
...~Bonus Chapter~...
"Bagaimana dengan perempuan itu?" tanya seorang laki laki paruh baya yang tak lain adalah Adnan.
"Duduklah dulu," jawab Kenzo yang sedang menikmati secangkir kopi nya di sebuah kafe yang tak jauh dari pemakaman.
Ya, baru saja Kenzo datang untuk mengunjungi makam. Dan ketika dirinya hendak pulang, ia berpapasan dengan besan nya yang juga hendak ziarah ke makam ketiga cucu mereka.
Jadilah, Kenzo menunggu di Kafe yang tak jauh dari sana, karena Adnan sempat mengatakan ingin berbicara.
"Jadi bagaimana? Kau tidak membawa nya ke kantor polisi?" tanya Adnan dengan mengepalkan tangan nya erat.
Setiap kali dirinya membahas soal pembunuh cucu cucunya, ia akan merasa sesak namun juga sangat emosi serta marah. Rasa ingin membunuh orang itu begitu besar, namun ia juga masih mengingat tentang keluarga nya yang lain. Terlebih istri nya.
"Penjara tidak akan membuat nya jera!" kata Kenzo langsung menghela napas nya dengan berat.
"Lalu?" tanya Adnan mengerutkan dahi nya.
"Aku sudah meletakkan nya di tempat yang sangat aman. Dan aku pastikan dia tidak akan bisa melihat dunia luar lagi." jawab Kenzo dengan senyuman menyeringai, "Aku akan membuat nya merasakan nikmat luar biasa di akhir hidup nya."
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Adnan penasaran.
Bukan menjawab, Kenzo justru semakin melebarkan senyuman nya, "Apakah kau ingin bertemu dengan nya?" kata Kenzo malah balik bertanya.
"Tidak perlu!" jawab Adnan menolak.
Bukan tidak mau, hanya saja dirinya takut lepas kendali. Ia tidak mau mengotori tangan nya untuk menghabisi wanita tersebut.
"Aku percayakan semua pada mu!" imbuh Adnan yang langsung di balas anggukan kepala oleh Kenzo.
"Aku akan mengirimkan beberapa file pada mu nanti," ujar Kenzo dengan senyum penuh arti.
"Kau bisa melihat nya saat malam nanti. Dan pastikan, istrimu tidak melihat nya." ucap Kenzo lagi, membuat Adnan semakin mengernyitkan dahi nya dengan bingung.
Ya, bingung dan penasaran bergabung menjadi satu di benak Adnan. Kira kira apa yang di rencanakan oleh Kenzo dan file apa yang akan di perlihatkan oleh Kenzo padanya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi sekarang!" Adnan bangkit dari tempat duduk nya dan hendak berpamitan pergi.
"Sepertinya kau cukup sibuk!" Kenzo mendongakkan kepala untuk menatap besan nya.
__ADS_1
"Sedikit! Sejak tragedi saat itu aku sudah sangat jarang ke kantor. Dan saat aku ke kantor, pekerjaan ku sudah menunggu di ruangan!" ucap Adnan menghela napas nya dengan berat.
Adnan bukanlah type orang yang mudah bergaul. Ia lebih banyak diam dan termasuk orang yang introvert. Teman nya pun tidak banyak, dan mungkin hanya dua atau tiga saja.
Sangat berbeda dengan Kenzo yang memang masih muda dan memiliki banyak teman.
Adnan juga bukan type orang yang bisa di ajak bicara santai dengan orang baru. Apalagi percaya, namun berbeda dengan Kenzo. Entah mengapa, meskipun baru beberapa bulan saja mereka kenal, ia merasa sudah seperti kenal puluhan tahun.
Bahkan, dari cara bicara nya saja sudah bukan seperti seorang rekan bisnis atau besan yang canggung. Ia merasa seperti tengah mengobrol dengan orang terdekat nya.
"Baiklah, lain kali biar aku yang akan mengunjungi kantor mu!" ucap Kenzo menganggukkan kepala nya.
"Ah iya, selagi ingat, tolong kirimkan alamat tempat tinggal Ryana padaku." imbuh Kenzo menghentikan langkah Adnan yang hendak berbalik dan pergi.
"Alamat Ryana?"
"Hemm, istriku yang meminta nya. Bulan depan kami akan ke sana, karena memang ada pekerjaan ku yang di sana. Maka dari itu, aku meminta nya agar bisa sekalian melihat nya, walau tidak bisa menghampiri secara langsung." Adnan hanya menganggukkan kepala nya, tanda mengerti dengan apa yang di maksud okeh Kenzo.
Adnan segera menuliskan alamat anak anaknya di kertas yang ada di meja. Lalu memberikan nya kepada Kenzo. Baru setelah itu ia pamit dan benar benar pergi meninggalkan kafe.
__ADS_1
'Semoga kalian bisa tetap berjodoh!' gumam Kenzo saat menatap pada tulisan di kertas yang ia pegang.