MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
SALAH PAHAM


__ADS_3

"Ngapain lo disini?" ujar Tissa sembari menghapus air matanya. Perempuan itu membenarkan letak duduknya.


"Ini.... " ujar Aldino menyodorkan sebuah ponsel kepada Tissa. "Ponsel lo ketinggalan di mobil gue. Tissa mengambil ponsel tersebut dengan ragu. "Ma... makasih."


Keduanya terdiam, Tissa hanya menunduk. Sementara Aldino mengamati Tissa. "Dimana dapurnya?" tanya Aldino.


"Ma... mau ngapain?" tanya Tissa tidak berani menatap Aldino.


"Pipi lo lebam. Harus di kompres. Kalau enggak nambah parah nanti," ujar Aldino. Aldino berjalan masuk kedalam rumah Tissa. Memasuki dapur mengambil baskom berisikan air es dan handuk bersih untuk mengompres lukanya.


Tissa menghapus air matanya. Ketika Aldino berjalan menghampirinya.


Dengan tatapan nanar Tissa menatap Aldino yang nampak serius mengompres lukanya. "Lo liat semuanya?" tanya Tissa.


"Gak sengaja," jawab Aldino. "Kenapa lo diam aja? Kenapa gak pergi dari sini?"


"Bukannya gue gak mau pergi. Gue cuma gak mau, rumah ini. Kenangan satu-satunya di keluarga gue di jual sama dia," jelas Tissa.


"Lo gak akan mungkin bertahan. Dia bisa ngelakuin apa aja ke lo Tissa kalau lo gak pergi dari sini, " ujar Aldino.


"Iya, gue tahu... " jawab Tissa.


"Tapi gue harus... gue harus bertahan di sini. Karena ini


satu-satunya yang gue punya."


"Gue salut sama lo." Aldino menatap Tissa lekat. "Lo perempuan hebat yang pernah gue temuin."


Tiba-tiba Tissa memeluk Aldino. Menangis di dalam dekapan Aldino.


"Sejujurnya gue capek. Tapi gue gak mungkin pergi dari sini," ucap Tissa.


"Gue tahu, gue ngerti," balas Aldino. Aldino juga membalas pelukan Tissa. Bahkan lelaki itu mengusap bahu Tissa mencoba untuk menenangkannya.


Beberapa menit setelah puas menangis, Tissa melepaskan pelukannya. Ia baru sadar, jika sedari tadi ia memeluk Aldino.


"Maaf Al, gue gak sengaja meluk lo," ujar Tissa sembari mengusap air matanya.


"Its okey, gue tahu lo lagi down, " ucap Aldino. "Lo istirahat gih. Gue pamit dulu. Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan buat telpon gue ya."


Tissa mengangguk. "Makasih ya Al."


"Iya. Gue pulang dulu, bye..." ujar Aldino sudah tidak terlihat lagi.


"Maafin gue Rel, gue suka sama pacar lo. Gue melanggar aturan persahabatan kita," ucap Tissa menatap kepergian Aldino.


***


"Kenyang banget perut gue," ujar Aurel sembari mengusap perutnya yang terlihat buncit.


"Gimana gak kenyang, dua mangkok... " sindir Daren sembari memakai seat beltnya.


"Diem deh bacot. Mumpung gratis," ucap Aurel sembari memejamkan kedua matanya.


Kali ini yang menyetir mobil Daren. Karena memang terbukti jika sedari tadi Daren hanya pura-pura.

__ADS_1


Aurel menguap, kantuknya mulai datang. Karena posisi duduk yang mendukung untuk tidur. Akhirnya perempuan itu menutup kedua matanya. Mungkin karena lelah.


Daren melirik kearah Aurel yang sudah tertidur pulas. Lelaki itu menggelengkan kepalanya. Ia masih fokus menyetir. Tidak berapa lama, ia sampai di rumah. Daren melepas seat beltnya.


Aurel belum juga bangun. "Rel, bagun kita udah sampai."


Namun tetap saja, Aurel tidak membuka kedua matanya.


"Pasti dia kecapean karena gue kerjain seharian," ucap Daren. Daren bergerak, ia melepas seat belt di tubuh Aurel.


Wajah keduanya begitu dekat. Daren mendengar dengkuran halus yang di ciptakan oleh Aurel. Ia juga merasakan hembusan nafas Aurel.


Cup...


Satu kecupan mendarat di bibir Aurel. Hanya kecupan, Daren tidak mau lebih dari itu.


"Andai lo tahu sejak dulu gue Cinta sama lo Rel. Bukan tanpa alasan gue nolak lo waktu itu," ucap Daren.


Daren tersenyum tipis. Lelaki itu kembali ke posisi semula. Dan turun untuk membopong tubuh Aurel.


"Duh berat banget sih..." ucap Daren.


Saat masuk kedalam rumah Sarah menatap heran kearah Daren yang mengendong Aurel.


"Loh Daren Aurel kenapa?" tanya Sarah menatap keduanya.


"Ketiduran Mi," jawab Daren. "Mi bantu Daren buat buka pintunya. Sarah segera bergerak mengikuti Daren. Ia membuka pintu kamar Daren. Daren meletakan tubuh Aurel di ranjang.


"Makasih Mi... " ucap Daren.


"Ya udah Mami gantiin baju Aurel dulu, ya..." ucap Sarah. Daren tersenyum senang mendengarnya. "Makasih Mi!" ujar Daren. Sarah pergi, masuk kedalam kamar


"Udah. Gih sana masuk mandi, " ujar Sarah. Daren mengangguk, lelaki itu berjalan masuk kedalam kamarnya.


Daren menatap Aurel yang tengah tertidur pulas. "Dasar kebo gak bangun-bangun!"


***


Aurel membuka matanya, ia menatap sekeliling ruangan. "Loh ini kan kamar Daren..."


Aurel mendongak kanan dan kiri. Mencari keberadaan Daren. Namun ia tidak menemukan lelaki itu.


"Bentar deh. Tadi gue makan baksonya Pak Edi, terus ketiduran di mobil tiba-tiba gue ada di sini...


dan...


Aurel kaget, melihat dirinya sudah memakai piyama. betina ai


"Arghh... " perempuan itu berteriak.


"Anjir! Baju gue kenapa udah ganti! Apa jangan-jangan.... Darenyang ganti baju gue, " ucap Aurel. Clek...


"Rel kenapa lo teriak-teriak? Sampe bawah tahu gak," ucap Daren yang baru saja masuk kedalam kamar.


Bugh... Bugh...

__ADS_1


Bugh...


Aurel melempar Daren dengan beberapa bantal yang ada di sekitarnya. "Lo mesum anjir!" ucap Aurel.


"Heh lo kenapa sih?" tanya Daren terheran-heran. Daren berjalan melangkah kearah Aurel.


"Stop!" ucap Aurel. Daren menghentikan langkahnya. "Lo udah liat badan gue kan! Anjir mesum ******!"


Daren hanya mengerutkan keningnya bingung.


"Lo ngomong apa sih? Gue gak ngerti anjir!” ucap Daren.


"Ini kenapa baju gue bisa ganti?" ucap Aurel. "Pasti lo udah liat badan gue kan! Ih nyebelin banget sih!"


"Astaga... " ucap Daren sembari memijat keningnya. "Bukan gue yang gantiin baju lo. "


"Terus siapa? Bukan gue kan! Orang gue dari tadi ketiduran!" ucap Aurel. Perempuan itu mulai menangis, tersedu-sedu seakan jijik dengan dirinya sendiri.


Daren mencoba untuk duduk di sebelah Aurel. "Rel..." Daren menepis tangan Daren.


"Jangan sentuh gue!"


Daren menghela nafas, mencoba untuk mengerti. "Bukan gue yang gantiin baju lo. Tapi Mami..."


Mendengar hal itu membuat tangis Aurel mereda. "Bener? Bukan lo?"


"Ya bukan lah."


"Serius?" ucap Aurel agar semakin yakin. Kali ini Daren mengangguk. Aurel menghapus air matanya.


"Lo boleh tanya sama Mami kalau lo gak percaya..." ucap Daren.


Aurel mengangguk. "Maafin gue deh."


"Hm... " gumam Daren. "Udah tuh beresin bantalnya! Gue mau tidur.


Aurel bangkit, mengambil bantal yang berhamburan di lantai.


"Lo tidur di bawah... " ucap Aurel meletakkan bantal di karpet bawah.


"Kok gue..." ucap Daren.


"Gue gak mau tidur sama lo!" ucap Aurel.


"Ya udah lo yang tidur di bawah!"


"Gak mau! Lo aja lo kan cowok," ucap Aurel.


Daren menghela nafas, untuk malam ini lelaki itu memilih untuk mengalah. Ia turun kebawah. Lalu merebahkan tubuhnya.


Aurel merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kedua matanya enggan terpejam. Ia terus menatap langit-langit kamar.


Aurel mendongak kebawah. Ketika mendengar suara dengkuran Daren. Daren tidur tanpa selimut, membuat Aurel merasa kasihan.


Perempuan itu turun, membawakan selimut untuk Daren.

__ADS_1


"Coba aja lo gak nyebelin," ucap Aurel lirih.


Aurel akan berdiri, namun tiba-tiba Daren menarik tubuhnya. "Jangan tinggalin gue," gumamnya masih yang memejamkan mata.


__ADS_2