
Purnama berlalu, seiring kedamaian yang menyelimuti kehidupan rumah tangga Harris. Ya, meski Harris sibuk sepanjang waktu, akan tetapi Kira sama sekali tak merasa kurang perhatian dan kasih sayang. Jika suaminya sibuk di kantor, dialah yang menyodorkan diri pada suaminya. Tak peduli apa kata orang, selama tak ada suara keberatan dari suaminya, Kira melakukan apapun yang dia mau.
Tentu saja, Harris merasa hamil itu mudah dan indah. Harris tak pernah kesulitan seperti teman-temannya yang selalu kelabakan saat istri mereka ngidam yang aneh-aneh. Ceria dan tak banyak mengeluh, namun Kira selalu manja padanya. Di dadanya seperti ada lem pemikat yang membuat istrinya lengket sepanjang waktu.
Hari ini, sekolah Jen mengadakan pentas seni dalam rangka ulang tahun sekolah. Sejak pagi, Kira harus menggendong Nicky yang sudah mulai aktif. Karena Viona mendandani Jen, Kristal dan teman-teman sekolah mereka.
Ya, Viona mendirikan salon kecantikan dan make up artist. Meski masih mendapat tawaran menjadi pelaku peran, tetapi, Viona menolak. Salonnya lebih menghasilkan dan Nicky tetap dalam jangkauan perhatiannya. Bagaimanapun, Viona adalah menantu yang hilang keluarga Darmawan. Dan pastinya, semua berkat campur tangan Nyonya Darmawan dan Kira.
Usai di dandani, Jen dan Kristal berangkat ke sekolah bersama Kira, sebab Harris akan keluar kota siang ini dan Viona juga tak bisa menghadiri karena Nicky. Jen yang berdandan seperti Tinker Bell dan Kristal memakai kostum Elsa. Entah apa yang terlintas di benak wali kelas Jen, dengan menggabungkan unsur animasi dalam teater yang akan dipentaskan oleh anak didiknya.
Kira menghela napas, punggungnya terasa kaku dan pegal. Mungkin karena terlalu lama menggendong bayi laki-laki yang mulai lasak itu.
"Mama capek ya?" Celetuk Jen yang melihat ekspresi kelelahan mamanya. Jen mengusap peluh dikening sang mama. Aneh, disini dingin tapi Mama berkeringat, batin Jen.
"Mama pulang saja dan istirahat, Jen dan Kristal sama Paman Doni saja, Ma!" Bujuk Jen, dia terlihat khawatir melihat mamanya yang pucat.
"Mama ngga apa-apa kok," Tak sampai hati Kira mengecewakan kedua bocah yang memandanganya dengan cemas.
Sesampainya di sekolah, Kira segera menggiring kedua anak ini ke kursi yang tersedia. Sebuah tenda besar di pasang ditengah halaman, panggung dengan berbagai hiasan juga tampak berdiri kokoh dan megah.
Kira duduk di bangku paling depan, bukan sebagai tamu kehormatan, melainkan duduk di depan selalu dihindari di sini. Mungkin juga tak ada yang tahu siapa Kira sebenarnya.
"Hai, Cin," Suara nyaring Desi memekakkan telinga. Kecuali wanita ini, tak ada yang tahu bahwa Kira adalah Nyonya Harris Dirgantara.
Desi dan Ivy satu tipe, gesrek. Bedanya, Desi tidak suka tinju seperti Ivy. Dia datang diantar suaminya, Rendi dan putranya Darren. Darren satu kelas dengan Jen dan Jeje. Keduanya mengadu pipi sebelum duduk bersebelahan.
Tiba-tiba, Kira merasakan pegal yang luar biasa. Merambat ke perutnya bagian depan. Kira mendesis pelan. Kira mengigit bibir, menahan sakit yang seakan memutari perutnya. Namun segera hilang.
"Sudah waktunya, ya?" Desi yang juga sedang hamil berbisik di telinga Kira. Kira hanya mengangguk, "Mungkin,"
"Pergilah ke rumah sakit, anak-anak aman bersamaku, nanti akan kuantar pulang," Desi mengusap lengan Kira yang memejam sebab sakit itu datang lagi.
Kira beranjak dari duduknya, setelah berpamitan pada anak-ananya, tetapi baru beberapa langkah, Darren menahan tangan Kira.
"Tante jangan pikirkan Jen, Darren akan menjaga Jen dengan baik," Ucapnya sambil menunjukkan giginya yang tak lengkap.
Kira tersenyum, "Terimakasih Darren sayang," Kira mengusap kepala Darren dengan lembut. Darren yang selalu bertengkar dengan Jen ini, terlihat manis saat tersenyum.
***
__ADS_1
Harris baru saja tiba di bandara kota P. Entah mengapa perasaannya begitu gelisah saat pesawat mulai mengudara.
Buru-buru di ambilnya ponsel yang sejak tadi sengaja di nonaktifkan. Pun dengan Johan. Dia malah tidur ketika tubuhnya baru saja mendarat di kursi penumpang. Johan merasa lelah dan remuk, meski tidak setiap hari dia menjadi samsak pengganti, tetapi tetap saja, badannya menjadi sasaran pukulan sarung tinju Harris.
Notifikasi mulai muncul dengan derasnya. Ketika satu pesan dari Doni melintas, Harris langsung gelagapan. Dia menoleh mencari Johan.
"Jo, kita pulang sekarang," Teriaknya pada Johan yang sedang berjalan santai ke arahnya. Tak pelak, teriakan Harris membuat orang-orang terkejut dan melihat ke arahnya.
"Pulang, Tuan?" Kening Johan berkerut dalam. Yang benar saja, batinnya.
"Cari penerbangan pulang sekarang, Kira akan melahirkan," perintah Harris dengan mata yang membulat sempurna. Tangannya memutar tubuh Johan ke arah sebaliknya. Entah dimana akan mencari tiket untuk penerbangan pulang, Harris tidak peduli.
Johan pun ikut terkejut, "Tapi, Tuan, Nyonya tadi baik-baik saja. Bagaimana-"
"Cepat, Jo! Aku sendiri yang akan membatalkan pertemuan kali ini," Harris mulai menggeser layar ponselnya. Dia sama sekali tak memedulikan Johan, yang segera berlari menjauh.
Tak berapa lama kemudian Johan kembali dengan napas tersengal, "Tuan, hanya ada satu, kelas ekonomi! Buat anda saja, saya akan menyusul dengan penerbangan selanjutnya."
Harris membelalak, kelas ekonomi? Yang benar saja? Batin Harris berdiskusi, entah mana yang harus dia pilih. Harris mengusap wajahnya dengan kasar dan berulang-ulang. Dia hilir mudik di depan Johan yang masih memegang lembaran tiket penerbangan. Jangan tanya bagaimana dia mendapatkan tiket itu. Yang pasti dia harus merelakan dirinya di caci maki calon penumpang lain. Demi Nyonya Bos tersayang, batin Johan.
Suara operator yang mengumumkan panggilan bagi para penumpang, membuyarkan diskusi hati Harris. Sekali lagi, dia memandang Johan, seakan meminta pilihan lain. Johan hanya mengangkat bahu, tidak ada. Kecuali jika mau menunggu beberapa jam lagi.
***
Begitu sampai di Rumah sakit, beberapa saat lalu, Kira sudah pembukaan 5. Sakitnya mulai sering dan kencang. Kini bahkan Kira hanya bisa menyandarkan keningnya di tembok, sambil menahan rasa ngilu-ngilu sedap menjelang persalinan. Sesekali dia menggumam memanggil suaminya yang mungkin masih di pesawat menuju pulau seberang.
Rasa sakit itu kian sering mendatanginya, bahkan Kira nyaris ambruk. Sehingga perawat tadi membawanya ke bed persalinan. Dokter Luna, pengganti Vivian yang baru saja tiba, mengulas senyum. Meski dia gugup sekali, menolong persalinan istri dari owner rumah sakit.
"Sabar, Nona. Masih pembukaan delapan, berbaringlah ke kiri, untuk mempercepat proses pembukaan, Nona," Ucap Dokter Luna sambil melepas sarung tangannya, dan langsung di buang ke tempat sampah.
Kira berbaring ke kiri, dirasakannya sakit menjadi lebih terasa sekarang. Kontraksi semakin kuat sekarang, menjalar hingga ke kaki, nyaris melemahkan semua otot kakinya.
Diusapnya pelan perutnya yang bergejolak. Sebelah tangannya meremas bantal, bibirnya tak henti menggumam, hatinya pasrah tetapi tak mau menyerah.
Harris yang terlihat kalut merangsek masuk ke ruang bersalin tanpa permisi. Dia segera menghampiri istrinya yang berbaring dengan mata terpejam rapat.
"Sayang," Panggilan lirih dari Harris terasa mimpi ditengah sakit di sekujur tubuhnya. Perlahan, Kira membuka mata dan tangannya meremas pundak suaminya yang membungkuk ke arahnya.
"Sakit, Bang," Kira tak bisa mengungkapkan lagi bagaimana perasaannya kini. Hanya sakit yang mendominasi tubuhnya. Airmatanya lolos begitu saja, setelah terbendung berjam-jam lamanya.
__ADS_1
Alih-alih menenangkan, Harris justru berteriak memanggil Dokter Luna. Dokter Luna datang dengan berbagai perlengkapan persalinan di tangannya.
"Hei, kenapa istriku sampai kesakitan seperti itu? Apa kau tidak tahu bagaimana meredakan rasa sakit, ha?" Gelegar Harris sampai membuat Dokter Luna dan beberapa perawat ketakutan.
Kira mendesah, dia sangat malu dengan ucapan suaminya. "Kalau Abang ngga tau apa-apa mendingan diem! Melahirkan memang harus sakit, kalau ngga anakmu ngga bakal keluar. Ahh,"
Kira tak tahan lagi untuk mendorong perutnya. Diraihnya lagi tubuh suaminya sekenanya, diremasnya sekuat rasa sakit yang mendatanginya.
Dokter Luna menyerbu tanpa menghiraukan Harris lagi. Dipersiapkannya Kira dengan posisinya yang benar untuk bersiap bersalin.
Dan benar saja, tak lama kemudian Kira benar-benar mendorong tubuhnya hingga setengah terduduk, Dokter Luna mengagumi ketenangan Kira, caranya mengatur napas dan tenaganya. Sehingga Dokter Luna hanya mengarahkan sambil fokus pada setiap kontraksi Kira.
Tanpa suara teriakan, Kira mendorong lagi tubuhnya ke bawah. Menarik napas lagi, dan mendorong lagi setelah kontraksi melanda perutnya, begitu hebat.
Harris menggenggam tangan Kira dengan erat, dia mengigit bibir saat melihat kesakitan di wajah istrinya. Lelaki kuat itu akhirnya menangis, dalam hati berjanji, tak akan lagi membuatnya hamil. Melahirkan sangat menyakitkan.
Kira mengerang dan merintih lagi setelah jeda beberapa jenak. "Nona, anda harus kuat, sebentar lagi bayi anda lahir," Kira meraup udara sebanyak mungkin sebelum dorongan yang kuat di sertai erangan lirih dan tajam.
"Luna, di caesar (SC) saja ya! Kasihan istriku," Harris menoleh ke arah Luna saat mendengar rintihan pilu istrinya. Harris tak tahan lagi, dia benar-benar tersiksa. Seolah nyawanya sudah setengah jalan di tarik dari tubuhnya. Tulang kakinya seakan lari darinya. Lemas. Hanya cakaran kuat di telapak tangannya seakan kuku jari istrinya menancap merobek kulit, yang mampu membuatnya bertahan.
"Sekali lagi, Nona," Perintah Luna pada Kira yang tengah meraup udara lagi.
"Luna, please Lun, jangan paksa dia!" Gumam Harris. Namun, tak ada yang mendengarnya.
Satu dorongan lagi dan suara tangisan bayi memecah ketegangan.
Harris terkesiap. Dia seperti patung. "Selamat, Tuan. Anda seorang ayah sekarang. Bayi anda lahir dengan selamat, tanpa kurang suatu apapun,"
Ucapan syukur lolos dari bibirnya. Dihujani istrinya yang masih terkulai lemas itu dengan ciuman di seluruh wajahnya.
"Hentikan, Bang! Aku haus dan lapar sekarang," Kira mendorong wajah suaminya menjauh.
•
•
•
Happy Reading🥰
__ADS_1