
"Sayang masih ngambek?" ucap
Daren kepada Aurel. Aurel
sebenarnya sudah tidak marah tapi
ia ingin mengerjai Daren.
"Sayang!" ucap Daren. Daren
menghentikan mobilnya. la
langsung menatap Aurel. "Masih
marah? Kok hobinya marabh sih? "
"Lo juga hobinya ngeselin," balas
Aurel tidak kalah pedas. Daren menarik Aurel, langsung
mencium bibir perempuan itu.
Kali ini beda lebih kasar, dan lebibh
menuntut. Aurel memukul dada
Daren begitu ia kehabisan
nafasnya.
Daren melepaskan ciuman mereka.
"Gimana masih marah? "
"Gak lo nyebelin banget. Gue
hampir aja mati kehabisan nafas,
jawab Aurel mengusap bibirnya.
Aurel melihat lipstiknya yang
nampak berantakan di kaca spion tengah."By the way, lipstik hari ini rasa
coklat kan?" ucap Daren. Daren
menjilat bibirnya sendiri. "Manis..."
Aurel tidak menghiraukan ucapan
Daren. la fokus untuk
membenarkan lipstiknya.
"Ayo jalan, udah siang nih," ucap
Aurel.
"Udah kayak nyuruh supir angkot
aja," ujar Daren melirik Aurel.
Aeskipun begitu, Daren tetap menurut lelaki itu menjalankan mobilnya. Tiba-tiba
ponsel Aurel berbunyi. Ada sebuah
panggilan masuk.
"Siapa?" tanya Daren melirik
sekilas layar ponsel Daren.
"Pak Gunawan, tumben nelpon,"
ucap Aurel. Aurel langsung
mengangkat telpon tersebut.
"Halo selamat pagi Pak," ucap
Aurel.
"Aurel, hari ini kamu bisa temuin
saya?" ucap Pak Gunawan."Berarti saya ke kantor langsung
aja ya Pak." Aurel mengerutkan
kening. "Saya juga akan membawa
berkas yang kemarin di minta
Anjani. "
"Iya, kamu langsung kesini saja,'
ucap Pak Gunawan langsung
mematikan telpon.
"Kenapa?" tanya Daren melirik
Aurel.
"Gue harus ke kantor. Bisa
berhenti gak? Biar gue turun disini
aja," ujar Aurel kepada Daren."Ngapain? Gue anter aja, " ucap
Daren menawarkan diri.
"Lo kan harus kerja. Ini jam
berapa coba. Bakalan telat kalau
harus nungguin gue," ucap Aurel
tidak mau diantarkan Daren.
"Tapi kan..."
"Ya udah iya. Tapi gak boleh
masuk, ya," ucap Aurel. Daren
mengangguk, ia langsung memutar
mobilnya. Karena memang kantor
Aurel sudah terlewat sejak tadi.*** Aurel turun dari mobil Daren. la
menyuruh Daren untuk parkir
mobil jauh dari kantor. Agar
orang-orang tidak tahu kalau Aurel
di antar Daren ke kantor.
Aurel masuk kedalam kantor di
sambut dengan satpam yang
ramah. Saat masuk ke kantor
terlihat beberapa karyawan yang
berpapasan dengan Aurel
berbisik-bisik entah apa yang
sedang mereka bicarakan.
"Orang-orang kenapa sih?"
gumam Aurel. Ia berhenti di di depan cermin. Menatap apakah ada yang salah
dengan pakaiannya. Tapi ternyata
tidak, semua aman. Dan baik-baik
saja.
Aurel memilih untuk
mengacuhkan mereka. Tidak
perduli dengan apa yang mereka
__ADS_1
bicarakan. Sampai akhirnya ia
sampai di ruangan Pak Gunawan.
Aurel mengetuk pintu.
Tok... tok... tok..
"Masuk!" ucap Pak Gunawan dari
dalam ruangan. Aurel membuka pintu, ia melihat ada Anjani yang
sedang tersenyum sinis kepadanya.
"Selamat pagi, Pak... " ucap Aurel.
"Silakan duduk Aurel," ucap Pak
Gunawan. "Mana berkas yang saya
minta?"
Aurel membongkar tasnya untuk
mencari berkas yang sebelumnya
sudah ia siapkan sejak tadi. Tapi
kenapa berkas itu tidak ada?
"Rel Pak Gunawan minta
berkasnya? Gak lo bawa ya berkasnya? " Ucap anjani mulai kompor.
"Saya bawa kok Pak, tapi kenapa
gak ada ya... " ucap Aurel masih
mengobrak-abrik tasnya.
"Alah, pasti lo belum selesaikan
buat laporannya? Asik jadi
simpenan Pak Daren sih," cibir
Anjani. Aurel menatap Anjani
tidak suka. Kenapa harus bahas itu
sekarang sih?
"Oh iya Aurel, menurut info yang
saya dapatkan benar kamu
menjalin hubungan dengan Pak Daren?" sahut Pak Gunawan.
"Saya tidak melarang kamu untuk
berhubungan dengan siapapun."
"Tapi tolong, jaga nama baik
kantor kita. Kita sudah sama-sama
tahu kalau Pak Daren sudah
beristri, tapi kamu malah menjalin
hubungan dengan Pak Daren.
Kamu mau membuat nama kantor
kita buruk?" ucap Pak Gunawan.
Tebakan Aurel benar, Anjani
sudah menyebarkan fitnah ini.
Pantas saja setiap karyawan yang Berpapasan dengan menatap Aurel aneh. Aurel menunduk
mendengarnya. la bingung harus
menjawalb gimana.
"Kamu tahu maksud saya kan?"
mengangguk. Mungkin jika
sekarang Aurel jujur kalau
sebenarnya ialah istri sah Daren,
baik Anjani maupun Pak Gunawan
tidak akan percaya.
Dan semua itu juga tidak ada
gunanya. Jadi untuk apa kan?
Tok... tok... tok.. Seseorang mengetuk pintu. Aurel
masih menunduk tidak berani
untuk sekedar melihat siapa yang
datang.
"Masuk!"
Daren masuk kedalam ruangan,
membawa sebuah berkas. Berkas
yang tidak sengaja di tinggalkan
Aurel di mobil Daren.
"Pak Daren... " ucap Pak Gunawan
terlihat segan.
Aurel mendongak, menatap Daren.kenpa Daren bandel jelas-jelas Aurel sudah wanti-wanti agar
lelaki itu jangan turun, atau
menyusul tapi kenapa tetap saja
nekat seperti ini.
"Ini saya mau memberikan berkas
yang bapak minta. Tadi Aurel
ceroboh meninggalkannya di mobil
saya," ucap Daren. Seterika Aurel
melebarkan matanya. Ini bukan
waktu yang tepat, tapi kenapa
Daren malah jujur?
"Oh iya satu lagi Pak. Saya mau
meluruskan fitnah yang sudah tersebar. Memang bener saya, Aurel memiliki hubungan spesial,"
ucap Daren. Anjani dan Pak
Gunawan saling pandang. Aurel
hanya memejamkan matanya. Apa
yanh akan di lakukan oleh Daren?
"Dan Aurel ini istri sah saya!" ucap
Daren mempertegas ucapannya di
bagian kalimat 'istri sah' agar
Anjani dan Pak Gunawan paham.
"Loh? Gak mungkin kan istri sah?"
ucap Anjani kaget. la nampak
__ADS_1
tidak terima dengan ucapan
Daren."Gak percaya? Gue punya bukti,"
ucap Daren. Daren mengambil
ponselnya. Lalu menunjukkan
wallpaper ponselnya kepada Pak
Gunawan dan Anjani. Anjani
diam, sudah tidak tahu mau
berbicara apa.
Aurel kepo, apa yang di tunjukkan
Daren. la melirik sekilas ketika
Anjani nemberikan ponsel Daren
kepada Daren. Dan ternyata foto
pernikahan mereka.
"Udah jelas kan? Kalau saya sama Aurel. Sudah menikah sejak satu bulan lalu," ucap Daren. Aurel
tersenyum puas apalagi ketika
melihat wajah Anjani yang kaget,
dan manahan malu.
"Maaf Pak saya benar-benar tidak
tahu. Aurel, maafkan saya
Sudah menuduh kamu, " ucap Pak
Gunawan tidak enak.
"lya Pak, " jawab Aurel.
"Kalau begitu Pak, saya dan istri
saya pamit undur diri," ucap
Daren. Daren mnengenggam tangan
Aurel erat. Lalu mereka berjalan keluar ruangan. Di luar ruangan
sudah banyak karyawan lain yang
kaget melihat Daren dan Aurel
pegangan tangan secara
terang-terangan.
"Wow berani banget, udah
publish. Nasib istri sahnya Pak
Daren gimana ya?" ucap salah satu
karyawan. Dan itu sangat jelas di
telinga Daren dan Aurel.
Daren menghentikan langkah
kakinya. "Baiklah, berhubung saya
mendengar kabar kurang baik pagi ini saya mau meluruskan kalau sebenarnya Aurel silviana Adicipta
adalah istri sah saya."
Sontak mereka semua ribut
mendengar ucapan Daren. Ada
yang kaget, bahkan ada juga yang
tidak percaya dengan apa yang di
ucapkan oleh Daren.
Daren tidak terlalu memasingkan
itu. la langsung mengajak Aurel
untuk segera pergi dari tempat ini.
"Huh lega banget sumpah," ucap
Aurel begitu keluar dari gedung
kantor."Lo liat gak tadi, wajahnya Anjani?
Sumpah ngakak banget," sambung
Aurel. Kini perempuan itu tertawa
mengingat ekspresi wajah Anjani.
"Dia emang pantes digituin, udah
fitnah lo, kan gue geram sama dia.
Kalau bukan lo yang minta,
dengan gampangnya gue bisa buat
dia kehilangan pekerjaannya,"
ucap Daren masih kesal.
"Stt.... gak boleh gitu. Yang
penting sekarang nama baik gue
udah balik lagi di kantor. Gak kayak kemarin-kemarin. " Ucap Aurel. Aurel membuka pintu mobil
lalu masuk kedalamnya. Begitu
juga dengan Daren.
"Untung tadi berkas lo
ketinggalan. Kalau enggak,
mungkin gue gak akan tahu
mereka semua lagi nyudutin lo,"
sahut Daren yang mulai
menghidupkan mesin mobil.
Aurel bersyukur, karena satu
masalabh sudah terlewatkan.
"Tapi Anjani tuh kayaknya suka
sama lo deh," ucap Aurel menatap jalanan didepannya.
"Iya terus?"
"Lo gak suka sama dia? Dia cantik,
pinter dia. "
"Stt.... stop bandingin diri lo sama
orang lain. Yang gue suka itu lo.
Gak perduli ada perempuan cantik
di luaran sana. Karena pada
dasarnya yang gue butuhkan ya
lo," ucap Daren.
Aurel tersenyum mendengarnya.
la memeluk lengan Daren. Aurel merasa menjadi wanita yang sangat beruntung bisa bertemu
__ADS_1
dengan sosok Daren yang
mencintainya.