MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
AFTER MARRIED


__ADS_3

Aurel membuka kedua matanya. Begitu merasakan sesuatu yang memeluknya begitu erat. Perempuan itu mengedipkan matanya beberapa kali. Untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Setelah kesadarannya penuh, Aurel dapat melihat Daren yang tertidur pulas.


Dan ia juga baru sadar, posisi mereka begitu intim. Secara reflek, Aurel mendorong Daren, hingga lelaki itu jatuh dari ranjang.


Brakk...


"Argh, sakit banget ya Tuhan..." gumam Daren.


Daren mendongak, menatap Aurel yang masih syok.


"Lo bisa gak sih? Gak main dorong gue? Percuma tahu gak kalau semalam lo pijitin gue," omel Daren.


"Lo ngapain meluk-meluk gue?" Aurel melebarkan matanya, seketika ia melihat tubuhnya di dalam selimut. Seketika ia lega, karena pakaiannya masih utuh.


"Lo duluan yang meluk gue, Aurel!" ucap Daren sembari bangkit dan duduk di tepi ranjang.


"Gue? Meluk elo? Ha? Gak salah? Gak mungkin gue meluk lo, Daren!" bantah Aurel.


"Tapi itu yang lo lakuin semalam Aurel! Lo meluk gue, bahkan ketika gue lepas pelukan lo. Lo gak mau, lo ngigau gini, 'Daren jangan tinggalin aku, aku sayang sama kamu.'


"Enggak lo ngarang!" ucap Aurel menutup kedua telinganya.


"Tapi ini fakta, harusnya semalam gue rekam sih ucapan lo. Biar lo percaya," ucap Daren. Bug Aurel melemparkan bantal ke wajah Daren.


"Cerita lo sama sekali gak lucu anjir!" ucap perempuan itu sembari masuk kedalam kamar mandi.


Daren hanya tersenyum, mengambil bantal yang ditimpuk kan ke wajahnya tadi. Tidak habis pikir dengan tingkah Aurel pagi ini. Daren bergerak sedikit, dan merasakan pinggangnya yang begitu sakit.


"Argh, ini seriusan sakit banget..."


***


Aurel menutup pintu kamar mandi. Dan menatap wajahnya di cermin. "Masa gue bilang kayak gitu sama Daren?"


Perempuan itu membayangkan hal yang di ucapkan Daren tadi. Ia bergidik ngeri. "Enggak dia ngarang! Baru aja nikah sehari, tapi udah stress gini. "


Aurel menatap wajahnya di cermin. Perempuan itu membasuh wajahnya dengan air dingin. Entah kenapa ia mengingat sesuatu semalam.


Kedua mata Aurel melebar sembari menggelengkan kepalanya kuat.


"Gak mungkin kan semalam Daren cium gue?" ucapnya. Tapi entah kenapa ingatannya begitu tajam.


"Gue mimpi pasti!" Aurel bergidik ngeri.


"Dari pada stress mending gue mandi!"


***


Daren menyeduh teh yang sudah di siapkan. Ia melihat ponselnya, banyak temannya yang mengucapkan selamat atas pernikahan dadakan kemarin. Ting...


Daren mengerutkan kening. Ia mendengar suara ponsel. Tapi bukan ponselnya.

__ADS_1


Lelaki itu mencari keberadaan sumber suara. Ia melihat ponsel Aurel yang ada di atas meja. Karena penasaran Daren akan mengambil ponsel Aurel.


Clek...


Namun tidak jadi, karena Aurel segera keluar dari kamar mandi.


Daren meletakkan lagi ponsel Aurel.


"Mau ngapain lo?" tanya Aurel menatap Daren menyelidik.


"Gak ada," jawab Daren. Lelaki itu segera masuk kedalam ke kamar mandi untuk mandi.


Aurel menatap ponselnya yang ada di atas meja. Kedua sudut bibirnya tertarik. Ketika melihat pesan singkat dari pacarnya, Aldino. Aldino Selamat pagi sayang...


Aurel segera membalas pesan Aldino. Send picture...


Aurel tidak dapat menahan senyumnya. Ketika mendapat foto gemas dari Aldino.


"Duh kenapa gak gue nikah sama Aldino aja sih," gumam Aurel.


"Gimana ya kalau gue nikah sama aldino? " Aurel mencoba membayangkannya.


"Anak gue pasti lucu-lucu mengemaskan."


Sedang asik menghayal, entah kenapa wajah Daren muncul dalam ingatannya.


"Ih, kenapa wajah Daren yang muncul?" Aurel bergidik ngeri.


***


"Daren sama Aurel belum turun? tanya Vivi kepada Alya.


"Belum Ma, entah mereka udah bangun apa belum," jawab Alya. Tidak lama setelah itu, Sarah dan Wardana datang.


"Selamat pagi jeng," ucap Sarah. Keduanya me ngobrol-ngobrol sebentar.


Di sisi lain, Aurel dan Daren tengah kejar-kejaran di koridor hotel. Aurel mengejar Daren karena lelaki itu tidak sengaja memecahkan jepitan rambutnya.


"Lo harus ganti jepitan rambut gue!" teriak Aurel.


"Gak mau, bukan salah gue. Suruh siapa jepitan rambut lo ada di lantai!" balas Daren. Sebenarnya Daren hanya meledek Aurel.


"Tuh kan emang setan lo!" teriak Aurel. Hingga membuat beberapa orang menatap kearah mereka. Bahkan keluarga mereka menatap kearah mereka.


"Aurel, Daren," panggil Sarah. Keduanya saling melirik. Lalu berjalan kearah keluarga mereka.


"Kalian kenapa sih? Berantem gitu? Gak malu di liatin orang-orang?" tanya Vivi. Menatap keduanya heran.


"Ma... Daren nyebelin! Masa jepitan rambut Aurel diijek sama dia sampai patah gini," ucap Aurel mengadu kepada Mamanya.


"Mana gak mau di ganti lagi! "

__ADS_1


"Astaga... " gumam Vivi memegang kepalanya yang terasa pening.


"Penyebab berantemnya gak ada yang lebih genting dari ini?" tanya Alya terheran-heran menatap keduanya.


"Daren, kamu juga udah salah harusnya tanggung jawab dong, " ucap Sarah. "Cuma masalah jepit rambut loh ini malah jadi kayak anak kecil gini."


"Ya udah iya, nanti di ganti," ucap Daren mengalah.


"Udah makan kalian berdua. Jangan berantem lagi!" ucap Vivi. Aurel dan Daren memilih tempat duduk. Namun malah keduanya rebutan kursi yang ada.


"Daren, ngalah dong sama istrinya... " tegur Sarah. Daren mendengus kesal. Lelaki itu memilih duduk di sebelah Aurel. Aurel puas karena menang dari Daren.


Tidak lupa sebelum duduk ia menjulurkan lidahnya meledek Daren.


Kedua keluarga itu makan dengan hening. Masih merasa heran dengan tingkah laku kedua anaknya yang absurd. Bertengkar hanya karena masalah sepele.


***


Hari sudah sore, Aurel sudah membereskan semua baju-baju dan keperluannya. Begitu juga dengan Daren. Mereka sudah siap untuk cek out dari hotel ini. Tentu juga dengan kedua keluarga mereka.


Mereka keluar dari gedung hotel. Melihat Mama dan Papa mereka. Aurel memasukkan kopernya di mobil Mamanya.


"Loh kok dimasukin kesini?" tanya Vivi.


"Kan mau pulang," ucap Aurel dengan polosnya.


"Ya kamu pulang sama Daren lah," ucap Vivi.


"Ha? Sama Daren? Gak mau Ma!" ucap Aurel.


"Rel kamu sama Daren kan udah nikah. Ya kamu harus ikut suami kamu lah," ucap Alya.


"Gitu ya? Gak bisa nih Aurel pulang sama kalian?" ucap Aurel. Vivi menggelengkan kepalanya.


"Aurel dengerin Mama. Kamu harus nurut sama Daren. Gak boleh bantah dia. Karena dia suami kamu." Aurel diam, belum berekspresi.


"Iya dek, nurut sama suami kamu," ucap Alya menyetujui ucapan Mamanya. Aurel memeluk Mamanya.


"Tapi Aurel boleh pulang kan? Kalau kangen sama kalian?"


"Ya boleh lah. Rumah kami tetap terbuka buat kamu," ucap Vivi.


Aurel benci situasi ini. Karena sudah pasti air matanya akan turun.


"Daren Mama titip Aurel ya," ucap Vivi kepada Daren.


"Siap Ma."


Keluarga Aurel pamit pergi. Kini tinggal Sarah, Wardana, Daren dan Aurel yang tersisa. Daren memasukkan koper Aurel kedalam mobil.


"Udah yuk, kita pulang... " ucap Sarah.

__ADS_1


"Aurel ayo masuk."...


__ADS_2