
...~Happy Reading~...
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, kini mobil yang di bawa oleh Ryan sudah tiba di rumah sakit keluarga Nolan. Ryana segera di tangani oleh dokter sementara Raka dan Ryan langsung menghubungi keluarga nya masing masing.
Panik, khawatir dan cemas bercampur menjadi satu. Terlebih Adnan dan Nasya yang langsung meluncur menuju rumah sakit karena begitu khawatir dengan keadaan putri nya. Entah apa yang membuat putri nya harus di larikan ke rumah sakit, yang jelas kini dirinya sangat ingin marah.
“Apa yang terjadi?” tanya daddy Adnan ketika sudah tiba di rumah sakit.
Kedua laki laki remaja itu masih diam, tidak ada yang berani menjawab. Terlebih Raka yang merasa sangat bersalah dan takut kepada ayah mertua nya, sedangkan Ryan memilih diam lantaran ia menunggu Raka yang menjelaskan nya, karena ini adalah tanggung jawab Raka sebagai suami adik nya.
“Kenapa kalian diam?” tanya daddy Adnan kembali.
Raka hendak membuka suara, namun tiba tiba, dokter yang menangani Ryana sudah keluar, membuat perhatian semuanya teralihkan kepada dokter. Adnan dan juga Raka seketika langsung menghampiri dokter dan bertanya secara bersamaan.
“Bagaimana keadaan putri saya?”
__ADS_1
“Bagaimana keadaan istri saya?”
Dokter itu langsung menghela napas nya dengan berat, “Tidak baik!” jawab nya seketika membuat kedua laki laki itu mematung dengan jantung yang berdetak begitu kencang.
“Kandungan nya sangat lemah. Pasien mengalami tekanan yang cukup parah, dan sepertinya pasien juga kurang asupan makanan dan cairan sehingga membuat fisik nya semakin lemah.”
“K—kurang asupan? Maksudnya anak saya kelaparan?” tanya daddy Adnan seketika melirik tajam ke arah menantu nya.
“Hemm mungkinkah nafsu makan nya berkurang sejak hamil?” ucap Dokter mencoba berfikir positif, “Saat ini kondisinya sudah stabil. Hanya saja untuk kondisi kandungan nya masih sangat lemah. Jadi, saya menyarankan agar putri anda di rawat terlebih dulu. Dan mungkin harus bed rst untuk sementara waktu,” ujar dokter panjang lebar menjelaskan tentang kondisi Ryana.
“Pasien ingin bertemu dengan ayah nya,” jawab dokter sedikit kikuk menjawab pertanyaan Raka.
Dan tanpa membuang waktu, daddy Adnan pun segera masuk ke dalam ruangan itu. Sedangkan Raka hanya bisa menatap pintu dengan perasaan campur aduk dan rasa bersalah.
“Raka, sebenarnya apa yang terjadi sama kalian? Kenapa bisa sampai seperti ini?” tanya mom Nasya lembut mengajak menantu nya untuk duduk di ruang tunggu.
__ADS_1
“Maafin Raka Mom,” gumam laki laki remaja itu langsung menundukkan kepala nya, “Raka yang salah, Raka tidak bisa menjaga Ryana. Maafin Raka Mom, hiks hiks hiks.”
Tiba tiba Raka menutup wajah nya dengan tangan, dan menangis hingga membuat Mom Nasya dan juga Ryan terkejut. Benarkah Raka menangis? Batin Ryan ragu.
“Ini semua salah Raka Mom. Harusnya Raka bisa mengontrol emosi Raka, harusnya Raka bisa bersikap lembut sama Ryana. Harusnya Raka selalu mengutamakan Ryana, hiks hiks maafin Raka Mom maafin Raka,” imbuh Raka semakin terisak.
Mom Nasya yang tidak tega melihat menantu nya menangis terisak seperti anak hilang itu akhirnya langsung memeluk nya dan mengusap kepala nya dengan lembut.
“Umur kalian masih sangat muda, dan sebentar lagi kalian akan memiliki anak. Wajar kalau kalian masih sama sama egois dan keras kepala. Kalian masih sulit mengontrol emosi kalian. Tapi, mommy mohon sekali, semarah apapun kamu kepada Ryana, tolong jangan sakiti fisik nya. Perkataan kamu dengan nada tinggi sudah pasti sangat menyakiti hati nya, jangan kamu tambah dengan luka fisik. Karena laki laki sejati, tidak akan pernah tega untuk bermain tangan, kamu mengerti maksud Mommy kan Raka?” ucap mom Nasya panjang lebar.
Deg!
Bayangan demi bayangan saat pertengkaran nya dengan Ryana, dan saat dimana dirinya menampar pipi mulus istrinya itu, membuat Raka semakin merasa sangat bersalah. Tangis nya kian pecah dan ia semakin mengeratkan pelukan nya dengan sang ibu mertua.
...~To be continue .......
__ADS_1