MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
CANDU MIE REBUS


__ADS_3

Daren menguap, merasakan hampir setengah abad dia menunggu mie rebus buatan Aurel. Meski bau mie rebus sudah mulai memenuhi indera penciumannya.


"Rel, masih lama ya?" ucap Daren dengan nada bicara yang lemas.


"Enggak kok bentar lagi," jawab Aurel.


Daren menopang dagunya. Masih menatap Aurel dari belakang. Dan benar, setelah itu Aurel datang membawa semangkuk mie rebus untuk Daren.


Daren sangat kagum dengan bau khas mie rebus tersebut. Aurel duduk dengan mie rebusnya sendiri.


Keduanya nampak berdoa dalam hati. Lalu siap menyantap mie di hadapan mereka. Daren memakannya dengan lahap,


karena ia merasa sangat enak. "Enak banget!" puji Daren.


"Biasa aja deh lo kalau makan. Udah kayak kesurupan reog," ucap Aurel.


Daren menyengir mendengar ucapan Aurel.


"Tapi gak boong, gak lebay. Ini enak loh," ucap Daren. "Lo harus janji sama gue, buat setiap hari masakin gue mie rebus ini."


Aurel mengambil minumnya. Lalu meminumnya.


"Ogah, emang gue siapa? Babu lo?" ucap Aurel setelah minum.


"Lo kan istri gue. Jadi lo harus nurutin kemauan gue, lah.. " ucap Daren.


"Iyain dah iyain!" ucap Aurel akhinya mengalah.


"Yes!" sorak Daren, bak menang di sebuah pertandingan.


Aurel hanya tersenyum tipis menatap Daren. Entah dorongan dari mana, Aurel mengambil tissu dan mengelap sudut bibir Daren.


Daren tertegun, dengan apa yang dilakukan oleh Aurel barusana.


"Eh tadi ada kuahnya," ucap Aurel sadar dengan apa yang ia lakukan.


"Duh, bodoh banget sih lo, Rel!" batin Aurel merutuki dirinya sendiri.


"Iya gak pa-pa kok," jawab Daren.


Keduanya hening, mungkin karena canggung dengan apa yang mereka lakukan tadi.


Aurel memilih membereskan mangkuk, lalu mencuci semua piring-piring dan alat masak. Tiba-tiba kran air yang ia putar lepas. Membuat baju Aurel basah kuyup karena hal ini. Daren berjalan kearah Aurel.


Mencoba membantu Aurel untuk menutup kembali krannya. Alhasil, baju yang di pakai Daren juga basah semua.


"Lah anjir malah jadi basah gini!" ucap Aurel. Daren berhasil menutup kran.


"Lo gak pa-pa?" tanya Daren.


"Kan basah," jawab Aurel. "Eh iya."


"Ya udah gue mandi dulu deh. Lo bisa benerin kan?" tanya Aurel.


Daren menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Nanti gue panggil orang aja buat benerin."


Aurel mengangguk. Perempuan itu langsung masuk kedalam kamar mandi.


***


Daren menatap TV di depannya. Tangannya terus menekan remote mencari-cari acara TV yang bagus.


Aurel keluar dari kamar. Ia sedikit melirik Daren, lalu berjalan lagi menuju dapur. Mengambil minum di dalam kulkas. Setelah selesai, Aurel kembali berjalan menuju kamarnya.


"Jadi gue tidur di luar lagi?" tanya Daren.


Aurel menatap Daren, dengan tangan yang ia taruh di pinggang.


"Menurut lo?" ucap Aurel.


"Mau banget tidur sama gue?"


"Enggak sih, cuma kan di ruang TV banyak nyamuknya, " ucap Daren sembari menepuk sesuatu di udara.


"Tuh kan segede lo," ucap Daren menunjuk nyamuk yang baru saja ja dapatkan.


"Oke, tunggu bentar. " Aurel masuk kedalam kamar.


Daren tersenyum karena sepertinya Aurel mengizinkan mereka untuk tidur bersama.


Aurel keluar kamar, membawa raket nyamuk untuk Daren. "Nih."


"Kok raket nyamuk?" ucap Daren penuh kebingungan.


***


Tissa merenggangkan badannya. Ia merasakan tubuhnya begitu sakit, karena salah tidur. Ia mengambil kunciran lalu menguncir rambutnya. Ia melihat jam dinding di kamar. Ternyata, pukul 11 malam.


Tissa keluar kamar, ia kaget melihat Aldino yang tertidur di sofa.


"Lah Aldino belum pulang?" gumam Tissa. Tissa masuk lagi ke kamarnya. Ia mengambil selimut untuk Aldino.


Tissa menyelimuti Aldino. Sembari mengusap keringat di kening lelaki itu. Tissa tersenyum, dengan cara seperti ini ia bisa mengamati wajah Aldino jauh lebih dalam. Mengusap-usap kepalanya, dan tentu bisa mengapresiasikan perasaannya.


"Mungkin, kalau yang kamu cinta aku. Kita bakalan bahagia," ucap Tissa. "Setidaknya akan ada warna baru di hidup aku, Al. "


Tissa beranjak dari tempat duduknya. Ia langsung kembali ke kamar. Tidak mau menganggu tidur Aldino. Tissa duduk di kursi membuka ponsel. Hal yang pertama ia lihat adalah wajah Aurel dan dirinya.


Memang, wallpaper ponsel Tissa adalah foto mereka berdua.


"Rel, gimana ini? Perasaan gue makin dalam. Kalau suatu saat gue khilaf gimana? Gue gak mau


korbanin persahabatan kita."


Tissa menempelkan kepalanya diatas meja. Ujian persahabatan memang seperti ini. Ketika ia harus mencintai kekasih sahabatnya. Jika memilih, Tissa lebih memilih untuk tidak memiliki perasaan ini.


***


Aurel membuka matanya. Ketika mendengar suara petir di luar. Hujan begitu deras, membuat Aurel semakin mengeratkan selimut di tubuhnya. Entah kenapa ia tidak bisa tidur. Padahal baru pukul 3 dini hari.

__ADS_1


Sebenarnya ada beberapa hal yang menganggu pikirannya. Tentang ucapan Sofi tadi. Apa mungkin Aurel harus menanyakan lagi perihal ini kepada Sofi? Aurel menggelengkan kepalanya. Mengusir jauh-jauh pikiran itu.


"Kesannya gue ngarep Daren suka sama gue gak sih?" gumam Aurel. "Gue kenapa coba. Jelas-jelas gue udah punya Aldino. Ngapain masih ngarepin Daren. "


Aurel menghela nafas. Ia memiringkan tubuhnya. Lalu tiba-tiba ia melihat sebuah tikus yang melintas di bawah sana. Aurel kaget, sontak ia langsung lari meninggal kamar.


"Daren!" ucap Aurel. Daren kaget karena mendengar teriakan Aurel.


"Rel lo kenapa?" ucap Daren panik, apalagi nyawanya belum terkumpul.


Aurel duduk di sebelah Daren. Bahkan sangat dekat.


"Ada tikus," ucap Aurel.


"Dimana?" ucap Daren mengerutkan keningnya.


"Di kamar, gue gak mau tidur di kamar." Aurel mulai panik. Daren menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Terus mau tidur dimana?" tanya Daren.


"Disini, boleh ya..." ucap AurAurel


Gue tidur dimana?" tanya Daren.


"Disini berdua. Masih cukup kok," ucap Aurel menggeser tubuhnya. Daren diam sejenak. Bukankah ini kesempatan baginya? Daren memiringkan tubuhnya.


Barulah Aurel bisa merebahkan tubuhnya.


"Sempit banget," gumam Daren.


"Gue meluk lo boleh? Kalau enggak nanti lo jatuh. "


Aurel mengangguk meski ragu. Sementara Daren hanya tersenyum menerima respon Aurel. Daren memeluk Aurel dari belakang. Membiarkan lengan tangannya


menjadi bantalan untuk Aurel.


Aurel sendiri gugup, karena merasakan nafas Daren berada di belakang telinganya. Sedikit saja Aurel mendongak pasti Daren akan mencium pipinya.


"Lo risih ya?" bisik Daren tepat di telinganya.


Aurel diam, tidak menjawab ucapan Daren.


"Janji! Jangan ngapa-ngapain gue!" ucap Aurel.


"Iya-iya, emang gue semesum itu apa!" ucap Daren.


Suasana kembali hening, lama kelamaan Aurel merasa begitu nyaman di peluk oleh Daren dari belakang. Perempuan itu sudah mulai memejamkan matanya menyelam ke alam mimpi.


Daren belum tidur lagi. Meski ia sudah mendengar dengkuran halus dari Aurel. Tangannya terasa sakit, tetapi ia nampak menikmatinya.


"Apapun, asal sama lo gue rela Rel, " bisik Daren.


Tanpa di ketahui Daren, Aurel membuka matanya. Ia kaget dengan ucapan Daren barusan.


"Gue gak salah dengar kan?" batin Aurel.

__ADS_1


__ADS_2