
Aurel merenggangkan
pinggangnya. Karena terasa begitu
pegal. "Capek banget hari ini.
Gara-gara kemarin bolos terus.
Kerjaan gue jadi numpuk gini."
Aurel iseng, bermain ponsel. la
melihat beberapa chat dari Tissa.
la tidak membukanya. Hanya
membaca pesan tersebut. Jujur ia
sangat rindu dengan Tissa. Sudah lama juga ia tidak berkomunikasi
dengan Tissa.
Aurel menghela nafas.
Menyadarkan kepalanya di
sandaran kursi. Tiba-tiba pintu
Aurel terbuka menampilkan sOsok
Anjani yang tiba-tiba saja ada
disini.
"Rel, minta berkas
perkembangannya dong," ucap
Anjani.
"Belum selesai Jan, nantigue kirim langsung aja ke Pak
Gunawan," ucap Aurel.
"Kerja lo disini ngapain aja sih?
Sampai berkas gitu aja belum
selesai," ucap Anjani begitu pedas
ditelinga Aurel. Anjani berjalan
kearah Aurel. "By the way, gue
denger-denger lo jadi
simpenannya Pak Daren ya?"
Aurel diam tidak mau meladeni
Anjani.
"Di bayar berapa? pasti?" ucap Anjani lagi.
"Lo ngapain sih? Iri sama gue?"
ucap Aurel menatap Anjani sengit.
"Najis gue iri sama cewelk murahan
kayak lo. Ingat ya Rel, Pak Daren
itu udah punya istri. Tapi lo malah
gatel kedia!" ucap Anjani lagi.
"Lah? Istri Pak Daren aja biasa aja
ke gue, kenapa lo yang sewot?"
ucap Aurel tidak terima dengan
Anjani."Karena lo udah buat malu nama
kantor kita! Lo cewek gatel!
Murahan lagi!" ucap Anjani. Entah
setan apa yang sudah merasuki
perempuan itu.
"Jaga bicara kamu Anjani!" ucap
Daren dari belakang. Jujur saja
Daren mendengar semua apa yang
diucapkan oleh Anjani tadi. "Aurel
bukan wanita murahan, yang
murahan itu kamu!"
"Loh kok saya sih pak? Saya kan
cuma mau menyelamatkan rumah tangga Bapak," ucap Anjani.
"Rumah tangga saya juga bukan
urusan kamu!" sahut Daren.
"Sayang lunch bareng yuk," ajak
Daren mengenggam tangan Aurel
secara terang-terangan didepan
Daren.
Aurel menyambut tangan Daren
dan langsung pergi meninggalkan
ruangannya.
"Gue salkit hati tahu, lo di bilang murahan sama cewek yang lebih
murah," ucap Daren yang
nampaknya masih emosi.
"Udahlah, dia emang gitu. Tukang
iri, cari masalah. Paling bentar lagi
nama gue di kantor bakalan jelek.
Dia nyebarin gosip kalau gue jadi
simpanan lo, " ucap Aurel. Dia
sudah hafal betul bagaimana
Anjani.
"Liat aja sampai berani, gue bikin
dia gak bisa kerja lagi di sana,"
ucap Daren tidak kalah kesal."Stt... gak boleh gitu,
dengar-dengar Mamanya baru
masuk rumah sakit," ucap Aurel.
Yah, Aurel tidak setega itu untuk
__ADS_1
membiarkan Anjani di pecat.
"Ya habisnya dia ngeselin," ucap
Daren.
"Udaha sabar. Dia gak penting
kok," ucap Aurel menangkan
Daren.
Mereka sampai di kantin, seperti
biasanya Daren memasan makanan. "Habis makan langung
pulang ya."
"Lah kok gitu?" ucap Aurel.
"Iva kan nanti ada acara arisan
keluarga gimana sih?" ucap Daren
mengingatkan. Aurel sampai lupa
akan hal itu.**"
Malam harinya, Aurel sush siap,
dengan dandanan sederhana
namun cantik. Ia memakai dress berwarna putih tulang, selutut.
Begitu juga dengan Daren, lelaki
itu mengenakan kemeja berwarna
senada dengan Aurel. Dengan
celana berwarna coklat susu.
"Gimana udah?" tanya Daren.
"Udah kok," ucap Aurel. Aurel
mengambil heels lalu berjalan
menuju Daren. Mereka keluar
kamar bersama. Sarah dan
Wardana sudah berangkat lebih
dulu. Jadi Aurel dan Daren menyusul
mereka. Di perjalanan mereka
hanya hening. Untung saja
lokasinya tidak jauh dari rumah
Daren. Masih sekompleks namun
hanya beda beberapa rumah.
Daren memarkirkan mobilnva. Ia
segera turun untuk membukakan
pintu Aurel. Saat itu juga, mereka
bertemu dengan Aldino dan Tissa
yang juga baru turun dari mobil.
Sejujurnya Aurel ingin memeluk
Tissa tapi bagaimana keadaan mereka sedang tidak bailk-baik
saja.
Dan mereka berjalan masuk
kedalam rumah Tante Indri. Acara
di lakukan di belakang taman
belakang. Jadi mereka harus
kesana.
Aurel tidak kenal siapa-siapa di
sini. Ya kecuali mertua, Tissa dan
Aldino. Sepupu Daren yang lain?
Entahlah Aurel tidak mengenal
mereka."Abang!" teriak seorang
perempuan dari belakang Daren.
"Hai Fani, apa kabar?" tanya
Daren. "Lo udah pulang? Pulang
kapan?"
"Baik dong, kemarin. Mami yang
nyuruh, biasalah. Padahal kan
lebih betah disana," ucap
perempuan bernama Fani
tersebut.
"Oh iya kenalin ini istri Abang,
namanya Aurel. Cantik kan?" ucap Daren mengenalkan Aurel.
"Hai Kak Aurel ternyata lebih
cantik aslinya dari pada di foto, "
puji Fani.
"Ah kamu bisa aja. Kamu juga
cantik, salam kenal ya," ucap Aurel
basa-basi.
"Bang Ruby kapan pulang?" tanya
Fani.
"Mungkin nanti kalau libur
semester," ucap Daren."Daren!" ucap seseorang dari
belakang Daren lagi.
"Elsa?" ucap Daren.
"Suprise! Nih liat gue lagi vidio call
sama siapa?" ucap Elsa
mengarahkan ponselnya ke arah
Daren.
"Nessa?" ucap Daren. Aurel diam,
__ADS_1
Nessa bukannya mantan Daren?
"Iya, gimana nambah cantik kan?"
ucap Elsa kepada Daren.
"Biasa aja," jawab Daren dengan
perubahan sikap yang signifikan.
"Apa kabar Daren?" ucap Nessa
dari ponsel Elsa.
"Baik banget!" jawab Daren. Aurel
hanya menunduk, ia cemburu.
Kenapa harus ngobrol dengan
mantan sih?
"Eh El udah dulu ya! Gue matiin
mau tidur," ucap Nessa.
"Iya, bye Ness!" ucap Elsa."Ngapain sih? Gak jelas banget,"
ucap Daren kepada Elsa.
"Lah emang kenapa? Siapa tahu lo
mau balikan sama mantan lo,"
ucap Elsa. Apakah Elsa tidak
berpikir? Kalau disebelah Daren
itu ada Aurel? Istri sah Daren.
"'Sorry gak minat," balas Daren.
"By the way, dia istri lo?" ucap Elsa
langsung fokus ke Aurel yang
berdiri disebelahnya."Hai gue Elsa, sepupunya Daren,"
ucap Elsa memperkenalkan diri.
"Aurel.. " jawab Aurel.
"Biasa aja ya ternyata," komentar
Elsa. Aurel diam, maksudnya apa?
"Cantikan juga Nessa," ucap Elsa
berbisik kepada Daren. Namun
tetap saja Aurel mendengarnya.
Elsa pergi meninggalkan mereka.
la tidak tahu harus gimana.
Tiba-tiba ia merasa tidak pantas untuk Daren.
"Sayang, jangan dengerin Elsa ya.
Wajar dia bela Nessa karena
emang mereka sahabatan sejak
dulu," ucap Daren memeluk Aurel.
"Gue gak cantik ya? Malu-maluin
ya?" ucap Aurel minder.
"Enggak, kamu cantik banget!"
ucap Daren menangkan Aurel.
"Pokoknya gak usah dengerin apa
kata Elsa," ucap Daren. "Ngerti kan? "
Aurel mengangguk.
Daren kembali, mengenalkan satu
persatu anggota keluarga kepada
Aurel.***
Aurel duduk sendirian di sebuah
kursi panjang. la memakan sebuah
kue. Daren sendiri sedang ber
dengan para sepupunya. Dan
karena tidak ingin menganggu, Aurel memilih untuk menyendiri
disini.
Namun siapa sangka? Jika
tiba-tiba saja Ela duduk
disebelahnya. Entah apa yang akan
di lakukan oleh perempuan itu.
"Hai, gue bolehkan duduk sini?"
ucap Elsa.
"Iya duduk aja," jawab Aurel
masih memakan kuenya.
"Gue denger, lo teman Daren waktu SMA?" tanya Elsa.
Aurel mengangguk, dia males jika
harus mengobrol dengan Elsa.
"Lo tahu kan kalau Nessa
mantanya Daren, " ucap Elsa.
"lya kenapa emang?" ucap Aurel
masih santai biasa saja.
"Lo gak ada niatan mau ngalah?
Biarin mereka bahagia?" ucap Elsa.
Aurel diam, masih mengunyah
kuenya."Bukannya Nessa yang ninggalin
Daren?"
Skakmat, Elsa tidak bisa
mengatakan apa-apa lagi.
"Bilangin sama Nessa, dia gak akan
bisa ngerebut Daren dari gue,
paham?" ucap Aurel langsung
__ADS_1
pergi meninggalkan Elsa.