MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
ARISAN KELUARGA


__ADS_3

Aurel merenggangkan


pinggangnya. Karena terasa begitu


pegal. "Capek banget hari ini.


Gara-gara kemarin bolos terus.


Kerjaan gue jadi numpuk gini."


Aurel iseng, bermain ponsel. la


melihat beberapa chat dari Tissa.


la tidak membukanya. Hanya


membaca pesan tersebut. Jujur ia


sangat rindu dengan Tissa. Sudah lama juga ia tidak berkomunikasi


dengan Tissa.


Aurel menghela nafas.


Menyadarkan kepalanya di


sandaran kursi. Tiba-tiba pintu


Aurel terbuka menampilkan sOsok


Anjani yang tiba-tiba saja ada


disini.


"Rel, minta berkas


perkembangannya dong," ucap


Anjani.


"Belum selesai Jan, nantigue kirim langsung aja ke Pak


Gunawan," ucap Aurel.


"Kerja lo disini ngapain aja sih?


Sampai berkas gitu aja belum


selesai," ucap Anjani begitu pedas


ditelinga Aurel. Anjani berjalan


kearah Aurel. "By the way, gue


denger-denger lo jadi


simpenannya Pak Daren ya?"


Aurel diam tidak mau meladeni


Anjani.


"Di bayar berapa? pasti?" ucap Anjani lagi.


"Lo ngapain sih? Iri sama gue?"


ucap Aurel menatap Anjani sengit.


"Najis gue iri sama cewelk murahan


kayak lo. Ingat ya Rel, Pak Daren


itu udah punya istri. Tapi lo malah


gatel kedia!" ucap Anjani lagi.


"Lah? Istri Pak Daren aja biasa aja


ke gue, kenapa lo yang sewot?"


ucap Aurel tidak terima dengan


Anjani."Karena lo udah buat malu nama


kantor kita! Lo cewek gatel!


Murahan lagi!" ucap Anjani. Entah


setan apa yang sudah merasuki


perempuan itu.


"Jaga bicara kamu Anjani!" ucap


Daren dari belakang. Jujur saja


Daren mendengar semua apa yang


diucapkan oleh Anjani tadi. "Aurel


bukan wanita murahan, yang


murahan itu kamu!"


"Loh kok saya sih pak? Saya kan


cuma mau menyelamatkan rumah tangga Bapak," ucap Anjani.


"Rumah tangga saya juga bukan


urusan kamu!" sahut Daren.


"Sayang lunch bareng yuk," ajak


Daren mengenggam tangan Aurel


secara terang-terangan didepan


Daren.


Aurel menyambut tangan Daren


dan langsung pergi meninggalkan


ruangannya.


"Gue salkit hati tahu, lo di bilang murahan sama cewek yang lebih


murah," ucap Daren yang


nampaknya masih emosi.


"Udahlah, dia emang gitu. Tukang


iri, cari masalah. Paling bentar lagi


nama gue di kantor bakalan jelek.


Dia nyebarin gosip kalau gue jadi


simpanan lo, " ucap Aurel. Dia


sudah hafal betul bagaimana


Anjani.


"Liat aja sampai berani, gue bikin


dia gak bisa kerja lagi di sana,"


ucap Daren tidak kalah kesal."Stt... gak boleh gitu,


dengar-dengar Mamanya baru


masuk rumah sakit," ucap Aurel.


Yah, Aurel tidak setega itu untuk

__ADS_1


membiarkan Anjani di pecat.


"Ya habisnya dia ngeselin," ucap


Daren.


"Udaha sabar. Dia gak penting


kok," ucap Aurel menangkan


Daren.


Mereka sampai di kantin, seperti


biasanya Daren memasan makanan. "Habis makan langung


pulang ya."


"Lah kok gitu?" ucap Aurel.


"Iva kan nanti ada acara arisan


keluarga gimana sih?" ucap Daren


mengingatkan. Aurel sampai lupa


akan hal itu.**"


Malam harinya, Aurel sush siap,


dengan dandanan sederhana


namun cantik. Ia memakai dress berwarna putih tulang, selutut.


Begitu juga dengan Daren, lelaki


itu mengenakan kemeja berwarna


senada dengan Aurel. Dengan


celana berwarna coklat susu.


"Gimana udah?" tanya Daren.


"Udah kok," ucap Aurel. Aurel


mengambil heels lalu berjalan


menuju Daren. Mereka keluar


kamar bersama. Sarah dan


Wardana sudah berangkat lebih


dulu. Jadi Aurel dan Daren menyusul


mereka. Di perjalanan mereka


hanya hening. Untung saja


lokasinya tidak jauh dari rumah


Daren. Masih sekompleks namun


hanya beda beberapa rumah.


Daren memarkirkan mobilnva. Ia


segera turun untuk membukakan


pintu Aurel. Saat itu juga, mereka


bertemu dengan Aldino dan Tissa


yang juga baru turun dari mobil.


Sejujurnya Aurel ingin memeluk


Tissa tapi bagaimana keadaan mereka sedang tidak bailk-baik


saja.


Dan mereka berjalan masuk


kedalam rumah Tante Indri. Acara


di lakukan di belakang taman


belakang. Jadi mereka harus


kesana.


Aurel tidak kenal siapa-siapa di


sini. Ya kecuali mertua, Tissa dan


Aldino. Sepupu Daren yang lain?


Entahlah Aurel tidak mengenal


mereka."Abang!" teriak seorang


perempuan dari belakang Daren.


"Hai Fani, apa kabar?" tanya


Daren. "Lo udah pulang? Pulang


kapan?"


"Baik dong, kemarin. Mami yang


nyuruh, biasalah. Padahal kan


lebih betah disana," ucap


perempuan bernama Fani


tersebut.


"Oh iya kenalin ini istri Abang,


namanya Aurel. Cantik kan?" ucap Daren mengenalkan Aurel.


"Hai Kak Aurel ternyata lebih


cantik aslinya dari pada di foto, "


puji Fani.


"Ah kamu bisa aja. Kamu juga


cantik, salam kenal ya," ucap Aurel


basa-basi.


"Bang Ruby kapan pulang?" tanya


Fani.


"Mungkin nanti kalau libur


semester," ucap Daren."Daren!" ucap seseorang dari


belakang Daren lagi.


"Elsa?" ucap Daren.


"Suprise! Nih liat gue lagi vidio call


sama siapa?" ucap Elsa


mengarahkan ponselnya ke arah


Daren.


"Nessa?" ucap Daren. Aurel diam,

__ADS_1


Nessa bukannya mantan Daren?


"Iya, gimana nambah cantik kan?"


ucap Elsa kepada Daren.


"Biasa aja," jawab Daren dengan


perubahan sikap yang signifikan.


"Apa kabar Daren?" ucap Nessa


dari ponsel Elsa.


"Baik banget!" jawab Daren. Aurel


hanya menunduk, ia cemburu.


Kenapa harus ngobrol dengan


mantan sih?


"Eh El udah dulu ya! Gue matiin


mau tidur," ucap Nessa.


"Iya, bye Ness!" ucap Elsa."Ngapain sih? Gak jelas banget,"


ucap Daren kepada Elsa.


"Lah emang kenapa? Siapa tahu lo


mau balikan sama mantan lo,"


ucap Elsa. Apakah Elsa tidak


berpikir? Kalau disebelah Daren


itu ada Aurel? Istri sah Daren.


"'Sorry gak minat," balas Daren.


"By the way, dia istri lo?" ucap Elsa


langsung fokus ke Aurel yang


berdiri disebelahnya."Hai gue Elsa, sepupunya Daren,"


ucap Elsa memperkenalkan diri.


"Aurel.. " jawab Aurel.


"Biasa aja ya ternyata," komentar


Elsa. Aurel diam, maksudnya apa?


"Cantikan juga Nessa," ucap Elsa


berbisik kepada Daren. Namun


tetap saja Aurel mendengarnya.


Elsa pergi meninggalkan mereka.


la tidak tahu harus gimana.


Tiba-tiba ia merasa tidak pantas untuk Daren.


"Sayang, jangan dengerin Elsa ya.


Wajar dia bela Nessa karena


emang mereka sahabatan sejak


dulu," ucap Daren memeluk Aurel.


"Gue gak cantik ya? Malu-maluin


ya?" ucap Aurel minder.


"Enggak, kamu cantik banget!"


ucap Daren menangkan Aurel.


"Pokoknya gak usah dengerin apa


kata Elsa," ucap Daren. "Ngerti kan? "


Aurel mengangguk.


Daren kembali, mengenalkan satu


persatu anggota keluarga kepada


Aurel.***


Aurel duduk sendirian di sebuah


kursi panjang. la memakan sebuah


kue. Daren sendiri sedang ber


dengan para sepupunya. Dan


karena tidak ingin menganggu, Aurel memilih untuk menyendiri


disini.


Namun siapa sangka? Jika


tiba-tiba saja Ela duduk


disebelahnya. Entah apa yang akan


di lakukan oleh perempuan itu.


"Hai, gue bolehkan duduk sini?"


ucap Elsa.


"Iya duduk aja," jawab Aurel


masih memakan kuenya.


"Gue denger, lo teman Daren waktu SMA?" tanya Elsa.


Aurel mengangguk, dia males jika


harus mengobrol dengan Elsa.


"Lo tahu kan kalau Nessa


mantanya Daren, " ucap Elsa.


"lya kenapa emang?" ucap Aurel


masih santai biasa saja.


"Lo gak ada niatan mau ngalah?


Biarin mereka bahagia?" ucap Elsa.


Aurel diam, masih mengunyah


kuenya."Bukannya Nessa yang ninggalin


Daren?"


Skakmat, Elsa tidak bisa


mengatakan apa-apa lagi.


"Bilangin sama Nessa, dia gak akan


bisa ngerebut Daren dari gue,


paham?" ucap Aurel langsung

__ADS_1


pergi meninggalkan Elsa.


__ADS_2