
"Rel Io lagi bercanda? " tanya Daren menatap Aurel, berharap semua ini hanya candaan. Aurel menggelengkan kepalanya.
"Itu lo baca dulu. Baru di tanda tangani," ucap Aurel. Aurel meletakkan pena di depan Daren.
"Enggak, gue gak mau baca dan gak mau tanda tangani surat ini," ucap Daren. Daren menghela nafas untuk mengatur emosinya.
"Kenapa? Daren kita itu tidak saling mencintai. Dan menurut gue surat ini penting," ucap Aurel.
Daren diam, menatap wajah cantik Aurel di depannya.
"Gue cinta sama lo, Rel. Kenapa lo gak pernah sadar itu? " batin Daren.
"Oke, kalau lo gak mau baca biar gue yang bacain!" ucap Aurel sembari mengambil map itu dari tangan Daren.
"Surat perjanjian pernikahan, yang bertanda tangan di bawah ini: pihak pertama Aurel Selviana Adicipta, dan pihak kedua Daren Kusuma Wardana. Dengan ini menyatakan akan memenuhi sura perjanjian yang telah di buat dengan sadar."
"Poin-poin perjanjian meliputi, satu selama menikah tidak ada kontak fisik diantara kedua belah pihak. Kedua, kedua belah pihak bebas melakukan apapun yang mereka lakukan. Tanpa persetujuan antara kedua belah pihak. "
"Ketiga, pernikahan berlangsung selama 6 bulan, mulai dari sekarang. "
"Ha? Maksud lo? Setelah 6 bulan kita cerai?" ucap Daren memoton g ucapan Aurel.
Aurel tidak menjawab, malah melanjutkan membacanya. "Keempat, kedua belah pihak bebas mempunyai kekasih di luar pernikahan. Kelima, dilarang ikut campur antara kedua belah pihak.
"Gue gak setuju! Ini gila Rel! Gila!" ucap Daren.
"Lo pikir? Pernikahan bukan itu main-main? "
"Oke, buat orang yang saling mencintai mungkin pernikahan adalah hal yang sakral. Tapi kita? Kita gak punya rasa, Ren. Lo sama gue dari dulu musuh, mana mungkin bisa terikat seperti ini."
Daren terdiam mendengar ucapan Aurel. Ia masih tidak menyangka, Aurel berpikiran seperti ini.
"Oke ini mau lo kan? " ucap Daren. Daren mengambil map dan pena lalu menandatangani surat perjanjian tersebut di depan Aurel.
"Udah kan? Puas?" ucap Daren.
Daren meletakkan map itu lalu masuk kedalam kamar mandi.
Brak...
Bahkan lelaki itu menutup pintu dengan kasar. Aurel diam, menatap Daren yang sudah masuk kedalam kamar mandi. Perempuan itu juga menatap surat perjanjian yang sudah ditanda tangani.
Perempuan itu duduk di depan cermin mulai menghapus make up-nya.
***
Sudah malam, namun Tissa belum di jemput oleh Abangnya. Perempuan itu berdiri di pinggir jalan. Melihat beberapa mobil yang melintas di depannya.
"Abang kemana sih? Apa lupa adiknya belum di jemput?" gumamnya. Perempuan itu menendang apa saja yang ada di depannya.
Hingga, tanpa sengaja ketika Tissa menendang sebuah kaleng bekas minuman mengenai sebuah mobil.
__ADS_1
"Duh mampus gue!" ujarnya. Mobil itu berhenti. Mundur kearah Tissa.
"Duh gimana dong?" ucap Tissa mulai panik.
Mobil itu berhenti di sebelah Tissa. Dan kaca mobil pun di turunkan.
"Eum, sorry tadi gak sengaja," ucap Tissa takut-takut.
"Aldino?" ucap Tissa begitu kaget karena yang ada di dalam mobil itu adalah Aldino.
"Masuk!" ucap Aldino.
"Mak... maksud lo? Gue?" ucap Tissa gugup.
"Menurut lo siapa?" jawab Aldino.
Seketika jantung Tissa berdetak lebih kencang. Karena mendengar suara Aldino.
"Hey!" ucap Aldino. Tissa sadar dari lamunannya.
"Masuk!" Tissa pun masuk kedalam mobil Aldino.
Sementara itu Aldino langsung menjalankan mobilnya. Sementara Tissa masih di ruangkebingungan.
"Rumah lo dimana?" tanya Aldino tanpa melihat Tissa.
"Eum di perubahan Victoria, jalan Mawar nomor 15 jawab Tissa selengkap mungkin.
Hening, tidak ada lagi obrolan di antara keduanya. Tissa masih bingung kenapa tiba-tiba Aldino mau mengantarkannya? Padahal keduanya belum pernah saling mengenal sebelumnya.
Tissa mengangguk, meski Aldino tidak menatap kearahnya.
"Lo tahu?" Entah kenapa kata yang keluar dari mulut Tissa terlalu basa-basi.
"Iya, nama lo Tissa kan? " Tissa mengangguk lagi. Merasa bangga karena Aldino mengetahui namanya. Aldino menghentikan mobilnya.
"Ke... kenapa berhenti?" tanya Tissa tidak melihat kearah keluar. Ia hanya fokus menatap wajah Aldino.
"Udah sampai," jawab Aldino. Hal ini tentu saja membuat Tissa malu.
Perempuan itu mengalihkan pandangannya. "Eh iya udah sampai. Makasih ya."
"Sama-sama," jawab Aldino. Tissa segera keluar dari mobil itu. Aldino pun melajukan mobilnya.
"Duh, bodoh banget gue. Apakah gue keliatan suka sama Aldino?" gumam Tissa.
"Ah bodo ah!" Akhirnya perempuan itu memilih untuk masuk kedalam rumahnya.
***
Daren keluar dari kamar mandi. Telanjang dada, hal ini membuat Aurel sedikit syok.
__ADS_1
"Bisa gak sih? Pake baju sekalian tadi?" omel Aurel. Perempuan itu menutupi kedua matanya dengan kedua tangannya.
"Gak bisa," jawab Daren yang membuat Aurel semakin kesal dengannya.
โBaju gue mana?" tanya Daren kepada Aurel.
"Mana gue tahu, " ucap Aurel. Daren membongkar kopernya mencoba mencari kaos yang nyaman di gunakan.
Setelah selesai mengenakan pakaian Aurel membuka matanya. Perempuan itu mengambil baju ganti di dalam kopernya. Namun alangkah kaget ia ketika membuka koper itu.
"Anjir! Bener-bener ya!" ucap Aurel.
"Kenapa lo?" tanya Daren yang sedari tadi mengamati Aurel.
"Gak pa-pa," jawab Aurel mencoba menyembunyikan isi kopernya. Daren benar-benar kepo dengan apa yang di sembunyikan oleh Aurel.
"Apa sih?"
"Ih kepo banget sih!? " ucap Aurel mencoba menutupinya.
"Daren, gue pinjem baju lo ya."
"Ha? Kenapa emang? Pake aja baju lo," ucap Daren. Lelaki itu duduk di tepi ranjang.
"Please lah, kali ini bantuin gue!" ucap Aurel.
"Lagian apa yang lo sembunyiin?" tanya Daren. Aurel malu untuk mengatakannya.
"Rel...." Aurel melepaskan tangannya.
Membiarkan Daren membuka kopernya. Aurel menutup kedua matanya, feelingnya setelah ini Daren akan mengejeknya semalaman.
Tawa Daren terdengar sangat keras. Ketika tahu apa yang di sembunyikan oleh Aurel.
"Kan jangan ketawa! " ucap Aurel melipat bibirnya sebal.
"Oke, gue bakalan pinjemin lo baju. Asalakan lo harus pijitin gue malam ini." "Ha? Pijitin lo? " Daren mengangguk.
"Gimana? Mau gak?"
"Gak! Gue gak mau!" bantah Aurel.
"Ya udah, berarti nanti malam lo tidur pake lingerie itu," ucap Daren.
"Gak mau juga. Lo nanti nafsu liat gue pake lingerie itu. Terus lo malah ngapa-ngapain gue!" ucap Aurel.
"Ya udah, lo pake baju gue aja iya kan?"
Aurel mendesa frustasi. "Oke. Gue pijitin lo malam ini."
"Nah gitu dong, " ucap Daren dengan senyuman yang mengembang. Daren membuka kopernya mengambilkan baju dan celana untuk Aurel. Setelah itu Aurel masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
"Duh males banget kalau harus pijitin Daren. Tapi gimana lagi, dari pada gue pake lingerie itu. Ah Mama juga kenapa sih? Harus bawain lingerie itu?"
Setelah cukup mengomel. Aurel mulai mengguyur tubuhnya dengan air yang begitu segar. Seketika rasa capeknya berkurang.