MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
WISATA MASA LALU


__ADS_3

Aurel merebahkan tubuhnya di sebelah Daren. Ia sedikit mendorong Daren agar menjaga jarak dengannya.


"Geser!"


Daren menggeser tubuhnya.


"Awas lo meluk-meluk gue!" ucap Aurel menarik selimut.


"Gak akan," ucap Daren. Daren membalikkan badannya. Membuat posisi keduanya saling membelakangi.


Keduanya nampak belum bisa tidur sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hujan di luar begitu deras, tiba-tiba lampu mati. Membuat ruangan jadi gelap. Hal ini membuat kilatan petir di luar terlihat begitu nyata. Aurel membalikkan tubuhnya. Menatap punggung Daren di depannya.


"Daren udah tidur belum, ya?" batin Aurel. "Duh gue takut banget lagi. Petir di luar gede-gede suaranya."


Dan benar saja, setelah itu terdengar suara petir yang sangat menggelegar di telinga. Dengan reflek Aurel memeluk Daren dari belakang. Menyembunyikan tubuhnya di bahu Daren.


Aurel menahan nafas, sembari memejamkan mata. Ketika mendengar suara petir. Beberapa menit kemudian, hujan kembali deras. Aurel merasakan pergerakan dari tubuh Daren.


"Jadi siapa yang diam-diam meluk gue?" ucap Daren mengagetkan Aurel. Karena wajah Daren sudah ada di depan matanya sekarang.


Seketika Aurel melepaskan pelukannya. Dan sedikit menjaga jarak dengan Daren.


"Reflek, gara-gara petir. Gak usah geer ya!" ucap Aurel.


Daren menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Oh reflek? Sampe seerat itu?"


"Menurut lo? Gue ga takut petir gitu?"


"Lo kan suka hujan-hujanan," balas Daren.


"Gue bilang petir Daren! Bukan hujan," ucap Aurel menyangkal ucapan Daren.


"Jadi mau meluk gue lagi, gak?" tawar Daren. Aurel membuang mukanya.


"Enggak!" ucapnya.


"Oke," balas Daren. Beberapa menit kemudian. Terdengar suara petir lagi. Membuat Aurel memeluk Daren. Daren hanya bisa tertawa melihat hal itu.


"Takut banget sama suara petir," ucap Aurel memeluk Daren lebih erat. Daren terdiam, ia baru ingat. Jika Aurel takut dengan petir.


Ingatannya melambung ke masa lalu. Hujan begitu deras, siang itu menguyur kota Jakarta. Aurel memainkan hujan, ia tidak bisa pulang karena terjebak hujan. Tapi tidak hanya Aurel. Ada beberapa temannya yang menetap di koridor sekolah karena terjebak hujan.


Salah satunya Daren. Lelaki itu nampak tengah mengobrol dengan teman lelakinya.


"Rel, lo gak bawa mobil?" tanya salah satu temannya.


"Enggak Cik, gue naik ojek. Makanya milih neduh di sini dulu," jawab Aurel.

__ADS_1


"Eh Rel, Daren kan bawa mobil. kenapa lo gak nebeng Daren aja?" saran Cika.


Aurel melirik Daren yang masih fokus mengobrol dengan temannya. "Enggak deh."


"Eh gue duluan ya!" ucap Cika. Teman Daren tadi juga pergi bersama Cika. Daren berjalan kearah Aurel.


"Ngapain lo?" ucap Aurel menatap Daren.


"Mau pulang bareng?" tawar Daren.


"Gak makasih!" jawab Aurel. Aurel fokus dengan air didepannya.


"Yakin? Udah mau sore. Lo yakin mau nunggu hujan reda?"


"Iya kenapa emang?" ucap Aurel menatap Daren."Lupa? Sama rumor sekolah kita? Sama Mbak Lussi?" bisik Daren pelan di telinga Aurel. Seketika Aurel terdiam. Rumor yang mengatakan setan Mbak Lussi akan keluar setelah sehabis magrib.


Aurel menengguk ludahnya kasar. Merasa takut dengan ucapan Daren.


"Ya udah Aurel, gue duluan ya," ucap Daren berjalan meninggalkan Aurel.


"Eh Daren tungguin dong!" ucap Aurel berjalan mengejar Daren.


"Jadi mau pulang sama gue?" tanya Daren.


"Iya deh iya!" ucap Aurel. Mereka berhenti sebentar. Karena mereka harus menyeberang ke koridor selanjutnya. Daren melepas jaketnya, dan menutupi kepalanya dengan kepala Aurel.


"Takut petir," ucap Aurel memeluk Daren.


Daren segera menuntun Aurel untuk berjalan ke koridor. Dan membawanya masuk kedalam mobilnya.


Daren tersadar dari lamunannya. Ja menatap Aurel yang mulai nyaman memeluknya. Bahkan sekarang perempuan itu sudah tertidur. Hujan di luar sudah tidak sederas tadi. Petir juga tidak sebesar tadi. Namun entah kenapa Aurel tidak kunjung melepaskan pelukannya.


Daren mengusap kepala Aurel. Mengelap keringat Aurel yang mulai muncul.


"Kadang lo itu ngeselin banget! Tapi kadang gue suka gak tega sama lo," ucap Daren lirih.


"Selamat malam Rel, mimpi yang Indah ya..." ucap Daren. Tidak lupa mencium kening Aurel. Setelah itu, ia juga memejamkan matanya. Menyusul Aurel kedalam mimpi.


***


Pagi hari, matahari begitu terik. Aurel menatap langit-langit kamar. Merasakan sesuatu memeluk pingganya. Ia melihat kesamping. Daren tertidur pulas sembari memeluknya.


"Bener-bener ya nih orang!" ucap Aurel. Aurel mendorong bahu Daren. Hingga membuat lelaki itu terbangun.


"Jangan meluk gue!" ucap Aurel. Daren hanya bergumam, malah menarik Aurel agar semakin dekat dengannya.


"Daren!" ucap Aurel. Aurel melepaskan pelukan Daren. Membuat lelaki itu membuka kedua matanya. Aurel duduk di tepi ranjang. Mengecek apakah pakaiannya masih utuh atau tidak.

__ADS_1


"Udah pagi ya? " gumam Daren masih mengumpulkan nyawanya.


"Menurut lo?" ucap Aurel sedikit sewot. Daren tersenyum menatap Aurel.


"Lo tidurnya nyenyak banget ya semalam? Ah iya kan tidur sambil meluk gue."


Aurel mengambil bantal dan langsung menimpuk Daren dengan bantal itu. Namun sayangnya tidak mengenai wajah Daren.


"Sembarangan kalau ngomong. Kan lo yang meluk gue, setan! "


"Ah bukan sebelumnya lo yang meluk gue, sambil bilang 'takut petir' masa lupa sih?" Aurel melebarkan matanya. Ia baru ingat peristiwa semalam.


"Oke tenang Aurel, lo pura-pura gak ingat aja," batin Aurel.


"Karangan lo bagus juga. Gak niat jadi penulis?" sangkal Aurel. Daren mendengus kesal.


"Tunggu dulu deh, semalam lo ngapain gue? Lo gak nyari kesempatan dalam kesempitan kan?" ucap Aurel menatap Daren takut-takut. Daren tersenyum mesum. Membuat Aurel semakin takut.


"Enggak sih, cuma gue *****-***** dikit," ucap Daren membuat Aurel secara reflek memukul Daren dengan bantal.


"Astagfirullah... " gumam Daren.


"Bisa gak sih gak mukul?"


"Gue tuntut lo, karena udah berani melanggar surat perjanjian kita," ucap Aurel.


Seketika Daren tertawa mendengar ucapan Aurel. "Gak akan bisa. Lo mau di ketawain orang pengadilan? Lo kan istri sah gue."


Aurel terdiam sebentar, mencoba untuk berpikir. "Oke, gue bakalan bilang kalau lo KDRT ke gue." Lagi Daren tertawa mendengar ucapan Aurel.


"Kok ketawa lagi sih," ucap Aurel kebingungan.


"Adanya gue yang lapor begitu. Lo yang selama ini gebukin gue Aurel!" ucap Daren.


"Lo gak ada bukti, wlee... " ucap Aurel meledek Daren.


"Ini apa? Lebam, lebam, terus semalam lo buat gue keluar masuk toilet gara-gara makan sambel lupa?"


"Bodo amat ah gue mau mandi," ucap Aurel beranjak dari ranjang.


"Rel, ikut dong!" teriak Daren.


"Gak! Lo mau gue sunat lagi!" teriak Aurel dari dalam kamar mandi. Daren hanya tertawa mendengarnya. Membuat Aurel kesal adalah hal yang sangat menyengkan.


Tawa Daren berhenti, ketika mendengar sebuah suara. Lelaki itu mendongak ke sumber suara. Ponsel Aurel berbunyi. Ia mengambil. Melihat ponselnya tersebut..


"Aurel punya pacar?"

__ADS_1


__ADS_2