MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
Makan di luar


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Loh, Ryana kamu disini?" tegur Papa Kenzo saat hendak pulang dan melihat menantu nya ada di ruangan sang putra.


"Hehehe iya Pa." jawab Ryana menyengir.


"Dari kapan?" tanya Papa Kenzo mengerutkan dahi.


"Tadi siang Pa," jawab Ryana tersenyum kikuk.


"Dia kangen sama Raka Pa. Makanya mau nemenin Raka kerja, biar makin semangat katanya," celetuk Raka sambil membereskan berkas yang akan ia berikan kepada ayah nya, "Nih yang Papa minta tadi."


"Baiklah, nanti akan Papa cek di rumah. Sekarang kamu pulang aja dulu, kasihan Ryana," ucap Papa Kenzo menatap kasihan pada menantu nya, yang memiliki perut begitu besar dan masih harus ke kantor untuk menemui suami nya.


"Oke siap!"


"Ryana, kamu pulang aja ya. Kamu itu harus banyak istirahat, jangan terlalu lelah," tutur Papa Kenzo yang langsung di balas anggukan oleh Ryana.


"Iya Pa," jawab Ryana.

__ADS_1


"Baiklah, Papa pergi dulu." ucap Papa Kenzo, "Oh ya Raka. Besok jangan lupa, kamu harus ke Bogor. Datang lah lebih awal biar bisa cepat selesai."


"Iya Pa, gampang pokoknya." jawab Raka buru buru menutup pintu ruangan nya lalu kembali menghampiri istri nya, "Mau pulang sekarang?"


Ryana langsung menganggukkan kepala nya dengan cepat, "Tapi mau makan dulu. Laper!" imbuh Ryana sambil mengusap perut.


Raka dan Ryana memutuskan untuk pergi ke salah satu restauran kesukaan Ryana. Wanita itu sangat antusias saat memilih makanan, karena bisa di bilang dirinya sudah sangat jarang makan di luar berdua.


Mengobrol dan bercerita panjang lebar, Ryana benar benar di ratukan oleh Raka. Sejak tadi, bahkan perempuan itu tidak di berikan kesempatan untuk mengotori tangan nya.


Raka dengan telaten dan penuh perhatian menyuapi Ryana, membiarkan istrinya sambil bermain ponsel karena membalas pesan dari saudara kembar nya, Ryan.


"Kemana?" tanya Raka mengerutkan dahi.


"Amerika," jawab Ryana pelan sambil menghela napas berat, "Jauh banget dia pergi nya."


"Apakah dia masih mau menghindari Kara?" tanya Raka pelan.


"Aku rasa itu juga menjadi salah satu alasan lain," jawab Ryana sedih.

__ADS_1


"Jangan sedih gitu dong. Gapapa kalau Ryan mau ke Amerika, lagipula kamu sudah punya aku. Siapa tahu aja dia di sana bisa dapet bule!" ujar Raka terkekeh.


Memang benar, akan tetapi tetap saja Ryana akan merasa sedikit kesepian. Dirinya tidak pernah jauh dari Ryan. Dan kini, tiba tiba laki laki itu mengatakan ingin kuliah di luar negeri.


Dan jangan kalian pikir bahwa orang tua Ryana mengizinkan. Daddy Adnan apalagi mom Nasya sangat tidak setuju, akan tetapi Ryan tetap kekeuh dan nekat pergi.


"Kapan sih emang dia berangkat nya? Ayo makan lagi," ucap Raka dan kembali menyuapi makanan ke mulut Ryana.


"Entahlah, dia masih ngurus berkas dulu. Sedikit ribet karena kurang nya persetujuan Daddy, jadi dia harus usaha lebih keras lagi," jawab Ryana memanyunkan bibir nya.


"Apapun keputusan Ryan. Aku yakin, itu yang terbaik untuk nya." Ujar Raka lalu menghela napas berat, "Terkadang, apa yang menurut kita kurang baik, tapi itulah yang terbaik. Dan begitu juga sebaliknya, mungkin menurut kita akan lebih baik jika Ryan di Jakarta, akan tetapi itu tidak baik bagi dia karena harus terus bertemu dengan Kara atau mungkin ada something lain."


"Jadi, kamu dukung saja dia. Berikan semangat, untuk urusan Mommy dan Daddy, biarkan jadi urusan dia. Kamu cukup memberikan dukungan dan doa terbaik, agar Ryan bisa berhasil!" imbuh Raka panjang lebar, membuat Ryana langsung tersenyum begitu hangat.


"Aku suka sama kata kata kamu," ucap Ryana lalu ia segera memeluk Raka dengan begitu erat, tanpa perduli mereka ada dimana dan di lihat oleh siapa, "Meskipun rusuh, tapi kamuโ€”"


"Ganteng!" potong Raka dengan cepat dan narsis, membuat Ryana seketika langsung berdecak dan segera melepaskan pelukan nya.


...~To be continue... ...

__ADS_1


__ADS_2