
Hujan belum juga berhenti. Dan Aurel mulai lelah. Karena hampir setengah jam ia duduk di teras toko bersama Daren. Lain halnya dengan Daren, lelaki itu memejamkan matanya sembari terlelap.
"Heran dah gue, di kondisi kek gini bisa tidur? Pules lagi!" ucap Aurel menatap Daren.
Aurel terpaku, menatap wajah Daren jauh lebih dalam. Kedua matanya sampai enggan berkedip.
Hal ini tidak berlangsung lama. Karena setelah ini Aurel bergidik ngeri.
"Otak gue konslet nih. Ngapain gue ngeliatin dia?" batin Aurel. Sekali lagi, Aurel mendongak menatap Daren. Kenapa wajahnya begitu tenang?
"Udah puas? Ngeliatin wajah ganteng gue?" ucap Daren sembari membuka matanya.
"Ganteng? " ucap Aurel.
"Udah ngaku aja! Lo masih suka sama gue, kan?" desak Daren.
"Najis!" Aurel menatap hujan yang masih deras di depan mereka. Daren tertawa keras, karena puas meledek Aurel.
Namun tiba-tiba lelaki itu batuk. Dan kini Aurel yang tertawa mendengarnya.
"Hahaha, kena karma kan lo!" ucap Aurel sembari tertawa.
"Lo gak bawa minum?" tanya Daren, karen tenggorokannya begitu gatal.
"Enggak. Eh ada noh air hujan atau gak air keran, " ucap Aurel menunjuk kedua hal itu dengan dagunya.
Daren mendengus kesal. Keduanya kembali diam. Menikmati semilir angin yang menerpa tubuh mereka.
Aurel mulai bosan, karena hujan tidak kunjung reda. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"Lo dekat sam Aldino?" tanya Daren tiba-tiba.
"Kepo deh..."
Daren mengubah tempat duduknya menjadi menatap Aurel.
"Aldino udah punya pacar," ucap Daren. Aurel terdiam, sedikit kaget dengan ucapan Daren.
"Boong lo, jelas-jelas Aldino ngomong sendiri kalau belum punya pacar," ucap Aurel mencoba tidak percaya dengan ucapan Daren.
"Lo gak percaya gue? Gue kan sepupu Aldino."
Mendadak Aurel jadi ragu. Benar Daren adalah sepupu Aldino. Tapi bagaimana jika ternyata Daren berbohong? Aurel menghela nafas, perempuan itu berdiri berjalan mendekat kearah air hujan. Mengadahkan tangannya.
"Lo mau di sini terus? Sampai hujan reda?" tanya Aurel mendongak menatap Daren yang
masih duduk di kursi.
"Menurut lo? Mau hujan-hujanan gitu?" "Ide yang bagus!" cetus Aurel.
"Hey! Lo gak liat hujannya deres banget?" ucap Daren.
__ADS_1
"Kalau lo mau di sini ya udah! Gue bisa pulang sendiri," ucap Aurel.
"Enak aja! Lo tanggung jawab gue anjir. Gimana kalau terjadi apa-apa sama lo? Gue yang kena!"
"Ih rebit amat! Ya udah ayo pulang! Males gue harus nunggu hujan kek gini!" ucap Aurel mulai memakai helmnya.
Daren menatap hujan di luar sana. Lalu memaki helmnya."Tapi gue yang bawa motornya," ucap Daren.
Aurel hanya diam. Daren mengambil alih motornya. Setelah siap, keduanya melaju di tengah hujan. Aurel memeluk dirinya sendiri. Hujan ini begitu deras. Dan tiupan angin begitu dingin.
Diam-diam Aurel melihat ke arah kaca spion menatap Daren yang fokus menyetir.
Kaos oblong yang di pakai Daren begitu basah. Entah dorongan dari mana, Aurel memeluk pinggang Daren begitu erat.
Daren melirik tangan Aurel yang melingkar di pinggangnya. Lelaki itu tersenyum tipis. Lalu melajukan motornya di tengah hujan.
***
Malam hari, di tengah dinginnya kabut malam. Ruby membuka pintu kamarnya. Rumahnya sudah sepi, lampu tengah sudah di matikan. Semua sudah tidur. Maminya tidur dengan Abangnya, Daren.
Karena Daren sedang sakit. Ruby menutup lagi pintu kamarnya. Mengambil koper yang sudah ia sembunyikan dari dalam lemari sejak tadi. Ia juga mengambil tas yang sudah berisikan barang-barang yang ia butuhkan. Tidak lupa, ia menyelipkan sebuah amplop berisikan surat untuk keluar.
Ruby memandang kamarnya sekali lagi. Air matanya menetes begitu saja.
"Maafin Ruby Mami, Papi, Bang Daren..." gumam Ruby menghapus air matanya. Ponselnya bergetar, Ruby segera mengambil ponselnya.
"Halo? Sayang... aku udah di luar."
Perempuan itu menonaktifkan ponselnya, dan langsung memasukkan ponsel itu kedalam tasnya.
Ruby menbuka pintu dengan pelan. Perempuan itu juga harus mengangkat kopernya yang lumayan besar. Agar tidak menimbulkan suara. Dan berhasil, karena sebelumnya Ruby sudah menduplikat kunci rumah.
Ruby keluar dari pintu samping. Lalu ia melihat Ali yang sudah menunggu di samping mobil taksi.
Ali membawakan koper Ruby. Dan mereka langsung masuk kedalam taksi. Ruby memeluk Ali begitu erat. Ali tahu, Ruby sangat berat meninggalkan kedua orang tuanya. Karena selama ini Ruby merupakan anak bungsu yang sangat di manja oleh kedua orang tuanya.
"Aku ngerasa bersalah, karena semua ini." Ruby mendongak menatap Ali. Ali mengusap kepala Ruby.
"Bukan cuma kamu, aku juga," jawabnya.
"Kita salah gak sih? Mempermainkan pernikahan?" ucap Ruby.
Ali memeluk Ruby sekali lagi.
"Salah, tapi ini semua juga atas kesepakatan kita, kan?"
"Lusa kita nikah loh Li, maafin aku ya. Udah labil begini, " ucap Ruby masih merasa bersalah.
"Aku sayang sama kamu Ruby, aku gak bisa marah sama kamu."
"Makasih Ali, karena bisa ngertiin aku.
__ADS_1
Tidak terasa mereka sudah sampai di Bandara. Malam ini keduanya memutuskan untuk pergi menjelang pernikahan mereka.
***
Sarah terbangun, wanita paruh baya itu langsung mengecek suhu tubuh Daren. Ternyata demamnya sudah turun. Daren terbangun menatap Maminya yang sudah ada di depannya.
"Mami tidur sama Daren?" tanya Daren dengan wajah polosnya.
"Iyalah, orang demam kamu tinggi banget semalam," ucap Sarah.
"Yah, jadi malu Daren. Masih tidur sama Mami," ucap Daren menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
"Makanya cari istri!" ucap Sarah.
"Eh kamu kenapa putus sama Nessa?"
"Ah Mami, males bahas Nessa," ucap Daren langsung badmood. Sarah menggelengkan kepalanya.
"Dasar anak muda!" ujar Sarah. Sarah langsung pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan.
Selsai membuatkan Sarapan Wardana suaminya sudah ada di meja makan. Begitu juga dengan Daren, namun entah kenapa Ruby belum keluar kamar.
"Eh Ruby belum bangun?" tanya Sarah. Daren dan Wardana saling tatap.
Lalu menggelengkana kepala mereka.
"Aku samperin ke kamarnya aja Mi," ucap Daren. "Eh jangan, biar Mami aja."
Sarah berjalan kearah kamar Ruby.
Lalu mengetuk pintu kamarnya.
Tok.... tok... tok...
"Ruby? Sayang.... bangun udah siang. Kan hari ini acaranya siraman. Kenapa belum bangun? " ucap Sarah. Namun tidak ada jawaban.
Sarah pun membuka pintu kamar Ruby. Dan kosong.... kamarnya begitu rapih. Tidak seperti biasanya."Ruby?" panggil Sarah lagi. Wanita paruh baya itu berjalan menuju kamar mandi. Dan tidak juga menemukan Ruby.
Entah inisiatif dari mana. Sarah memutuskan untuk membuka lemari pakaian Ruby. Alangkah terkejutnya ia. Karena tidak melihat satu pun baju di lemari Ruby.
"Papi.... Daren..... " teriak Sarah begitu keras. Membuat Daren dan Wardana yang tengah sarapan segera berlari menuju sumber suara.
"Mami? Kenapa M1?" ucap Daren langsung menghampiri Maminya yang sudah bersimpu di lantai.
"Ruby kabur... " ucap Sarah begitu lemas.
"Apa?" ucap Daren kaget. Wardana menenangkan istrinya. Sementara Daren mencari keberadaan Ruby.
Malah ia melihat ada sebuah amplop di meja belajar Ruby.
"Untuk Mami, Papi, dan Bang Daren.... "
__ADS_1
"Mi... Pi.... " ucap Daren menunjuk surat itu.