
Rombongan yang terdiri dari setengah lusin mobil mewah memasuki sebuah kompleks pemakaman. Beberapa pelayat berpakaian serba kelam beriringan meninggalkan area peristirahatan terakhir ini.
Rombongan keluarga Dirgantara melangkah beriringan dengan hati-hati. Dirgantara Senior bersama asisten kepercayaannya berjalan paling depan. Diikuti orang tua Kira, ketiga anaknya, Nina, dan paling belakang Harris dan Kira.
Pakaian serba hitam menyatu dengan alam yang hampir gelap. Meski semburat kemerahan senja masih menggurat di ufuk langit sore. Gumpalan mega kelabu tipis menambah indahnya suasana sore. Senja itu tersenyum. Merengkuh jiwa yang memulai perjalanan baru kehidupan abadi.
Mereka menghampiri gundukan tanah berselimut bunga. Bersandar di nisan, foto Ayah Atmaja yang tersenyum hingga menyipit, dibalik kacamata berbingkai hitam ciri khas beliau.
Satu per satu mereka mengucapkan bela sungkawa. Ibu Atmaja yang belum juga reda tangisnya, semakin tergugu saat bersalaman dengan mantan besannya yang melayat.
Tangisan menyayat semakin terdengar pilu saat Ibu Atmaja memeluk satu persatu cucunya, dan semakin merintih saat mendekap mereka bersamaan.
"Maafkan Nenek, Sayang. Maafkan kesalahan Nenek." Ibu menengadah menghadapi cucunya yang mematung tanpa mengucap sepatah katapun. Entahlah, ketiga bocah itu sepertinya menganggap neneknya seperti orang lain.
Rian tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat akhirnya dia bisa bertemu dengan buah hatinya. Dia langsung memeluk ketiganya sekali waktu. Rindunya bersua di ujung lembayung senja. Rian menatap sendu mantan istrinya, seolah mengucapkan terimakasih.
Kira tak bergeming di balik kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya. Bukan dia berkeras hati untuk tidak memberi maaf, tapi dia tahu, jika dia melunak, Rian dan Ibu akan melunjak. Kira tidak mau itu terjadi. Dia sudah memaafkan. Tetapi, dia harus tetap melindungi dirinya.
Kira melangkah maju saat satu persatu keluarganya menjauh, memberi ruang kepada kepada Kira untuk berbicara secara leluasa.
Ibu yang masih bersimpuh di sisi makam, hanya memandang Kira, dengan linangan air mata.
"Terimakasih Ra, sudah mau datang kemari," Lirih Ibu disela isak tangisnya saat Harris dan Kira usai menaburkan bunga juga mengirimkan doa. Keduanya masih berlutut di sisi makam. Tak ada pelukan, Ibu memasang jarak. Apalagi dia sadar telah membuat Kira menderita. Tak ada hubungan apapun antara dia dengan Kira, sekarang.
"Sudah seharusnya, Bu. Tak perlu berterimakasih, aku sudah menganggap Ayah seperti ayahku sendiri," Ucap Kira datar.
Ibu memandang mantan menantunya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ulahnya di masa lalu tak pantas untuk sekedar mendapat maaf. Pun dengan Riana yang kini resmi menjadi pesakitan. Tidak ada kata lagi yang mampu dia ucapkan saat ini.
Rian yang sejak tadi termangu dan canggung, akhirnya memberanikan diri untuk menyalami atasannya. Suami mantan istrinya. Rian menahan segenap perasaan kecewa dan menyesal, saat Harris menyambutnya dengan hangat. Seolah mereka tak terlibat pertempuran sengit sebelumnya.
"Saya turut berbelasungkawa, Rian. Semoga kau sabar menghadapi cobaan ini," Ucap Harris sebelum Rian membuka mulutnya.
Langka, Harris tersenyum seperti ini. Bahkan kepada bawahannya ataupun rekan bisnisnya saja dia sangat jarang tersenyum. Rian menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Tarikan tangan Harris menyadarkan Rian, bahwa dia sudah terlalu lama menjabat tangan Harris.
"Terimakasih, Tuan. Anda sudah menyempatkan waktu untuk datang kemari," Ucap Rian sambil menunduk.
Sementara, Kira masih berdiam diri memandangi Ayah Atmaja. Betapa dia sangat kehilangan sosok yang begitu mengayominya selama 10 tahun tinggal di rumahnya.
__ADS_1
"Ra, tolong maafkan kesalahan kami. Terutama kesalahan Ibu dan Riana. Kami memang tak pantas untuk kau maafkan, Nak. Tapi, Ibu mohon, Nak, bukalah pintu maafmu agar kami bisa hidup tanpa beban," Wajah tua itu sangat memprihatinkan. Tak ada lagi keangkuhan, tersisa derita.
Sentuhan hangat di lengan Kira menyadarkannya dari kebisuan. Kira menoleh menatap suaminya, sorot mata itu menegaskan untuk meninggalkan masa lalunya.
Kira menghela nafas, "Hiduplah lebih baik mulai sekarang, Bu. Aku memaafkan kalian."
Kira memandang Ibu dan Rian bergantian. Hatinya dipenuhi kelegaan. Cengkraman akar berduri mulai mengendur. Harapannya tak jauh dari hidupnya lebih baik di masa depan.
***
Fajar baru saja berganti pagi. Tetapi, kediaman Dirgantara sudah riuh dengan geliat penghuninya. Hari ini, Harris akan menghadiri pernikahan dari salah seorang mitra kerjanya di kota J. Sebenarnya Harris ingin menghadiri acara itu sendiri saja, karena selain hal itu, ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan. Mungkin memakan waktu hingga dua hari.
Tetapi, Kira bersikukuh ingin ikut ke sana. Selain menghormati si pemilik hajat juga ingin sekalian liburan. Kota yang tak jauh dari kampung halamannya ini, memiliki pantai yang sangat indah. Kira sudah membayangkan apa saja dan tempat mana saja yang akan di kunjunginya.
Harris mengambil penerbangan paling pagi. Mengingat acara pernikahan digelar pagi hari. Sehingga mereka masih punya waktu untuk beristirahat sebentar sebelum ke resepsi. Sejak mendarat, Kira tak henti menyunggingkan senyuman.
Hotel tempatnya menginap tak jauh dari lokasi dimana resepsi digelar. Sementara Harris menyelesaikan pekerjaannya, Kira pergi ke restoran hotel untuk sarapan. Pagi di kota ini terasa sangat berbeda, Kira merasa sangat nyaman.
Sembari menunggu pesanannya datang, Kira iseng-iseng mencari tempat yang asyik di sekitar sini. Banyak sekali, tetapi, yang diburunya adalah kuliner. Sejak mualnya sirna, kini hari-harinya diisi dengan berburu makanan.
Tepukan di bahunya nyaris melontarkan ponsel yang tengah dipegangnya. Kira mengelus dada, berusaha menormalkan jantungnya yang hampir melompat dari rongganya.
"Sendirian aja lo?" Asta celingukan mencari-cari, siapa kiranya yang menemani wanita di depannya ini. Senyumnya yang terkesan jahil membuat Kira eneg melihatnya. Perutnya sudah penuh sebelum sempat terisi makanan.
"Ngga ada urusannya sama kamu kan?" Ujar Kira datar. Diam-diam tangan kanannya mengusap perutnya yang sedikit membuncit saat duduk. Sama sekali dia tidak melihat kearah Asta. Amit-amit, batinnya.
"Galak bener si Cungkring!" Asta terkekeh melihat Kira yang acuh padanya.
Kira memutar bola matanya malas. Jika saja dia tidak merasa sangat lapar, Kira memilih kabur. Menghindari Asta yang akan membuatnya kesulitan. Seperti terakhir kali.
"Pas reuni lo kabur kemana, Kring?" Asta menatap Kira penuh minat, sampai kepalanya bergerak tanpa sadar.
"Ke surga," Jawab Kira asal. Tapi memang benar kan? Kira memang ke surga waktu itu.
Lagi-lagi Asta terkekeh, sampai menggebrak meja yang membatasi mereka. "Jauh amat, Kring. Lo ngga tersesat waktu balik kemari?"
Ingin rasanya Kira menabok kepala laki-laki menyebalkan di depannya ini. "Ngga. Aku pinjam GPS salah satu bidadari di sana."
__ADS_1
Kira merapatkan giginya. Awas saja kalau dia masih berulah lagi, akan kutabok pake sepatu, pikir Kira sambil menatap Asta dengan kesal. Terlebih, pria gila itu tergelak dengan kerasnya.
"Ngapain lo kesini? Sama gebetan lo?" Tak dipungkiri, Asta sedikit penasaran dengan Kira. Dia berharap Kira seorang diri berada disini.
"Bukan urusan kamu, Ta!" Kira merasa kesal dengan sikap Asta. "Kamu atau aku yang pergi?"
Kira menatap tajam Asta yang terkesiap melihat sikap tegas Kira. Dia terpaku dan mendadak kelu.
"Oke, aku yang pergi!" Kira bangkit dengan cepat saat Asta hanya diam, tak bergerak barang seincipun.
Asta langsung berdiri, menyambar tangan Kira yang sudah berbalik memunggungi dirinya. Tetapi langsung ditepis dengan kasar oleh Kira.
"Ra, maaf atas tindakanku waktu itu. Sungguh aku ngga sengaja, Ra!" Ucap Asta sendu. Dia tak menyangka Kira akan semarah ini padanya.
Asta mendekat, diraihnya lagi tangan wanita ini. Kali ini lebih ketat, "Plis Ra, kali ini, aku serius. Aku beneran suka sama kamu. Maaf atas semua yang terjadi di masa lalu."
Kira menarik tangannya susah payah, dan itu tidak berhasil. "Ta, lepasin, sakit. Aku udah nikah, Ta!"
"Jangan bohong, Ra! Siapa suamimu?" Asta memelintir tangan Kira yang berusaha meronta dengan memutar keatas.
"Aku suaminya,"
•
•
•
Ganti cover sama judul ya gaes....
Mulai besok🥰....
Biar gak ilang, mulai sekarang di simpan di rak ya..pencet ❤ auto kesimpen dah🥰🥰🥰
Thanks atas perhatiannya...
__ADS_1
Love you all