
...~Happy Reading~...
"S—Sayang, kamu sudah bangun?" pekik Raka langsung menghapus air matanya.
Ia segera memanggil dokter dari tombol yang ada di atas kepala Ryana. Lalu kembali memeluk istri nya dengan begitu erat. Ia sangat bersyukur dan bahagia karena pada akhirnya ia bisa melihat istrinya sadar kembali.
Sementara itu, Ryana yang kini sudah membuka mata nya dengan sempurna. Hanya bisa terdiam, menatap ke arah sekeliling nya dengan tatapan wajah bingung.
Berulang kali ia mengerjapkan mata nya, sambil terus meneliti keadaan sekitar. Hingga tak berapa lama, ia mendengar suara pintu yang di buka membuat nya langsung mengalihkan pandangan ke arah pintu.
"Om, Ryana sudah bangun!" ucap Raka yang tak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya. Ia masih menggenggam tangan Ryana tanpa berniat untuk melepaskan nya.
"Ryana... " panggil om Kiano tersenyum saat mengecek keadaan nya.
"Dok, dimana Daddy saya?" tanya Ryana begitu lirih bahkan hampir tidak terdengar, "Dan kenapa dia ada disini?"
Deg!
__ADS_1
Seketika itu juga, raut wajah bahagia dari Raka langsung berubah menjadi bingung saat istri nya berusaha melepaskan genggaman tangan nya. Bahkan, tatapan di mata Ryana terasa begitu asing bagi Raka saat keduanya saling menatap.
"Om akan menghubungi daddy kamu ya?" tawar Om Kiano segera mengambil ponsel nya di dalam saku.
"Dokter, apa yang terjadi dengan saya? Kenapa perut saya sangat sakit?" rintih Ryana menggigit bibir bawah nya.
"Sayang, kamu—"
"Jangan ngajak gue berdebat Ka. Pergilah!" usir Ryana membuat Raka langsung membulatkan mata nya dengan sempurna.
"G—gue?" beo Raka mengerutkan dahi nya.
"Sayang, kenapa kamu—"
"Sshhh sayang pala lo peyang. Pergi Ka, lo ngapain sih disini? Apa jangan jangan lo yang udah buat gue ada disini? Lo apain gue hah?" tanya Ryana kembali meringis saat harus berbicara sedikit meninggi kepada Raka.
"Om, kenapa Ryana jadi begini?" tanya Raka menatap om Kiano.
__ADS_1
Sementara itu, Kiano yang juga merasa bingung hanya bisa diam dan berfikir sejenak, "Lebih baik kamu keluar dulu." kata om Kiano mengusir keponakan nya agar keluar.
Setelah memastikan Raka keluar dari ruangan, Kiano segera mengecek kembali perkembangan kondisi Ryana. Namun, sebelum itu dia juga sudah menghubungi beberapa rekan kerja nya agar ikut membantu nya menangani Ryana.
"Amnesia Disosiatif?" beo Raka saat mendengarkan penjelasan dari dokter Frans, selalu dokter syaraf yang menangani Ryana.
"Iya," Dokter Frans nampak menganggukkan kepala nya, "Kondisi ini merujuk pada suatu kondisi amnesia yang dicirikan dengan kehilangan memori akan suatu peristiwa atau kejadian tertentu yang tidak bisa dijelaskan dengan suatu kondisi kehilangan memori biasa."
"Menurut saya, apa yang di lalui oleh Ryana beberapa waktu yang lalu, mengakibatkan trauma yang cukup dalam untuk dia. Sehingga, alam bawah sadar nya menolak untuk mengingat semua kejadian demi kejadian itu dan menyebabkan nya mengalami Amnesia Disosiatif," jelas dokter Frans panjang lebar.
Raka dan semua orang yang ada di sana hanya mampu terdiam. Tidak bisa di pungkiri, memang apa yang menimpa Ryana kala itu sangat menyakitkan.
Dimana ia hanya sendirian, berperang melawan Winda dalam kondisi hamil besar. Tidak hanya itu, bahkan di tubuh nya terdapat beberapa bekas tusukan sebuah benda tajam, dan yang paling fatal saat dimana dia harus merasakan tusukan itu mengenai perut besar nya.
Ryana terus menjerit dan meminta tolong kepada siapapun, namun tidak ada satu orang pun yang datang untuk menolong.
Dan semua kejadian itu tak luput hanya karena permasalahan hati, dimana pembantu rumah tangga nya menyimpan perasaan atau obsesi kepada suami nya sendiri.
__ADS_1
Siapa yang kuat untuk menyimpan dan mengingat lika separah itu? Di tambah ia harus kehilangan tiga bayinya sekaligus. Dan mungkin, inilah cara Tuhan agar Ryana memulihkan kondisinya terlebih dulu sebelum ia harus kembali di hantam badai besar saat mengetahui ia sudah kehilangan tiga bayi sekaligus.
...~To be continue... ...