
...~Happy Reading~...
Sesuai dengan janji nya tempo hari, kini Kenzo mengajak anak sulung nya untuk menemui Winda. Anak dari pembantu di rumah nya yang tak lain adalah pelaku utama yang membuat retak nya hubungan rumah tangga nya dengan Ryana.
Setelah puas melihat keadilan yang di berikan oleh papa Kenzo kepada Winda kemarin, membuat Raka semakin bersemangat untuk bertemu langsung dengan winda. Karena sejak kejadian waktu itu, dirinya belum bertemu lagi dengan wanita itu.
Dan setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, kini mobil yang di kendarai Kenzo dan Raka sudah tiba di sebuah bangunan kosong dan terbengkalai, dimana sang ayah menyembunyikan Winda di sana.
“Ini bangunan apa Pa?” tanya Raka mengerutkan dahi nya saat mengamati sekitar.
“Gak usah banyak tanya, kamu gak akan Papa buang kesini. Ayo masuk!” ucap Kenzo dan langsung berjalan mendahului anak nya.
Tak ingin berpikir lama, akhirnya Raka pun segera berlari untuk mengejar papa nya. Memasuki bangunan utama, Raka di ajak memutar untuk melewati beberapa lorong hingga akhirnya ia sampai di depan sebuah pintu ruangan yang hanya bercahayakan lampu kuning kecil.
__ADS_1
Cklek!
“Rakaaa!” Saat penjaga membuka pintu, seketika itu juga suara pekikan Winda langsung menyambut kedatangan Raka dan Kenzo.
Padahal, Winda tidak bisa melihat siapa yang datang, karena tangan nya yang di ikat di kursi serta mata yang tertutup oleh kain. Namun, wanita itu selalu memanggil nama Raka setiap kali mendengar suara pintu yang terbuka.
“Rakaa, tolong lepasin aku hiks hiks. Lepasin aku Ka, hiks hiks!” pinta Winda yang terus memohon.
“Dia tidak memiliki indera ke enam, tapi dia memiliki indera ke tujuh!” jawab Kenzo menghela napas nya kasar hingga membuat Raka langsung percaya dan menatap nya heran.
“Sudahlah, kau bebas melakukan apapun sama dia. Tapi ingat, jangan lepas ikatan tangan nya. Karena dia bisa berbuat nekat, dia lebih buas dari anjingg pelacak! Apalagi kalau lihat kamu, sudah seperti reog yang melihat warna merah!” imbuh Kenzo lalu ia memilih keluar dari ruangan itu karena sudah merasa muak dengan Winda.
Raka langsung menghela napas nya dengan berat, sebenarnya ia merasa sedikit tidak tega melihat keadaan Winda saat ini. Gadis yang ia kenal baik hati, lembut dan begitu ceria, kini harus berakhir seperti itu di tangan papa nya.
__ADS_1
Ya, meskipun Raka type laki laki playboy dan slengean, namun ia masih memiliki hati nurani. Akan tetapi, rasa kasihan nya kepada Winda, seketika lenyap saat ia mengingat kepergian istri nya.
Kini, perasaan nya langsung berubah menjadi rasa marah dan benci pada wanita itu karena sudah membuat istrinya pergi, dan juga anak anak nya meninggal dunia.
“Buka penutup mata nya!” perintah raka dengan suara yang begitu dingin, namun sama sekali tidak membuat Winda merasa takut.
“Raka, aku tahu kamu akan datang hiks hiks, aku tahu kalau kamu akan nyelametin aku hiks hiks. Terimakasih Raka, terimakasih,” ucap Winda semakin terisak, namun bibir nya kini semakin melengkungkan sebuah senyuman karena mengira bahwa Raka benar akan membebaskan nya.
“Nyelametin kamu?” tanya Raka langsung mengerutkan dahi nya menatap wajah Winda.
Dengan cepat, Winda langsung menganggukkan kepala nya, “Iya aku yakin kalau kamu akan bebasin aku dari sini hiks hiks. Kamu tahu raka, papa kamu udah nyiksa aku, dia— Arrrrkkkkhhhhh!” pekik Winda langsung menghentikan ucapan nya saat dengan tiba tiba Raka langsung menjambak rambut nya dengan cukup kasar.
"Sebaik itukah aku harus nyelametin kamu, setelah apa yang sudah kamu lakukan pada anak dan istri ku hem?" tanya Raka dengan begitu menyeramkan hingga membuat Winda langsung terdiam dan menelan saliva nya kasar.
__ADS_1