Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Siulan Sang Duda


__ADS_3

Hari beranjak siang, Johan sudah dalam perjalanan ke rumah Dirgantara. Wajah sangar itu tampak mengukir senyum sesekali bibirnya bersenandung dengan siulan. Seakan tak ada yang mampu membuyarkan kebahagiaan di hatinya, sekalipun lampu merah, pengendara yang menyerobot, ataupun klakson dari mobil di belakangnya. Dia melaju dengan santai, sekalipun tahu, ia sudah sangat terlambat.


Johan memarkir mobilnya di dalam garasi, masih dengan siulan yang sama dia melangkah menuju rumah melalui teras depan.


"Kau tampak berbeda hari ini, Jo!" Johan berhenti saat kakinya memijak undakan pertama seraya menoleh ke sebelah kanan. Dari balik tanaman hias, muncul sosok Nyonya Bos nya sedang melatih Ranu berjalan.


Senyuman Johan sudah seperti terkena pengawet, tahan lama. "Ah, Nyonya! Anda sangat memperhatikan saya selama ini, rupanya?"


Kira mencibir, "Kau menang lotre atau kau habis kencan semalam? Aku kembali kau sudah pulang?"


"Ah, itu karena anda terlalu lama, Nyonya! Jadi saya pulang duluan, encok punggung saya!" Johan meringis seolah merasakan sakit yang teramat sangat. Tangannya meraba pinggang.


"Halah, kau pasti ada janji kencan, tumben kamu pulang padahal hari ini masih kerja!"


"Nyonya, saya ragu apa anda pernah muda! Mana ada kencan malam jum'at? Itu pasti kencan versi anda dan suami anda!" Seringai Johan menghasut Kira untuk mengangkat kaki, tangannya meraih sandal yang dikenakannya. Tawa Johan meledak saat sandal itu melayang tapi tak mengenai dirinya sama sekali. Membuat Kira semakin geram.


"Semoga kau jadi duda selamanya, Jo!" Teriak Kira.


"Tidak akan!" Balas Johan yang sudah mencapai pintu depan.


"Kenapa baru sampai, ha?" Senyum Johan reda saat suara ketus menyapanya.


Johan mengerjap untuk menormalkan dirinya. "Maaf Tuan!" Johan berdehem. "Tadi ada sedikit urusan!"


"Ayo berangkat!" Titah Harris dengan acuh, tangannya membawa beberapa berkas yang langsung diambil alih Johan. Tanpa mengancingkan jasnya, Harris melangkah mendahului Johan. Biru gelap dengan garis abu-abu, terasa sangat mencolok dengan kulitnya yang bersih. Tangannya menyibak rambut yang terpangkas rapi, menyisakan bagian atas yang sedikit panjang.


"Sayang, Papa berangkat dulu ya!" Harris tergesa menuruni undakan dan menghampiri Ranu yang berjalan ke arahnya di tuntun Mama. Harris meraih putri kecilnya ke dalam pelukan, dan menghujaninya dengan kecupan.


"Jangan terlalu lelah, Yang! Kasihan bayinya!" Harris mengusap perut Kira dan itu berhasil membuat Johan membelalak lebar.


"Astaga,dipikirnya, istrinya pabrik bayi apa?" Batin Johan.


Kira hanya mengangguk, "Tenang saja, nanti ada Rina yang akan mengawasi Ranu!"


"Kalau kau mau sesuatu kau bilang saja ya! Nanti Abang belikan!" Harris berusaha mengecup bibir polos istrinya. Tetapi, Ranu langsung menampar pipi Papanya. Pun dengan Kira yang langsung menjauhkan tubuhnya. Sejak tadi dia menahan gejolak di dalam perutnya. Harris menghela napas, lupa akan kebiasaan baru istrinya.


"Pinjem Mama sebentar saja tidak boleh!" sebagai gantinya, Harris memburu Ranu dengan ciuman, yang berhasil membuat Ranu tertawa.


"Ranu menyangka anda akan menggigit Mamanya, Tuan!" Celetuk Johan.

__ADS_1


Harris mencibir sambil menyerahkan Ranu kepada Kira. "Papa berangkat, Sayang!"


"Hati-hati, Papa," Kira mengecilkan suara, sehingga mirip suara anak kecil. Tangannya menggerakkan tangan gemuk Ranu yang enggan bergerak.


Harris membalas lambaian tangan mereka saat tiba di samping mobil yang akan membawanya ke kantor.


"Tuan, Martin berhasil di tangkap!" Ucap Johan saat mereka keluar dari gerbang perumahan.


Harris yang semula menumpu dagu pada jemarinya seketika memfokuskan pandangannya ke arah Johan.


"Semalam Doni melakukan pengejaran, Tuan! Dan, Martin berhasil ditangkap setelah mengalami kecelakaan tunggal akibat ngebut menghindari kejaran Doni,"


"Dimana dia?" Tangan Harris mengepal, mendengar nama Martin hatinya kembali bergolak penuh amarah.


Tanpa menjawab, Johan mengarahkan mobil ke arah yang berlawanan dengan jalan menuju kantor. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat yang mereka sebut "markas"


Harris turun dengan tidak sabaran. Setengah berlari untuk mencapai pintu. Tanpa berucap, Doni yang berada di dekat pintu segera membukakan pintu untuk Harris.


Pintu gelap yang menyatu dengan dinding kembali terbuka. Pun dengan lampu yang menyambutnya, hingga akhirnya sampailah di ruangan kosong nan luas. Harris memelankan langkahnya saat melihat wajah tirus tengah termangu. Kedua kaki dan tangannya terikat dengan kursi besi.


"Mengapa kau bersikap seperti pecundang?" Ucap Martin tanpa mengangkat wajahnya.


Harris tertawa sinis, "Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kau yang bersikap seperti pecundang?"


"Huh, kalau kau pria sejati, ayo satu lawan satu, jangan keroyokan!"


Harris tertawa, "Kau rupanya punya bakat pelawak, Tuan! Aku masih waras untuk ingat bahwa pria di depanku ini yang melakukan pengeroyokan padaku!"


Martin menggeram, dia mengira Harris tak melakukan apapun karena dia tidak tahu aksi penyerangan itu di dalangi olehnya.


"Pantas saja, aku mengalami kebangkrutan! Pasti itu ulahnya!" Batin Martin. Dia kehilangan segalanya, Viona dan aset atas nama Viona pun lenyap. Bahkan dia tak tahu, Viona atau Dela yang berbohong padanya.


Harris menyilangkan tangannya. "Jadi Martin, apa yang kau dapat dari menyerangku dari belakang? Apa kau senang setelahnya?"


Martin membisu, boro-boro senang, hidup sebagai pelarian dari satu tempat ke tempat lain adalah kesengangan yang tak pernah dia bayangkan. Mencuri demi mendapat makanan, menipu untuk kembali ke kota ini, adalah sekelumit kisah kelam dalam hidupnya. Getir akibat keserakahannya.


"Apa kau juga mendapatkan wanita itu?" Sambung Harris. Martin mengangkat wajahnya lagi.


"Kau jangan senang dulu, apa kau tau bahwa asistenmu semalam menemui dia? Kau yakin kau tidak sedang dihianati orang kepercayaanmu?"

__ADS_1


Harris menaikkan alisnya, sudut bibirnya kembali mengukir senyum penuh ejekan. "Kau terlalu lama di pengasingan Tuan. Asal kau tahu, aku dan Viona sudah lama berakhir, sangat lama! Jadi dia bebas mau bersama siapa!"


Harris mendekatkan wajahnya dan berbisik, "Dia sudah tak penting lagi buatku, karena aku punya yang lebih baik dari dia,"


Martin terkejut, tapi dia berusaha tenang. Dibalasnya senyum Harris dengan senyum ejekan pula. "Bukankah kau menginginkan anak darinya? Kau membuangnya saat dia hamil anakmu? Kau yakin tidak melewatkan masa itu?"


"Wah, kau benar-benar percaya diri dengan mengatakan itu, Tuan!" Harris mengadu telapak tangannya, menghasilkan suaran tepukan keras menggema.


"Sayangnya, Viona sudah mengakui semuanya! Dia bukan anakku, tapi anakmu! Dan, bukan aku yang menyesal melewatkan masa itu, tapi kau!" Harris menunjuk dada kurus Martin yang sepertinya terpaku sedikit lama.


Tak mampu berucap seolah suara meninggalkannya. Seolah lupa menyusun sebuah kalimat. Hanya tatapan hampa, beruntung, Viona berhasil menghindarkan anaknya dari perbuatan keji ayah kandungnya sendiri.


"Kau pasti sedang berbohong!" Martin memperjelas ucapan Harris.


"Untuk apa? Aku sama sekali tidak mendapat keuntungan membohongimu! Sekalipun aku mencintai Viona, tapi aku tidak buta! Beruntung memang hidupku, dan aku harus berterimakasih padamu!" Harris mendekati Martin yang masih bingung dengan keadaan ini.


"Karenamu, aku bebas dari Viona. Karenamu aku dapat pengganti Viona yang lebih baik seribu kali malah!" Bisik Harris di telinga Martin.


"Doni," Harris mengangkat lengannya, menarik sedikit ujung jasnya. "Urus dia!"


Doni yang baru muncul langsung mengangguk. "Baik, Tuan!"


Tanpa berucap lagi, Harris melenggang meninggalkan Martin yang berusaha memercayai ucapan Harris. Sekalipun dia tak mengenal Harris, tapi kabar diluar sana mengatakan bahwa Harris bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Dan dia adalah pria yang tak pernah ingkar dengan perkataannya.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2