
Aurel menggerutu sebel pasalnya ia hanya sebentar bertemu dengan Aldino. Karena Pak Gunawan sudah menelponnya tadi. Belum lagi, gara-gara Daren tadi pertemuannya dengan Aldino menjadi sebentar. Ia meletakkan tasnya di atas meja.
"Lo di panggil Pak Gunawan tuh," ucap Tissa.
"Iya gue tahu. Tadi udah di telpon sama dia. Padahal kan gue lagi berduaan sama Aldino! Nyebelin banget Pak Gunawan!" ucap Aurel begitu kesal.
"Emang kenapa sih gue dipanggil?" tanya Aurel.
Tissa menggelengkan kepalanya. "Gak tahu. Udah gih kesana dulu. Lo kan anak kesayangannya Pak Gunawan kali aja lo mau dinaikin gajinya, iya kan?"
Aurel menghela nafas, "Oke gue kesana dulu ya."
Ia berjalan keluar ruangan menuju ruangan Pak Gunawan.
Tok... tok... tok....
"Permisi Pak..." ucap Aurel sembari mengentuk pintu.
"Masuk aja! Udah di tunggun dari tadi," ucap Anjani dari belakang Aurel. Aurel menurut, ia masuk kedalam ruangan. Ia kaget, karena ada Daren di ruangan tersebut.
"Bapak manggil saya?" tanya Aurel kepada Pak Gunawan.
"Iya, silakan duduk Aurel," ucap Pak Gunawan. Aurel duduk tepatnya di sebelah Daren. Aurel melirik Daren. Namun lelaki itu tidak menyadarinya.
"Aurel, kamu bisa kemasi barang-barang kamu sekarang," ucap Pak Gunawan membuat Aurel kaget.
"Loh kenapa saya kemasi barang-barang saya Pak? Saya di pecat?" ucap Aurel kaget.
"Tidak kamu dalam jangka waktu 3 bulan akan di kirimkan ke kantor client kita, Wardana group, untuk meninju kerja sama kita dengan Wardana group," jelas Pak Gunawan membuat Aurel semakin syok.
"Lah Pak, kan yang kerjasama dengan kita bukan hanya Wardana group, masih ada Maheswari group, lalu bagaimana dengan Maheswari group?" tanya Aurel.
"Untuk Maheswari group, akan di wakilkan oleh Tissa," jawab Pak Gunawan.
"Anjir kenapa jadi Tissa, kenapa gak gue aja..." batin Aurel.
"Jadi Aurel kamu silakan lakukan perintah saya. Tolong panggilkan Tissa untuk keruangan saya ya," ucap Pak Gunawan.
"Baik Pak, saya permisi," ucap Aurel. Aurel membuka pintu dan melihat Anjani yang berdiri di depan pintu.
"Lo di pecat ya?" ucap Anjani sembari tersenyum sinis.
"Apaan sih lo, kepo banget deh! Minggir-minggir!" ucap Aurel. Membuat Anjani sedikit memberi jalan.
Aurel berjalan ke ruangannya dengan mood yang kurang baik.
Ia memasuki ruangan, dan duduk di kursinya.
"Kenapa lo? Bener kan kata gue? Lo naik gaji?" ucap Tissa.
"Apaan! Malah gue di suruh buat mengemasi barang-barang gue," ucap Aurel sewot.
"What? Lo di pecat?" ucap Tissa kaget. "Kok bisa? Lo ngelakuin apa sih? Sampe bisa di pecat?"
"Ngarang! Gue gak di pecat kali," ucap Aurel.
"Terus?"
__ADS_1
"Gue di pindah tugaskan di kantor Daren!" ucap Aurel. Tentu saja Tissa terkejut.
"Bayangin Tissa! Setiap hari gue harus ketemu sama Daren! Di rumah, di kantor, arghh... bisa gila gue!" sambung Aurel.
"By the way, lo di panggil juga sama Pak Gunawan. Lo enak di tempatin di kantor Aldino," ucap Aurel mengerucutkan bibirnya.
"Oh iya?" ucap Tissa, lebih kaget.
Aurel hanya mengangguk. "Bisa gak sih tukeran? Gue yang sama Aldino, lo yang sama Daren."
"Ya gue sih terserah ya. Kalau emang bisa gak pa-pa lo tinggal ngomong sama Pak Gunawan, " ucap Tissa.
"Tapi lo mau kan? Kalau kita tukeran?" tanya Aurel. Tissa mengangguk.
"Nanti deh, gue bilang sama Pak Gunawan. Eh lo kan di panggil Pak Gunawan," ucap Aurel mengingatkan.
"Oh iya gue lupa. Gue ke sana dulu ya," ucap Tissa. Aurel mengangguk.
***
"Jadi gimana Pak? Boleh kan? Saya tukeran sama Tissa?" tanya Aurel sembari menatap Pak Gunawan.
"Maaf Aurel, tapi saya tidak bisa mengubahnya. Kamu akan tetap di kantor Wardana group. Begitu pun sebaliknya," ucap Oak Gunawan.
Seketika kedua bahu Aurel merosot. Mendengar pernyataan Pak Gunawan.
"Ya sudah Pak kalau begitu, saya pamit dulu," ucap Aurel. Aurel keluar dari ruangan, Tissa sudah berada di depan ruangan Pak Gunawan menunggu Aurel. "Gimana Rel?" tanya Tissa. Aurel menggelengkan kepalanya.
"Gak bisa."
Entah kenapa perasaan Tissa menjadi lega. Ada apa dengan dirinya?
***
Aurel keluar dari gedung, masih ada mobil Daren di sana. Ia berjalan menghampiri Daren yang sedang menatap kearahnya.
"Nih bawain kardus gue," ucap Aurel memberikan sebuah kardus kepada Aurel.
"Njir, gue bos lo, loh. Masa gue di suruh," ucap
"Bodo amat! Ayo masuk!" ucap Aurel. Aurel masuk kedalam mobil Daren lebih dulu. Lalu di susul oleh Daren.
"Ngaku sama gue, lo kan yang minta ke Pak Gunawan biar gue di kantor lo, iya kan?" ucap Aurel kepada Daren.
"Geer banget anjir. Siapa juga yang ngelakuin itu," ujar Daren. Padahal memang Daren yang meminta Pak Gunawan agar Aurel mejadi timnya.
"Awas aja kalau sampai terbukti lo yang melakukan semua ini!" ucap Aurel.
Daren hanya tersenyun tipis sembari menjalankan mobilnya.
Suasana mobil begitu hening. Hingga akhirnya Daren membelokkan mobilnya ke sebuah supermarket.
"Loh kok ke supermarket?" tanya Aurel kebingungan.
"Menurut Jo? Di apartemen gak ada bahan makanan kita harus makan apa? " ujar Daren melepas seat beltnya.
"Ayo turun! Kita belanja bulanan!" ucap Daren.
__ADS_1
Aurel menurut, berjalan mengikuti Daren. Daren mengambil troli, dan mendorongnya. Aurel mendongak kanan kiri, melihat bahan-bahan makanan. Pertama-tama ia mengambil beras, minyak goreng, gula, dan bahan-bahan pokok lainnya.
Dan tanpa terasa troli belanjaan mereka mulai penuh. Aurel menatap rak cemilan. Lalu mengambilnya. Sampai akhirnya ketika ia akan mengambil cemilan yang lain bersamaan dengan tangan lain yang mengambilnya.
Mereka saling pandang, Aurel mengerutkan keningnya. Seperti kenal dengan sosok di depannya. "Aurel? Lo Aurel kan?" ucapnya.
"Iya, lo siapa?" tanya Aurel masih belum mengingatnya.
"Lo lupa sama gue? Gue Sofi," ucapnya sembari tersenyum.
"So.... Sofi? Mantannya Daren dulu kan?" tanya Aurel.
"Nah, bagus lo ingat," ucap Sofi.
"Wah apa kabar Sof? Udah lama banget gak ketemu," ucap Aurel.
"Gue baik, lo sendiri gimana?" tanya Sofi kembali.
"Gue juga baik kok."
"Rel uda belum? " Mereka mendongak ke sumber suara.
"Daren," ucap Sofi sembari tersenyum manis.
"Sofi?" ucap Daren yang juga kaget.
***
Tissa keluar gedung. Ia berjalan menuju parkiran. Tadi ja sudah memesan gojek untuk mengantarnya ke perusahaan Aldino.
"Ini takdir kenapa sih? Malah ngasih jalan gue buat jauh lebih deket sama Aldino," ucap Tissa sembari menghela nafasnya.
"Kalau begini, gimana bisa gue ngelupain Aldino? Malah makin nempel," sambungnya.
"Tissa!" ucap seseorang di belakangnya. Tissa mundur beberapa langkah.
"Ayo pulang!" ucapnya mencoba untuk menarik tangan Tissa."Enggak! Lo pergi, atau gue teriakin lo jambret!" ancam Tissa sembari mengatur nafasnya.
Steven memilih mundur. Ia bisa habis babak belur jika tidak menuruti kemauan Tissa.
"Gue bakalan jual rumah, kalau sampai lo gak pulang!" ucap Steven.
"Gue gak perduli!" ucap Tissa.
"Oke, gue jual rumah itu!" ucap Steven lalu pergi meninggalkan Tissa.
Seketika air mata Tissa jatuh membasahi kedua pipinya.
"Mama Papa... Tissa gak tahu lagi harus gimana... " gumam Tissa.
"Tissa?" ucap seseorang setelah membuka kaca jendela mobilnya.
"Aldino."
"Masuk! " ucap Aldino menyuruh Tissa masuk kedalam mobilnya.
"Tapi gue udah pesen gojek," ucap Tissa.
__ADS_1
"Batalin aja," ucap Aldino. Tissa menurut, ia mengambil ponselnya dan langsung masuk kedalam mobil Aldino.