MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
BELUM SIAP


__ADS_3

Cit....


Daren mengerem mobilnya secara mendadak, saat mendengar pertanyaan dari Aurel. Ia mendongak menatap Aurel, yang nampak kesakitan karena kepalanya terbentur dashboard mobil.


"Argh, lo kalau mau berhenti kira-kira, dong!" ucap Aurel mengusap kepalanya.


"Duh, sorry-sorry tadi ada anak kucing di depan. Jadi ya gitu, dari pada ketabrak, kan!" alibi Daren.


"Anak kucing? Mana?!" ucap Aurel panik. Perempuan itu sampai menaikkan kedua kursinya ke kursi mobil.


"Di luar, bukan di dalam," ucap Daren


. Seketika Aurel kembali ke posisi semula. "Gue kira di dalam," ucap Aurel.


"Lo masih takut kucing?" tanya Daren. Seketika wajah Aurel memerah.


Perempuan itu menggelengkan kepalanya.


"Engga!"


"Bener? Yakin?" goda Daren.


"Iya!" jawab Aurel dengan sewot. Daren tertawa, lelaki itu keluar mobil.


"Heh Daren! Lo mau ngapain?! Jangan bawa kucingnya masuk! Gue gak mau ya?!" teriak Aurel dari dalam mobil.


Daren membuka pintu mobil Aurel sudah waspada takut jika Daren membawa kucing itu masuk.


"Ya elah! Gak ada, gue gak bawa kucing. Orang gue cuma ngecek tuh kucing baik-baik aja atau enggak," ucap Daren. Daren duduk di kursi pengemudi.


Aurel kembali ke posisi semula. Kemudian, ia memasang lagi seat beltnya.


"Kucingnya mati?" tanya Aurel kepo.


"Enggak, dia cuma nyebrang aja tadi." Bohong, padahal tidak ada kucing. Ini hanya alibi Daren agar Aurel lupa akan pertanyaannya tadi.


Suasana kembali hening. Daren fokus menyetir, sementara Aurel larut dalam pikirannya sendiri. Aurel merasa ada yang janggal. Ia tadi menanyakan tentang perasaan Daren kepadanya. Tapi kenapa lelaki itu tidak menjawabnya.


Aurel mendongak, mengamati wajah Daren dari samping.


"Lo belum jawab pertanyaan gue, " cetus Aurel. Masih dengan posisi yang sama.


"Pertanyaan yang mana?" ujar Daren pura-pura lupa.


"Dulu lo suka sama gue?" Akhirnya Aurel memutuskan untuk mengulangi pertanyaannya.


Daren diam sebentar, masih fokus dengan jalanan di depannya.


"Daren! Jawab!" ucap Aurel menggoyangkan lengan Daren. Bak anak kecil yang minta sesuatu kepada orang tuanya.

__ADS_1


Daren meminggirkan mobilnya. "Kalau gue jawab iya, apa lo akan percaya?"


Aurel mengedipkan matanya beberapa kali. Karena pandangan matanya sudah terkunci dengan tatapan Daren.


"Gueβ€”"


Aurel tidak mampu melanjutkan ucapannya. Entah ada sesuatu yang menahan tenggorokannya.


"Hahaha!" Tiba-tiba Daren tertawa terbahak. Ketika melihat ekspresi wajah Aurel yang begitu menggemaskan.


"Kan gue jawabnya kalau! Ka-lau! Belum tentu bener kan? Ekspresi lo udah gitu aja!" ucap Daren masih dengan tawa yang terbahak-bahak.


Plak!


Aurel menampar lengan Daren begitu keras.


"Anjir lo! Bisa serius dikit gak sih?" ucap Aurel mulai habis kesabarannya.


"Argh, Rel sakit tahu... " ucap Daren mengusap lengannya yang tadi di tampar Daren.


"Bodo amat! Kesel gue lama-lama sama lo!" ucap Aurel.


Aurel mencoba menangkan dirinya. Dengan cara mengambil nafas dan menghembuskan nafasnya.


"Ya sorry, lagian kenapa sih lo berpikiran kayak gitu? Kan lo tahu sendiri dari dulu kita gimana,"ucap Daren lebih serius. Aurel memilih diam, sudah malas menanggapi ucapan Daren.


Daren menghela nafas, ia menjalankan mobilnya lagi menuju ke apartemen mereka.


***


"Jeng, aku tuh kadang mikir loh. Ini Aurel sama Daren apakah bisa bertahan lebih lama?" ucap Vivi, sebagai seorang ibu ia dapat merasakan semaunya.


Sarah meletakkan gelas tehnya. Setelah tadi ia menyeruput sedikit tehnya.


"Sama jeng, aku tuh sering khawatir. Mereka kayak mempermainkan pernikahan. Kan jadi takut ya, kalau mereka melakukan hal lain di belakang kita. Dan kita gak tahu itu, " ungkap Sarah mencurahkan isi hatinya.


"Ya gimana ya, kita tahu sendiri mereka nikah karena paksaan kita. Padahal selama ini mereka gak pernah akur," balas Vivi sembari menggelengkan kepalanya.


"Kita salah, gak seharusnya maksa mereka," ucap Sarah lirih. "Daren itu jarang banget punya pacar. Yang aku tahu, mantan pacarnya itu ada dua. Nessa sama Sofi. Dia emang rada kaku sama perempuan," ucap Sarah.


"Sama, Aurel malah gak pernah ngenalin kekasihnya sama aku. Dia lebih terobsesi dengan pekerjaannya selama ini," balas Vivi.


"Sekarang kita cuma pasrah sama kemauan anak-anak. Walau gak ikhlas seuatu saat mereka akan bercerai, ya gimana lagi. Gak selamanya kita akan maksa mereka terus," sambung Vivi.


Sarah mengangguk setuju. Mereka kembali melanjutkan obrolan. Sedikit over thinking seorang ibu kepada anak-anaknya.


***


Aurel turun dari mobil. Ia mengambil belanjaan yang baru saja mereka beli tadi. Tidak hanya Aurel, Daren pun sama. Keduanya bergegas berjalan menuju lift. Tanpa sepatah kata yang di ucapkan di antara keduanya.

__ADS_1


Daren paham betul, Aurel masih marah terkait sikapnya tadi. Tapi bagaimana lagi. Daren benar-benar belum siap jika harus jujur sekarang. Ia masih belum bisa menerima jika Aurel akan menjauh nantinya.


Ting...


Pintu lift terbuka, keduanya melangkah berirama di koridor apartemen. Sampai akhirnya, seseorang membuka pintu apartemen.


"Wah kalian baru pulang kerja?" tanya seseorang.


Daren tersenyum begitu juga Aurel untuk menghormati Ibu tersebut.


"Iya Tan, ini selesai belanja bahan makanan juga," jawab Daren.


"Wah pas sekali, yuk silakan mampir, saya selesai masak. Cicipi dulu masakan saya," ucap Bu Retno.


"Beneran Tan ***...."


"Duh makasih ya Tan. Tapi kita buru-buru mau masak, lain kali kami pasti akan terima tawarannya," ucap Aurel menyala ucapam Daren. Daren menurunkan bahunya.


Merasa kecewa dengan jawaban Aurel.


"Ya sayang sekali. Ya udah gak pa-pa, tapi lain kali mau ya, nyicip masakan Tante," ucap Bu Retno. '


"Pasti, Tan. Kita permisi dulu ya, ' ucap Aurel langsung menarik lengan Daren pergi dari hadapan Bu Retno. Aurel memasukan pin apartmen. Lalu masuk kedalam apartemen di ikuti Daren di belakangannya.


"Lo kenapa sih? Pake nolak tawarannya Tante Retno?" ucap Daren saaat mereka menganti sepatu mereka dengan sandal rumah.


"Gak pa-pa males aja," jawab Aurel dengan santainya.


"Gila, gue udah laper. Kita gak beli makanan lagi," ucap Daren. Seketika perut Daren berbunyi. Tentu saja hal ini mampu menarik perhatian Aurel.


"Gofood aja ya, gue laper nih, " ucap Daren mengambil ponselnya.


"Eh jangan! Kan ada bahan makanan. Ngapain gofood, boros banget deh lo," cegah Aurel.


"Ya gimana lagi, gue males masak. Bukan males sih, emang gak bisa, " ucap Daren. Aurel ingat nasi goreng tadi pagi bukan buatan Daren, melainkan nasi goreng beli.


"Ya udah deh gue yang masak. Tapi mie rebus aja gak pa-pa kan? Soalnya gue lagi pengen makan mie rebus," ucap Aurel membuka tas belajannya.


"Oke terserah lo deh," jawab Daren yang sudah duduk di kursi meja makan.


"Lo beneran bisa masak mie pake telor kan?" tanya Daren meragukan Aurel.


"Ya bisalah, gampang ini mah, " jawab Aurel. Aurel memotong cabe, namun ia lupa untuk mengkuncir rambunya.


Perempuan itu mengambil karet yang ada di depannya. Dan langsung mengkuncir rambunya.


Daren diam, mengamati Aurel dari belakang. Aurel terlihat jauh lebih cantik sekarang.


"Effort gue terlambat ya Rel? Gue harus gimana? Suapaya lo mencintai gue lagi?" batin Daren. "Iya jujur, gue emang dari dulu suka sama lo. Dan gue akui, gue emang pengecut karena gak berani jujur tetang semua ini." Sayang sekali, Daren hanya berani mengucapkannya dari dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2