MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
TIDUR DI LUAR


__ADS_3

Aurel duduk di tepi ranjang. Masih dengan perasaan mood yang kurang bersahabat. Ia berpikir kenapa ja malah marah kepada Daren? Bukan kah itu semua hak Daren mau ngapain aja dia di apartemennya.


Plak...


Aurel menampar dirinya sendiri, mencoba untuk menyadarkan dirinya.


"Gue kenapa anjir! Kenapa gue marah sama Daren gara-gara lingerie itu, sih... " gumam Aurel.


Aurel bangkit dari ranjang, dan membuka lagi lemari yang ada di depannya. Ia tidak menemukan apapun, kecuali lingerie itu. Bahkan tidak menemukan sisa pakaian Nessa yang tertinggal.


"Gue gak naro rasa lagi kan, ke Daren?" gumam Aurel kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia melihat Tissa yang menelponnya.


"Iya halo Tis? Kenapa?" ucap Aurel sembari mengobrak-abrik lemari Daren.


"Lo dimana?" tanya Tissa di seberang sana.


"Ah ini gue lagi pindahan," ucap Aurel.


"Pindah kemana?" tanya Tissa kepo.


"Mama sama mertua rempong gue nyuruh gue sama Daren buat mandiri. Jadi ya gitu kita mulai dengan pindah ke apartemen Daren," jawab Aurel.


"Kenapa emang?" tanya Aurel lagi. Perempuan itu menutup lemari dan langsung duduk di tepi ranjang.


"Lo lagi marahan sama Aldino?" tanya Tissa to the poin.


Aurel mengerutkan keningnya. "Kok lo tahu?"


"Iya soalnya Aldino cerita ke gue..." jawab Tissa.


"Kalian deket? Deket di belakang gue nih?" ucap Aurel dengan serius. Seketika Tissa langsung panik.


"Rel... bu... bukan gitu.. " ucap Tissa.


Hal ini membuat Aurel tertawa. "Santai aja kali Tissa, wajar kok sahabat kita deket sama pacar kita."


"Lo... lo gak marah?" tanya Tissa.


"Enggak. Ngapain gue marah, kecuali kalian main berdua di belakang gue. Baru dah gue marah," ucap Aurel.


Seketika Tissa lega mendengarnya.


"Jadi kenapa lo marah sama Aldino?"


"Ya gitulah, salah paham. Dia ngira gue ada rasa sama Daren. Dan mulai serius sama Daren. Padahal kan lo tahu sendiri kan? Gimana rusuhnya gue sama Daren yang gak pernah bisa akur," jelas Aurel.


"Terus kemarin phobia gue kumat. Gara-gara terjebak di lift. Jadi mood gue emang lagi berantakan," ucap Aurel.


"Gue paham sih. Tapi coba lo respon Aldino. Kasihan dari tadi coba hubungin lo tapi sama sekali gak lo respon, "saran Tissa.


"Iya. Nanti gue bales chatnya," ucap Aurel. "Udah ya, gue mau ganti sprei dulu. "


"Iya, bye Rel... " ucap Tissa mematikan sambungan telpon.

__ADS_1


Aurel membuka pesan dari Aldino. Membacanya satu persatu. Perempuan itu langsung menghubungi Aldino.


"Halo sayang... " ucap Aldino begitu mengangkat telpon.


"Halo Al... " ucap Aurel.


"Kamu maafin aku kan?" ucap Aldino.


"Iya. Aku maafin kamu kok," jawab Aurel. "Maafin aku juga ya. Tadi kepala aku sakit banget, eh malah kamu nuduh aku begitu."


"Iya sayang, harusnya aku yang minta maaf. Aku udah nuduh sembarangan tanpa dengarin penjelasan kamu," ucap Aldino. Aurel tersenyum.


"Besok mau lunch? " ucap Aurel.


"Boleh, aku kangen banget sama kamu," ucap Aldino.


"Oke, besok kita lunch bareng ya... "ucap Aurel. "Udah dulu ya Al. Ini aku harus ngerjain sesuatu."


"Iya sayang, good night love you..'


"Good night to. Love you to," jawab Aurel Aldino mematikan sambungan telponnya. Aurel menghela nafas.


"Rel buka dong pintunya, gue kan juga mau tidur," ucap Daren dari luar kamar.


Aurel membawa bantal dan guling, ja langsung membuka pintu membuat Daren bangkit dari duduknya.


"Lo pasti mau nyuruh gue buat tidur kan?" ucap Daren sudah kepedean.


"Dih najis!" gumam Aurel. "Nih gue kasih bantal. Lo tidur di luar!" ucap Aurel memberikan bantal tersebut kepada Daren.


"Males gue tidur sama lo. Yang ada nanti lo mesumin gue anjir!" ucap Aurel lagi sebelum akhirnya menutup pintu.


Daren menghela nafas. "Nasib-nasib, di jajah sama istri sendiri. "


Daren mengambil bantal dan langsung merebahkan tubuhnya di sofa.


***


Pagi hari Aurel terbangun karena mencium bau masakan yang sangat harum, perempuan itu segera beranjak dari kasurnya. Membuka pintu dan...


"Selamat pagi!" ucap Daren begitu heboh menatap Aurel.


"Apaan sih lo?" gumam Aurel sembari menguap.


"Sini ikut gue..." ucap Daren menarik Aurel. Aurel kaget, karena langkah kaki Daren yang begitu cepat.


"Mau kemana woy!" ucap Aurel. Mereka berhenti di sebuah dapur. Lalu Aurel mengucek-ngucek matanya.


"Gue udah buat sarapan untuk kita. Ada roti panggang super krispi. Ada juga nasi goreng seafood kesukaan lo, tinggal pilih mau makan yang mana," ujar Daren.


Aurel mengerutkan keningnya, sembari menatap Daren. "Lo kesambet apa?"


"Kok gitu ngomongnya," ucap Daren.

__ADS_1


"Lagian tumben banget," ucap Aurel. Aurel mengangkat roti panggang, meneliti bentuknya.


"Kenapa sih harus di gituin?" tanya Daren.


"Takut ada jebakannya," jawab Aurel masih membolak-balikan roti tersebut.


"Astaga, lo nethink terus sama gue." Daren mengambil alih roti itu dari tangan Daren. Lalu memakannya.


"Nih liat, gue gak kenapa-napa kan. Ini tuh sebagai bentuk minta maaf gue ke lo," ucap Daren sembari mengunyah roti tersebut. Aurel mengerutkan keningnya.


"Sekarang lo duduk!" Daren menarik kursi dan menyuruh Aurel duduk.


Daren juga tidak lupa untuk menghidupkan lilin.


"Ngapain lo ngidupin lilin?" tanya Aurel terheran-heran.


"Biar romantis," ucap Daren langsung duduk berhadapan dengan Aurel.


"Gaya lo romantis," sindir Aurel. Aurel mengambil sendok dan mencoba nasi goreng seafood.


Daren mengamati perubahan wajah Aurel.


"Gimana? Enak kan?" ucap Daren. Aurel mengangguk, lalu memakan nasi goreng tersebut dengan lahap.


"Mirip banget rasanya kayak di tukang nasi goreng langganan gue," ucap Aurel. Seketika Daren tersedak mendengar ucapan Aurel.


"Eh lo kenapa?" ucap Aurel. Aurel memberikan Daren minum. "Nih minum dulu."


Daren meminumnya. "Terlalu enak jadi sampe tersedak." "Ada-ada aja," gumam Aurel.


Mereka melanjutkan sarapan sampai selesai. Setelah selesai sarapan Daren menagatakan sesuatu.


"Rel lo jangan salah paham. Gue gak ngapa-ngapain sama Nessa. Lagian dulu kan gue yang beli apartemen ini buat dia. Dan setelah putus malah dia balikin apartemennya ke gue," jelas Daren.


"Terserah sih kalian mau ngapain aja di apartemen ini. Bukan urusan gue," ucap Aurel sembari minum.


"Kok gitu?" ucap Daren.


"Ya kan pernikahan kita bukan pernikahan beneran. Kita bebas ngelakuin apa aja. Yang penting status kita di depan keluarga masih sah sebagai suami istri," ucap Aurel.


Seketika Daren terdiam, hatinya sakit mendengar ucapan Aurel. Tapi ia tidak boleh putus asa. Ia


lharus bisa meluluhkan hati Aurel lagi.


"By the way, karena lo udah masak biar gue aja yang nyuci piring. Lo siap-siap gih, kan mau ke kantor," ucap Aurel.


"Ya udah gue mandi duluan," ucap Daren sembari beranjak dari duduknya. Aurel hanya mengangguk.


Aurel mengambil semua piring dan gelas kotor lalu mencucinya. Setelah selesai, ia menyapu lantai, saat membuka tong sampah.


Aurel menemukan sesuatu. Ia mengambil box makanan itu dan membaca alamat restorannya.


"Lah... " gumam Aurel.

__ADS_1


"Daren! Lo makananya beli kan! Gak masak sendiri!" teriak Aurel.


__ADS_2