MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
GARA-GARA JAMU


__ADS_3

Aurel menatap wajahnya sembari menggosok gigi. Ia bergidik ngeri, ketika mengingat mimpinya semalam.


"Ih, kenapa coba gue mimpi kayak gitu," gumamnya. "Ayo dong ilang! Delete cepat dari memori otak lo Aurel!"


Semalam, Aurel mimpi mempunya tiga anak. Bayangkan, tiga anak yang sangat membuatnya kerepotan. Saat bangun pagi, ia menangis karena mimpi tersebut.


Tok... tok... tok....


"Rel udah belum? Gue mau ngantor loh!" teriak Daren dari luar kamar mandi. Aurel membersihkan mulutnya dari busa..


"Iya bentar!" ucap Aurel. Lalu perempuan itu keluar dari kamar mandi. Keduanya saling tatap di ambang pintu.


"Mama Abang nakal..." Tiba-tiba ja teringat mimpinya. Aurel menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan mimpi itu dari kepalanya.


"Kenapa sih lo? Aneh banget," ucap Daren sembari masuk kedalam kamar mandi.


"Duh otak gue kenapa sih!" ucap Aurel. "Perasaan sengaja keramas, biar bisa berpikir lebih frash, eh taunya keinget terus!"


Aurel duduk di meja riasnya. Dan langsung melakukan aktifitas seperti biasa. Walau terkadang, ia masih sering teringat dengan mimpi buruk semalam.


***


Tissa mengedipkan matanya berkali-kali. Menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya.


Setelah nyawanya terkumpul, ia baru merasakan ada sesuatu yang memeluknya begitu erat.


Tissa mendongak, dan ia sangat kaget karena melihat Aldino tengah tertidur pulas sembari memeluknya. Namun Tissa bernafas lega, karena pakaian mareka masih utuh. Itu menandakan kalau mereka tidak melakukan apa-apa semalam.


"Al... bangun... " ucap Tissa begitu lembut membangunkan Aldino.


"Bentar lagi ya sayang, masih ngantuk... " jawab Aldino tanpa membuka matanya. Bukan hanya itu, lelaki itu malah bertambah memeleuk Tissa erat. Tissa


tertegun ucapan Aldino.


"AI, ini gue Tissa," ucap Tissa. Seketika Aldino membuka matanya. Secera reflek ia langsung melepaskan pelukannya juga.


"Sorry Tissa, gue..." ucap Aldino gugup bahkan lelaki itu tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Iya. Gue ngerti kok," jawab Tissa. "Hari ini kan senin, ke kantor kan? Ya udah gih lo pulang, terus siap-siap deh," saran Tissa.


Aldino mengangguk, masih mengumpulkan nyawanya. Tissa bangun, dan langsung berjalan menuju kamar mandi.


Aldino mengambil ponselnya. Ia langsung menghubungi Aurel. Aktif, namun belum di jawab.


Lelaki itu memilih untuk mengirimkan pesan.


Selamat pagi sayang, kaki kamu gimana? Maaf banget baru ngabarin. Ponsel aku lowbat dari semalam.


Setelah mengirimkannya. Daren langsung berdiri dan keluar dari kamar Tissa. Rencananya ia akan langusng pulang. Mengingat akan ada meeting jam 9 nanti.


***


Aurel bersungut kesal. Ketika membaca pesan singkat dari Aldino.

__ADS_1


"Pake alasan ponsel lowbat lagi," ucap Aurel.


Aurel tidak membalas pesan Aldino . Aure ingin melihat seberapa keseriusan dari Aldino. Aurel memakan rotinya.


"Rel! Kaus kaki gue dimana?" teriak Daren dari dalam kamar.


"Di lemari!" balas Aurel dengan teriakan juga. "Gak ada!" ucap Daren. Aurel bangkit, kakinya masih lumayan sakit. Namun lebih baik dari kemari. Ia melihat Daren yang mengacak-acak lemari.


"Ko di acak-acak sih!" ucap Aurel sebela. Daren menyengir.


"Minggir-minggir! Biar gue yang cari!" ucap Aurel. Daren mundur selangkah. Aurel sedikit berjinjit karena jarak kaos kaki begitu jauh dia atas sana.


Namun ternyata kakinya belum cukup kuat untuk menopang berat badannya saat akan jatuh, Daren dengan sigap menangkapnya. Keduanya saling tatap, jantung Daren berdrtak lebih kencang.


Bukan cuma Daren tapi juga Aurel. "Jantung gue kenapa... " batin Aurel. Daren masih saja mengunci tatapan mata Aurel.


Aurel bangkit, entah kenapa keduanya malah jadi gugup begini.


"Nih kaus kaki lo," ucap Aurel memberikannya.


"Makasih," ucap Daren. Aurel segera pergi. Ia melanjutkan sarapannya lagi. Tiba-tiba seseorang menekan bel apartemen.


Aurel berjalan dan membuka pintu.


"Selamat pagi Mbak Aurel," ucap Bu Retno di depannya.


"Selamat pagi Tan, " balas Aurel begitu ramah. Karena kan memang Bu Retno sudah baik kepadanya.


"Mau berangkat kerja ya?" tanya Bu Retno.


"Gak usah. Di sini aja, ini Tante tadi buat sarapan buat kalian," ucap Bu Retno.


"Wah makasih ya Tan, oh iya buat makanan kemarin juga masih ya. Masakan Tante enak banget!" ucap Aurel jujur.


"Tante seneng kalau kamu sama Daren suka," ucap Bu Retno. "Oh iya ini ada jamu. Tante sendiri yang bikin. Ini buat kamu, untuk menyuburkan kandungan."


Aurel menerima botol jamu tersebut.


"Men... menyuburkan kandungan?" ucap Aurel kaget.


"Iya, dan ini buat Daren... " Bu Retno memberikan lagi dengan botol yang berbeda. Bahkan ada namanya.


"IL... ini buat apa Tan? Kan Daren gak punya kandungan," ucap Aurel dengan polosnya.


Bu Retno tersenyum mendengar ucapan Aurel. "Ini untuk meningkatkan kualitas ******, dan biar.... tahan lama..."


Bu Retno membisikkannya kepada Aurel di akhir kalimat.


Aurel syok, mendengar ucapan Bu Retno. "Njir tahan lama? Apa yang di maksud Tante Retno itu..."


"Gimana paham kan Rel, silakan di minum kalau malam. Sebelum beraktivitas tentunya," sambung Bu Retno.


Aurel mengangguk, meski pikirannya sudah bercabang. Tapi Aurel tetap mencoba mencerna ucapan Bu Retno.

__ADS_1


"Makasih ya Tan," ucap Aurel.


Bu Retno mengangguk. "Kalau begitu Tante pamit dulu ya. "


Lalai beliau pergi dari hadapan Aurel. Aurel segera menutup pintu. Ia menatap kedua botol di tangannya.


"Menyuburkan kandungan? Biar tahan lama?" gumam Aurel menatap kedua botol bertuliskan namanya dan Daren.


"Gila! Beneran mati berdiri gue!" ucap Aurel. Perempuan itu berjalan di meja makan.


Meletakkan makanan dan botol jamu tersebut.


Aurel menghela nafas panjang. Mencoba menenangkan dirinya. Ini masih pagi, tapi sudah sangat membuat Aurel kesal.


"Aduh pengen pipis lagi," ucap Aurel. Perempuan itu beranjak berjalan menuju toilet.


Bertepatan saat itu, Daren keluar dari kamar. Ia sudah rapih, tinggal memakai jasnya. Namun saat melihat meja makan ia terfokus dengan botol yang bertuliskan namanya.


"Daren? Apa ini?" gumam Daren. Daren penasaran, tangannya mengambil botol tersebut. Daren membuka tutup botol tersebut. Ia mencium bau minuman itu.


"Jamu? Jamu gue udah dateng?" ucap Daren sembari tersenyum senang. Kebetulan sekali, kemarin Daren memesan jamu.


"Tapi kok dua? Buat Aurel juga?" ucap Daren masih terheran-heran.


Daren menggaruk bagaian belakang telinganya yang tidak gatal.


"Bonusan kali ya? Atau mungkin Aurel juga pesen jamu pegel linu kayak gue?" ucap Daren kepada dirinya sendiri.


Tanpa banyak pikir, Daren langsung meminum jamu tersebut.


Tidak sampai habis karena tiba-tiba.


"Stop!" teriak Aurel dari belakang Daren.


"Apaan sih? Orang mau minum jamu di larang," ucap Daren.


Daren mencoba untuk meminum jamu itu.


"Itu jamu kuat!" ucap Aurel seketika Daren melepehkan cairan jamu yang tersisa di mulutnya.


"Yang bener loh? Bukan jamu pegel linu pesenan gue?" ucap Daren mulai panik.


"Itu di kasih Bu Retno barusan... " ucap Aurel sudah lemas. Tidak tahu harus berekspresi apa.


"Kenapa lo minum..."


"Gue kira jamu pesenan gue... terus gimana dong? " ucap Daren. Aurel menggelengkan kepalanya.


Keduanya diam sejenak. Larut dalam pikiran masing-masing.


"Rel.... " ucap Daren.


"Apa?" Aurel mendongak menatap Daren.

__ADS_1


"Dia bangun... gimana dong? "


__ADS_2