
...~Happy Reading~...
Tok tok tok...
Hari ini, sepulang sekolah, Raka memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua nya. Sudah hampir satu minggu, saudara kembar nya di bawa pulang dan selalu mencari dirinya.
Hingga mau tak mau, kini Raka memutuskan untuk pulang sebentar.
"Ra, aku masuk ya?" tanya Raka sudah mengetuk pintu kamar saudara kembar nya berulang kali.
"Iya Ka, masuk aja!" jawab Kara dari dalam kamar nya.
Gadis itu di nyatakan lumpuh sementara akibat benturan keras yang menerpa kaki nya. Jadilah, ia tidak bisa leluasa dalam bergerak. Bahkan, untuk pergi ke sekolah pun, ia di haruskan memakai kursi roda.
Cklek!
__ADS_1
Raka langsung memasuki kamar saudara kembar nya, ia berjalan pelan menuju kursi di samping tempat tidur itu. Melihat bagaimana seorang gadis yang menjadi adik nya, tengah duduk bersandar head board tempat tidur.
"Kangen ya sama aku?" tanya Raka terkekeh saat membuka suara.
"Dih, PD banget!" saut Kara berdecak, "Mana Ryana?"
Seketika itu juga, Raka langsung terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa, karena hingga kini sudah satu bulan lebih, dirinya belum bertemu istri nya lagi.
Raka sering melakukan panggilan video dengan Ryan tanpa sepengetahuan Ryana, namun justru itu semakin membuat rasa bersalah nya semakin dalam. Terlebih ketika mendengar suara Ryana yang selalu merintih kesakitan pada bagian perut bawah nya.
Ingin rasanya, Raka datang dan segera memeluk wanita itu dengan erat. Mengusap perut nya dan berbisik kepada anak anak nya. Namun, apalah daya bila semua itu tidak bisa ia lakukan.
"Kandungan nya bermasalah?" tanya Kara lirih, "Maaf," imbuh nya.
"Pasti ini semua gara gara aku. Seandainya aku tidak egois, seandainya sejak awal aku membiarkan kamu dan Mama atau Papa untuk mem publish status ku. Mungkin semua nya tidak akan menjadi serumit ini, maafin aku Ka. Maafin aku," ujar Kara langsung menutup wajah nya dengan tangan lalu terisak.
__ADS_1
"Hey, jangan begitu. Ini hanya salah paham aja kok, aku yakin Ryana juga pasti mengerti. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Ryana memang sedang sensitif, mungkin karena hormon kehamilan nya." ucap Raka menggenggam tangan Kara dengan lembut.
"Tapi, memang tidak seharusnya aku menyuruh kalian berbohong Ka. Apalagi dia istri kamu," balas Kara menggelengkan kepala nya.
Untuk sesaat, Raka terdiam. Ia bingung harus bagaimana, membenarkan ucapan Kara, namun dirinya juga salah. Tidak membenarkan, namun apa yang di katakan oleh Kara memang ada benar nya.
Raka memang sengaja tidak memberitahu kepada Ryana, karena memang Kara yang tidak mau terus ekspos asal usul nya.
Dan memang ternyata Kara sangat suka menyendiri, menyembunyikan status nya sejak dulu kala. Padahal, bila di ingat, orang tua Kara adalah pemilik gedung sekolah tempat mereka menimba ilmu. Namun, Kara masih tetap ingin merahasiakan semuanya.
Akan tetapi, Raka juga menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya, meskipun Kara melarang, harusnya Raka bisa tetap memberitahu kepada Ryana, karena wanita itu sudah menjadi istri nya. Bahkan, wanita itu sudah rela memberikan mahkota berharga nya kepada dirinya.
'Aku yang salah. Aku yang bodoh, dan aku yang paling tidak peka!' gumam Raka dalam hati seraya memejamkan matanya erat.
Ya, memang dirinya bodoh dan salah. Andai saja dirinya berkata jujur sejak awal. Terbuka dan menceritakan semuanya kepada Ryana. Tentu saja, istrinya tidak akan cemburu buta. Tidak akan memiliki pikiran negatif tentang Kara yang akan menyulut emosi nya.
__ADS_1
Dan tentu saja, pertengkaran serta kekerasan dalam apartemen nya kala itu, tidak akan pernah terjadi. Apalagi sampai membuat Ryana harus bed rest total selama satu bulan lebih.
...~To be continue... ...