MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
KADO 9 TAHUN YANG LALU


__ADS_3

Aldino melepaskan bibirnya, ia mengusap sudut bibir Tissa. Tissa sendiri merasa malu dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Tanpa sepatah kata pun, Aldino menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobilnya.


"Apa maksud dari ciuman ini?" batin Tissa.


"AI? Lo..."


Aldino meraih tangan Tissa lalu mencjum tangannya. "Kita jalanin dulu aja ya."


Tissa diam mendengar ucapan Aldino. Apa mungkin ketakutan Tissa kemarin akan di mulai sekarang?


***


Aurel membuka gerbang rumahnya. Ia langsung masuk kedalam rumah.


"Assalamualaikum... " ucap Aurel.


"Wa'alaikumsalam... loh sayang? Kamu gak kerja?" tanya Vivi yang duduk di ruang tengah.


"Enggak Ma lagi libur, Ma, Bi Darmi mana?" ucap Aurel mencari asisten rumah tangganya.


"Kamu itu jarang pulang, tapi sekalinya pulang malah Bi Darmi yang di cariin!" ucap Vivi.


"Ini urgent Ma! Bi Darmi mana?" tanya Aurel lagi. Aurel berjalan menuju dapur untuk mencari


keberadaan Bi Darmi namun tidak juga ia temukan.


"Bi Darmi lagi belanja tadi, kenapa emang?" tanya Vivi kepo.


Aurel tidak menjawab, perempuan itu langsung naik ke lantai dua.


"Dasar tuh anak, " gumam Vivi menggelengkan kepalanya menatap kepergian Aurel. Aurel masuk kedalam kamar. Ia langsung mengobrak-abrik


kamarnya.


"Dimana ya?" ucap Aurel mencoba mengingat-ingat.


Aurel duduk ditepi ranjangnya. Ia rasa harus menenangkan dirinya dulu. Pikirannya sibuk, flashback ke jaman dulu tapatnya 9 tahun yang lalu.


Pesta ulang tahun Aurel yang ke-18 tahun begitu meriah. Semua teman-teman di kelasnya datang, bahkan teman di luar kelas juga Aurel undang.


"Happy birthday Aurel!" ucap Tissa sembari memeluk Aurel.


Tisaa memberikan sebuah kado dari Aurel.


"Ya ampun! Makasih banget ya Tissa, lo udah mau jadi sahabat gue," ucap Aurel terharu, mengingat ia dan Tissa sudah menjadi sahabat 3 tahun lamanya.


"Ah jadi sedih gue," ucap Tissa merangkul Aurel.


"Aurel, waktunya tiup lilin ayo. Teman-teman kamu udah pada nungguin tuh, " ucap Vivi. Aurel dan Tissa berjalan menuju Mamanya.


Setelah selesai menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Mereka mulai berbisik, ketika Aurel memberikan kue ulang tahun ke seseorang yang spesial. Aurel menatap Lian sosok kakak kelas yang tengah dekat dengannya.


Saat ia berjalan menuju Lian. Tiba-tiba ada sebuah keributan. Aurel menjatuhkan kue itu. Ketika melihat Daren di keroyok tiga orang preman yang menghancurkan pesta ulang tahunnya. Semua teman-teman Aurel berlari, ketakutan.


Kue, makanan, sampai properti yang sudah di siapkan hancur begitu saja. Daren melawan tiga preman itu di depan Aurel. Menghancurkan semua yang ada di sekelilingnya.

__ADS_1


"Aurel, sini nanti lo kenapa-napa," ucap Tissa menarik tangan Aurel. Namun Aurel tidak mau. Ia malah berjalan kearah Daren yang sedang menonjok si preman dengan


membabi buta.


Daren menghentikan aktivitasnya, ketika Aurel sudah berada di dekatnya. Ia menatap Aurel yang tengah menatapnya tanpa berkedip. Wajahnya lebam, dengan keringat yang membasahi wajahnya. "Rel..."


Aurel maju selangkah untuk lebih dekat dengan Daren.


Plak!


Aurel menampar Daren dengan segala kebencian di hatinya.


"Gue benci sama lo." Aurel menekan setiap kata yang ia ucapkan. "Jangan pernah lagi muncul, di kehidupan gue!"


Setelah mengucapkannya, Aurel pergi meninggalkan Daren yang masih diam menatap kepergian Aurel.


Efek dari semua ini Aurel mengurung dirinya 2 hari dikamar, tidak mau bertemu siapapun. Ia bahkan tidak datang


di acara kelulusan di sekolahnya. Dia sudah sangat benci dengan Daren dan Aurel juga benar-benar menepati janjinya untuk tidak bertemu dengan Daren.


Dan menjadikan malam itu malam terakhir untuk keduanya.


Aurel tersenyum miris, mengingat bad memori tentang ulang tahunnya. Waktu itu Aurel menerima kado dari Daren. Namun tidak ia buka, dan ia menyuruh Bi Darmi untuk membuang atau memusnahkan kado itu.


Sekarang hal yang harus di lakukan Aurel adalah menunggu keberadaan Bi Darmi, untuk menanyakan apakah kado itu masih ada atau, memang benar-benar sudah musnah.


Tok.... tok... tok...


Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Aurel bangkit, dan langsung membuka pintu kamar.


"Bi, Bibi ingat gak? Waktu ulang tahun Aurel yang ke-18, waktu itukan Bibi ngasih kado titipin dari temen Aurel. Yang Aurel gak mau nerima dan Aurel minta ke Bibi buat buang kado itu. Bibi ingat?" ucap Aurel.


"Yang mana ya Non?" ucap Bi Darmi mencoba mengingat-ingat. Maklum beliau sudah tua.


"Yang Aurel suruh buang pokoknya. Itu Bibi buang dimana?" ucap Aurel lagi.


"Oh iya Bibi ingat," ucap Bi Darmi membuat Aurel senang.


"Dimana kadonya? Udah ilang ya pasti?" ucap Aurel.


"Engga Non, Bibi simpan kadonya. Karena Bibi gak tega mau buang kado itu," ucap Bi Darmi.


"Ha? Serius Bi? Dimana?" tanya Aurel antusias.


"Di gudang non. Tapi Bibi juga gak tahu apakah masih ada di sana," ucap Bi Darmi.


"Ya udah ayo kita cari... " ajak Aurel.


Bi Darmi mengangguk, mengiyakan ucapan Bi Darmi.


Mereka berjalan menuju gudang. Gudang di rumah Aurel terletak di belakang rumah, dekat dengan taman bunga milik Vivi.


Bi Darmi membuka pintu gudang. Lalu keduanya masuk kedalam. Bi Darmi mencari-cari kado tersebut.


"Nah ini dia kadonya Non," ucap Bi Darmi Aurel langsung mengambil kado itu. Kadonya masih terbungkus rapih, hanya saja kertas kadonya yang sudah usang dan warnanya luntur, lalu ada bagian di pojok kado yang mungkin sudah di gigit tikus.

__ADS_1


"Makasih ya Bi, kenapa kepikiran buat nyimpen kado ini Bi?" tanya Aurel.


"Iya Non, soalnya kan waktu itu di kasih sama teman Non. Nah teman Non tuh rela hujan-hujanan demi bisa ngasih kado ini. Tapi Non waktu itu gak mau keluar, malah ngusir teman Non," jelas Bi Darmi.


"Oh iya, teman Non waktu itu kenapa mirip sama Den Daren ya?" ucap Bi Darmi. Aurel sedikit kaget, karena Bi Darmi menyadarinya.


"Ya emang itu Daren Bi," ucap Aurel langsung pergi meninggalkan Bi Darmi yang masih kaget dengan ucapan Aurel.


***


Aurel menyiapkan mental untuk membuka kado tersebut. Meski ia sudah tahu apa isi dari kado itu. Aurel membukanya dan melihat ada kotak bludru berwarna biru berbentuk love.


Aurel membuka kotak tersebut. Ia melihat sebuah kalung yang begitu cantik, sama persis dengan apa yang di ceritakan oleh Sofi.


Lalu Aurel menemukan sebuah surat di bawah kotak tersebut. Aurel membuka suratnya.


"Hai Aurel, gue beneran minta maaf atas kejadian semalam. Bukan maksud gue buat ngehancurin pesta ulang tahun lo. Gue tahu lo udah sangat benci sama gue. Lo juga udah gak mau ketemu sama gue. Gue bener-bener nyesel udah buat lo kecewa. Maafin gue Rel. Tolong temuin gue di taman dekat rumah lo jam 7 malam. Lo pake kalung ini ya, sebagai tanda kalau lo udah maafin gue. Gue mau ngomong sesuatu sebelum gue berangkat ke Australia besok. Gue mau ngomong tentang sebenarnya apa yang gue rasain ke lo." "Lo segalanya buat gue Rel."


Aurel mengedipkan matanya beberapa kali. Setelah membaca surat dari Daren.


"Dia datang gak ya malam itu di taman? Dan Daren mau ngomong apa ke gue?" ucap Aurel bertanya-tanya.


***


Daren selesai mandi, jamu itu benar-benar membuatnya kualahan. Lelaki itu duduk di meja makan. Menatap sebuah jam yang sudah menunjukkan pukul 7 malam namun Aurel tidak kunjung pulang juga.


"Aurel kemana ya?" gumam Daren. Daren mengambil ponselnya, dan langsung menghubungi Aurel. Namun tidak di jawab juga.


"Telpon Tissa deh, mana tahu dia lagi sama Aurel. "


Daren memutuskan untuk menelpon Tissa.


"Halo Tissa?"


"Iya Daren kenapa?" tanya Tissa di seberang sana.


"Lo lagi sama Aurel gak?" tanya Daren to the poin. "Ha? Enggak, kenapa emang?"


"Duh, gue kira sama Aurel. Ini dia belum balik dari tadi. Gue bingung kemana tuh anak," ucap Daren. "Kalian berantem?" tanya Tissa.


"Enggak kita gak berantem, " jawab Daren jujur. Karena mereka memang tidak bertengkar kan.


"Terus kenapa Aurel belum pulang sampai sekarang?" tanya Tissa.


"Duh gue gak bisa cerita, " ucap Daren. Ia terlalu malu untuk menceritakan peristiwa tadi.


Daren kaget, ketika Aurel sudah masuk kedalam apartemen.


"Udah ya Tiss, itu Aurel udah pulang. Gue tutup telponnya, " ucap Daren ia buru-buru menutup telponnya dan menghampiri Aurel.


"Rel lo darimana?" tanya Daren. Keduanya saling tatap, Daren bingung kenapa Aurel menatapnya seperti itu. "Lo kenapa? Tenang aja gue udah gak itu lagi kok."


Aurel berjalan kearah Daren. Padangan Daren jatuh pada kalung yang di pakai oleh Aurel.


"Loh kalung itu kan..."

__ADS_1


__ADS_2