
Hiruk pikuk kota pagi ini menyapa Kira. Mobil yang dikemudikan Riko membelah jalanan yang cukup ramai. Rumah sakit adalah tujuannya kali ini. Berulang kali Kira bergerak dalam duduknya. Pertanda bahwa ada sesuatu yang begitu mengganggu perasaannya.
Ketegangan semakin terlihat saat mobil berbelok ke area Rumah Sakit. Masih tampak lengang, hanya ada beberapa orang yang lalu lalang, sebagian besar adalah karyawan rumah sakit ini.
Mobil yang di tumpangi Kira berhenti tepat di depan pintu masuk utama. Begitu Kira turun, beberapa karyawan segera memberi hormat padanya. Seutas senyum hangat dan membalas salam mereka, Kira segera menuju ruangan yang akan di kunjunginya.
Derap langkah halus tanpa menimbulkan bunyi, membawa Kira menyusuri selasar rumah sakit. Tampak di ujung sana, Rio bergegas menyambut kakak iparnya.
"Maaf tidak menyambutmu, Ra!" Senyuman hangat Rio mengambang di bibirnya.
"Sudah seperti orang penting saja pakai di sambut segala!" Kira mencibir. "Masih diruangan yang dulu kah?"
Rio mengangguk, sebelah tangannya mempersilakan iparnya melangkah lebih dulu. "Keadaannya memburuk sebab cedera otaknya sudah cukup parah. Dia tak mau dioperasi lagi! Katanya itu akan membuatnya lebih menderita!"
Hambusan napas berat terbuang ke udara. "Seburuk apa Yo?"
Rio membuka telapak tangannya. "Sangat mengkhawatirkan dan sepertinya dia sudah tidak ingin hidup lebih lama lagi, Ra! Menurut Rian, dia menginginkan kedatanganmu."
Kira menggigit bibir, "Aku sudah memaafkannya Yo! Aku sudah lama melepaskan dendamku padanya!"
"Aku tahu, mungkin dia yang belum bisa memaafkan dirinya sendiri!"
Langkah mereka berjalan secepat yang mereka bisa hingga mencapai depan ruang khusus perawatan intensif, mereka baru memperlambat laju. Kira melihat Bu Atmaja tengah memeluk Sia dengan berurai air mata. Sementara Rian yang tampak lebih tua dari terakhir Kira melihatnya, menatap pintu ICU dengan pandangan kosong. Sejenak tatapan Kira beralih ke arah Rio yang juga menatapnya, seolah bertanya apa yang terjadi. Namun, Rio mengisyaratkan dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Setengah berlari Kira menghampiri ketiga orang itu. Harapannya semoga dia tidak terlambat. Semoga Melisa masih bisa diselamatkan.
"Nak, kau datang...?" Lirih wanita tua yang merupakan mantan mertuanya. Tubuhnya begitu kurus, keriput sudah menggurat seluruh wajahnya. Bahkan airmata tak lagi bisa lurus meluncur. Gemetaran dia bangkit dari kursinya.
Sambil membuang napas, Kira menghampiri wanita yang pernah melukainya, membencinya hingga ke sungsum tulang. "Iya Bu, bagaimana keadaan Melisa?"
"Beberapa saat lalu, Melisa kehilangan kesadaran. Dan sekarang dokter tengah memeriksa keadaanya," sahut Rian yang langsung berdiri menyambut mantan istrinya.
"Mengapa bisa sampai seperti ini, Mas? Kenapa kau biarkan Melisa menderita seperti ini?" napas Kira naik turun. Entah apa sebabnya dia begitu marah melihat sikap Rian yang menurutnya terkesan membiarkan.
"Maaf Ra, ini kemauan Melisa. Aku sudah berusaha membujuknya, tapi dia bersikeras menolak semua perawatan dan operasi untuknya. Dan...."
Tatapan Kira semakin tajam menghujam Rian, sehingga memaksa Rian membuang muka. Tak kuasa rasanya melihat Kira yang tampak terluka dengan keputusan yang telah mereka ambil.
"Dan apa Mas?"
"Melisa dan kami tidak ingin membebanimu. Kami sudah berjanji untuk tidak muncul dihadapanmu lagi. Sejujurnya kami sangat malu saat kembali kesini."
__ADS_1
Kira mendesis lirih, matanya memejam. "Mas, seharusnya kamu bisa membedakan muncul seperti apa yang tidak aku sukai. Melisa bisa tertolong jika kau sedikit lebih keras membujuknya. Sekarang sudah seperti ini..."
Suara Kira yang meninggi seakan habis. Tercekat di tenggorokan. Dadanya kembang kempis meraup oksigen memenuhi rongga dadanya.
–Benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka–
"Ra, tenangkan dirimu." Rio yang sejak kedatangnannya tak bersuara sedikitpun, kini mendekati kakak iparnya. Menepuk pundaknya perlahan.
"Tapi Yo..."
"Sudahlah..." sorot mata Rio tak terbantahkan, membuat Kira mengatupkan bibirnya.
"Keluarga Nyonya Melisa..." semua menoleh ke sumber suara saat seorang dokter keluar dari ICU sambil melepas masker yang dikenakannya. "Nyonya Harris...Tuan Rio," sejenak membungkukkan badan sebelum melanjutkan ucapannya.
"Kami mohon maaf, Tuan. Nyonya Melisa dibawa kemari sudah dalam kondisi yang kritis. Kami tidak bisa menyelamatkan nyawa beliau. Kami mohon maaf dan turut berduka cita sedalam-dalamnya."
Dokter itu tampak menyesal, berulang kali membungkuk pada Rian yang sepertinya masih mencerna ucapan dokter berkacamata itu.
Tubuh Rian limbung hingga menabrak dinding. Tak kuasa menerima kenyataan bahwa Melisa telah pergi. Tak bersuara tapi air matanya meluruh. Hati Rian begitu nyeri, meski pernah saling mencaci. Tetapi kehilangan tetap menyakitkan.
Ibu Atmaja masih tergugu mendekap cucunya. Isak tangis wanita tua itu begitu menyayat hati. Meski berusaha tegar tapi sudut hatinya tak kuasa menahan rasa bersalah yang terus saja mengambang. Merasa diri paling bersalah dengan nasib yang menimpa wanita malang itu.
Bahkan Kira juga ambruk, terlalu syok mendengar kabar duka yang bertubi ketika dia datang untuk memperbaiki. Rio dengan sigap menangkap tubuh iparnya, membawanya ke kursi terdekat dan mencari bantuan. Di tangannya ada menantu Dirgantara yang berkuasa.
Kira mengantar Melisa hingga ke tempat peristirahatan terakhirnya. Ditemani Harris, Kira mengikuti proses pemakaman dari awal hingga tabur bunga usai. Meski terik mentari membakar, tak membuat niat mereka berlama-lama di pusara Melisa surut.
Rian dan Ibu Atmaja tampak terpukul dengan kepergian Melisa. Meski tak lagi menangis, tapi duka masih melingkupi raut wajah mereka.
"Ayo pulang... kau juga harus beristirahat," bisik Harris di telinga Kira.
Kira menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Melangkah satu langkah ke depan, Kira mengirim doa untuk sahabatnya. "Semoga kau menemukan kedamaian di SisiNya, Mel. Semoga tak ada lagi luka yang menggoresmu di alam keabadian."
"Ra... ada sesuatu yang Melisa titipkan padaku. Dia menulisnya setelah kdatanganmu ke rumah tempo hari. Belum sempat aku memberi ini kepadamu tapi dia..." helaan napas Rian begitu berat. Himpitan beban berat seperti menimpa tak kenal henti. Kira melihat itu semua di balik kacamata yang membingkai.
Tangan Rian terulur menyerahkan secarik kertas yang terlipat rapi. Tangan Kira gemetar menerima kertas itu dan membukanya. Tulisan tangan yang nyaris tak terbaca.
Ra...jika aku mampu memutar kembali waktu..
Aku menginginkan suaraku lagi...
Agar mampu mengatakan seribu maaf padamu...
__ADS_1
Aku ingin tanganku utuh lagi...
Agar aku bisa mengulurkan jemariku menjabat erat tanganmu...
Aku ingin kakiku berdiri tegak...
Agar bisa bersimpuh di hadapanmu....
Sekalipun Tuhan...tak akan mengampuni makhluk-Nya
Jika belum mendapat maaf dari orang yang telah terlukai hatinya...
Maaf untuk maaf yang terlambat...
Maaf untuk semua sakit yang telah kuberi...
Maaf untuk semua yang telah kami timpakan padamu...
Maaf...
Kira menangis dalam diam, begitu tersentuh akan kesungguhan Melisa. "Aku sudah memaafkanmu Mel....pergilah dengan tenang!" Diusapnya pusara Melisa sekali lagi sebelum meninggalkan area pemakaman.
Dendam tak menyelesaikan apapun, hanya maaf menjadi ujung. Malah maaf lah yang membuat seseorang semakin merasa pantas menghukum dirinya sendiri. Karena seribu kali pun kau meminta maaf, tak akan bisa mengembalikan hatinya utuh lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.