Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Mission Complete : Menculik Mama


__ADS_3

Warning.....!!!! 21+ only. Mohon kebijakan dalam membaca. 🙏


•


•


Dalam bayangan Harris, dirinya dan Kira menyaksikan kembang api di balkon. Saling menghangatkan satu sama lain, berpagut mesra, dan berbagi cerita dan cinta. Tapi, semua hanya angan, kenyataanya sungguh menyesakkan. Bahkan dirinya kini meringkuk sendirian di kasur.


Seharian ini dia tidak bekerja dan tidak banyak yang dilakukannya selain mempersiapkan kembang api seperti permintaan Jen. Sehingga tubuhnya kini tak merasa lelah sama sekali. Berguling ke kanan, ke kiri, memejam dan terbuka lagi. Memainkan ponsel sebentar, meletakkan lagi. Bergulung dengan selimut, melukarnya lagi. Hingga kepalanya terasa pusing.


Dengan kesal dia menendang-nendang selimut yang seakan kembali lagi saat sudah menjauh. Hingga selimut tebal itu terlempar jauh dari ranjang. Dia menggeleng frustrasi, lalu dengan tergesa dia merangkak menuju meja lampu guna mengambil kunci cadangan yang sudah dia minta pada Bibi Mai sebelumnya.


Dengan bibir mengerucut seperti bersiul, Harris melangkah menuju kamar anak-anaknya. Memakai hoodie di atas piama berwarna merah marun, dengan tepian putih. Dia siap menuntaskan misi menculik Mamanya anak-anak.


Pintu menceklak saat kuncinya terlepas dari lubangnya. Dengan sangat perlahan, Harris mengulurkan kepalanya ke dalam kamar yang remang-remang. Istrinya sepertinya masih bergerak gelisah sebab gaun yang di kenakannya kurang nyaman di pakai saat tidur. Ya, Jen langsung mendorong Mamanya ke dalam kamarnya tanpa berganti baju terlebih dahulu.


Harris melepaskan tangan Jen dari leher Mamanya dan menarik pelan istrinya. Kira hanya tersenyum melihat suaminya yang nekat hanya untuk memuaskan keinginannya. Dengan tatapan yang sedikit membuat Kira jengah, Harris menggiring istrinya ke kamar.


"Kurasa aku butuh mandi," Kira membebaskan pundaknya dari cekalan tangan suaminya. Jika tidak berbalut kain, pasti meninggalkan bekas di pundaknya.


"Jangan lama-lama, Sayang," Bisik Harris  di belakang telinga istrinya. "Mandi yang wangi."


"Biasanya tidak wangi?" Ucap Kira sembari menjauh dari suaminya. Bisa-bisa tidak jadi mandi air, malah mandi keringat, jika tidak segera menghindar.


"Aku mau wangi yang spesial, Sayang," Teriak Harris yang menggema sampai ke kamar mandi.


Kira mencibir, enggan memikirkan ucapan suaminya. Dia hanya ingin segera melegakan tubuhnya yang terasa lengket. Dia membasuh seluruh tubuhnya hingga terasa segar.


Kira kembali ke kamar dengan gaun tidur dengan warna yang senada dengan Harris. Entah siapa yang membeli tapi hampir semua pakaian tidur ini sengaja di buat sepasang.


"Apa tidak ada baju yang lebih mengerikan dari ini?" Gumam Kira. Ia memandang tubuhnya dari atas, melihat tiga perempat kakinya yang polos. Belahan dada yang nyaris memperlihatkan seluruh isinya, dan tali yang sepertinya tidak punya niat menggantung dengan benar di pundaknya.


Kira memandang jijik, lalu membuka lemari di sebelahnya, mencari pakaian yang lebih layak. Namun, tangannya berhenti bergerak saat tangan kokoh itu menahannya. Sejak kapan dia di belakangku, batin Kira.


"Kau mau apa?" Harris meletakkan dagunya di pundak Kira. Terasa tajam menusuk.

__ADS_1


"Aku butuh baju yang hangat usai mandi saat larut begini," Kira menurunkan tangannya dari gantungan baju yang di cekalnya sejak tadi.


"Kan bisa pakai selimut, kasihan yang mencuci baju nanti, kebanyakan cucian," Harris tersenyum licik, dengan kepala miring keluar, sehingga dia bebas melihat rona pink mengambang di tulang pipi istrinya.


Sebelah tangan Harris yang bebas, mengusap perut Kira, dengan mata terpejam.


"Mau sampai kapan berdiri di sini? Kakiku pegal, Abang," Kira mengusap pipi yang sudah halus lagi. Di tambah dagu yang melesak, dan tubuh yang di surukkan ke depan, membuat beban Kira semakin bertambah.


Harris membuka mata, dia terlalu nyaman di pundak istrinya dan menghayalkan bocah-bocah kecil yang mirip dia dan istrinya, berlarian mengelilinginya. Senyum simpul terukir di bibirnya. Sebentar lagi, bersabarlah, batin Harris menekan keinginan kuat yang merajai dirinya. Dia takut membebani istrnya jika sampai permintaan itu melompat dari bibirnya.


"Abang, mau berapa anak dariku?" Kira melingkarkan tangannya di leher suaminya, saat Harris menjadi tumpuannya di ranjang.


Harris melirik tajam, meneliti wajah itu. Tidak tampak keraguan atau keterpaksaan di sana.


"Kau mau memberiku berapa?" Harris bersikap seolah sedang bernegosiasi akan keuntungan yang dia dapatkan.


"Dua kurasa cukup, dengan tiga yang lain kukira rumahmu akan  kelebihan suara nantinya," Kira mendekatkan kepalanya di pelipis suaminya. Mengecup kecil-kecil tulang yang kokoh mengeras.


"Aku mau selusin! Bagaimana? Kurasa bibitku lebih dari cukup untuk membuatnya selama 12 tahun kedepan?"


"Kau kira aku tempat menyemai benih apa? Kau tidak memikirkan bagaimana aku mengasuhnya?" Kira menjauhkan kepala dan tubuhnya dari tubuh Harris. Pandangan yang awalnya lembut berubah penuh kekesalan. Merusak momen yang romantis yang telah tercipta.


"Kau pikir punya bayi mudah? Mengandung itu sulit, Bang. Kau tidak jijik melihat perutku tak pernah rata sepanjang tahun? Kau yakin aku masih sempat mengurusmu jika punya selusin bocah?" Ucap Kira dengan nada tinggi, nyaris menulikan telinga.


"Buktinya kau sudah punya tiga, dan kau seperti tidak kerepotan mengurus mereka sendirian. Sekarang di tambah aku, dan pengasuh mereka, nantinya! Apa susahnya?" Jawab Harris menantang. Dagunya terangkat sedikit kedepan, mata hitam itu di penuhi keyakinan.


Kira menghela nafas, "Bang, semua memang mudah di bayangkan, tapi akan sulit jika sudah terjadi. Pikir lagi baik-baik."


"Aku akan mencoba membuat satu terlebih dahulu, yang mirip denganku. Bagaimana?" Lagi, dia menggoda dengan nakal. Matanya mengerling manja.


"Memangnya bisa memesan dulu, maunya seperti apa?"


"Anggap saja bisa. Setidaknya itulah yang sering datang dalam mimpiku," Harris merebahkan tubuh istrinya dan mulai merangkak di atasnya.


Harris menempatkan dirinya diantara kaki istrinya. Dan mulai menyerang dengan halus. Harris memulainya dengan pagutan lembut namun tetap menggugah.

__ADS_1


Kira menyambut suaminya dengan baik, senyumnya tertelan diantara decakan penuh gairah.. Entahlah, getaran dalam dirinya membuat ulu hatinya mengigil, seakan tak mampu menahan rasa bahagia yang berlebihan mendatanginya. Tubuhnya panas dan dingin dalam tempo waktu yang sama. Kira hampir menangis merasakan ciuman dahsyat di ujung bibirnya.


Gesekan baju yang licin di tengah tubuhnya membuat tubuhnya meremang, membuatnya mengigit bibir yang di tinggalkan oleh kehangatan. Dia seakan kering, gersang, hingga berkali-kali dia membasahi tenggorokannya.


Kedua tangannya sudah mencengkeram batal dan sprei hingga berbekas kusut. Napasnya tersengal-sengal seakan usai berkejaran. Kira menaikkan dadanya dengan kepala menekan bantal, ketika sesuatu yang lain menjalari sekujur tubuhnya.


Harris merangkak naik, "Aku bahkan belum mulai, Sayang!"


Kira tidak peduli, dia masih menata debaran jantungnya dan nafasnya yang seakan berbenturan. Tubuhnya serasa mengambang di atas air yang lembut dan hangat.


Harris mengecup lagi bibir istrinya, rona merah yang mulai memudar, memaksanya untuk segera memulai.


Hangat.


Harris memegang kendali penuh, tak membiarkan istrinya menarik napas lebih lama. Di mulai dari tangga nada paling bawah hingga paling tinggi. Membiarkan alunan merdu itu memenuhi kamar yang kedap suara dan udara.


Harris menjadi tak sabar ketika istrinya seakan menghisap seluruh tubuhnya. Memaksanya menyudu lebih dalam, dan lebih kuat. Membuatnya tersungkur tertahan.


"A-baang," Remasan di lengannya menjadi NOS yang mempercepat laju gerakannya.


"Sayang, buka dirimu! Sambut Abang, Sayang," Racau Harris di pucuk hidung istrinya. Hangat nafas itu menerpa bagai guyuran sinar matahari pagi. Cepat dan menderu.


"Sayang, Abang dataang," Harris menyodok dirinya, semakin menghujam. Menumpahkan seluruh perasaan di dalam tubuh istrinya yang masih mencengkeram tulang belikat yang menonjol akibat sikunya yang bertumpu.


Harris masih menyangga dirinya pada siku. Menghujani pipi merah itu dengan kecupan kecil. Memandangi wajah ini dari dekat. Membiarkan bakal keturunannya mencapai sarang tempatnya tumbuh dan berkembang.


Harris tersenyum membayangkan apa yang terjadi di dalam sana. Di dalam tubuh terkulai lemas itu sedang terjadi perang.


"Segeralah tumbuh di sana, Soldier," Tangan Harris meraba bekas sayatan melintang, dan bibirnya mengecup kening yang menampakkan kilap. "Jadikan aku lelaki sempurna, Sayang!"


Harris menarik dirinya setelah puas memandangi istrinya yang mulai bernapas dengan teratur. Dia belum lelah dan matanya masih segar, energinya bahkan belum habis sepuluh persen, tetapi lawannya sudah tumbang. Dengan sangat terpaksa, dia ikut berbaring usai membersihkan dirinya.


•


•

__ADS_1


•


•


__ADS_2