
Perkerjaan masih menumpuk, namun hari semakin malam. Harris terpaksa membawa beberapa pekerjaannya pulang. Rombongan mereka meninggalkan parkiran, menuju kediaman Tuan Dirga, di tengah "hutan".
Dari kantor ke rumah Tuan Dirga memang sedikit lebih lama dari pada ke rumah Harris, namun karena jalanan yang lengang, mereka bisa melaju tanpa hambatan. Kira menyempatkan diri membeli beberapa keperluannya di sebuah mini market. Mengingat rencana ini di luar perkiraannya.
Malam di rumah Papa mertuanya memang lebih sepi dan tenang. Rumah bak istana itu, meninggalkan kesan tersendiri bagi Kira. Semua berawal di sini.
Harris dan Kira naik ke lantai dua, untuk membersihkan diri. Sebelum makan malam yang sangat terlambat ini. Kira dan Harris tidak langsung ke kamarnya, melainkan menuju kamar anak-anak, mereka langsung riuh menyambut kedua orang tua mereka. Bercerita panjang lebar dengan Jen. Harris dengan telaten dan sabar membantu Excel dan Jeje mengerjakan PR.
Lelah, tapi harus seperti itu setiap hari. Mereka akan tumbuh sangat cepat, secepat kedipan mata. Harris dan Kira kembali ke kamar saat mereka mulai bersiap tidur.
"Bagaimana kata Vivian?," Harris duduk di tepi ranjang.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan katanya, hanya harus makan makanan bernutrisi tinggi, dan jangan stres katanya," Jawab Kira sambil membantu Harris mengemas baju dan sepatu yang baru saja dia lepaskan.
"Tuh denger, jangan makan cilok banyak-banyak," Harris menatap galak ke arah Kira.
"Enak, tauk"
Harris mencibir, sebelum beranjak ke kamar mandi. Kira nyengir melihat Harris kesal.
Kira melihat baju-baju dalam lemari, tidak ada baju yang layak di sini. Masih baju yang sama seperti waktu di tinggalkan terakhir kali. Piyama Harris adalah tujuannya, namun Kira harus gigit jari. Ketika semua piyama Harris juga lenyap dari sana.
"Kemana perginya?," gumam Kira.
Ketukan di pintu, menghentikan tangan Kira yang bergerilya di lemari Harris. Kira segera menuju pintu, di lihatnya Bibi Mai, dan salah seorang ART, membawa nampan berisi makanan.
"Bi, kita akan segera turun, tidak perlu repot-repot mengantar kemari," Kira meringis, sungkan. Jarinya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kira merasa tidak enak hati karena di rasa terasa terlalu lama di kamar.
"Ini perintah Tuan, Nona. Tidak perlu sungkan. Menu makan malam ini sesuai perintah Tuan," Ucap Bibi Mai tegas. Lalu mengisyaratkan rekannya untuk segera masuk. Kira mendesah, pasrah, menggeser badannya dari pintu untuk membiarkan mereka masuk.
"Terimakasih Bi," Jawab Kira lemah.
"Kami permisi dulu, Nona," Bibi Mai undur diri usai meletakkan nampan di meja.
Kira mengangguk sebagai jawaban. Menu di sini seperti menu di restoran mahal, porsinya sedikit tapi harganya selangit. Seakan tak sabar menunggu Harris, Kira memangku nampannya dan mulai mencicipi makanannya.
"Kau lapar?,"
Kira menghentikan suapannya. Memutar kepalanya ke arah aroma wangi khas pria. Harris keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada. Lagi-lagi, Kira mimisan, setiap hari melihatnya tapi, tubuh itu selalu menggiurkan. Kira menelan ludah, membayangkan ketika tubuh itu menyatu dengannya.
"Apa yang kau pikirkan?," Harris mengetatkan bibirnya, menyentil kening Kira. Kira yang sibuk berimajinasi dengan tubuh indah itu, tidak sadar jika pemiliknya sudah mendaratkan tubuhnya di sebelahnya.
"Awhh," Kira mengusap keningnya, sakit.
"Otak kotor, kau ini wanita yang sangat mesum ku rasa," Cibir Harris. Harris menaikkan alisnya lalu menurunkanya lagi. Berulang-ulang.
"Ngawur," Kira bersungut. Kesal, tapi memang iya sih. 🤭
"Kau menyukai ini?," Harris menunjuk dadanya penuh percaya diri.
__ADS_1
"Tidak," Kira berpaling, wajahnya terasa panas.
"Kau ini seperti abg saja, masa gitu aja sudah merona. Apa Rian dulu tidak pernah menggodamu?," Harris menarik Kira ke dadanya yang telanjang. Kira meringis, mengigit bibirnya. Perlahan dan tanpa bisa di cegah, dia membelai lekukan indah bak pahatan tangan dewa. Iya, Kira mengakuinya. Dia menyukai dada bidang ini.
Ingatan Kira tiba-tiba melayang ke masa lalu. Apa Rian tidak pernah menggodamu? Jawabannya, tidak. Ya, mereka memang saling mencintai, saling menyayangi pada awalnya. Mereka seperti pasangan pada umumnya, tapi apa iya jika mereka benar-benar saling mencintai? Di bandingkan dengan kebersamaannya dengan Harris, Kira merasa saat bersama Rian, itu seperti formalitas belaka. Sebuah keharusan. Istri harus melayani suami, istri mengurus rumah tangga, suami bekerja. Hubungan suami istri, hanya sebuah simbol bahwa mereka bukan sekedar sahabat. Tidak ada lonjakan perasaan, tidak ada rindu yang menggebu, tidak saling membutuhkan. Mereka berdua berdiri sendiri-sendiri. Bukan berjalan beriringan.
Kira tahu benar apa yang dirasakan. Dia memang sudah 2 kali jatuh cinta, tapi baru kali ini dia bisa jatuh cinta setiap hari dengan orang yang sama. Apa saja yang di lakukan Harris terhadapnya, selalu menambah kadar cinta dalam dirinya. Bahkan, marahpun, dia bisa bilang itu cinta.
Apakah dia dulu terlalu polos atau bodoh. Dia tidak tahu. Yang dia tahu, sekarang, dia sangat, sangat mencintai Harris. Tidak peduli, seperti apapun dia, ataukah dia akan meninggalkannya suatu saat nanti. Yang terpenting baginya, sekarang, Harris membalas cintanya. Yang penting baginya, sekarang, Harris hanya miliknya. Jika Harris memintanya pergi, dia akan pergi, tapi jika Harris memintanya tinggal, dia akan bertahan. Biar saja dia di cemooh orang, biar saja di anggap tidak tahu diri, cinta membuatnya menutup mata dan telinga. Kira memang egois dan serakah, bila berurusan dengan Harris. Tapi, cinta mereka berdua, nasib mereka, bergantung pada Author🤭
"Tidak pernah," Jawab Kira. Dia memejamkan mata, menikmati degup jantung suaminya.
"Pantas saja, kau masih suka malu-malu," Harris menunduk sedikit, dagunya membentur puncak kepala Kira.
"Hanya bersamamu, aku jadi tidak punya urat malu," Jawab Kira lirih.
Harris menarik salah satu sudut bibirnya. "Apa kau menikmati saat bersamaku?,"
"Ya," Jawab Kira tanpa membuka mata, tanpa menghentikan tangannya yang membelai dada suaminya.
"Apa kau suka gayaku?," Harris memejamkan mata ketika belaian itu mulai menggodanya. Mendidihkan darah dalam tubuhnya.
"Ya,"
"Apa kau mencintaiku?," Harris yakin Kira masih terbuai dengan tubuhnya sehingga mulutnya akan melantur menuturkan kebenaran.
"Tidak," Jawab Kira. Kira membuka mata dan bangkit dari tubuh suaminya.
Kira mengangkat bahu,"Entahlah,"
Kira mulai memakan makan malamnya yang sudah dingin. Menghindari tatapan kecewa dari Harris. Kira hanya berpikir, jika dia mengakui perasaannya, sedangkan Harris masih mengharapkan kekasihnya, itu akan membuat Harris dalam dilema. Kira akan menyakiti Harris, membuat Harris kesulitan menetukan langkah, membuatnya memilih antara istri ataupun kekasih yang masih di harapkannya. Cukup seperti ini saja, Kira sudah sangat bahagia. Jika nanti, kekasih Harris kembali, biar Harris menentukan apa yang terbaik bagi mereka.
Kira makan dalam diam. Menu ini seperti orang yang sedang menjalani program pemulihan. What? Kira mengamati satu persatu makanan itu, sayuran, buah, daging dan susu. Ini makanan yang dianjurkan oleh Dokter Vivian. Astaga, Kira lupa, tidak ada yang tidak di ketahui Tuan Tahu Segalanya. Kira bergidik, apa yang terjadi padanya, sudah tercatat rapi di agenda Asisten Toni.
"Kenapa? Tidak enak?," Tanya Harris saat Kira menghentikan makannya.
"Tidak, tapi ini makanan yang di anjurkan oleh Dokter Vivian."
"Oh, aku yang memintanya,"
"Apa?," Kira tersedak. Dia keliru.
Harris menyodorkan gelas berisi air putih, kepada Kira, dan mengusap pelan punggung istrinya.
"Pelan-pelan, kau bisa tersedak lagi," Harris mengingatkan Kira yang minum dengan tidak sabar hingga menetes-netes membasahi celananya.
"Terima kasih," Kira tersenyum hingga matanya menyipit tergusur oleh pipinya.
"Mandi dan ganti baju, mana ada makan malam masih bau keringat begini," Ucap Harris tegas.
__ADS_1
Kira mencebik dan bangkit dari duduknya. Benar, dia sudah berkeringat sejak sore. Kira mengambil baju seadanya, dan mengambil tas berisi perlengkapan perang miliknya.
Kira menuang sabun banyak-banyak, menggosok badannya berulang-ulang. Takut, jika bau badannya mengganggu Harris. Menggosok gigi bersih-bersih. Memakai parfum dan memoles tipis lipstik soft pink, agar tidak terlalu mencolok.
"Kau menghabiskan berapa botol sabun?," Protes Harris saat mencium aroma wangi berlebihan dari tubuh Kira.
"Sepuluh, ada masalah?,"
"Tidak, kau mau menggoda siapa memakai lipstik segala? Biasanya juga polos!," Lagi-lagi koreksi dari Harris membuat Kira jengah, namun dia tersenyum diam-diam. Harris memperhatikannya.
"Memangnya tidak boleh? Berdandan untuk suami kan juga pahala," Jawab Kira enteng. Benar bukan?. Kira berlalu begitu saja dari hadapan Harris.
Harris mengakui, di tambah polesan lipstik membuatnya lebih segar. Di tambah bajunya yang tipis memperlihatkan lekuk tubuhnya. Bagi Harris, Kira wanita paling seksi, semua yang melekat padanya, pas, tidak berlebihan. Kira adalah wanita yang penuh kejutan. Mudah di tebak tapi ketika dia menyembunyikan sesuatu maka tidak ada seorangpun yang bisa menemukan apa yang dia sembunyikan. Terlihat lemah dan masa bodoh, tapi dia sangat tangguh dan peduli. Wanita yang hangat dan pengertian, dan dia selalu menghargai perasaan Harris.
"Kau mau mendapat pahala tambahan?," Harris mengikuti Kira yang duduk di sofa dan menyalakan televisi.
"Apa dulu, aku ngga mau main iya-iya, nanti malah aku yang rugi," Kira mencebik. Dia harus waspada terhadapnya.
"Menyenangkan suami," Harris menatap Kira penuh makna, meneliti wajah istrinya dari dekat. Menyisipkan rambut Kira ke belakang telinga, dan meraih dagu istrinya, mengusap pelan dengan ibu jarinya.
"Jangan macam-macam, aku sedang datang bulan," Kira menampik pelan tangan suaminya. Kira mengerti apa yang di inginkan suaminya. Tapi apa kurang jelas dia memberitahu Harris.
"Satu macam saja," Harris menatap Kira penuh permohonan.
"Apa itu?,"
Harris menaik turunkan alisnya lagi. "Kau tahu dan kau bisa!,"
Kira mengerutkan dahinya, tidak mengerti. "Apa sih?,"
Harris menarik pelan dagu Kira dan membenamkan bibirnya di bibir istrinya, mengecup dan merayu. Kira tersenyum dalam hati. Jika hanya ini, seribu kalipun dia mau. Kira memejamkan mata, dan mulai membalas rayuan suaminya. Membiarkan nafas mereka menjadi satu, seirama. Semakin dalam, semakin liar dan menuntut. Tangan Harris sudah berkelana menjelajah bagian kesukaannya. Mengusap, membelai dan menggoda. Melahirkan desahan tertahan di bibir Kira.
"Kau suka?," Tanya Harris saat kening keduanya beradu usai ciuman panas barusan. Di balas anggukan pasti, tanpa keraguan oleh Kira yang masih memejamkan matanya.
"Jadi, masih mau menambah pahala?," Kira mengangguk lagi. Namun, senyum terukir jelas di bibirnya.
"Ikat rambutmu," Bisik Harris pelan. Kira membuka mata, tidak mengerti arah ucapan Harris.
"Sudah ikuti saja, jangan banyak berpikir!," Harris tersenyum penuh misteri. Mau tidak mau Kira mengikuti apa yang Harris inginkan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, jika kita tidak mencari tahu, bukan?
.
.
.
.
❤❤❤❤
__ADS_1
Congratulation JM36