mencarimu, Yang." Bisik Harris sambil menyematkan kecupan singkat di bibir merah Kira. Isyarat mata Harris memaksa Kira menoleh ke arah yang ditunjukkan suaminya.
"Duduklah Mas ...," Kira berjarak sekitar satu meter darinya, tetapi semerbak wangi surga Harris Dirgantara terasa menusuk penciuman Rian. Rian mengangkat wajahnya, sekilas tampak Jeje menatapnya tak bersahabat.
"Di depan saja Yang, di sini berantakan dengan mainan!" Usul Harris sambil tersenyum. "Maaf Yan, rumah ini sudah seperti belantara."
Rian tampak canggung untuk menanggapi perkataan Harris. Seperti menyindirnya, yang dulu selalu berteriak dan membentak Kira jika anak-anak menghambur mainan.
Kira mengangguk. "Mari Mas, kita bicara di depan." Kira mempersilakan Rian berjalan terlebih dahulu.
"Maaf Ra ... aku mengganggu waktumu." Ujar Rian setelah mereka duduk di sofa besar ruang tamu. "Aku hanya ingin menyerahkan apa yang menjadi keinginan Melisa." Rian mengeluarkan selembar kertas dari dalam sakunya. Dan menyerahkan kepada Kira.
__ADS_1
"Mungkin itu ngga seberapa dan ngga ada artinya buatmu Ra ... tapi aku harap kamu mau menerimanya." Sesak sekali jalan napas Rian saat mengatakan itu. Ya, apapun yang diberikannya saat ini, seolah debu dimata Kira.
Kira memperhatikan lembaran kertas memanjang dengan nominal beberapa digit angka. Kemudian bergulir ke arah Rian. "Mas ... bukan jumlahnya yang jadi masalah. Tapi aku rasa Mas dan Ibu juga Sia lebih membutuhkan daripada aku. Bagiku semua yang bernama materi adalah berharga dan berarti, Mas. Aku menghargai jerihnya, Mas. Bukankah Ayahmu selalu mengajarkan itu?"
"Kamu benar ... tapi aku berharap sangat, kau tidak menolaknya Ra!" Pinta Rian menghiba, raut sendu itu begitu layu dan rapuh.
"Mas ... aku tidak menolak, tapi semua itu sudah bukan hakku lagi. Kini aku orang lain bagimu, Mas ...! Masih ada Sia yang lebih berhak atas nafkahmu." Ucapan Kira lembut tapi begitu mengena dihati Rian. Adem, seperti payung yang menaungi.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1