MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
KENANGAN WITH MANTAN


__ADS_3

"Jadi kalian udah nikah?" ucap Sofi masih kaget dengan pernyataan keduanya.


Daren mengambil tangan Aurel dan menggenggamnya.


"Iya, kita udah nikah," jawab Daren. Sedangkan Aurel hanya tersenyum tipis.


"Wah selamat ya!" ucap Sofi. "Oh iya Rel, gue mau minta maaf sama lo. Karena kan dulu gue sering cari masalah sama lo."


"Iya udah gue maafin Sof. Lagian kan kita dulu masih anak-anak wajar lah ya, ribut-ribut gitu," ucap Aurel. Sofi mengangguk setuju.


"By the way, minggu depan gue mau nikah. Ini gue langsung kasih undangannya ke kalian aja ya," ucap Sofi memberikan sebuah undangan kepada keduanya.


"Lo mau nikah? Gue kira lo belum bisa move on dari Daren, " cetus Aurel.


"Haha bisa aja lo Rel. Kalau gue belum move on dari Daren, mungkin gue bakalan ganggu hubungan kalian," ucap Sofi membuat Aurel dan Daren saling pandang.


"Udah gue bercanda. Nih liat, minggu depan gue mau nikah," ucap Sofi.


"Oke deh, nanti kita berdua bakalan dateng," ucap Daren.


Tiba-tiba ponsel Daren berbunyi. Lelaki itu segera mengambil ponselnya.


"Gue angkat telpon dulu ya," ucap Daren. Aurel dan Sofi mengangguk. Daren berjalan menjauh.


"Gue masih gak nyangka. Akhirnya kalian menikah," ucap Sofi menatap kepergian Daren.


Aurel hanya tersenyum tipis mendengarnya.


"Andai lo tahu Sof, gue nikah sama Daren karena apa," batin Aurel.


"Tahu gak Rel? Kenapa gue dulu benci banget sama lo?" ucap Sofi menatap jauh ke depan. Aurel mendongak menatap Sofi.


"Kenapa?"


"Karena meski dulu gue pacarnya Daren. Tapi tetap lo yang prioritasnya," ucap Sofi membalas tatapan Aurel.


"Maksud lo?" tanya Aurel belum paham dengan apa yang di katakan oleh Sofi.


"Lo ingat gak sih? Waktu lo pingsan di sekolah yang di hukum sama Pak Galih?" ucap Sofi.


Aurel mengerutkan keningnya. Mencoba mengingat-ingat peristiwa itu.


"Oh iya! Yang gue di hukum gara-gara ngerjain Daren sampe masuk rumah sakit kan? Kalau gak salah gue masukin banyak cabe ke makanan Daren, sampe dia diare bukan sih?" ucap Aurel sembari tertawa mengingatnya.


"Nah itu lo ingat kan?" ucap Sofi. Aurel mengangguk, masih tertawa membayangkannya.


"Waktu lo pingsan, dan Daren tahu. Dia bela-belain buat jenguk lo di UKS. Padahal dia lagi sakit, di rumah sakit kan?" ucap Sofi.


Seketika tawa Aurel terhenti.

__ADS_1


"Gue sama Tante Sarah sampai panik. Mencoba buat bujuk Daren buat balik lagi ke rumah sakit," sambung Sofi.


"Dulu emang Daren itu pacar gue. Tapi saat sama gue, dia selalu ceritain lo. Dia selalu prioritasin lo di hubungan kita. Itulah kenapa, gue benci banget sama lo dulu," ucap Sofi.


Aurel tidak mampu berkata-kata lagi. Saat mendengar ucapan cerita Sofi.


"Terus lo tahu gak? Kenapa gue putus sama Daren di waktu hari kelulusan?" tanya Sofi.


"Karena lo selingkuh sama Tomi, kan?" ucap Aurel ia mengatakan hal yang ia ketahui.


Sofi menggelengkan kepalanya. "Bukan. Tapi emang sih, waktu itu gue sama Daren udah renggang. Gue udah gak kuat sama toxic relationship, kita. Dan gue menjalin hubungan sama Tomi. "


"Tapi bukan itu yang mau gue kasih tahu ke lo," sambung Sofi.


"Terus apa?"


"Ternayata, kenapa Daren pacaran sama gue itu. Karena dia sama Dio, lo tahu Dio kan?" Aurel mengangguk.


"Gue jadiin bahan taruhan sama mereka. Saat gue tahu itu, ya jujur gue sakit hati banget. Akhirnya gue jalan sama Tomi. "


Aurel memasang wajah kaget. Jujur ia baru tahu sekarang.


"Sumpah ya, gue baru tahu sekarang loh Sof, " ucap Aurel masuh syok dengan aoa yang di katakan oleh Sofi.


"Tapi, gue udah maafin Daren. Dan udah gak ada lagi rasa kok sama dia, lo tenang aja," ucap Sofi sembari tersenyum. Memang benar, Aurel melihat sosok Sofi yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Sofi yang dahulu. Dulu wajah Sofi terlihat begitu antagonis, tapi sekarang lebih teduh, dan sangat cantik.


"Sekarang lo tahu maksud gue kan?" ucap Sofi menatap Aurel.


"Lo belum paham juga?" Aurel menggelengkan kepalanya.


"Kesimpulannya adalah Daren itu dari dulu udah suka sama lo. Masa lo gak bisa ngerasain itu sih," ucap Sofi.


Aurel diam. Sofi tersenyum, saat itu juga Daren datang.


"Eh by the way, gue cabut duluan ya. Calon pengantin nih, pamali kalau di luar rumah lama-lama, " ucap Sofi. "Oke hati-hati Sof!" ucap Daren.


"Rel, gue pamit ya," ucap Sofi membuyarkan lamunan Aurel.


"Eh iya Sof, hati-hati di jalan," ucap Aurel.


"Oke, kalian pokoknya datang ke pernikahan gue!" ucap Sofi.


"Beres!" ucap Daren. Sofi akhirnya pergi, meninggalakan Daren dan Aurel.


Aurel mendongak menatap Daren dari sampaingnya.


"Gak nyangka ya, bisa ketemu sama Sofi," ucap Daren. Daren mendongak menatap Aurel. Hingga keduanya saling tatap.


"Lo kenapa?" tanya Daren.

__ADS_1


Aurel menggelengkan kepalanya cepat.


"Gak pa-pa," jawabnya.


"Ya udah yuk pulang!" ucap Daren. Aurel hanya mengangguk. Membiarkan Daren berjalan lebih dulu.


"Masa iya? Daren cinta sama gue? Tapi kenapa selama ini sikapnya menunjukan kalau dia gak pernah ada rasa sama gue?" gumam Aurel menatap punggung tegap Daren yang berjalan di depannya.


***


"Jadi, gitu ceritanya," ucap Tissa. "Gue, gak tahu harus gimana selain mengikhlaskan semuanya."


Aldino mengerti perasaan Tissa, ia hanya mengusap bahu Tissa mencoba untuk menenangkan Tissa.


"Ini pilihan terbaik. Almarhum Mama sama Papa lo pasti ngerti kondisi lo, kok," ucap Aldino.


Tissa mengangguk, dia tidak tahu lagi harus gimana sekarang, benar-benar pasrah jika memang benar Steven akan menjual rumah itu.


"Oh iya Tiss, tadi Pak Gunawan udah nelpon gue. Soal lo yang di pinda tugaskan di kantor gue," ucap Aldino.


Seketika Tissa menghapus air matanya.


"Maaf Al, gue curhat terus sama lo. Sampai lupa kerjaan gue," ucap Tissa.


Aldino tertawa mendengarnya.


"Gak pa-pa kok. Gue mah santai orangnya," jawab Aldino. "eum, Aurel di kantor Daren?"


Tissa mengangguk. "Pak Gunawan sendiri kok yang nunjuk kita. Bahkan tadi Aurel udah minta tukeran sama gue. Tapi tetap, gak diizinin sama Pak Gunawan." Aldino mengangguk paham.


"Gue juga tadi udah usul, katanya gak bisa di ganti," ucap Aldino.


"Oh iya?" ucap Tissa.


Aldino mengangguk lagi, membuat Tissa membatin.


"Gimana caranya biar lepas dari Aldino? Sementara Tuhan benar-benar mempermudah jalan gue buat dekat sama Aldino."


***


Aurel masih diam di dalam mobil sama sekali tidak menanggapi Daren bicara dari tadi.


"Lo tahu kan? Gimana Sofi dulu kayak jahat banget gitu, pokoknya kalau ada di sebuah cerita pasti jadi pemeran antagonisnya. Tapi setelah liat tadi, berasa liat bidadari. Adem gitu," ucap Daren.


"Oh jadi lo demen liat Sofi yang sekarang?" ucap Aurel melirik Daren.


"Bukan gitu, tapi gimana ya..."


"Mantan emang setelah di tinggalin bakalan lebih menarik," ucap Aurel memotong ucapan Daren.

__ADS_1


Keduanya kembali diam. Membuat Aurel mengungkapkan isi keresahannya.


"Daren, lo suka sama gue?"


__ADS_2