
"Sialan," Johan mengumpat lirih, kakinya menendang udara di depannya, ketika Viona berlalu dengan tawa yang tertahan.
"Jo,"
"Apa?" Jawab Johan garang, namun sesaat kemudian dia terbelalak, melihat siapa yang baru saja menyapanya. "Eh, maaf, Nyonya. Saya kira tadi Viona!"
"Kau kenapa?" Kira memandang Johan, menyelidik. Seperti ada yang salah padanya hari ini.
"Tidak, tidak apa-apa. Hanya sedikit salah paham tadi," Johan menelan ludah. Gugup.
"Kau tadi mengantar Nina sampai rumah kan? Bagaimana? Apa dia masih kesal padaku?" Tanya Kira mengabaikan kegugupan Johan.
"Iya, Nyonya. Saya antar sampai kedepan pintu dapur, tanpa kurang suatu apapun. Puas?" Semburnya.
Kira tersenyum sinis, "Belum! apa yang dia katakan padamu?"
"Itu rahasiaku dan Nina. Aku sudah berjanji padanya, tidak akan memberitahumu," Jawab Johan ketus tapi itu adalah kebenaran.
"Johan! Kau sangat menyebalkan!" Seru Kira, dia sudah mengepalkan tinju di samping tubuhnya.
"Biar saja, aku tidak mau jadi penghianat," Ucap Johan semakin acuh, dia tidak peduli.
"Awas, kau. Akan ku adukan pada Harris, mampus kau," Kira berjalan beberapa langkah, di ikuti tatapan penuh kekesalan pada Johan. Bisa-bisanya dia bercanda, padahal aku sudah sejak tadi menunggu kabar darinya, batin Kira.
"Tidak takut,"
"Kau tidak takut pada siapa?" Suara bernada mayor menggema dari ruang makan.
Suara yang sebelumnya penuh dengan kesombongan dan acuh itu, kini mereda, berganti cicit lirih, penuh penghambaan. Terlebih, Tuannya sampai masuk ke dapur, hanya untuk menebar ketidakberdayaan.
"Tidak Tuan. Bukan siapa-siapa. Saya tidak takut pada hantu, Tuan," Johan membeku sejenak. Di lihatnya kedua orang di depannya memandanginya penuh ancaman.
Johan membuang napas kasar, dia tidak punya pilihan selain memberitahu mereka berdua.
"Baiklah. Jadi," Johan menjeda ucapannya, memberi efek dramatis dan mempermainkan rasa penasaran dua orang di depannya, "Nina tidak ada hubungan apapun dengan Raka. Hanya murni saling kenal sebelum ini. Nina tidak tahu jika Raka memiliki perasaan padanya, belum menyadarinya, kurasa."
Baik Harris maupun Kira, mereka manggut-manggut, raut wajah mereka penuh kelegaan.
"Makasih, Jo. Kau boleh pulang sekarang," Ucap Kira berseri-seri. Dia segera berlari kecil mengikuti suaminya yang sudah terlebih dahulu sampai di tangga. Keduanya saling mengaitkan tangan di pinggang, dengan senyum kebahagiaan.
Johan mendesah, "Nasib bawahan! Hanya masalah sepele saja, mengerahkan seluruh kekuatan,"
Johan segera memacu mobilnya ke apartemen yang di sediakan Harris untuknya. Dia memang beruntung, bekerja pada orang yang royal. Meski pekerjaannya melelahkan, tapi dari hasil kerjanya dia bisa membeli beberapa properti untuk di sewakan.
__ADS_1
****
Menjelang malam pergantian tahun, Rumah keluarga Tuan Dirgantara mendadak ramai. Tuan Dirgantara sengaja mengumpulkan seluruh keluarga besar untuk merayakan malam pergantian tahun bersama-sama.
"Jen, misi tetap dilanjutkan meski di rumah Kakek sekalipun," Jeje berbisik di telinga Jen saat mendapati Papa dan Mamanya berjalan beriringan menuruni tangga.
"Ayolah, Je. Aku merasa tidak enak berbohong sama Mama, dan Papa sepertinya tidak melakukan apapun. Papa tidak terlihat marah selama ini, kau yakin Papa menyakiti Mama? Kau harus memikirkan lagi rencana bodohmu itu. Sebelum Papa tahu dan kau akan di hukum olehnya," Ucap Jen dengan kesal. Meski percuma saja menakut-nakuti Jeje, tapi Jen sudah memperingatinya. Hanya menunggu waktu Papanya menjatuhkan hukuman pada Jeje. Apalagi, dia sudah memberitahu Papanya, rahasia ini.
"Aku tidak takut, dan Papa sepertinya belum menyadari itu," Jeje menaikkan dagunya, pantang baginya menyerah, dia akan terus maju sampai akhir.
"Terserah. Gara-gara kau, Mama selalu menyuruhku tidur tanpa bermain dengan Mr. Bear dan Princess," Jen terlihat kesal. Mr. Bear dan Princess adalah boneka beruang dan boneka barbie kesayangan Jen. Jen selalu memeluk dan membawa serta keduanya kemanapun dia pergi.
Obrolan mereka terhenti saat Mama dan Papanya dalam jangkauan suara mereka. Mereka bertiga tersenyum manis, menyambut keduanya.
"Ada apa Jen?" Tanya Harris pada Jen yang nampak kesal.
"Bukan apa-apa, Pa," Jen memainkan mata ke arah Papanya.
"Anak manis," keduanya bergandengan tangan menuju halaman belakang, dimana acara itu di gelar. Meski hanya acara sederhana, tapi sungguh luar biasa. Mewah.
Ada keluarga besar Rio, yang merupakan keluarga inti dari Tuan Dirga. Mama Harris adalah kakak kandung Mamanya Rio. Kakak Pertama Rio tinggal di luar negeri dan tidak bisa pulang. Selain itu, hanya ada saudara jauh yang bisa di bilang, mendompleng nama besar Dirgantara. Dan yang pasti hadir, ada Mami dan Papi, Tuan dan Nyonya Darmawan. Dan, keluarga Kira tentunya.
"Mami apa kabar?" Kira menyambut Nyonya Darmawan dengan sangat antusias.
"Mami, bisa aja. Mari Mi, Kira kenalkan sama anak-anak Kira," Kira menuntun Nyonya Darmawan dengan hati-hati.
Kira membawa Nyonya Darmawan menemui anak-anaknya. Seperti dugaan Kira sebelumnya, Nyonya Darmawan sangat menyukai anak-anak.
"Mami, ini ketiga anak kami," Harris tiba-tiba muncul entah dari mana bersama Tuan Darmawan.
"Hei, kau ini beruntung sekali, lihatlah mereka sangat manis," Nyonya Darmawan masih mencubit gemas pipi ketiga bocah itu bergantian.
Kira tahu apa yang di rasakan ketiga anaknya, terutama dua anak lelakinya, melihat ekspresi mereka yang begitu kesal disela-sela tawanya, saat Nyonya Darmawan menghujani mereka dengan ciuman dan cubitan gemas.
"Jen," Panggil Kristal dari pintu menuju halaman belakang. Semua mata di tempat ini hampir menoleh ke arah Kristal yang sedang melangkah mendekati Jen.
Kira tersenyum, Kristal datang sesuai dengan harapan Kira. Terkesan dramatis dan menjadi pusat perhatian. Dia harus berterimakasih pada Rina yang telah membantunya, memuluskan rencana.
Kira berakting dengan baik, dia pura-pura tidak memperhatikan ekspresi kebingungan Tuan dan Nyonya Darmawan. Menunggu beliau bertanya. Kira yakin, Maminya, tidak kuasa menahan pertanyaan dalam hatinya.
Dalam hati Kira menghitung mundur, dan tepat di hitungan ke tiga, Nyonya Darmawan menyentuh lengan Kira, dan membawanya ke tempat yang sedikit tersembunyi.
"Iya, Mi? Ada apa?" Kira tersenyum semanis mungkin.
__ADS_1
"Itu siapa, Sayang?" Nyonya Darmawan sama sekali tidak mengalihkan perhatian dari gadis yang baru saja menyalaminya
"Oh, Kristal maksud Mami?"
"Kristal?" Nyonya Darmawan seakan terguncang mendengar nama itu.
"Iya Mi, ada yang salah?" Kira pura-pura bodoh.
"Dia, dia, mirip sekali dengan putra Mami, Nak. Dan, namanya kenapa kebetulan sekali seperti nama yang Evan harapkan jika dia punya anak perempuan. Kristal dan Pearl,"
"Benarkah, Mi? Wah kenapa sangat kebetulan ya? Sayangnya, Kira tidak tahu persis asal usul Kristal, setahu Kira, Papanya meninggalkan dia saat dia masih di dalam perut, Mi," Kira melakukan bagiannya dengan sangat baik. Penuh keragu-raguan dan alami. Dan, andai tidak di bantu oleh suaminya, Kira benar-benar tidak tahu asal usul Kristal. Bahkan Harris mengembangkan senyum penuh penghargaan pada istrinya.
"Di mana orangtua kandungnya?"
"Ada di kamar Mi, dia sedang hamil besar, dan dia malu jika ikut bergabung di sini," Jawab Kira jujur, meski tidak semuanya.
Papa mertuanya melarang Viona muncul pada saat acara perjamuan. Meski terdengar kejam, tapi Kira setuju. Selain tidak baik untuk kesehatan mental Viona juga untuk menghindari masalah di masa datang. Diantara puluhan pasang mata di sini, pasti ada yang sedang mencari kelemahan Keluarga Dirgantara. Dan, Viona adalah kelemahan paling telak, mengabaikan Kira dan anak-anaknya yang juga memiliki resiko sama besarnya.
"Mami ingin menemuinya, boleh?" Nyonya Darmawan seperti memohon. Beliau seperti sangat penasaran dengan Kristal dan asal usulnya. Seperti harapan Kira.
"Boleh dong, Mi. Tapi dengan satu syarat," Kira mengacungkan jari telunjuknya dengan manja.
"Katakan, Sayang. Kamu mau pakai kapal yang mana? Atau mau liburan kemana? Mami akan sediakan semuanya," ujar Nyonya Darmawan dengan sangat tidak sabaran.
"Ah, Mami. Kira tidak berpikir kesana, biar Kira pikir dulu dengan Mas Harris ya, Mi," Kira berbinar-binar. "Tapi, syaratnya bukan itu, Mi."
"Katakan saja, Sayang. Mami akan ikuti,"
Melihat istrinya sangat tidak sabaran, Tuan Darmawan mendekatinya dan menepuk pelan pundak Nyonya Darmawan. "Pelan-pelan, Mi. Mami membuat Kira ketakutan."
Kira tersenyum, "Syaratnya, Mami harus bertanya pelan-pelan, jangan membuatnya terkejut atau berpikir berlebihan. Untuk sekarang, dia belum stabil, Mi. Apapun yang di katakannya nanti, Mami tidak boleh mendesaknya. Dan," Kira tersenyum lagi, "Jangan lupa beritahu Kira, apa hasilnya. Kira juga penasaran, Mi."
"Itu saja? Oke, Mami setuju," Nyonya Darmawan mengangguk dengan keseriusan. Bukan masalah kecil baginya.
"Dan Mami tidak boleh histeris saat tahu siapa dia," Harris berbisik, menambah kesan misterius.
"Kalian mau mengerjai Mami?" Nyonya Darmawan merengut, tetapi, beliau segera mengisyaratkan Kira untuk menunjukkan dimana wanita itu di maksud.
•
•
•
__ADS_1