Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Jackpot Ganda


__ADS_3

Ketukan di kaca mobil membuat Johan terlonjak dari posisi rebahannya. Entahlah, rasanya dia tidak tidur sama sekali, oleh sebabnya, matanya terasa berat dan lelah. Pun dengan lehernya terasa kaku.


Johan mengusap matanya agar lebih jelas melihat siapa yang berada di samping mobilnya. Tak lupa dia mematahkan lehernya ke kanan dan ke kiri, meringankan pegal. Perlahan, Johan menurunkan kaca mobil.


"Kopi sudah siap, Jo!" Sapa Viona yang sudah wangi dan segar. Senyumnya yang manis terukir di kedua sudut bibirnya, membuat Johan terpaku menatap wajah yang terasa berbeda hari ini.


"Jo..." lambaian tangan Viona di depan wajah Johan, menyadarkannya dari pesona yang telah lama terlewatkan.


Johan tergagap, "iya, aku akan turun!"


Viona lagi-lagi menahan tawa hingga menunduk, "kau bisa gagap juga, ya! Baru tahu sekarang!"


Johan menurunkan irisan bibirnya, "karena kita tak pernah saling mengenal sebelumnya, aku juga manusia! Kau pikir aku robot?"


"Iya, aku sangka kau robotnya Harris! Kau tak pernah tertawa, dan selalu kaku di depanku!" Tampak sekali Viona kesulitan menghentikan tawanya.


"Lucu sekali ya?" Johan mendelik sambil membuka pintu mobilnya.


Viona mundur, memberi ruang kepada Johan, menormalkan lagi ekspresi wajahnya. "Tidak juga! Ayo, kopimu nanti dingin!"


Johan melangkah di samping Viona. Lagi-lagi, keduanya dilanda rasa canggung, hanya saling pandang dan tersenyum sungkan. "Kau duluan!"


Viona mengulum senyum dan melangkah di depan Johan. Bahkan dalam suasana seperti ini mereka sangat kaku dan saling menjaga jarak. Benar, Johan hanya akan melindunginya dan Nicky. Tidak lebih.


Halaman yang tak terlalu luas ini, mereka lalui dengan cepat, hingga sampailah mereka di teras. Meja kecil yang diapit dua kursi, sudah dihiasi kepulan asap beraroma khas dan mengugah. Tanpa menunggu dipersilakan, Johan langsung duduk dan menyambar kopi di meja.


Sedikit mengernyit, sebab kopi itu tak seenak buatan Ibu atau Nyonya Bos. Tapi dia terus meneguknya.


"Bagaimana?" Viona memaku pandangan cemasnya ke arah Johan yang hampir menghabiskan cairan hitam pekat itu. Tubuh kecil dan ramping miliknya disandarkan pada kusen pintu.


Johan meletakkan cangkir pada tatakannya. "Lumayan!" Senyum tulus mengembang sempurna di bibir Johan.


"Kuanggap itu nilai buruk! Aku akan belajar menyeduh kopi dari Ibu, agar rasanya sama!"


Johan menarik bibir atasnya kedalam. "Jangan memaksa, biar semua mengalir seperti air! Kita lakukan perlahan!"


"Tapi aku harus berusaha lebih keras, kau harus menungguku berbenah!"


"Aku juga akan berbenah, Vi! Aku bukan pria baik, kau tahu bukan?"


Viona tersenyum, terselip rasa haru disana. Lelaki yang tengah menatapnya ini, bukan lelaki yang dulu dan beberapa waktu lalu di kenalnya. Dia pria berbeda dalam raga yang sama. Ah, apa keinginan melindungi seseorang membuat dia semanis ini? Atau, dia memang manis di balik rupanya yang kasar! Viona tak pernah tahu, sebab dia tak pernah mau tahu hidup orang lain. Baginya, hanya dia dan kebahagiaannya adalah hal paling penting.


"Pagi-pagi, bukannya ngurus anak, malah pacaran! Kalau kalian sudah nikah, cari pengasuh, jangan membebankan Nicky padaku! Aku juga akan punya anak sendiri!" Seru Nina dengan Nicky di gendongannya. Nicky sudah wangi dan segar.


"Oh, maaf! Maaf Nin, tadi aku membangunkan Johan!" Viona segera meraih Nicky dari tangan Nina. Tatapan tajam Nina di balas dengan senyuman singkat oleh Viona.


"Kau tenang saja, segera aku akan mencari pengasuh untuk Nicky!" Johan menaikkan alisnya, diikuti senyum penuh kemenangan.


"Awas saja kalau sampai kau merepotkan aku lagi!" Nina menatap Johan dan beralih ke Viona, dia menghentak kasar kakinya, sebelum kembali ke dalam rumah.


Johan menghela napas perlahan, sedangkan Viona hanya tersenyum, dan mengalihkan perhatian pada Nicky yang bersandar di dadanya.


"Dia seperti kutukan untuk ku, dan Rio!" Celetuk Johan.

__ADS_1


"Maksudnya?" Viona mengerutkan kening.


Johan menegakkan tubuhnya, "Dia orang lain bagiku, tapi kami seperti memiliki hubungan dekat! Dan Rio, seperti menggenggam petasan! Kapan saja, bisa meledak jika ada sepercik api di dekatnya!"


Viona memandang hampa, "Jika saja, Nina dan Rio belum bertunangan, aku pasti salah paham dengan ucapan mu!" tergesa Viona menimpali dengan tawa garing.


"Ku rasa kau memang menyukaiku, Vi! Atau kau memang sengaja membuatku mengejarmu dulu?" Johan menutupi sebagian wajahnya dengan cangkir kopi yang diteguknya. Perasaannya mengatakan bahwa Viona cemburu.


Viona terperangah. Benarkah? "Kurasa kau terlalu percaya diri!"


Keduanya saling beradu pandang, tetapi Viona memutus kontak mata terlebih dahulu. Ya, Viona pernah beberapa kali melihat Johan dan Nina bersama, bahkan yang terakhir kali saat di halaman belakang kediaman Dirgantara, membuat Viona sekali lagi ragu.


"Ayo masuk, aku akan meminta restu dari Ayah dan Ibu," Johan bangkit. Dia menunggu Viona mengangguk dan berdiri, sebelum melangkah kedalam rumah. Sekalipun ragu, Johan tak akan mundur. Tekadnya bulat, meski Nyonya Bos memiliki tempat tersendiri, namun dia yakin hatinya sangat luas untuk Viona dan Nicky. Juga Kristal.


"Pagi Bu, Yah!" Sapa Johan saat tiba di meja makan.


"Eh, Nak Jo! Ayo ikut sarapan sekalian!" Ibu mendahului Ayah yang juga sudah siap menyambut Johan. Ayah sedang duduk dengan kacamata bertengger di pangkal hidungnya. Mengenakan peci dan kitab suci di tangannya.


"Pak Jo mandi dulu sana! Masa udah mau kawin, masih jorok juga!" Nina melempar handuk bersih ke arah Johan yang menoleh saat suara Nina menyela pembicaraan mereka.


Johan melebarkan matanya, "Baik Nona Sok Bersih!"


Johan berlalu ke arah kamar mandi, setelah melemparkan senyum penuh ejekan kepada Nina. Nina merengut sambil berucap "menyebalkan" tanpa suara. Tangannya pun ikut terangkat seakan siap menampar.


"Ayo duduk, jangan berdiri terus, nanti kakinya pegel lho!" Celetuk Ayah usai menyeruput teh dari cangkirnya.


Viona segera duduk dan meletakkan Nicky di pangkuannya.


"Em, ada sedikit masalah Bu, dengan Ayahnya Nicky!" Viona yang hendak bangkit menyendok nasi terpaksa di urungkan saat Ibu bertanya.


Semua menghentikan kegiatan tangannya, menoleh nyaris bersamaan ke arah Viona. Terperangah, sebelumnya Viona tak membahas Ayah kandung Nicky atau bagaimana dia bisa mendapatkan Nicky.


"Tenang saja Yah, Bu! Berkat Johan, dia tak mengganggu Viona lagi!" Viona menarik bibirnya ke dalam. Membasahinya, seakan kering saat keadaan sebenarnya kini harus diungkap. Nina yang duduk di kursi paling jauh hanya mencibir. Dia sudah mendengar semuanya semalam.


"Maaf, menunggu lama!" Aroma sabun yang sebenarnya milik Nina tercium sangat wangi memenuhi ruangan.


"Ingat, Pak Jo harus bayar karena pake sabun mahal Nina!" Seru Nina, yang langsung mengundang ancaman dari Ibu.


"Nanti biar aku bilang Abangmu, biar di belikan untuk stok satu tahun! Kalau perlu seumur hidup!"


Nina mencibir, tanpa membalas Johan, Nina segera memulai sarapannya.


Pun dengan Johan yang duduk di samping Viona, dia juga mulai sarapan pagi dengan menu sederhana ala rumahan. Masakan rumahan yang selalu dirindukan Johan.


Mereka makan dalam diam, kecuali Viona yang sesekali membujuk Nicky agar mau membuka mulutnya. Hingga akhirnya Viona bangkit untuk mengemas semua piring kotor saat sarapan telah usai.


"Yah, Bu! Johan ingin bicara sebentar!" Ucap Johan. Ibu yang hendak menyusul Viona mendaratkan lagi tubuhnya di kursi. Johan menghembuskan napas pelan. Memantapkan hati.


"Saya minta doa restu Ayah dan Ibu untuk meminta Viona menjadi istri saya!"


Ayah dan Ibu saling pandang, mereka sangat terkejut. Tak percaya apa yang di dengarnya, tapi mereka lega.


Ayah menatap Johan, "Nak Jo, kami setuju saja asal Viona bersedia! Sebaiknya kita tanya Viona dulu saja!"

__ADS_1


"Tidak perlu, Yah! Orang Viona yang mau dinikahin Pak Jo kok!" Ucapan Nina terdengar sinis dan menusuk. Sekali lagi, sorot mata Ibu melayang penuh peringatan pada Nina. Nina berdecak, seakan apa yang diucapkannya selalu salah di mata ibunya.


Johan mengangguk membenarkan ucapan Nina, "Benar kata Nina, Yah! Tapi jika masih di perlukan, tidak apa-apa bertanya dulu padanya!"


"Bagaimana Vi? Apa kamu beneran mau menikah dengan Nak Johan?" tanya Ayah saat Viona kembali dari dapur.


Viona tersenyum singkat, walau sudah tahu bahwa Johan akan melamarnya, tetap saja Viona tersipu, "Iya Yah! Viona mau!"


"Bagus kalau begitu! Jadi kapan kalian akan melangsungkan akad?" Ayah mengalihkan pandangannya pada Johan.


"Secepatnya Yah! Lagipula, kami hanya akan ke KUA saja! Ya kan, Vi?" seolah meminta persetujuan, Johan melirik Viona yang langsung mengangguk.


"Baiklah, Ayah ikut saja! Kalau begitu segera urus segala keperluan pernikahan kalian! Pesan Ayah hanya satu, Kalian harus saling menjaga dan menyayangi! Mengerti?"


Anggukan Johan dan Viona sungguh melegakan perasaan Ayah. Rasanya seperti melepas putrinya sendiri. Ibu pun demikian, raut wajahnya berbinar bahagia seiring senyum merekah di kedua sudut bibirnya.


Dering ponsel Johan membuyarkan momen bahagia keluarga yang dipertemukan dalam perjalanan hidup. Bukan siapa-siapa tapi melebihi keluarga.


"Saya angkat telpon dulu ya, Yah!" Johan mengangkat tubuhnya dari kursi setelah melihat siapa yang menelponnya.


"Target berhasil dilumpuhkan," Suara di seberang menyapa Johan, saat ponselnya masih beberapa senti dari telinga Johan.


"Bawa ke markas, Dragon pasti senang dengan tangkapanmu!" Johan segera mematikan sambungan ponselnya.


Senyum kepuasan mengembang sempurna. Menangkap dua burung dengan sekali tembakan. Nasib baik sedang menaunginya kali ini. Tak masalah, walau Viona adalah wanita tak sempurna, toh semua manusia tak ada yang sempurna. Hanya mampu menjadi yang terbaik saja, menurut pemikiran Johan. Johan mengangkat bahu, dia kembali ke meja makan dengan langkah ringan. Beban sebesar kapal selam seolah terangkat sudah.


"Selamat datang kehidupan penuh kedamaian."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa upgrade ke Aplikasi yang baru ya...


Love you semuanya...😘

__ADS_1


__ADS_2