MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
STALKER


__ADS_3

Daren membelokkan mobilnya. Ketika melihat mobil Aldino berhenti. Aldino dan Aurel turun dari mobil. Berjalan masuk kesebuah restoran. Daren mematikan mesin mobil. Lalu melepas seat belt-nya berencana mau turun juga.


"Ngapain gue kepoin mereka?" gumam Daren, mulai berdebat dengan pikirannya.


"Tapi gue juga pengen tahu apa yang mereka bicarakan," ucap Daren lagi.


Lelaki itu memutuskan untuk turun, persetan dengan sifat


gengsinya.


Saat akan masuk kedalam restoran. Daren menghentikan langkahnya. Ia melihat lelaki dengan kaca mata hitam dan topi.


"Mas saya beli kacamata sama topinya," ucap Daren. "Tapi Mas...."


"500.000, " Daren menyerahkan uang ces kepada pria di depannya. Pria itu dengan senang hati menerima uang tersebut. Daren memakainya, lalu siap masuk kedalam restoran.


Kedua matanya mendongak kanan dan kiri mencari keberadaan Aurel dan Aldino.


Daren duduk di kursi yang tidak jauh dari keduanya.


"Lo tuh dulu satu sekolah sama


Daren, ya?" ucap Aldino. Seketika Aurel tersedak mendengar ucapan Aldino.


"Eh kenapa? Gak pa-pa kan?"


"Enggak kok. Kaget aja, lo bisa tahu," ujar Aurel sembari tersenyum.


"Iya gue tahu karena kaya pernah liat foto lo di kamar Daren."


Daren mengutuk Aldino yang membocorkan rahasia itu.


"Ha? Foto gue? Beneran?" ucap Aurel mulai tertarik dengan pembicaraan Aldino.


"Iya, makanya waktu pertama ketemu kayak gak asing gitu."


"Sialan! Kenapa Aldino beberin hal ini sih? Pasti nanti Aurel kegeeran deh," batin Daren.


"Eh ini beneran? Daren nyimpen foto gue di kamarnya?" ucap Aurel, ini adalah sebuah bahan yang cocok untuk membalas perbuatan Daren kemarin. Aldino mengangguk.


"Al boleh minta tolong gak?" ujar Aurel menundukkan tubuhnya.


Aldino juga melakukan hal yang sama.


"Ah sialan! Kenapa mereka kek gitu sih. Kan gue gak bisa dengar obrolan mereka," gumam Daren begitu lirih. Hanya dia yang dapat mendengar suaranya.


Daren memutuskan untuk pindah posisi. Namun ia tidak juga mendengar apa yang di ucapkan oleh keduanya. Lelaki itu menghela nafas. Semoga rencana Aurel tidak begitu buruk untuknya.


***


Tissa mendongak kanan dan kiri. Melihat meja Aurel yang masih kosong.

__ADS_1


"Tumben tuh anak belum dateng. Biasanya juga jam segini udah nonggol," gumam Tissa.


"Padahal gue kan mau wawancara gimana nge-datenya sama Aldino semalam." Tissa melihat Melinda, rekannya berjalan di depannya.


"Eh Mel!"


Panggilan dari Tissa membuat Melinda mendongak menatapnya.


"Eh iya Mbak, kenapa?"


"Aurel gak masuk ya?" tanya Tissa.


"Saya kurang tahu Mbak, tapi tadi saya dengar Pak Gunawan ngomong sama seseorang dan katanya Mbak Aurel telat dateng," jelas Melinda.


Tissa mengangguk paham. Perempuan itu melanjutkan aktivitasnya lagi.


Tidak lama setelah itu, Aurel datang. Dengan wajah yang sangat sumringah.


"Gue kira lo absen hari ini," ujar Tissa. Tissa menumpuk berkas, sembari merenggangkan tubuhnya.


"Bentar-bentar wajah lo sumringah banget, kayak habis menang lotre, kenapa?"


Aurel memandang Tissa.


"Tahu gak lo?" Sontak Tissa menggelengkankepalanya.


"Ih gue belum selesai ngomong. Pagi ini Aldino ngajak gue sarapan bareng!" ucap Aurel dengan senangnya.


"Lah? Bukannya semalam lo mau nge-date sama dia ya?" ucap Tissa terheran-heran.


Tengah asik mengobrol. Tiba-tiba ponsel Aurel berbunyi. Vivi, Mamanya yang menelpon.


"Halo Ma? Kenapa?""Rel, nanti kamu pulang bareng Daren ya," ucap Vivi di seberang sana. "Ha? Ngapain? Kok sama Daren."


"Duh ini tuh dadakan banget, nanti kamu fitting bajunya Ruby, soalnya Ruby lagi sakit. Kan badan kamu sama kek Ruby."


"Ma, yang mau nikah siapa sih? Masa aku yang fitting baju," ucap Aurel kesal.


"Ayolah, tolongin adik kamu. Kasihan dia."


"Kenapa harus sama Daren ke sananya?""Ya karena Daren yang tahu butiknya. Udah deh, kamu nurut aja," ucap Vivi lalu mematikan sambungan telpon.


"Ih ngeselin banget sih!" ujar Aurel begitu kesal.


"Kenapa lo?" tanya Tissa yang juga kepo.


"Masa gue harus gantiin Ruby fitting baju hari ini," ucap Aurel.


"Ha? Serius?" Aurel mengangguk.


"Mana gue harus sama Daren lagi. Sialan emang!"

__ADS_1


"Hahaha lo tahu gak Rel? Tandanya apa?" ujar Tissa. Aurel menatap Tissa menunggu Tissa melanjutkan ucapannya.


"Karena lo sama Daren jodoh!"


"Gak! Gak mau gue jodoh sama dia. Amit-ami ya Allah.. "


"Eh jangan gitu! Kalau beneran gimana? Hayo loh! Repot nanti lo!" ucap Tissa.


Aurel diam, membayangkan dia menikah dengan Daren. Beberapa detik kemudian, gadis itu bergidik ngeri.


"Enggak! Gue gak akan nikah sama Daren!"***


Sarah membawa baskom berisikan air dingin. Untuk mengompres Ruby. Sementara itu Ruby, masih menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Meski cuaca di luar begitu panas.


"Sayang, kamu beneran demamnya tinggi loh. Mami panggil Dokter Ari ya," ucap Sarah begitu khawatir.


"Gak usah Mi, ini tuh kayaknya karena Ruby gerogi kan bentar lagi Ruby nikah sama Ali. Seminggu lagi, kan?" ucap Ruby menatap Maminya."Tapi tetep aja, kamu jangan terlalu di pikirin. Kan jadi sakit begini," ucap Sarah meletakan handuk basah di kening Ruby.


"Emang kamu mikirin apa sih? Sampai sakit begini?"


Seketika Ruby terdiam, ia mengingat kejadian kemarin. Dimana sepulang dari cafe bersama Ali Ruby mendapatkan sebuah email. Dari universitas terkenal di Australia. Ia lulus beasiswa S2 di universitas tersebut. Lalu kenapa baru sekarang? Saat ia akan menikah dengan Ali.


"Sayang, kok ngelamun? Kamu kenapa?" tanya Sarah membuayarkan lamunan Ruby.


"Gak pa-pa kok Mi," jawab Ruby. Belum ada yang mengetahui tentang hal ini, termasuk Ali.


"Kalau begitu, Mami tinggal dulu ya. Kamu istirahat," ucap Sarah tersenyum hangat. Sementara Ruby hanya menganggukkan kepalanya.


"Gue harus gimana? Ini impian gue..." gumam Ruby setelah ia sendirian. Gadis itu mencoba bangkit. Dan melihat laptopnya lagi.


Ia membaca email itu dengan seksama. Tidak melewatkan sedikit kata pun. Setelah itu, Ruby menutup laptopnya. Gadis itu menghela nafas.


"Mana harus berangkat 6 hari lagi. Itu kan h-1 pernikahan gue sama Ali," ujar Ruby. Ruby hanya mampu menangis, ini adalah mimpi yang selama ini ia harapan.


Tapi kenapa mimpinya tidak datang dengan tepat? Di saat dia harus menikah dengan Ali? Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Semua undangan sudah tersebar. Persiapan pernikahan juga sudah 9000. Pasti akan sangat mengecewakan jika ia membatalkan pernikahan ini. Ruby menggelengkan kepalanya. Mengingat sang Mami yang memiliki penyakit jantung.


"Tapi apapun ini, Ali harus tahu sih," ujar Ruby. Ruby mengambil ponselnya mencoba menghubungi Ali.


"Sayang, kamu bisa kesini sekarang?" ujar Ruby to the poin.


Begitu Ali mengangkat telponnya.


"Gak bisa sayang, kita kan lagi di pingit."


"Aku butuh ketemu sama kamu," ucap Ruby.


"Kenapa? Kamu kangen? Baru sehari di pingit masa udah gak tahan sih kangennya," ucap Ali


sembari tertawa meledek Ruby. "Bukan. Bukan itu, Al..." "Terus kenapa? "


"Ada hal yang harus aku kasih tahu ke kamu. Ini penting banget," ucap Ruby membuat Ruby bertambah penasaran.

__ADS_1


"Kalau gitu, aku tunggu di cafe biasa ya," ucap Ali.


"Iya. Aku segera kesana," ucap Ruby. Ruby mematikan sambungan telponnya. Meski masih sedikit pusing, tapi ia tidak perduli. Karena Ali harus tahu tentang semua ini...


__ADS_2