Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Asisten Galau


__ADS_3

Usai makan malam yang sangat mewah di sebuah hotel berbintang, Johan dan keluarganya kembali ke rumah yang merupakan milik Evan sendiri. Meski kini jarang sekali di tempati, tapi rumah itu sangat rapi dan terawat.


Celoteh Nicky dan Kristal telah mereda ketika mobil mulai melambat dan berbelok ke halaman rumah Evan yang memiliki desain minimalis modern. Kedua anak itu telah lelap dalam mimpinya, mungkin lelah sebab seharian ini tak henti melakukan aktifitas fisik yang berlebihan.


"Biar aku saja yang memindahkan mereka, Sayang ... masuklah dulu, bersihkan diri dan istirahatlah!" kata Johan ketika melihat gelagat Viona yang hendak mengambil Nicky dari jok mobil tempatnya merebah.


"Aku kuat kok, jangan berlebihan! Aku hanya hamil, bukan kehilangan tulang dan kekuatan," kelakar Viona yang melebarkan senyumnya. Ia mengusap lengan Johan yang tengah menahannya untuk meraih Nicky.


"Tapi aku ngga mau babynya tertekan oleh Nicky. Lihat itu badan Nicky sudah gede banget, kamu kasih makan ayam goyeng setiap hari ya ... jadinya begini!" Johan tidak tahan menjawil dagu Viona yang kini tak lagi lancip, malah imut dengan bentuk sebulat telur. Pipi yang berisi itu juga membuat Johan gemas dan ingin menggigit.


Viona tiba-tiba menyurutkan senyumnya, ia menunduk dan beralih pada dua anaknya. Tangannya membelai sekenanya pada tubuh anak-anak itu secara bergantian.


"Aku pernah membuat anakku kelaparan dulu, kini aku ingin memuaskan perut mereka dengan aneka menu masakan dan makanan yang mereka mau." Ia mengalihkan pandangannya ke Johan lagi. "Apalagi sekarang aku memiliki kamu sebagai alasan kuat untuk terus belajar lebih baik lagi. Jadi ibu dan istri yang baik, meski ngga bisa seperti Kira." Viona menahan senyumnya penuh arti.


Johan memiringkan kepalanya, berlagak tidak mengerti. Ah, berpura-pura saja kalau ia tidak memahami kemana arah pembicaraan istrinya. "Aku menerima kamu sebagai kamu, Vi ...," ucap Johan sambil menyisipkan rambut yang menyurai di sisi kepala Viona ke belakang telinga. "... aku ngga mau melihatmu menjadi seperti wanita lain."


"Termasuk Kira? Istri bosmu yang kamu jaga selama ini?" ucap Viona dengan telak membungkam bibir Johan.


"Aku tahu itu sejak lama, Bro ... jangan coba-coba mengelak!" Viona menyipitkan mata dan menumbuk lengan Johan dengan tinjuan lemah.


Johan terpana, "Selama ini kamu perhatiin aku ceritanya?" Melirik Viona menggoda.


Viona mulai mengambil tubuh Nicky dari jok mobil membawanya ke dalam gendongannya untuk mengalihkan perhatian. "Kamu terlalu kentara dengan perhatianmu yang berlebihan, dan aku menebak, kalau Harris tahu akan hal itu!" Viona menurunkan kakinya usai membuka pintu mobil.


"Bawa masuk Kristal, tidurkan di kamar atas ya!" Viona mengedipkan matanya, membiarkan Johan mendongkol setengah mati, lalu kembali melangkah.


"Hei-hei ... kita belum selesai bicara, Yang ...," ucapan Johan bertemu angin malam sebab Viona telah berlalu masuk ke dalam rumah. Johan mengakhiri suaranya dengan sebuah desisan yang begitu sebal. Lantas ia sendiri segera membawa Kristal dalam gendongannya dan menyusul Viona masuk.


Rupanya hari ini belum usai. Niat keduanya untuk segera merebah terpaksa batal sebab Tuan dan Nyonya Darmawan meminta mereka untuk duduk di ruang tengah.


Setelah merebahkan kedua anaknya, mereka berdua pun kembali dengan raut wajah kebingungan. Sorot mata mereka saling mengatakan tanya yang tak mampu mereka lisankan melalui suara.


Ada apa?

__ADS_1


Pertama sekali, Viona menaikkan bahunya. Mencoba abai meski perasaannya digerogoti rasa penasaran yang menggebu. Lantas, Johan segera mengikuti dengan helaan napas berat.


"Ayo, duduklah di sini!" titah Nyonya Darmawan yang tampak berpuas diri. Senyum wanita tua itu tak henti terukir sejak kembali dari pemakaman. Seolah hidupnya di penuhi sinar kebahagiaan di penghujung usia, setelah gelap bertahun menyelubungi kehidupannya.


Viona dan Johan duduk di bawah tatapan suami istri yang telah berusia lanjut tersebut. "Ada apa, Mi?" tanya Viona kalem, meski rasa penasarannya membuncah meminta dipuaskan. Ia sekali lagi menoleh ke arah Johan yang langsung menggenggam tangan Viona guna menenangkan perasaan wanita yang telah resmi menjadi istrinya tersebut.


"Mami hanya ingin menyampaikan keinginan terakhir Evan ... keinginan yang sebagian besar telah kamu lakukan. Seperti membesarkan Kristal dan hidup lebih baik. Ini hanyalah selembar kertas yang semula hanya berisi tanda tangan Evan, kata Evan suatu saat Mami akan mengerti dan akan mendapatkan jawaban atas teka-teki yang Evan buat. Ini di saksikan oleh pengacara dan sekrestaris pribadi Evan. Ini sah dan legal di mata hukum, Nak ...," jelas Nyonya Darmawan panjang lebar sambil menunjukkan beberapa lembar kertas yang telah berisi tulisan. Namun, bukan malah membuat Viona mengerti melainkan semakin bingung.


"Evan mungkin mengacu pada Pearl dan seluruh bisnis Evan yang masih terus berjalan sampai saat ini. Bahwa seluruh perusahaan Evan dan usaha kami tentu saja, adalah milik Kristal selaku keturunan satu-satunya dari anak kami." Nyonya Darmawan menjeda ucapannya. Ia menoleh ke arah suaminya yang akhirnya bisa tersenyum.


"Jadi, Nak Johan dan Viona," sambung Tuan Darmawan masih dengan senyum yang sama, "selaku wali dari Kristal ... kami menyerahkan semua yang menjadi hak Kristal ke tangan kalian. Papi selaku orang tua Evan, secara resmi menyerahkan apa yang menjadi hak Kristal kepada kalian selagi menunggu Kristal dewasa." Tuan Darmawan melanjutkan.


Johan tersedak, sementara Viona membeku. Mereka berdua tak memercayai apa yang baru saja mereka dengar. Jika Viona tidak tahu sebanyak apa kekayaan yang di warisi Kristal, Johan tahu dengan jelas dan gamblang. Dari pihak Darmawan saja, belum yang milik Evan yang mungkin belum ia ketahui. Johan meneguk salivanya.


Johan tentu merasa sungkan dan tidak pantas menerima ini. Bukan apa-apa, ia sungguh bahagia dengan hidupnya yang sederhana bersama Viona. Ia tulus kepada wanita di sisinya ini. Tanpa melihat apapun dibaliknya, sekalipun ia tahu kalau Kristal adalah pewaris Darmawan. Lebih tepatnya tak berpikir sejauh ini. Dirinya pun tak berniat meninggalkan posnya sebagai abdi setia Harris Dirgantara.


"Mi, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Viona akhirnya berbicara, "kami sudah berkecukupan dengan hidup kami sekarang, Mi ... sebaiknya ini dikelola Mami dan Papi saja. Aku merasa tidak pantas dan tidak mampu."


"Nak, mewarisi bukan berarti kamu yang mengelola sendiri," Tuan Darmawan menatap dua orang itu bergantian. "biarkan orang-orang yang telah bekerja kepada kami yang menjalankan. Tetapi, kami secara pribadi tetap menunjuk Nak Johan sebagai pemilik sementara Kristal belum cukup umur." Tuan Darmawan tersenyum, ia sudah menduga Viona akan menolak, dan Johan tentu keberatan. Pria itu terkenal setia dan loyal.


"Kasihanilah, kami yang sudah bau tanah ini, Sayang ...," senyum menyela ucapan Nyonya Darmawan yang tampak lembut mendayu. Penuh pinta hingga Viona dan Johan tak punya pilihan lain. Selain mengangguk untuk saat ini, sehingga membuat sepasang suami istri itu mengela senyum lega dan pengucapan terimakasih yang tak putus.


Setelahnya, Johan dilanda dilema.Pria itu galau sepanjang malam hingga ia menunda bulan madu yang di janjikan Viona padanya, lagipula, wanita itu telah pulas berpelukan dengan Nicky dan melupakannya.


Mata coklat gelap itu mengawang langit-langit kamar dengan tangan terlipat di bagian belakang kepala, menjadikannya sebagai bantal.


"Hah ...! Kenapa aku lebih merana dari pada saat tahu kalau yang dinikahi Tuan Harris adalah Nyonya bos, wanita yang ku sukai dulu? Aku jadi meragukan diriku sendiri ... apa aku ini normal ketika harus berpisah dari Tuan Harris malah jadi ngga bisa tidur begini?" gumamnya. Ia membalik posisinya hingga miring. Lalu berusaha memejamkan matanya. Namun, bayangan kebersamaan dengan Harris selama ini terngiang di benaknya. Suka dan duka, berpelukan dan berkelahi, telah ia lewati selama bertahun-tahun. Ketika kini harus berpisah, rasanya seperti ada bagian tubuhnya yang terberai.


Johan membuka matanya, lalu meraih ponsel dan menghubungi Harris.


"Enak sekali hidupmu! Makan gaji buta?" sembur suara di seberang sana saat panggilan baru saja terhubung. Johan sampai menjauhkan ponsel dari telinganya, ia meringis ketika telinganya berdenging.


"Pulang! Atau kupecat saat ini juga!" sergah Harris selanjutnya.

__ADS_1


Haish! Johan membatin dengan jengah. "Pecat saja, aku tidak takut!" balasnya sambil mematikan sambungan ponselnya. Ia luruh di kaki ranjang dan menangis. Bentakan dan perdebatan unfaedah ini yang tak pernah bisa ia lupakan. Ia selalu rindu suara yang menghardiknya.


"Tuan, aku ngga sanggup jika berpisah dengan anda!" isaknya dengan air mata berderai.


"Astaga ... aku ragu kamu pria tulen, Yang ... kamu galau karena Harris?" Viona mengalungkan lengannya di leher suaminya dari arah belakang. Merayu pria itu tepat di telinga.


Johan bukan tertawa, tetapi malah terisak semakin dalam. Pria sangar itu luruh karena emosi dihatinya yang tak terbendung.


.


.


.


.


Hai, temans readers ... terimakasih sudah maraton, udah baca dan dukung tulisanku ini๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ ceneng banget akhirnya kalian menemukan nupelku ini๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ akan saya lanjutkan apa saja yang masih ganjel ya, misal kisah Reno dan akan saya pungkasi dalam beberapa bab lagi. Gak banyak kok cuma beberapa aja, tapi sabar ya๐Ÿคญ Othornya puyeng๐Ÿคญ


Selagi nunggu, mampir ke karya temans author best di Noveltoon ya, temans๐Ÿ˜


๐Ÿ Ini karya mentor saya, Eka Pradita boleh search di kolom pencarian, dengan keyword Eka Pradita. Ini salah satu karyanya ya, karena mau aku ss semua gak muat, author terproduktif dengan cerita yang beragam dan menarik



๐Ÿ Ini karya Akak Samudra Lee yang baik hati. Tulisannya keren dan menguras emosi ... yuk mampir ... gak bakal kecewa deh pokoknya๐Ÿ˜



๐Ÿ Kalau ini adalah temen apa ya, gila karena menggilai satu author yang sama. Menggilai satu tokoh yang sama.๐Ÿ˜„ Napen Reesha Swee bagi yang suka action dan mafia.



Cekidot, yuk ... pasti seru banget deh ...

__ADS_1


Okey, sekian aja ya, makasih udah mau nungguin aku๐Ÿ˜


__ADS_2