MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
gagal lagi


__ADS_3

Aurel menatap puas dandanannya di depan cermin. Tidak menor, tapi sangat cantik. Tissa menatap heran kearah Aurel. Perempuan itu duduk di tepi ranjang.


"Lo yakin kali ini bakalan dinner sama Aldino?" ujar Tissa.


"Kenapa lo bilang kek gitu?" ujar Aurel menyisir rambutnya sekali lagi.


"Ya lo kan tahu, yang udah-udah gimana? Lo malah sama Daren, bukan Aldino," balas Tissa."Enggak. Kali ini gue yakin, gue bakalan dinner sama Aldino tanpa pengganggu," ucap Aurel sembari tersenyum.


"Kalau gitu have fun deh lo sama Aldino," ucap Tissa akhirnya percaya.


Aurel mengangguk, ia mulai mempersiapkan dirinya.


"Gue nunggu Aldino di luar aja kali ya," ucap Aurel.


Gadis itu berjalan keluar kamarnya. Ia kaget, karena ada Daren di ruang tengah yang sedang mengobrol dengan Ali.


"Ngapain lo kesini?" ujar Aurel dengan sewot."Yang jelas bukan untuk nemuin lo sih," jawab Daren sarkas.


Aurel mendelik kesal. Ia memilih untuk duduk di ruang tamu menunggu Aldino. Ia duduk resah, takut jika Aldino tidak bisa datang lagi. Aurel membuka ponselnya, tidak ada satu pun pesan masuk dari Aldino.


"Kalau gue chat duluan keliatan gak sih? Kalau gue nungguin dia?" gumam Aurel berdebat dengan pikirannya sendiri. Tissa keluar dari kamar Aurel.


"Rel, gue pulang duluan ya, lo have fun sama Aldino.""Iya Tiss, makasih ya. Hati-hati di jalan, " ucap Aurel. Tissa mengangguk, langsung keluar dari rumah Aurel.


Sekali lagi, Aurel menatap ponselnya. Namun tidak ada tanda-tanda Aldino menghubunginya.


"Telpon? Engga... telpon? Engga.. ' gumam Aurel benar-benar bingung.


"Jangan deh, gue emang suka sama Aldino. Tapi gue gak boleh murahan!" gumam Aurel lagi.


Ia memilih meletakkan ponselnya. Dan bersandar pada sandaran kursi. Hanya suara jarum jam yang terdengar. Membuat Aurel sedikit mengantuk. Berlarut dalam posisi nyaman, Aurel memejamkan matanya karena lelah menunggu Aldino yang tidak kunjung datang.


"Ya udah gue cabut dulu Li, udah malam," ucap Daren sembari berdiri.


"Makasih ya Bang udah mampir, salam buat Ruby sama Mami dan Papi juga," balas Ali.


"Yoi!" jawab Daren. Daren berjalan keluar namuan ia malah menemukan Aurel yang tidur diatas sofa ruang tamu. Lelaki itu mengamati wajah Aurel. Lalu diam-diam tersenyum tipis.


"Akhirnya gue bisa liat lo lagi, Rel."


Setelah puas menatap wajah Aurel, Daren berjalan keluar rumah. Tanpa sadar, kunci mobilnya jatuh di dekat Aurel. Dan benar, begitu sampai di mobil Daren kehilangan kunci mobilnya.


"Loh mana kunci mobil gue?" gumam Daren. "Apa ketinggalan di dalam?"


Daren segera turun, dan berjalan masuk kedalam rumah Aurel. Ia melihat ke ruang tengah. Tapi tidak menemukan kuncinya juga. Sampai akhirnya, ia ke ruang tamu. Mencari di sana.


Daren melihat kunci mobilnya di sebelah kanan tubuh Aurel.


"Duh, kenapa harus di situ sih?" gumam Daren. Daren harus berjongkok di depan Aurel untuk mengambil kunci mobilnya.

__ADS_1


Jaraknya dengan Aurel begitu dekat. Membuat Aurel dapat mencium bau parfum Daren. Aurel membuka kedua matanya. Begitu kaget, dengan jaraknya yang begitu dekat dengan Daren.


"Arghh...." Aurel berteriak, sembari mendorong tubuh Daren.


Daren terjatuh di lantai. Lelaki itu memegangi pinggangnya yang kesakitan.


"Heh mesum! Lo mau ngapain gue, ha?"


"Aduh, sakit nih... " ucap Daren sembari duduk di lantai. Aurel menutup tubuhnya sebisa mungkin.


"Gue gak ngapa-ngapain lo! Gak usah nuduh deh."


"Gak ngapa-ngapain? Tadi apa? Lo deket-deket gue waktu gue lagi tidur. Oh lo cari kesempatan dalam kesempitan, kan?"


"Ngaco! Gue cuma mau...." Mendadak Daren tidak melanjutkan ucapannya.


Membuat Aurel menatap Daren menyelidik.


"Apa? Gak bisa jawab kan?" desak Aurel.


"Udah deh, dari dulu lo tuh gak pernah berubah ya! Dasar mesum!" sambung Aurel.


Perempuan itu berdiri, bersiap untuk masuk kedalam kamarnya.


Duren mengusap bagian belakangnya yang terasa sakit.


"Gila tuh cewek, tenaganya gede juga," gumam Daren.


"Gara-gara lo nih!" Tidak hentinya Daren menyalahkan kunci mobilnya.


***"Aldino cuma mainin gue ya? " Aurel menatap ponselnya. Bahkan tidak ada notif pesan dari Aldino. Perempuan itu melempar asal ponselnya ke sembarang tempat. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Air matanya mengalir.


"Gue kenapa nangis sih? Nangisin Aldino nih?" Dengan cepat, Aurel menghapus air matanya.


"Mana mungkin Aldino suka sama gue. Gue bukan selevelnya. Dia CEO, gue cuma karyawan biasa. "


"Bener kata Tissa, gue gak boleh terlalu percaya sama Aldino," sambung Aurel. Entah, banyak pertanyaan yang terus berputar di otaknya.


Apalagi mengingat Daren, entah kenapa seakan banyangan itu muncul lagi.


"Konslet nih otak gue mikirin Daren!"


Tiba-tiba terdengar suara deringan ponsel. Aurel menganti posisinya menjadi duduk. Dan mencari keberadaan ponselnya.


"Duh mana sih?"


Dan akhirnya ponselnya ketemu. Kedua mata Aurel melebar. Ketika melihat ada nama Aldino di layar ponselnya.


Dengan segera Aurel mengangkat panggilan dari Aldino.

__ADS_1


"Rel... " ucap Aldino di seberang sana. "Eum, iya Al."


"Sorry banget, gue lupa. Ada janji sama lo," ucap Aldino dengan nada bicara bersalah.


"Oh, itu iya gak pa-pa kok. Tadi gue juga ketiduran," ucap Aurel. Meskipun mangatakan hal itu, tapi Aurel sedikit kecewa dengan Aldino.


"Gini deh, besok kita breakfast bareng aja gimana? Buat ganti hari ini," usul Aldino. Aurel terdiam, ia tidak ingin terlalu berharap kepada Aldino.


"Ya udah, terserah lo aja gimana," jawab Aurel seadanya.


"Oke, besok gue jemput lo ya." Aurel mengangguk, meski Aldino tidak dapat melihatnya.


"Good night, Rel. Sekali lagi gue minta maaf," ucap Aldino.


"Iya." Aurel mematikan sambungan telponnya. "Mulai sekarang jangan terlalu berharap sama siapa-siapa. Karena manusia bisa buat kecewa."


*** Pagi hari, Aurel tengah memakai sepatu. Tiba-tiba ia melihat sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya.


"Mobil Aldino?" gumam Aurel. Aldino keluar dari mobil diiringi dengan senyuman yang sangat manis.


"Pagi Rel," ujarnya tetap mempertahankan senyum itu.


"Pagi Al, duduk dulu, " ujar Aurel. Mereka duduk di kursi teras rumah.


"Lo masuk jam berapa?" tanya Aldino.


"Jam setengah delapan," jawab Aurel.


Aldino mengangguk paham.


"Lo semalam nungguin gue?"


"Ha?" Aurel terlihat kaget dengan pertanyaan Aldino.


"Eum, gue udah siap sih. Cuma ketiduran juga."


"Sekarang udah siap?" tanya Aldino. Aurel mengangguk.


"Kalau gitu, bisa kita berangkat sekarang?"


Aurel mengangguk lagi. Keduanya pamit ke orang tua Aurel. Setelah itu, mereka masuk kedalam mobil Aldino.


Di sisi lain, Daren menghentikan mobilnya.


Ketika melihat Aurel masuk kedalam mobil Aldino.


"Itu mobilnya Aldino? Kok, Aurel


masuk ke mobil Aldino?" ucap Daren heran.

__ADS_1


Karena penasaran, Daren segera mengikuti mobil itu. "Apa mungkin bener? Aurel sama Aldino dekat?"


__ADS_2