Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
(Bukan) Orang ketiga


__ADS_3

Sementara dua insan di tepi samudra sedang menikmati sore bermandikan cinta. Di rumah besar ini, para penghuninya sedang menghabiskan sore dengan amarah yang memuncak.


Setelah mendapat pengampunan dari Kira, Ibu Atmaja semakin membaik dan kembali ke rumah. Namun, seperti tidak belajar dari kesalahan, Ibu Atmaja mengabaikan Melisa dan Sia. Sia mulai menggemaskan, dan Melisa bersikap baik, membuat Rian dilema.


Ibu beberapa kali meminta Rian untuk membawa Kira kembali, Ibu ingin memperbaiki kesalahannya dengan menjadikan Kira sebagai istri Rian kembali. Dan menceraikan Melisa. Dalam benak Ibu, Melisa lah yang membuat semuanya kacau. Jadi dengan mendepaknya dari rumah, dia bisa membuat keluarganya utuh lagi.


Ibu masih beranggapan bahwa yang paling bersalah adalah Melisa. Dan dengan membawa Kira kembali akan menghapus kesalahannya kepada Kira dan cucunya.


Sore ini, Ibu secara terang-terangan meminta kepada Rian untuk membawa Kira kembali, di saksikan Ayah.


"Bu, Ibu lihat sendiri kan, Kira seperti apa sekarang?," Rian memandang Ibu sendu,"Kira sekarang sangat sulit di temui bahkan keluarganya pindah, tidak tahu kemana."


"Katanya, Kira kerja di kafe, cari saja di sana, atau di sekolah menemui Excel," Ibu berbinar, mencoba segala kemungkinan untuk membawa keutuhan keluarganya kembali.


"Kira sudah tidak bekerja di sana, Bu. Dan aku sudah berusaha menemui anak-anak di sekolah, tapi mereka tidak mau berbicara denganku, Bu," Rian seperti frustrasi, dia juga ingin, tapi dia belum menemukan cara. Dan, bagaimana dengan Melisa. Jika Kira mampu bertahan dengan kerasnya kehidupan tanpa dia, karena tekat kuat dan semangatnya untuk masa depan anak-anak lebih baik. Sedangkan, jika yang menimpa Kira terjadi pada Melisa, yang ada dia malah mengeluh dan mengacau sepanjang waktu.


"Belum di coba dengan Ibu, Rian. Pasti Kira atau anak-anak pasti mau mengerti, jika ibu yang minta," Intinya Ibu belum menyerah pada keinginannya. Agar Riana tidak lagi merasa bersalah kepada Kira dan keluarganya utuh kembali.


Ayah sejak tadi hanya diam saja. Percuma menasehati mereka berdua. Dan Ayah tahu pasti, Kira tidak akan kembali. Melihat Kira yang sekarang, Ayah yakin, dia menjalani hidup yang sangat layak. Bukan sekali dua kali Ayah melihat Kira bepergian dengan Agus dan anak-anak. Tidak menutup kemungkinan, melihat akrabnya mereka, mereka berdua sudah memiliki hubungan. Mereka akrab sejak Kira masih menjadi menantunya. Merasa kasihan dengan nasib mantan menantunya, mungkin membuat Agus iba dan mereka bersama, pikir Ayah.


Namun sayangnya, rencana Ibu di dengar oleh Melisa yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka. Geram, tapi Melisa harus tetap bersikap baik. Melawan musuh yang kuat harus memakai strategi yang tepat.


Melisa dengan santai melenggang masuk ke dalam rumah, di ikuti pengasuh yang menggendong Sia. Dengan isyarat dari Melisa, si pengasuh membawa Sia ke kamar.


"Sudah pulang, Mas?," Melisa tersenyum manis. Bahkan kepada Ibu dan Ayah.


"Iya, sudah dari tadi, kalian dari mana?," Tanya Rian yang sedikit gugup karena takut ketahuan Melisa soal rencananya.


"Dari jalan-jalan, capek di rumah terus," Melisa merengut, namun hanya sebentar, kemudian tersenyum lagi.


Ibu ingin muntah melihat sikap manis Melisa. Dia terlihat sangat malas menanggapi obrolan Melisa.


"Mas, aku ke kamar dulu ya, Sia mungkin sudah bangun," Melisa beranjak menuju kamar di iringi cibiran Ibu.


"Dasar ular," Batin Ibu.


Belum sempat mereka berbincang lagi, pintu depan menjeblak terbuka. Orang yang menghilang beberapa waktu lalu, kini kembali, membawa koper dan terlihat sembab.


"Riana!," Ibu berlari memeluk putri kesayangannya. Putri yang sangat di rindukannya.

__ADS_1


Riana masih mematung, hanya ibunya, Ayah dan Kakaknya hanya memandang dirinya dengan acuh.


"Bu, Riana boleh tinggal di sini lagi?," Ucap Riana datar.


"Tentu, Nak. Ini juga rumahmu. Kau bebas tinggal di sini," Ibu mengusap wajah Riana yang sedikit tirus.


"Kau sudah menikah, seharusnya kau di rumah mengurus tanggung jawabmu," Seru Ayah.


"Yah, jangan begitu. Riana mungkin ada masalah sama Raka. Biarkan dia menenangkan diri sebentar, di sini," Ibu menatap Ayah memelas. Berharap Ayah mengizinkan Riana tinggal di rumah mereka lagi.


"Kalau ada masalah, jangan buru-buru kabur, selesaikan dulu, kalau apa-apa kabur, kapan dewasanya? Masalah bukan untuk di hindari tapi di hadapi," Suara Ayah masih meninggi, urat lehernya sampai keluar semua.


"Yah, Riana anak kita, jika di rumah suaminya dia tidak di terima, di mana lagi dia akan tinggal?," Ibu mulai kehilangan kesabaran.


Ayah diam, membantah ucapan Ibu hanya akan membuatnya semakin marah. Memanjakan anak memang tidak ada salahnya, tetapi menuntun anak ke jalan yang benar adalah keharusan. Jika anak kita salah asuhan, rusak sudah masa depannya.


Rian yang enggan masuk ke dalam perdebatan memilih pergi, menyingkir. Membiarkan ke dua orang tuanya mengambil keputusan. Ayah benar, tapi Ibu juga tidak salah, bagaimanapun, Riana anak mereka.


Ayah juga segera pergi dari sana, apa yang dia katakan tidak akan di gubris oleh mereka berdua.


"Bu, aku pergi saja, Ayah tidak mau aku tinggal di sini," Riana mengambil koper yang semula di letakkannya.


"Jangan, Ri. Kau mau kemana?," Ibu mencekal pergelangan tangan Riana. " Tinggalah di sini, biar Ayah menjadi urusan Ibu."


Goncangan dalam rumah ini, akhir-akhir ini membuat semua penghuninya saling melempar kecurigaan. Begitupun Rian, dia curiga, Melisa tidak menepati janjinya untuk memberikan uang kepada Kira. Namun, setiap kali di ingatkan, Melisa selalu banyak alasan dan alasan itu masuk akal.


"Mas, biasanya akhir tahun selalu ada acara di kantormu, apa tahun ini tidak ada?," Melisa sedang memoles wajahnya dengan bedak. Mematut dirinya.


"Ada, tapi mungkin mundur dari jadwal, katanya istri presdir kabur, dan belum di temukan," Jawab Rian datar sembari memainkan ponselnya. Mengecek beberapa pekerjaan yang belum sempat di selesaikan di kantor.


"Kabur? Dapat suami kaya kok malah kabur ya, Mas?," Tanya Melisa. Jika saja itu dia, pasti dia akan bertahan walau harus menderita.


"Entahlah, Mas juga tidak tahu," Jawab Rian sembari menyalakan laptopnya untuk mulai bekerja. Namun, tangannya yang sedang mengetik perlahan berhenti, Rian ingat sesuatu tentang presdir, setau Rian, Tuan Dirga tidak menikah setelah istrinya meninggal, dan beberapa waktu lalu, ada berita bahwa Harris, putra Tuan Dirga, menikah. Mereka menikah diam-diam. Sedangkan Kira, tiba-tiba menjadi dekat dengan Harris, apa mungkin istri Harris kabur karena Kira? Jika di lihat hidupnya sekarang, Kira pasti mendapat dukungan materi yang berlimpah. Apa Kira menjadi orang ketiga di rumah tangga Harris yang baru seumur jagung?. Rian terhenyak, pikirannya mulai kelabakan, jika benar, maka masa depan anak-anak mereka akan suram. Mereka hanya korban, yang salah adalah orang tuannya.


Rian meraup wajahnya kasar, Kira menjadi seperti dalam pikirannya karena dia. Karena ingin membalas sakit hatinya. Bingung. Tapi Rian tidak bisa berbuat apa-apa. Pantas saja dia sulit sekali di temui, dan tiba-tiba berhenti bekerja. Jadi karena ini?, pikir Rian.


******


Di sebuah kamar, Viona tengah bingung. Della asistennya tidak bisa di hubungi, sedangkan semua uang dan asetnya berada di tangannya. Saat ini, Viona tidak memegang uang sama sekali. Dan dia butuh untuk membeli makanan yang tiba-tiba dia inginkan. Juga mengingatkan Della, bahwa besok adalah tanggal untuk membayar hutangnya di bank.

__ADS_1


Bingung, Viona mencoba menghubungi Harris dengan sedikit ragu. Setelah kejadian kemarin, dia belum pulang. Hanya ada dia dan Kristal yang mengisi rumah besar ini.


Berulang kali, Viona mencoba menelpon Harris, namun tidak mendapat jawaban. Viona semakin kesal hingga dia membanting ponselnya. Meraung dan memukul-mukul bantal dengan tinjunya.


Namun, tiba-tiba perutnya terasa sakit, nyeri tak karuan. Mungkin efek stres membuat janinnya lemah. Berteriak sekencang mungkin agar Rina bisa mendengar, tetapi yang datang adalah Kristal.


"Mama, Mama kenapa?," Kristal berlari menghampiri Mamanya yang mengerang kesakitan, kedua tangannya menopang perutnya yang sudah buncit.


"Panggil Rina kemari, kau tidak bisa menolongku, bo*oh," Viona mengempas tangan kecil Krisatal. Tetapi, Kristal tidak marah, dia segera turun dan memanggil Rina. Tak lama kemudian, Rina datang dan segera memapah Viona ke mobil.


"Don, ayo cepat!," Seru Rina kepada Doni yang sedang asyik makan cemilan.


"Kenapa Rin?," Doni masih mengunyah makanannya, tetapi dia berlari menghampiri Rina.


"Nona Viona mengalami sakit perut, kita harus segera membawanya ke rumah sakit," Terang Rina panjang lebar. Sesuai perintah Johan, Rina dan Doni di minta untuk menjaga wanita itu selama di tinggal ke luar kota.


Doni melaju dengan kecepatan tinggi namun tetap berhati-hati. Hingga mereka tiba di rumah sakit dalam waktu singkat.


Segera, Viona mendapatkan pertolongan, namun wajah cemas Rina dan Doni belum juga surut. Mereka berdua bergerak gelisah dalam diam. Sesekali Doni melihat ponselnya, setelah beberapa saat lalu mengirim pesan kepada Johan, namun belum mendapat jawaban.


Dokter yang memeriksa Viona keluar, setelah beberapa saat.


"Suami Nona Viona?," Tanya Dokter kepada Doni. Yang langsung di balas dengan gelengan kepala oleh Doni. Dokter itu bingung, hingga Rina menjelaskan.


"Suami Nona Viona sedang keluar kota, kami hanya pekerjanya," Ucap Rina.


"Sayang sekali, tetapi baiklah, saya akan menyampaikan kepada kalian berdua agar selalu menjaga Nona Viona. Jangan sampai dia dalam tekanan, dan tolong, perhatikan pola makan, Nona Viona setidaknya harus mengalami kenaikan berat badan seiring dengan bertambahnya usia kandungan. Di usia kandungan 22 minggu, dan kondisinya sekarang, bisa dibilang Nona Viona kekurangan gizi," Ucap Dokter itu miris. "Beruntung, dia baik-baik saja, dan hanya perlu dirawat beberapa hari dan dengan pantauan dari ahli gizi."


Doni dan Rina mengerjap, bingung, tapi mereka sepakat untuk mengangguk.


"Ngerti apa kata Dokter barusan?," Tanya Doni saat Dokter sudah menjauh dan hilang dari pandangan.


Rina menggeleng. "Aku belum menikah dan belum pernah hamil, jadi aku tidak mengerti apa maksudnya,"


"Sama Rin," Doni mengajak Rina tos, karena nasib mereka sama. Sama-sama mengerikan.



__ADS_1




__ADS_2