
"Iya jadi dulu tuh Daren pernah bantuin Mami buat kue. Eh
bukannya jadi malah bentuknya gak jelas," ucap Sarah sembari tertawa.
"Mi... udah deh. Bongkar aib terus," tegur Daren dari ruang tengah.
"Orang ini bukan aib kok. Mami kan cuma cerita," sahut Sarah.
Daren mengangguk, ia fokus dengan PS di depannya.
"Oh iya Ma, gimana Ali sama Ruby udah berhasil di temuin?" tanya Aurel beralih keperbincangan serius.
Vivi dan Sarah saling pandang.
"Udah. Kita udah berhasil menemukan keberadaan mereka," ucap Vivi.
"Dimana mereka Ma?" tanya Aurel lagi.
"Mereka ada di Australia. Ternyata alasan mereka kabur itu karena mengejar cita-cita mereka buat kuliah di sana," ucap Vivi. Aurel terdiam, ternyata juga Daren mendengarkan percakapan itu.
"Tuh anak bener-bener deh..." gumam Aurel sembari *******-***** adonan di tangannya.
"Nomornya Ruby udah bisa di hubungi, Mi?' tanya Daren kepada Maminya.
"Gak tahu. Mami belum coba hubungi Ruby lagi," jawab Sarah.
Daren mengambil ponselnya. Dan langsung mencoba untuk menelpon Ruby.
Tut... tut... tut....
"Nyambung?" tanya Aurel karena mendengarnya.
Daren hanya mengangguk.
"Halo..." ucap Daren setelah Ruby mengangkat telponnya. Semua orag menatap kearah Daren.
"Loud speaker!" ucap Aurel tanpa suara. Daren menurut, ia menekan tombol loud speaker.
"Abang... " ucap Ruby lirih dari seberang sana.
"Ruby? Kamu apa kabar?" tanya Daren begitu lembut.
"Ma... maafin Ruby." Ruby tidak menjawab pertanyaan Daren. Semua terdiam, terdengar suara isak tangis yang begitu jelas.
"Abang udah maafin Ruby kok. Mami sama Papi juga... " ucap Daren.
"Ta... tapi gara-gara Ruby, abang menikah dengan Kak Aurel," ucap Ruby masih dengan di iringi tangis yang terdengar.
"Gak pa-pa, mungkin semua ini sudah takdir," ucap Daren sembari menatap Aurel.
"Malah Abang berterima kasih By, karena kamu Abang menikah dengan Aurel," batin Daren.
"Ruby..." ucap Sarah langsung mengambil alih ponsel Daren.
"Mami? Mami benci sama Ruby, ya?" ucap Ruby kepada Maminya.
"Enggak sayang, Mami gak pernah benci sama Ruby," ucap Sarah dengan air mata yang menetes. "Ruby cepat pulang ya. Mami kangen banget sama Ruby."
"Iya Mi, malau libur semester Ruby pasti pulang," ucap Ruby. "Sekali lagi maafin Ruby dan Ali. Kita cuma pengen mengejar cita-cita kita."
__ADS_1
"Iya sayang, kamu harus pulang. Mami kangen banget sama kamu. Mami gak tenang selalu kepikiran sama kamu terus," ucap Sarah mengungkapkan isi hatinya.
"Iya Mi, Ruby pasti pulang. Udah dulu ya, kelas mau mulai, Ruby mau prepared dulu," ucap Ruby.
"Iya sayang nanti telpon Mami lagi ya... " ucap Sarah.
"Iya Mi, Assalamualaikum... titip salam buat Kak Aurel sampaikan maaf Ruby sama Kak Aurel," ucap Ruby sebelum akhirnya mematikan sambungan telpon.
"Aurel maafin Ruby kan?" ucap Sarah menatap Aurel.
Aurel mengangguk, Sarah langsung memeluk Aurel. "Mami tahu Aurel anak yang baik. "
***
Tissa menghela nafas, melihat darah yang begitu banyak keluar dari tangan Aldino.
"Kotak obat dimana?' tanya Tissa mengobrak-abrik isi mobil Aldino.
Aldino membuka salah satu dashboard mobil di depannya.
Lalu memberikan kotak obat kepada Tissa. Tissa menarik tangan Aldino dan langsung membersihkan darahnya dengan alkohol.
"Shhh....." Aldino meringis merasakan sakit di sekujur tangannya.
"Gue gak mau liat lo nekat kayak tadi. Ini untung cuma tangan yang kena. Gimana kalau sampai perut? Jantung? Atau organ lainnya?" omel Tissa.
"Ini bukan luka besar. Cuma tergores," jawab Aldino.
"Gue gak yakin setelah ini lo bakalan aman, Al..." ucap Tissa dengan serius. Perempuan itu membalut luka Aldino dengan perban.
Aldino diam, menunggu Tissa melanjutkan ucapannya.
"Gue gak takut... " balas Aldino dengan santainya.
"Gue takut lo kenapa-napa... " ucap Tissa.
"Gue gak akan kenapa-napa," ujar Aldino.
Tissa menghela nafas. Perempuan itu menyandarkan kepalanya pada jog mobil.
"Gue harap lo benaran gak kenapa-napa...." ucap Tissa lirih.
"Lo tenang aja okey, gue bisa ngatasin Steven dan teman-temannya... " ucap Aldino.
Tissa hanya diam, sembari mengangguk.
Aldino pun melanjutkan perjalanannya menuju apartemennya.
***
"Daren! Bisa gak sih gak usah jahil!" teriakan Aurel memenuhi dapur.
Daren hanya tertawa, melihat wajah Aurel yang penuh dengan terigu, serta adonan kue.
"Lucu banget sih? Cantik banget!" ucap Daren sembari tertawa.
"Sialan lo ya!" ucap Aurel sudah habis kesabarannya. Ia mengejar Daren untuk mengolesi adonan kue yang ada di tangannya ke wajah Daren.
"Heh jangan kabur lo!" teriak Aurel. Daren berhenti di halaman belakang.
__ADS_1
Aurel menarik bagian belakang baju Daren dan langsung mengolesi wajah Daren dengan adonan kue.
"Astaga... muka gue... " ucap Daren.
"Mampus! Azab tukang jahil ya gini! Haha..." ucap Aurel sembari tertawa.
Daren menatap Aurel kesal. Lelaki itu langsung mendorong Aurel ke kolam renang. Membuat Aurel jatuh kedalam kolam renang.
"Woy Daren! Anjing lo ya!" teriak Aurel membuat Daren tertawa terbahak-bahak. Aurel sudah kesal, tingkat kekesalannya sudah sampai ke ubun-ubun. Daren duduk di kolam renang.
Tiba-tiba dari bawah Aurel menarik kaki Daren membuat lelaki itu jatuh di dalam kolam renang.
"Haha... rasain lo!" teriak Aurel. Daren terlihat panik, ia tidak bisa berenang. Membuat ia mengacungkan tubuhnya di atas kolam.
Aurel menghentikan tawanya. Daren tidak bergerak, malah kedua matanya terpejam.
"Daren!" ucap Aurel menggoyangkan tubuh Daren.
"Heh setan! Bangun jangan bercanda deh!" ucap Aurel menggoyangkan tubuh Daren lagi. Namun tetap, Daren sama sekali tidak bergeming.
"Daren ih!" ucap Aurel semakin panik. Aure mencoba membawa tubuh Daren ke pinggir kolam renang.
"Duh mana berat banget lagi! Nih anak makannya apa sih?" gumam Aurel.
Aurel berhasil membawa Daren ke pinggir kolam. Sekarang ia mencoba menaikkan tubuh Daren.
"Huh," Aurel menghela nafas.
"Daren! Bangun!" ucap Aurel menampar-nampar wajah Daren agar lelaki itu bangun.
Namun nyatanya Daren tidak kunjung bangun.
"Duh gimana? " gumam Aurel. Aurel hanya dirumah berdua dengan Daren karena para Mami sedang belanja di supermarket.
Aurel mengamati Daren. "Masa gue ngasih nafas buatan?"
Aurel mendekatkan wajahnya kewajah Daren dengan ragu. Lalu ia memberi nafas buatan untuk Daren. Aurel mengangkat kepalanya, melihat mulut Daren mengeluarkan air.
"Daren... lo gak kenapa-napa?" tanya Aurel.
Daren batuk, dan mencoba untuk duduk.
"Sorry... sorry gue gak tahu kalau lo gak bisa berenang," ucap Aurel.
"Gak pa-pa. Gue udah gak pa-pa kok. By the way, kenapa gue bisa sadar?" ucap Daren.
Aurel membulatkan matanya, secara alami kedua pipinya sudah memerah ia malu jika Daren tahu tentang peristiwa tadi. Daren menatap Aurel menyelidik.
"Lo..."
"Enggak! Gue gak kasih nafas buatan buat lo!" jawab Aurel padahal Daren belum mengatakannya.
Daren tersenyum mendengar ucapan Aurel.
"Jadi lo ngasih nafas buatan buat gue?" ledek Daren. Aurel semakin membulatkan matanya.
"Bilang aja iyakan?" ucap Daren menggoda Aurel.
"Lo cium gue kan?"
__ADS_1