Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Akulah Mas mu.


__ADS_3

Sementara Rian masih menangisi nasibnya, Kira dan Harris sedang bersiap untuk ke rumah Ayahnya. Sejak hari itu, anak-anak menolak kembali ke rumah Harris. Sehingga Kira yang bolak-balik antara rumah orang tuanya dan rumah Harris, rumahnya sendiri, boleh di katakan seperti itu.


"Ayo," Ajak Harris yang sudah tidak sabar untuk segera berangkat. Entah sudah berapa kali dia mengatakan "Ayo". Kira sendiri heran, dia biasa saja, sedangkan Harris sudah sibuk sendiri sejak tadi. Naik turun tangga untuk memeriksa Kira yang masih bersiap. Seperti anak kecil yang tidak sabar saat hendak pergi ke taman bermain.


"Sebentar, aku periksa dulu barang-barang yang dibutuhkan anak-anak," Kira masih memasukkan beberapa baju ganti untuk anak-anak, buku, mainan dan boneka, seperti mau pindah rumah saja.


"Jika ada yang kurang, nanti minta Johan saja yang mengantar," Harris keluar dari kamar anak mereka, di bantu Sari membawa beberapa tas.


"Iya, ini sudah kok," Jawab Kira kalem.


"Ayo," Harris menyambar tas yang di bawa Kira, kelihatan sekali dia sudah tidak sabar.


Kira mendesah, tanpa banyak bicara Kira mengikuti Harris menuju mobil yang sudah di persiapkan Johan.


"Apa kau baik-baik saja? Kau pucat?," Kira melihat Harris yang tidak seperti biasanya. " Kau yakin mau mengemudi sendiri?,"


"Kau tidak percaya padaku?," Harris yang hendak masuk ke mobil, berhenti. Memandang Kira yang seolah meragukannya.


"Tidak, kau terlihat seperti orang sakit," Ucap Kira santai. Dia hanya mencemaskannya, bukan tidak percaya.


Kira ikut masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke rumah Ayahnya. Harris melajukan mobil dengan hati-hati, hujan deras membuat jarak pandang terbatas.


"Apa kau sudah memberitahu keluargamu jika kita mau ke sana?," Tanya Harris memecah keheningan.


"Belum, memangnya kenapa?," Kira menyipitkan matanya, di ikuti alisnya saling yang bertaut.


"Tidak apa-apa. Hanya bertanya saja," Harris kembali fokus mengemudi. Harris cemas, gelisah dan gugup. Ini pertama kalinya dia mengunjungi mertuanya. Bagaimana reaksi mereka nanti?


Memangnya, apa Ris? Kau kan sudah jadi menantunya, bukan mau melamar. Jangan gugup.(Author)


"Kau mau di sambut seperti artis atau raja?," Tebak Kira namun dia hanya bercanda.


"Siapa bilang?,"


"Aku."


"Kau pikir aku seperti itu? Senang di puja? Maaf sekali, aku tidak seperti itu," Harris mencibir.


Kira mengangkat bahu, saat Harris berubah kesal. Jika di lanjutkan maka akan terjadi keributan, dan ini sedang hujan. Kira tidak mau, Harris kehilangan fokus hanya karena berdebat hal-hal sepele, dan membuat mereka dalam kesulitan.


Harris menghentikan mobilnya, tepat di depan rumah Ayah. Pintu depan tertutup rapat, sepertinya mereka tidak mengetahui jika anak dan menantunya akan menginap di rumah mereka.


Kira mengambil payung yang sudah dia sediakan sejak tadi. Namun, Harris tiba-tiba meraih pergelangan tangan Kira, membuat Kira urung membuka pintu mobil. Seketika Kira berbalik, heran, melihat Harris pucat.


"Kau kenapa?," Tanya Kira saat merasakan tangan Harris berkeringat dan dingin. Tidak mungkin dingin air hujan bisa menembus mobil. "Kau sakit?,"


"Bagaimana penampilanku?," Wajah Harris terlihat pucat dan tegang, seperti mau muntah.


"Astaga," Kira hampir pingsan saat melihat Harris pucat, dia menyangka Harris sakit. Ternyata....


"Hei, Em, dengar, ini hanya berkunjung ke rumah mertuamu, bukan wawancara kerja atau bertemu klien jutaan dolar. Oke! Ini hanya orang tuaku! Apa mereka terlihat menakutkan bagimu?," Kira menggenggam tangan Harris, yang masih bergetar.


"Iya tapi-,"


"Apa yang kau takutkan?," Tanya Kira lembut.


"Aku hanya gugup, ini pertama kalinya buatku, jadi-," Harris tidak melanjutkan ucapannya. Dia sendiri bingung, kenapa dia bisa segugup ini?.


"Biasa saja, orang tuaku tidak akan menyusahkanmu, percaya deh!,"


Melihat Harris seperti ini memang langka. Dia sudah seperti lelaki dengan masalah kepercayaan diri yang akut. Di mata Kira, Harris selalu sempurna seperti biasa. Jadi, tak ada yang perlu di cemaskan.


"Ayo," Kira menarik sedikit tangan Harris, mengisyaratkan agar segera turun. Namun, hingga Kira sudah setengah jalan menuju teras, Harris masih terpaku di belakang kemudi dengan wajah tegang. Memandang rumah ini seperti akan masuk ke ruang eksekusi saja.


Kira geleng-geleng kepala, dan menghela napas. Harris seperti bukan dirinya. Kira ingin tertawa, tapi dia menahannya. Bukan waktu yang tepat untuk menertawakannya sekarang. Kira kembali ke mobil dan menarik paksa Harris, agar segera keluar dari mobil.


"Ayo," Kira menggenggam tangan Harris sekali lagi. "Aku tidak tahu apa yang membuatmu berpikir aneh-aneh tentang orang tuaku, tapi jika kau gugup, cukup tetap berada di dekatku, oke!,"


Harris mengangguk, dia meremas tangan Kira hingga terdengar gemeletuk dari ruas-ruas jarinya. Kira tersenyum memandang Harris dibawah payung yang menaungi mereka dari hujan. Kira menggerakkan kepalanya ke samping, mengisyaratkan agar segera melangkah.


"Siapa tadi yang bersemangat berangkat ke sini?," Sindir Kira. Di balas tatapan memelas dan pasrah dari Harris.


"Assalamualaikum," Kira membuka pintu yang tidak terkunci itu.


Mendengar suara Mamanya, Jen yang sedang tiduran di pangkuan Utinya, langsung bangkit dan berlari ke ruang depan.


"Mama," Teriak Jen. Namun, perhatiannya teralihkan pada seseorang di samping belakang Mamanya.

__ADS_1


"Papa," Jen berlari ke arah Harris dengan tangan merentang ke samping. Mengabaikan Mamanya yang sudah siap memberinya pelukan. Harris menangkap Jen yang langsung naik ke dalam pelukan Harris.


"Apa Jen sudah merindukan Papa?," Harris tersenyum sumringah, wajah pucatnya berangsur hilang, berganti wajah yang menghangat dan ceria. Jen mengangguk manja, memeluk leher Harris. Kira keheranan dengan sikap keduanya yang semakin akrab. Kira hanya menggelengkan kepala, tanpa bisa berkata apa-apa.


"Astaga, Nak. Kenapa tidak bilang kalau mau kemari, Nak," Ibu terkejut saat melihat Harris menggendong Jen. Sampai menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Ayah, menantumu ke sini, Yah," Teriak Ibu heboh sendiri. Seperti kedatangan artis saja.


Kira menoleh ke arah Harris, seolah berkata, "Apa ku bilang?,"


Harris hanya mengangkat bahu, dia sudah kembali menjadi Harris yang sebelumnya.


"Selamat sore, semuanya," Sapa Harris kaku. Saat Ayah dan Nina masuk ke ruang tamu.


Ayah dan Ibu saling pandang. Aneh.


"Ayah, Ibu, kami akan menginap di sini," Kira buru-buru mencairkan suasana yang kaku.


"Oh, tentu saja, masih ada kamar kosong kok, kalian pakai saja," Ayah juga terlihat gugup sekaligus senang. Bagaimanapun, menantunya orang yang terpandang, jadi ayah merasa sedikit canggung. Seperti tidak tahu harus berbuat apa.


"Ayo duduk dulu, biar Ibu, buatkan minum," Ibu juga tak kalah gugup. Namun, dia masih bisa mengatasi kegugupannya. Sedangkan Nina, dia seperti melihat dosen yang galak.


"Kau menyapa Ayahku seperti kau menyapa klienmu saja," Bisik Kira di telinga Harris, sehingga Harris mendelik kesal di buatnya.


Rumah minimalis ini semakin ramai sejak kedatangan Harris. Jen enggan berjauhan dari Papanya yang sedang main game dengan kedua kakaknya. Harris di buat kerepotan dengan Jen di depannya, sehingga berkali-kali dia kalah dalam permainan. Excel dan Jeje kesal karena Harris terkesan main-main dan sengaja mengalah.


"Gimana sih, Pa. Masa gitu aja ngga bisa?," Jeje merengut sebal.


Sedangkan Harris tersenyum penuh arti, ketika mendengar Jeje memanggilnya Papa. Harris merasa sangat bahagia. Anak-anak ini sangat manis dan menggemaskan. Sok jual mahal, padahal suka, seperti Mamanya. Ups.


"Jen, sepertinya Papa harus mengeluarkan semua kemampuan Papa. Tolong Jen beri Papa semangat, Oke!,"


"Oke, Pa. Papa harus kalahkan Jeje. Semangat Pa," Jen mengepalkan tangannya di hadapan Harris, dan beralih di sisi kiri Harris.


"Aku ngga akan kalah, Jen." Cibir Jeje


"Oke, Papa juga tidak akan mengalah,"


Selanjutnya, hanya suara riuh dari depan televisi yang meramaikan rumah ini. Menyaingi suara hujan yang belum juga berhenti.


"Mbak, boleh ngga aku iri?," Nina dudu di meja makan, menumpu dagunya dengan kedua tangannya. Matanya di kedip-kedipkan berulang.


"Makanya buruan cari calon," Celetuk Ibu dari belakang Nina.


"Yang kaya Pak Harris, Bu. Satu saja,"


"Itu limited, Na," Jawab Kira asal. Memang sih, Harris itu edisi terbatas karena cuma satu di seluruh dunia. Satu-satunya yang bisa membuat Kira merasakan cinta lagi.


"Huft, kayanya aku bakal gigit jari, punya gebetan ngga bener semua, yang satu bikin aku di penjara, yang satu baru mau di kejar, udah kabur," Desah Nina. "Nasib, nasib,"


"Siapa yang di kejar malah kabur?," Tanya Kira menyelidik.


Nina membungkam mulutnya. Dia kelepasan bicara.


"Tidak ada, Mbak Kira salah dengar kali," Kilah Nina dengan wajah yang merah seperti tomat.


"Telinga Mbak masih normal, Nin,"


"Tidak ada, Mbak," Nina kabur ke kamar dan mengunci pintu.


Kira berdecih pelan. Dan melanjutkan mengemas bekas makan malam.


"Ra, pertengahan bulan ini, Bude mau menikahkan Lilis, kamu ikut pulang kampung apa tidak?," Ibu mengelap tangannya setelah mencuci piring.


"Jika bertepatan dengan liburan sekolah, Kira ikut Bu, kangen juga sama Bude, sudah lama Kira tidak pulang kampung," Kira menutup sisa makanan di dalam tudung saji.


Ayah dan Harris sepertinya semakin akrab, mereka berdua asyik ngobrol ngalor ngidul, mulai dari A-Z, dan sesekali mereka tertawa. Lelaki beda generasi ini seperti saling memahami dan melengkapi, di sana tidak ada seorang CEO perusahaan besar, hanya ada seorang ayah dan menantu laki-lakinya. Harris seperti menyatu di sini, meninggalkan tingginya di luar rumah. Kira tersenyum menyaksikan jalinan yang mulai terangkai diantara keduanya.


Malam semakin larut, hujan di luar masih belum juga berhenti, namun sudah tidak sederas tadi. Menyisakan hembusan angin dingin lembab menerpa tirai jendela yang masih terbuka.


"Jen sudah tidur?," Harris sedang duduk bersandar di atas kasur. Di kamar ini tidak ada sofa seperti di kamar mereka. Ruangan disini hanya cukup untuk sebuah kasur, lemari dan meja rias kecil. Meski tidak seluas kamar mereka, tapi di sini cukup nyaman.


"Sudah dari tadi, dia tidur dengan Nina,"ย  Jawab Kira datar.


"Sini," Harris menepuk bantal di sebelahnya.


"Ada apa?," Kira menurut dan berbaring di sebelah Harris.

__ADS_1


"Tidak ada, hanya ingin berdekatan saja,"


"Ada-ada saja kau ini,"


"Ra,"


"Hem,"


"Di sini rasanya seperti punya keluarga," Harris merosot, hingga kini posisinya telentang. Matanya asyik menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.


"Kau selalu punya keluaraga,"


"Tapi di sini beda,"


"Kau yang membuatnya berbeda,"


"Ck,"


"Kenapa? Ada yang salah?,"


"Ada," Jawab Harris sengit. "Kau tidak asyik di ajak curhat,"


"Ya sudah, aku tidur saja,"


"Eh, jangan." Harris menarik pergelangan tangan Kira yang hendak berbalik membelakanginya.


"Apa?,"


"Ra, bisakah kita terus seperti ini?," Harris memandang Kira penuh pengharapan.


Kira merapatkan bibirnya, menatap langit-langit alih-alih menjawab Harris. Dia mau dan dia bisa tapi keraguan akan perasaan Harris padanya yang membuat Kira berat untuk menjawab. Tapi Kira merasa kini saatnya dia jujur, agar kelak, baik dia ataupun Harris, baik bersama atau berpisah, mereka bisa saling mengerti yang terbaik untuk mereka berdua.


"Ku rasa aku bisa," Jawab Kira tanpa menatap Harris.


"Kau suka pria seperti apa?," Harris mendekatkan bibirnya di bahu Kira yang terbalut piyama. Menggosok pelan ujung hidungnya di sana.


"Em, apa ya?," Kira berpikir sejenak. "Yang bertanggung jawab, setia, dan berjiwa besar,"


"Itu terlalu puitis dan klise," Harris menjauhkan hidungnya, mendongak memandang wajah Kira dari samping. "Bagaimana dengan mantan suamimu?,"


Kira mendesah, tapi Kira merasa sudah tidak apa-apa membahas ini di depan suami barunya. Dia sudah tahu semuanya.


"Dia baik sih, hanya saja dia tidak tegas, dan tidak mau mengakui kesalahannya. Ya, okelah. Aku juga salah tapi dia harusnya yang pasang badan membentengi keluarganya dari godaan dan kehancuran, bukan malah ikut hanyut dalam godaan. Laki-laki harus berpegang teguh pada janji,"


"Kalau aku?,"


"Kau pemarah,"


"Tidak ada yang lain?,"


"Kurasa tidak,"


"Jika di banding Rian?,"


"Sampai saat ini, kau lebih baik sedikit saja dari Mas Rian," Kira mengatupkan ibu jari dan telunjuknya, dan itu menyisakan sedikit saja celah. Sangat sedikit sampai angin tak bisa menembusnya.


Harris berdecih, artinya dia dan Rian nyaris sama di mata Kira. "Jangan panggil dia Mas, mulai sekarang akulah Mas mu,"


Kira terdiam, ini seperti ungkapan perasaan atau dia sedang mengklaim kepemilikan. Kira merasa jantungnya meronta, detaknya mulai tidak normal, saat Harris meraih pangkal lehernya. Sedikit kasar, seolah bibir Kira telah berbuat kesalahan padanya. Tapi, ini tidak menyakitkan, hanya sedikit lonjakan perasaan.


Di tambah suasana syahdu yang mendukung, Kira jadi terbawa suasana. Seperti ada alunan lagu di seluruh tubuhnya, menjalar menelusup ke dalam urat saraf dan aliran darahnya. Sejauh itu perasaan yang mengalir di dalam tubuhnya. Dan jika di banding Rian, perasaan ini terlalu deras mengalir, menghanyutkan, Kira bahkan harus berpegangan agar tidak hanyut ke dalam air terjun di sungai tak berujung ini.


Namun, gelora dalam diri keduanya menguar bersama nafas yang menyatu. Berbagi perasaan yang sama, hanya saling menahan diri. Ibarat sebuah lingkaran, mereka berdua mencari ujung, tapi tidak bisa saling menemukan. Kecuali salah satunya berhenti, dan berbalik. Bukan sebuah ujung tetapi, sebuah titik temu. Lingkaran kehidupan memang tidak ada ujungnya, hanya ketika sampai pada satu titik tujuan, kita akan bertemu. Bertemu di satu titik rasa yang sama.


.


.


.


.


Hai, hai lagi๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹, jan bosen-bosen dukung author yah, lewat like๐Ÿ‘, komen๐Ÿ‘„ vote โค , jika ikhlas tip juga boleh ๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘ˆ๐Ÿ˜‰. Wkwkwkwk. Pokoknya segala jenis dukungan untuk author, author ucapkan terimakasih. Dukungan kalian semua, apresiasi buat author. Semoga kalian semua sehat terus, lancar rezekinya, berkah dan melimpah ruah. Aamiin ๐Ÿคฒ


Love you, all๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Author

__ADS_1


__ADS_2