Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Tentang Kristal 1


__ADS_3

Kehidupan kembali normal, saat mentari mulai menebar pesonanya di sisi timur. Merangkak anggun, membagi sinarnya dengan bumi yang semula gelap.


Kira sudah segar dengan rambut yang tergerai basah. Handuk senada dengan warna telur bebek itu, menyampir sebagian di sebelah kiri pundak Kira. Sedangkan yang lain, berada di jemari lentik, beradu dengan surai lebat, menyesap air.


Manik matanya terpaku pada pria yang masih menumpu bantal, yang telah membuka setengah matanya. Dengan malas, Harris beranjak bangun, ketika dirasa, tatapan istrinya sudah menajam. Detik berikutnya, bisa jadi telinganya akan tuli, saat pidato kenegaraan mulai di kumandangkan.


Kira bergegas menunaikan kewajibannya, sebelum waktunya habis. Dan mulai mematut diri, seperlunya, supaya terlihat segar saja. Sembari menunggu Harris, Kira menyempatkan diri melakukan panggilan video dengan anak-anaknya, rindu. Meski Kira hampir tiap beberapa jam sekali menelpon mereka.


Kira mengakhiri panggilannya beberapa detik sebelum pintu kamar mandi menjeblak terbuka. Menampakkan sosok tampan dengan dada dan perut bak petakan sawah, yang sedang menggosok rambutnya dengan handuk. Tidak tahu dengan orang lain, tapi bagi Kira, Harris adalah gambaran sempurna seorang pria idaman. Hidung bangir, bibirnya penuh, rahangnya tegas dan kokoh. Terlebih mata indah bak black hole itu, sewaktu-waktu bisa menelannya utuh. Pria yang membuatnya jatuh cinta setiap hari. Ugh.


Kira menggeleng, membuang pikiran lain yang mulai berseliweran di kepalanya.


"Otakku mulai kacau," Gumam Kira dalam hati.


"Tumben kau cepat bangun, Yang," Kira menutupi pikiran kotornya, dengan mencandai Harris. Kira melangkah ke depan suaminya yang bertelanjang dada. Mengambil alih handuk untuk mengeringkan rambutnya.


"Memangnya, aku tukang tidur sepertimu," Harris mencibir istrinya yang sudah berdiri di hadapannya.


Kira mencebik, melemparkan handuk di tangannya ke dada Harris, kesal. Dan tanpa membalas ejekan Harris, Kira melangkah ke lemari bercat putih, berisi baju-baju Harris, mengambil sebuah kemeja abu muda, celana bahan hitam, dan dasi berwarna hitam.


Harris segera membalut tubuhnya dengan kemeja yang di ambilkan oleh istrinya. Menanggalkan handuk, dan menggantinya dengan celana panjang hitam berkilat, sedikit longgar membalut kaki kekar berotot itu.


"Terima kasih, Sayang," Harris mengecup sekilas bibir istrinya yang tengah membuat simpul untuk dasinya.


"Tumben pakai terima kasih? Biasanya, juga sibuk dengan itu," Kira mencibir, dengan dagu menunjuk ponsel yang tergeletak di meja lampu. Seakan iri karena di abaikan pemiliknya pagi ini.


"Aku bosan dengannya yang terus merengek minta di sentuh, tapi bukan membuatku senang, kadang malah membuatku senewen."


Tangan Harris menelusup ke pinggang Kira dan mulai melirik nakal.


"Aku lebih suka menyentuhmu, yang menyenangkan dan membalasku dengan suara merdu," Bisik Harris di telinga Kira.


Kira meremang, "Jangan ungkit itu," Kira mendorong pelan tubuh suaminya agar menjauh. Di ingatkan akan duel panas mereka, membuat Kira terbakar, malu. Itu seperti dia yang lain, dia yang gila. Kira segera melangkah keluar kamar, meninggalkan suaminya yang tergelak.


Kira menuruni tangga, dengan telapak tangan menepuk pipinya yang panas, menetralkan kembali suhu pipinya yang naik beberapa derajat.


Di ruang tengah, sudah ada Johan yang tengah mengobrol serius dengan Rina. Johan manggut-manggut mendengarkan penuturan Rina yang tak lebih dari sekedar bisikan.


"Kalian sedang apa?," Tanya Kira membuat keduanya menjauh dengan cepat.


"Tidak ada, Nyonya,"


"Tidak ada, Nona,"


Mereka menjawab bersamaan dan membuat Kira tertawa. "Kalian menikah saja, kalian tampak serasi."


Kira bergantian mengawasi mereka, dan Rina sudah merona di bawah kepalanya yang menunduk. Sedangkan Johan hanya mencebik, enggan menanggapi Kira.


Kira terbahak melihat ekspresi Johan yang terlihat kesal. Dia berlalu ke ruang makan, di ikuti dua orang itu. Tawanya terhenti saat melihat Kristal duduk dengan kepala tertumpu pada kedua tangannya yang terlipat di atas meja.


"Pagi, Sayang, kamu kok sudah bangun?," Kira berjalan menghampiri Kristal yang segera merosot menyambut Kira. Sedikit tergesa hingga membuatnya, nyaris jatuh, sehingga Kira memekik pelan.

__ADS_1


"Pagi juga, Tante. Kapan Tante pulang?," Kristal mencium tangan Kira dan memeluk sebatas paha.


"Tadi malam, Sayang. Kristal baik-baik saja kan, selama Tante tinggal?," Kira meraih tubuh kecil itu seakan meraih kapas, meski sudah lebih berbobot daripada beberapa waktu lalu, tapi, bagi Kira yang sudah menggendong Jen yang dua kali lipat lebih berat dari Kristal, Kristal masih belum ada apa-apanya.


"Iya, Tante. Kristal tidak nakal kok, tanya saja sama Mbak Rina atau Mbak Sari," Rambut Kristal bergerak seirama gerakan kepalanya, sehingga beberapa untaian, memantul seperti pir.


"Tante, percaya kok sama Kristal, Kristal memang anak yang baik dan pintar," Kira mencium pucuk kepala gadis cantik replika Viona itu, gemas. Dan mendudukannya kembali ke kursi.


"Tante, kapan Jen pulang? Kristal sudah kangen sekali padanya."


"Nanti siang, Sayang. Tante akan menjemput Jen dan kedua Kakaknya, Kristal mau ikut Tante?," Kira mengurungkan niatnya pergi ke dapur, sepertinya gadis kecil ini mulai cerewet.


Kristal menggeleng, dia memilih menemani Mamanya, yang masih tergolek lemas. Tentu saja, Kira tidak tahu bagaimana keadaan Viona, Harris sengaja tidak memberitahunya.


"Oh, oke, Kristal mau sarapan apa pagi ini?."


"Em, roti isi selai coklat saja, Tan."


"Oke, Sayang. Kristal tunggu dulu sebentar ya, Tante mau membantu Mbak-mbak di belakang,"


Kira mengusap lagi rambut Kristal sebelum berlalu dari sana. Dapur, terlihat sibuk, dengan adanya empat orang wanita di sana. Di tambah dengan hadirnya Kira, dapur semakin meriah.


Kira kembali dengan empat helai roti gandum yang bertumpuk dengan selai cokelat di dalamnya, segelas susu hangat dan beberapa potong buah.


Harris tiba di meja makan saat semua sudah berkumpul kecuali Viona. Sarapan pagi yang sepi tanpa kehadiran tiga bocah yang biasanya memenuhi meja dengan tingkah polos mereka. Bahkan Harris, dengan cepat menghabiskan kopi dan setumpuk potongan roti isi.


Usai mengantar Harris berangkat, Kira yang hendak menuju kamar Viona, di kejutkan dengan panggilan seorang lelaki. Lelaki yang bersama Harris, saat menyusulnya ke desa.


"Apa ini, Ko?," Kira masih tidak mengerti.


"Ini tentang Bibi Yun," Jawabnya sambil berbisik.


Kira terkesiap. Secepat ini, orang-orang Harris mendapatkan informasi yang di inginkannya.


"Ikut aku," Kira mengajak Riko ke ruang kerja Harris. Kira menggenggam erat flashdisk itu dan menggoyangkannya. Kira sedikit merasa cemas, penasaran dan takut juga. Dia takut akan berubah sikap, jika mengetahui asal usul Kristal yang sebenarnya.


Buru-buru dia membuka laptop suaminya, dan mulai memutar rekaman video itu. Di sana tampak seorang wanita seusia ibunya, sedang menuturkan kisah Kristal. Sesuai dengan apa yang di ketahuinya.


"Dan ini, Nona, ini adalah Ayah kandung Kristal," Riko menyerahkan selembar foto kepada Kira yang masih fokus pada video di layar laptopnya.


Kira menjeda video di laptopnya. Dan memfokuskan pandangannya pada foto seorang pria muda berambut gelombang tebal sedang merangkul Viona. Melihat rona bahagia di wajah Viona, bisa di pastikan Viona sangat mencintai pria itu.


"Tetapi Nona, Bibi Yun tidak tahu siapa pria itu. Menurut Bibi Yun, Nona Viona tidak mau memberitahu siapa dia," Tutur Riko yang masih berdiri dengan tangan saling berpegangan di depan tubuhnya.


Kira mengangguk, mengerti. Artinya, hanya Viona yang tahu siapa sebenarnya Ayah biologis Kristal. Dan pasti sangat sulit, mengingat Viona sangat membencinya. Ah, Viona, dia belum makan pagi ini, pikirnya.


Kira menghela nafas, sembari membolak balik foto di tangannya. "Kurasa jalan kita buntu, Ko. Tetapi terimakasih sudah mau jauh-jauh menemui Bibi Yun,"


Riko mengangguk "Sama-sama, Nona. Saya permisi dulu."


Kira menatap hampa kepergian Riko. Tangannya mengetuk pelan meja di kerja suaminya, dan sekali lagi melihat foto pasangan bahagia itu. Demi masa depan Kristal, Kira harus mencari tahu sendiri. Kira menutup laptop dan mengambil flashdisk lalu di masukkan kedalam laci paling bawah. Kira melangkah keluar ruang kerja Harris dan menuju kamar Viona.

__ADS_1


"Kau sudah makan?," Tanya Kira pada Viona yang menatap kosong luar jendela. Ketika mendengar suara Kira, Viona melirik sekilas. Mengacuhkannya.


Kira mendesah, "Ayolah Vi, jangan begini. Kau boleh membenciku, tapi jangan menyiksa dirimu dan bayimu?."


Viona masih membisu. Bahkan melirikpun tidak. Dia benci dengan wanita yang berhasil menyingkirkannya.


Kira semakin kesal saja dengan wanita bodoh itu. "Oke, aku akan bilang pada Harris, kalau kau membuat keributan di rumah, dan kau akan segera di usir dari sini."


Kira berbalik, seolah ingin meninggalkan kamar. Dan benar, ketika dia nyaris mencapai pintu, Viona menghentikan langkahnya.


"Aku akan keluar," ucap Viona lemah, tapi Kira masih mampu mendengarnya. Kira menahan senyumnya, sebelum menghadap Viona lagi.


"Jika kau lelah, biar sarapanmu diantar ke kamar."


Ucapan Kira seperti sebuah ejekan bagi Viona. Dengan wajah yang bersungut masam, dan tangan terkepal, dia berdiri perlahan.


"Kau tuli? Aku bilang, aku yang akan keluar." Teriaknya. Dia benci di katakan lemah oleh rivalnya.


"Baiklah, cepatlah kalau begitu," Ucap Kira datar. Kira keluar kamar dengan tetap membiarkan pintu terbuka.


Kira sengaja menunggu Viona menghabiskan makananya, dan menunggu beberapa saat sampai di rasa dia tidak mengeluarkan kembali makanannya. Kira memperhatikan botol obat yang diresepkan oleh rekan Dokter Vivian, tampak isinya masih setengah penuh. Bukankah sudah berhari-hari? Tapi kenapa masih banyak? Apa dia tidak meminum obatnya? Pikir Kira.


"Rin," Kira memanggil Rina yang berada di belakang.


"Ya, Nona," Rina berjalan tergesa, menghampiri Kira.


"Apa Viona tidak meminum obatnya?," Kira menujukkan isi botol yang masih penuh itu ke arah Rina.


"I-iya, Nona. Beberapa waktu lalu, Nona Viona berhenti minum obat saat di rasa, dia sudah baik-baik saja," Rina sedikit gugup, dan menunduk menghindari tatapan menyelidik dari Nona-nya.


"Rin, meski dia sudah baik-baik saja, tapi obat ini harus di minum sampai habis, kau taukan obat apa ini?," Kira sedikit kesal kepada Rina, terlebih, Rina tidak memberitahu Kira semua ini.


"Maaf, Nona. Sa-saya tidak bermaksud menyembunyikan ini dari anda. Maaf," Rina menunduk semakin dalam. Rina tahu betul, Viona memang bertekat untuk sembuh, tak pernah sekalipun dia melewatkan obat-obatan untuknya. Yang sebenarnya adalah, itu botol obat baru, dan Kira tidak tahu apa yang terjadi pada Viona beberapa hari lalu. Harris melarang semua orang memberitahu Kira, itu akan membuat Kira terpengaruh dan akan merasa bersalah.


"Pastikan dia menghabiskan obatnya," Kira menekankan perkataannya. Sebelum berlalu meninggalkan meja makan.


β€’


β€’


β€’


β€’


Plis, part ini harus ku tulis😊😊 maaf ya jika ga greget, πŸ™πŸ™πŸ™.


Selamat membaca,


Lov Yu Ol😘😘😘


Selamat Hari MingguπŸ‘‹πŸ‘‹

__ADS_1


Salam manis dari AuthorπŸ‘©β€πŸ¦°


__ADS_2