Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Reuni 2


__ADS_3

WARNING....21+ only. Mohon kebijakan dalam membaca.


Harris, dengan kemarahan di ubun-ubun menarik tangan istrinya ke dalam kamar mandi. Mengguyurnya dengan air dingin yang mengalir dari shower.


Harris menggosok tubuh istrinya, di bagian-bagian yang di sentuh oleh pria tadi.


"Harris, sakit," Teriak Kira saat Harris setengah meremas bagian depan tubuhnya.


Harris sama sekali tidak menggubris rintihan Kira. Yang sialnya, malah membuat tubuhnya yang sebenarnya sudah bergairah, semakin bergairah.


"Sial," Batin Harris saat darahnya mendidih karena melihat tubuh istrinya yang tercetak sempurna di bawah guyuran air. Tetes-tetes air itu membuatnya semakin seksi.


Harris membalik tubuh istrinya menghadap dinding yang dingin dengan cipratan air membentuk titik-titik menyerupai embun. Dengan cepat, Harris membuka busana yang membalut kakinya, membuat bunyi kelontang yang keras saat ikat pinggangnya membentur lantai. Menyingkap paksa kain penutup tubuh istrinya dengan kasar. Tak lagi berbentuk.


Dengan keras dan sedikit kesulitan, Harris menyentak dirinya lebih dekat dengan istrinya. Lebih dalam menghujam. Seakan amarahnya ikut tenggelam bersamanya. Rintihan kecil yang tertahan juga berbalut kenikmatan lolos dari bibir Kira yang semakin membuat Harris menggila.


Kira hanya bisa merintih pasrah. Meski kasar, tapi sama sekali tidak membuatnya sakit. Malah, dia sangat menyukainya. Tembok dengan keramik polos berwarna biru terang itu, memantulkan gerakan dua orang di depannya. Seakan bisa ikut merasakan, gairah dua orang yang terpejam meski bukan tidur, tembok itu bergeming. Menahan cakaran kuku-kuku lentik saat tubuhnya tak mampu menahan perasaan yang mengalir, menjalari aliran darahnya.


"Siapa dia?" Harris tersengal, tetapi masih terus mendatangi istrinya.


Kira mengigit bibir bawahnya, sembari menggeleng kuat.


"Kau harus di hukum, pembangkang," Harris meremas pelan beberapa bagian tubuh istrinya, secara bergantian. Menyulut api semakin membesar, membara.


Harris terlalu lama menahan rindu pada istrinya, saat melihat Kira dalam balutan seragam SMA, membuat fantasinya semakin liar. Dia sudah berniat memesan tempat ini, sejak kedua mata Harris menangkap sosok istrinya dari kejauhan.


"Kau masih bungkam?" Harris belum meredakan gairah dan gerakannya. Malah tempo gerakannya semakin cepat menyentak.


"Dia, bukan, siapa, siapa," Sebaris kata yang sangat panjang bagi Kira. Terdengar seperti nafas di ujung pita suaranya. Kira tak kuat lagi memompa dadanya, untuk menimba udara. Tangannya meremas lulutnya dan sebelah lagi menyangga dirinya di dinding berembun.


Harris tersenyum puas, istrinya masih sadar dan jujur di bawah buaiannya. Harris mengerang, dengan menekan pundak istrinya lebih dekat dengannya. Dia sudah berada di ujung rindunya. Sudah saatnya semua tumpah bersamaan. Bersama air dari shower yang turun bagai rintik hujan.


Kira merosot, lemas, namun dengan cepat Harris menangkapnya. Membantu Kira menyelesaikan mandi air dingin yang terasa panas.


****


Harris mengemas pakaiannya yang basah ke dalam sebuah wadah yang di sediakan jasa laundry hotel. Sedangkan seragam Kira teronggok di tempat sampah, rusak tak berbentuk.


"Jangan senang dulu, usai makan, kau masih harus minta maaf padaku dengan benar," Ucap Harris saat berbalik dari pintu di mana petugas laundry hotel keluar. Dan mendapati istrinya tersenyum sekilas menatap makanan di atas meja kecil yang di bawa ke atas ranjang.


"Iya, tapi aku mau makan dulu, laper," Kira membenarkan letak pakaian yang di kenakannya. Dan membuat tubuhnya duduk dengan nyaman, dia masih merasa kebas.


"Makan yang banyak, biar kuat, menahan seranganku," Harris menghenyakkan tubuhnya yang bertelanjang dada di depan Kira.


Kira mencibir, "Kau pikir aku lemah?"

__ADS_1


"Iya, kau memang lemah, buktinya kau-,"


Telapak tangan Kira lebih cepat dari kereta api ekspress, melesat membungkam bibir bocor suaminya.


"Jangan membahas itu lagi, aku mau makan, Abang," Ucap Kira menirukan Rio yang memanggil Harris dengan sebutan Abang.


Harris tertawa, melihat istrinya sudah merah padam.


"Aku suka kau memanggilku Abang," Harris mengecup pipi istrinya yang memerah.


"Kau suka?" Kira mengurungkan suapannya, dan memandang Harris lagi.


"Iya, sangat suka. Aku suapi ya, biar cepat, aku sudah tidak sabar memakanmu lagi," Bisik Harris sensual.


Kira berdecak, dan menyuapkan sesedok penuh spageti, hingga sausnya belepotan di bibir.


Harris dengan telaten mengusap bibir istrinya dengan ibu jarinya, yang terkadang langsung di hisapnya.


Tiba-tiba, Kira ingat dia harus menanyakan sesuatu.


"Kenapa kau bisa di sana sih, Yang? Dan bagaimana juga kau bisa kenal putri jadi-jadian itu?" Tanya Kira pada suaminya. Tangannya masih menggulung spageti di garpunya.


"Kau tidak kenal aku? Aku mengulang kelas 3 karena bolos setahun," Jawab Harris sembari menyeruput kopi yang mengepulkan asap.


Kira menggeleng, mulutnya penuh.


Kira mengangguk, "Dan si Princess?"


"Jadi, Papa dan founder yayasan itu bekerja sama dulu, dan Princess waktu itu yang jadi duta perusahaan Papa. Sejak itu kami kenal, tapi aku ngga suka sama dia, terlalu rapuh," Jawab Harris, sambil memeriksa ponselnya. Johan yang di tinggal di sekolah baru saja menghubunginya.


"Yakin hanya itu? Kulihat dia nempel kaya lintah di lenganmu?" Tanya Kira acuh, usai menenggak air putih untuk memenuhi lambungnya.


"Jika aku menolaknya, dia akan malu, kau tidak percaya padaku?" Harris mendelik. Di lihatnya sekilas piring-piring itu sudah bersih. Jadi dia mengambilnya dan meletakkan di kaki ranjang.


"Kau perhatian sekali padanya! Kau tidak memikirkan aku, tadi?" Kira beringsut turun, berjalan menuju sisi dinding kaca yang menampilkan pemandang kota sore hari.


Harris mengikuti Kira, dan memeluknya dari belakang. Harris tahu, istrinya hanya mengulur waktu.


"Kau juga tidak memikirkan aku, saat di peluk laki-laki itu?"


"Siapa bilang? aku sebenarnya menghindari dia, tapi dia menarikku, jadi ya, seperti yang kamu lihat itu," Jawab Kira. Kira membasahi tenggorokannya yang tak kering. Dia ketahuan mengulur waktu, dan kini, dia hanya bisa pasrah, semoga dia tidak pingsan beneran. Gelombang kedua biasanya lebih dahsyat dari yang pertama. Kira menyilangkan kakinya, mengusir rasa yang masih tidak nyaman di sana. Harris terasa oversize bagi Kira.


"Benarkah? Kau ini rubah paling licik yang pernah ku kenal, jadi aku harus memastikannya lagi," Harris menyisihkan rambut harum Kira ke sisi yang lain. Hidung curam itu menelusuri pangkal leher yang terdapat titik sehitam tinta tepat di tengahnya.


Kira memejamkan mata, menikmati perlakuan lembut suaminya. Napasnya mulai naik turun tak beraturan seiring desiran halus menjalar hingga ujung jari kakinya, menembus otaknya.

__ADS_1


Kira berbalik menyambut tuntutan suaminya. Mendesaknya ke dinding kaca, Kira harus berpegangan jika tidak ingin terdorong kebelakang. Perlahan, tempo permainan mereka semakin meningkat. Saling membalas, dan menuntut. Saling menarik dan mengulur.


"Kau kaptennya, Sayang," Bisik Harris ceruk leher Kira. Mengendus, mencari jejak.


Blush, bak tersiram pemulas warna, pipi itu bersemu merah.


Dengan tak sabar Harris membopong tubuh Kira yang masih lengkap. Namun, Kira menjerit tertahan saat gaun biru lembut itu terbelah rapi menjadi dua. Kira masih memikirkan label harga yang di tariknya beberapa saat lalu.


"Kau bisa memiliki sepuluh lagi yang lain, Yang. Tapi setelah ini," Auh, suara serak berkabut gairah itu menggetarkan sisi yang lain. Merinding nikmat.


Harris menuntun Kira menguasainya. Tak mampu menolak, Kira hanya mau mencoba, sesi lain pelajaran yang harus segera di tangkapnya. Jantung Kira berdebar kencang, ketika sesuatu yang lain merajai dirinya. Rona merah itu membuat istrinya semakin manis.


"Kau malu?" Harris menyunggingkan senyum puas.


Kira mengangguk dengan mata terpejam dan bibir yang tertarik kedalam, tercapit rapi barisan giginya.


"Lepaskan, Honey. Ini milikku," Harris meraih bibir yang mendekat dan menjauh darinya. Tangannya menekan pangkal leher Kira, menikmati perasaan yang dalam.


Terengah-engah, seakan usai tenggelam, Kira menarik dirinya. Berganti dengan remasan pelan di kedua bahu kokoh suaminya. Harris enggan terpejam, memaksa matanya terbuka, merekam adegan indah yang akan selalu di rindukannya.


"Kau cantik sekali, Kiraku. Aku menyukaimu." Bisik Harris yang membuat punggung Kira merinding, seperti sengatan-sengatan listrik bervoltase rendah, namun intens menyerangnya. Bertumpuk dan bercampur. Ahh.


"Faster, please," Pinta Kira samar-samar. Dan, Harris mengembangkan senyum penuh kemenangan.


"Play me, Honey," Harris semakin gencar menyerang Kira dari bawah. Hingga Kira dengan lembut mencengkeram dan menghisap ketat seluruh tubuh Harris.


"Hold on, Baby," Harris menekan pinggang Kira semakin ke bawah, "I'm coming, Baby, I'm coming, My Kira."


Kira nyaris tersedak, namun Harris buru-buru menepuk pelan punggung Kira. Sehingga dia kembali bisa bernafas lega. Namun, terkulai lemas.


"Terimakasih, Sayang. Aku mencintaimu," Harris mengecup kening Kira, lama, sangat lama. Harris membawa Kira mengarungi mimpi di tengah hiruk pikuk kota di bawahnya. Tak ada yang mampu mengganggu mereka, sekalipun petugas laundry hotel, dentang jam dinding atau dering ponsel keduanya yang bersahut-sahutan. Lelah, mereka lelah usai perjalanan kerinduan yang bersua di ujung waktu.


β€’


β€’


β€’


β€’


Maaf Typo lagi.πŸ™πŸ™


Maafkan author yang masih kacau atau terlalu over dalam menulis 21+😊


Jika tidak berkenan, Boleh skip kok. πŸ§šβ€β™€οΈ

__ADS_1


Happy reading, Author mau ngadem dulu,πŸ˜†


Love You AllπŸ’•πŸ’•πŸ‘©β€πŸ¦°


__ADS_2