MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
FITNAH


__ADS_3

"Sayang masih ngambek?" ucap


Daren kepada Aurel. Aurel


sebenarnya sudah tidak marah tapi


ia ingin mengerjai Daren.


"Sayang!" ucap Daren. Daren


menghentikan mobilnya. la


langsung menatap Aurel. "Masih


marah? Kok hobinya marabh sih? "


"Lo juga hobinya ngeselin," balas


Aurel tidak kalah pedas. Daren menarik Aurel, langsung


mencium bibir perempuan itu.


Kali ini beda lebih kasar, dan lebibh


menuntut. Aurel memukul dada


Daren begitu ia kehabisan


nafasnya.


Daren melepaskan ciuman mereka.


"Gimana masih marah? "


"Gak lo nyebelin banget. Gue


hampir aja mati kehabisan nafas,


jawab Aurel mengusap bibirnya.


Aurel melihat lipstiknya yang


nampak berantakan di kaca spion tengah."By the way, lipstik hari ini rasa


coklat kan?" ucap Daren. Daren


menjilat bibirnya sendiri. "Manis..."


Aurel tidak menghiraukan ucapan


Daren. la fokus untuk


membenarkan lipstiknya.


"Ayo jalan, udah siang nih," ucap


Aurel.


"Udah kayak nyuruh supir angkot


aja," ujar Daren melirik Aurel.


Aeskipun begitu, Daren tetap menurut lelaki itu menjalankan mobilnya. Tiba-tiba


ponsel Aurel berbunyi. Ada sebuah


panggilan masuk.


"Siapa?" tanya Daren melirik


sekilas layar ponsel Daren.


"Pak Gunawan, tumben nelpon,"


ucap Aurel. Aurel langsung


mengangkat telpon tersebut.


"Halo selamat pagi Pak," ucap


Aurel.


"Aurel, hari ini kamu bisa temuin


saya?" ucap Pak Gunawan."Berarti saya ke kantor langsung


aja ya Pak." Aurel mengerutkan


kening. "Saya juga akan membawa


berkas yang kemarin di minta


Anjani. "


"Iya, kamu langsung kesini saja,'


ucap Pak Gunawan langsung


mematikan telpon.


"Kenapa?" tanya Daren melirik


Aurel.


"Gue harus ke kantor. Bisa


berhenti gak? Biar gue turun disini


aja," ujar Aurel kepada Daren."Ngapain? Gue anter aja, " ucap


Daren menawarkan diri.


"Lo kan harus kerja. Ini jam


berapa coba. Bakalan telat kalau


harus nungguin gue," ucap Aurel


tidak mau diantarkan Daren.


"Tapi kan..."


"Ya udah iya. Tapi gak boleh


masuk, ya," ucap Aurel. Daren


mengangguk, ia langsung memutar


mobilnya. Karena memang kantor


Aurel sudah terlewat sejak tadi.*** Aurel turun dari mobil Daren. la


menyuruh Daren untuk parkir


mobil jauh dari kantor. Agar


orang-orang tidak tahu kalau Aurel


di antar Daren ke kantor.


Aurel masuk kedalam kantor di


sambut dengan satpam yang


ramah. Saat masuk ke kantor


terlihat beberapa karyawan yang


berpapasan dengan Aurel


berbisik-bisik entah apa yang


sedang mereka bicarakan.


"Orang-orang kenapa sih?"


gumam Aurel. Ia berhenti di di depan cermin. Menatap apakah ada yang salah


dengan pakaiannya. Tapi ternyata


tidak, semua aman. Dan baik-baik


saja.


Aurel memilih untuk


mengacuhkan mereka. Tidak


perduli dengan apa yang mereka

__ADS_1


bicarakan. Sampai akhirnya ia


sampai di ruangan Pak Gunawan.


Aurel mengetuk pintu.


Tok... tok... tok..


"Masuk!" ucap Pak Gunawan dari


dalam ruangan. Aurel membuka pintu, ia melihat ada Anjani yang


sedang tersenyum sinis kepadanya.


"Selamat pagi, Pak... " ucap Aurel.


"Silakan duduk Aurel," ucap Pak


Gunawan. "Mana berkas yang saya


minta?"


Aurel membongkar tasnya untuk


mencari berkas yang sebelumnya


sudah ia siapkan sejak tadi. Tapi


kenapa berkas itu tidak ada?


"Rel Pak Gunawan minta


berkasnya? Gak lo bawa ya berkasnya? " Ucap anjani mulai kompor.


"Saya bawa kok Pak, tapi kenapa


gak ada ya... " ucap Aurel masih


mengobrak-abrik tasnya.


"Alah, pasti lo belum selesaikan


buat laporannya? Asik jadi


simpenan Pak Daren sih," cibir


Anjani. Aurel menatap Anjani


tidak suka. Kenapa harus bahas itu


sekarang sih?


"Oh iya Aurel, menurut info yang


saya dapatkan benar kamu


menjalin hubungan dengan Pak Daren?" sahut Pak Gunawan.


"Saya tidak melarang kamu untuk


berhubungan dengan siapapun."


"Tapi tolong, jaga nama baik


kantor kita. Kita sudah sama-sama


tahu kalau Pak Daren sudah


beristri, tapi kamu malah menjalin


hubungan dengan Pak Daren.


Kamu mau membuat nama kantor


kita buruk?" ucap Pak Gunawan.


Tebakan Aurel benar, Anjani


sudah menyebarkan fitnah ini.


Pantas saja setiap karyawan yang Berpapasan dengan menatap Aurel aneh. Aurel menunduk


mendengarnya. la bingung harus


menjawalb gimana.


"Kamu tahu maksud saya kan?"


mengangguk. Mungkin jika


sekarang Aurel jujur kalau


sebenarnya ialah istri sah Daren,


baik Anjani maupun Pak Gunawan


tidak akan percaya.


Dan semua itu juga tidak ada


gunanya. Jadi untuk apa kan?


Tok... tok... tok.. Seseorang mengetuk pintu. Aurel


masih menunduk tidak berani


untuk sekedar melihat siapa yang


datang.


"Masuk!"


Daren masuk kedalam ruangan,


membawa sebuah berkas. Berkas


yang tidak sengaja di tinggalkan


Aurel di mobil Daren.


"Pak Daren... " ucap Pak Gunawan


terlihat segan.


Aurel mendongak, menatap Daren.kenpa Daren bandel jelas-jelas Aurel sudah wanti-wanti agar


lelaki itu jangan turun, atau


menyusul tapi kenapa tetap saja


nekat seperti ini.


"Ini saya mau memberikan berkas


yang bapak minta. Tadi Aurel


ceroboh meninggalkannya di mobil


saya," ucap Daren. Seterika Aurel


melebarkan matanya. Ini bukan


waktu yang tepat, tapi kenapa


Daren malah jujur?


"Oh iya satu lagi Pak. Saya mau


meluruskan fitnah yang sudah tersebar. Memang bener saya, Aurel memiliki hubungan spesial,"


ucap Daren. Anjani dan Pak


Gunawan saling pandang. Aurel


hanya memejamkan matanya. Apa


yanh akan di lakukan oleh Daren?


"Dan Aurel ini istri sah saya!" ucap


Daren mempertegas ucapannya di


bagian kalimat 'istri sah' agar


Anjani dan Pak Gunawan paham.


"Loh? Gak mungkin kan istri sah?"


ucap Anjani kaget. la nampak

__ADS_1


tidak terima dengan ucapan


Daren."Gak percaya? Gue punya bukti,"


ucap Daren. Daren mengambil


ponselnya. Lalu menunjukkan


wallpaper ponselnya kepada Pak


Gunawan dan Anjani. Anjani


diam, sudah tidak tahu mau


berbicara apa.


Aurel kepo, apa yang di tunjukkan


Daren. la melirik sekilas ketika


Anjani nemberikan ponsel Daren


kepada Daren. Dan ternyata foto


pernikahan mereka.


"Udah jelas kan? Kalau saya sama Aurel. Sudah menikah sejak satu bulan lalu," ucap Daren. Aurel


tersenyum puas apalagi ketika


melihat wajah Anjani yang kaget,


dan manahan malu.


"Maaf Pak saya benar-benar tidak


tahu. Aurel, maafkan saya


Sudah menuduh kamu, " ucap Pak


Gunawan tidak enak.


"lya Pak, " jawab Aurel.


"Kalau begitu Pak, saya dan istri


saya pamit undur diri," ucap


Daren. Daren mnengenggam tangan


Aurel erat. Lalu mereka berjalan keluar ruangan. Di luar ruangan


sudah banyak karyawan lain yang


kaget melihat Daren dan Aurel


pegangan tangan secara


terang-terangan.


"Wow berani banget, udah


publish. Nasib istri sahnya Pak


Daren gimana ya?" ucap salah satu


karyawan. Dan itu sangat jelas di


telinga Daren dan Aurel.


Daren menghentikan langkah


kakinya. "Baiklah, berhubung saya


mendengar kabar kurang baik pagi ini saya mau meluruskan kalau sebenarnya Aurel silviana Adicipta


adalah istri sah saya."


Sontak mereka semua ribut


mendengar ucapan Daren. Ada


yang kaget, bahkan ada juga yang


tidak percaya dengan apa yang di


ucapkan oleh Daren.


Daren tidak terlalu memasingkan


itu. la langsung mengajak Aurel


untuk segera pergi dari tempat ini.


"Huh lega banget sumpah," ucap


Aurel begitu keluar dari gedung


kantor."Lo liat gak tadi, wajahnya Anjani?


Sumpah ngakak banget," sambung


Aurel. Kini perempuan itu tertawa


mengingat ekspresi wajah Anjani.


"Dia emang pantes digituin, udah


fitnah lo, kan gue geram sama dia.


Kalau bukan lo yang minta,


dengan gampangnya gue bisa buat


dia kehilangan pekerjaannya,"


ucap Daren masih kesal.


"Stt.... gak boleh gitu. Yang


penting sekarang nama baik gue


udah balik lagi di kantor. Gak kayak kemarin-kemarin. " Ucap Aurel. Aurel membuka pintu mobil


lalu masuk kedalamnya. Begitu


juga dengan Daren.


"Untung tadi berkas lo


ketinggalan. Kalau enggak,


mungkin gue gak akan tahu


mereka semua lagi nyudutin lo,"


sahut Daren yang mulai


menghidupkan mesin mobil.


Aurel bersyukur, karena satu


masalabh sudah terlewatkan.


"Tapi Anjani tuh kayaknya suka


sama lo deh," ucap Aurel menatap jalanan didepannya.


"Iya terus?"


"Lo gak suka sama dia? Dia cantik,


pinter dia. "


"Stt.... stop bandingin diri lo sama


orang lain. Yang gue suka itu lo.


Gak perduli ada perempuan cantik


di luaran sana. Karena pada


dasarnya yang gue butuhkan ya


lo," ucap Daren.


Aurel tersenyum mendengarnya.


la memeluk lengan Daren. Aurel merasa menjadi wanita yang sangat beruntung bisa bertemu

__ADS_1


dengan sosok Daren yang


mencintainya.


__ADS_2